Beranda / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 5: Selamat Datang di Dunia Sintaksis

Share

Bab 5: Selamat Datang di Dunia Sintaksis

Penulis: Sasmita
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 14:21:03

Seminggu setelah penderitaan ospek berakhir, kehidupan kampus yang sesungguhnya dimulai. Bagi Nika, ini adalah transisi dari kaos oblong santai ke kemeja berkerah yang masih terasa kaku.

Nika duduk di barisan ketiga, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok. Sementara di grup W******p angkatan, anak-anak Jakarta sudah sibuk pamer bahasa pemrograman yang sama sekali belum pernah Nika dengar.

​"Kosong, Nika?"

"Eh, Ardi. Kosong kok, duduk saja," jawab Nika, merasa lega setidaknya ia tidak harus duduk dengan orang asing. Ardi menurunkan tasnya, lalu mengeluarkan laptop Asus hitam yang layarnya agak baret, laptop yang sama dengan yang diselamatkan Nika di kosan Dania minggu lalu.

​"Siap buat hari ini?" tanya Ardi sambil menekan tombol power.

​"Siap tidak siap, Ardi. Jujur, aku deg-degan banget. Kamu lihat grup semalam? Bahasanya sudah seperti alien. Aku boro-boro tahu coding, membuat algoritma saja belum paham," curhat Nika dengan volume rendah.

​Ardi menoleh, menatap Nika yang jarinya sibuk memainkan tutup pulpen dengan gelisah. "Tidak usah dengarkan mereka. Kebanyakan yang pamer di grup itu hanya tahu kulitnya agar terlihat keren. Di kelas ini, semua mulai dari nol. Dosen tidak bakal langsung menyuruhmu membuat aplikasi di pertemuan pertama."

​Profesor Bambang masuk dengan wibawa yang membuat seisi ruangan senyap seketika. Beliau tidak membuang waktu. Setelah sepuluh menit kontrak kuliah, proyektor menampilkan tulisan besar: KONSEPTUALISASI LOGIKA DAN BAHASA C++.

​"Komputer itu bodoh," ujar Profesor Bambang sambil mengetuk papan tulis. "Mereka tidak punya intuisi. Mereka hanya melakukan perintah eksak. Jika ada satu titik atau koma yang salah dalam perintah kalian, mereka akan error. Hari ini, kita belajar cara berbicara dengan makhluk bodoh namun patuh ini."

​"Oke, saya tes logika dasar kalian. Siapa yang bisa menuliskan algoritma untuk menukar isi dua buah gelas? Gelas A berisi sirup, Gelas B berisi susu. Caranya agar isi keduanya bertukar tanpa mencampurnya?"

Ruangan hening. Beberapa mahasiswa yang tadi malam pamer di grup W******p mendadak sibuk memandangi lantai. Nika mengerutkan dahi, mencoret-coret kertas catatannya dengan panik.

​"Saya, Pak."

​Nika menoleh. Ardi mengangkat tangan dengan santai.

​"Ya, kamu. Sebutkan nama dan logikanya," ujar Profesor Bambang.

​Ardi berdiri. "Nama saya Ardi Bramantyo, Pak. Logikanya kita butuh variabel bantuan, atau Gelas C yang kosong. Pertama, tuangkan sirup dari Gelas A ke Gelas C. Sekarang Gelas A kosong. Kedua, tuangkan susu dari Gelas B ke Gelas A. Ketiga, tuangkan sirup dari Gelas C ke Gelas B. Hasil akhirnya, isi keduanya bertukar tanpa tercampur."

​Profesor Bambang tersenyum lebar. "Bagaimana kelas? Sederhana, bukan? Itulah dasar logika pemrograman. Terima kasih, Ardi. Silakan duduk."

​Nika menyenggol lengan Ardi. "Gila kamu, Di. Kok kepikiran sih pakai gelas ketiga?" bisik Nika kagum.

​Ardi menoleh, senyum tipis muncul di wajahnya. "Itu logika dasar penukaran nilai variabel, Nika. Nanti pas masuk materi sorting, kamu bakal bertemu hal seperti ini setiap hari sampai bosan. Makanya, jangan pusing duluan."

​"Tetap saja, aku merasa tertinggal jauh," ujar Nika pelan.

​"Nika, dengerin aku," suara Ardi melembut. "Logika itu seperti otot. Awalnya kaku karena tidak pernah dipakai, tapi makin sering dilatih, makin lentur. Jangan bandingkan start-mu dengan finish-nya orang lain."

​Nika terdiam sejenak, memproses kata-kata Ardi. "Makasih, Ardi. Kedengarannya simpel kalau kamu yang ngomong."

​"Memang simpel," jawab Ardi enteng.

​Ketika kelas usai pada pukul 12.00, Nika merasa otaknya seperti diperas habis. "Pusing?" tanya Ardi sambil merapikan tas.

​"Banget. Berasa ada kurir yang baru memindahkan data bergiga-giga ke otakku yang memorinya cuma sisa sedikit," keluh Nika, membuat Ardi terkekeh pelan.

​"Ya sudah, biar otaknya tidak error, kita cari glukosa di kantin. Aku traktir es teh manis, gantinya kamu jelaskan catatan tipe data yang tadi aku tidak sempat tulis," ajak Ardi sambil berdiri.

​Nika menatap cowok di sebelahnya itu dengan senyuman yang merekah alami. Di tengah rimba sintaksis yang menakutkan ini, Nika sadar kalau kehadiran Ardi bukan lagi kebetulan ospek semata. Mereka beranjak meninggalkan kelas, langkah mereka terasa ringan seolah beban materi tadi perlahan menguap.

Saat sampai di ambang pintu kantin, Nika tidak menyadari bahwa di sudut ruangan, seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Degrees Of Intimacy   Bab 37: Kode yang Menjerat

    Suara langkah kaki berat terdengar di lorong di luar laboratorium. Itu bukan langkah Gibran atau Dania. Nika segera mematikan lampu lab, menyisakan cahaya biru redup dari monitor server yang memancar ke wajahnya yang kini tampak lebih keras dan dingin.​"Kak Gibran, matikan semua lampu koridor," bisik Nika tanpa menoleh dari layar.​"Apa yang akan kamu lakukan?" Gibran berbisik balik, suaranya tercekat.​"Aku akan memancing mereka masuk ke dalam sistem jebakan," jawab Nika datar. Jemarinya kembali menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ia sedang membangun firewall berlapis menggunakan algoritma enkripsi yang dulu pernah mereka susun bersama di mata kuliah Sistem Keamanan Komputer.​Tiba-tiba, monitor di depannya berkedip. Input data masuk dari luar. Seseorang sedang mencoba meretas masuk ke dalam akses lab pusat.​"Mereka sudah di sini," bisik Dania, matanya tertuju pada pintu besi yang mulai bergetar karena hantaman dari luar.​Nika menatap layar dengan tajam

  • Degrees Of Intimacy   Bab 36: Antara Logika dan Nyawa

    "Ardi! Jangan tutup matamu!" Nika berteriak panik, tangannya menekan luka di perut Ardi dengan sisa-sisa kain piyama yang ia kenakan. Darah yang hangat merembes cepat, menodai jemarinya. ​Gibran dan Dania tiba-tiba muncul dari balik sudut koridor, wajah mereka sepucat kertas. Gibran segera mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan dengan jemari yang gemetar. ​"Nika, kita harus pindah sekarang! Orang-orang itu sudah dekat!" Gibran membentak, suaranya parau. "Dania, bantu aku angkat Ardi ke mobil!" ​"Tidak!" Nika memotong, matanya yang sembab menatap Gibran dengan nyala api yang baru. "Aku tidak akan membiarkan dia dibawa ke rumah sakit sembarangan. Mereka akan tahu kalau dia masih hidup." ​"Lalu kamu mau apa, Nika? Dia bisa kehabisan darah!" balas Gibran frustrasi. ​Nika menatap wajah Ardi yang mulai kehilangan kesadaran. "Bawa dia ke laboratorium pusat. Di sana ada protokol darurat medis untuk kecelakaan kerja di lab yang tidak terdaftar di sistem rumah sakit. Aku yang akan m

  • Degrees Of Intimacy   Bab 35: Di Balik Pintu yang Terkunci

    Kamar nomor 9 itu terasa seperti sel isolasi. Nika masih terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada pintu kayu yang tadi ia banting. Ia tidak mempedulikan teriakan Gibran atau ketukan panik Dania di luar sana. Telinganya berdenging hebat. Bayangan Ardi di lab tadi, tatapan dinginnya, kalimat "pion" yang terlontar begitu saja, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. ​"Kenapa, Di?" bisiknya parau ke arah kegelapan kamar. "Kenapa harus aku yang kamu jadikan umpan? Kenapa kamu buat aku merasa seperti wanita paling bodoh di dunia ini?" ​Ia bangkit dengan langkah gontai menuju meja belajar. Di antara tumpukan buku bahasa pemrograman dan catatan algoritma yang berantakan, ia mengambil ponselnya. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia menyalakan ponsel itu. Puluhan notifikasi masuk sekaligus, pesan dari teman-temannya di Teknik Informatika yang menanyakan kebenaran gosip tentang Ardi, foto-foto yang dikirim anonim, dan panggilan tak terjawab da

  • Degrees Of Intimacy   Bab 34: Labirin Kebohongan

    Nika menatap kertas di tangannya dengan pandangan yang mengabur. Tinta merah itu seolah menertawakan kenaifannya. Ia meremas kertas tersebut hingga buku-buku jarinya memutih, seakan ingin meremas rasa sakit yang menghujam dadanya. Di balik pintu kamarnya, Gibran masih berbisik dengan nada cemas kepada Dania. ​"Dan, ini sudah melampaui rencana awal," bisik Gibran, suaranya sarat akan keputusasaan. "Mereka tahu Ardi hanya berpura-pura. Mereka tahu wanita di lab itu bukan siapa-siapa. Aku sudah mencoba menghubungi Ardi, tapi ponselnya mati total. Aku takut dia dalam bahaya besar." ​Dania terisak pelan. "Lalu sekarang bagaimana, Gibran? Kalau mereka tahu ini sandiwara, mereka akan menyerang Nika. Kita harus kasih tahu Nika yang sebenarnya! Dia tidak bisa terus-menerus dibiarkan dalam kegelapan!" ​"Tidak bisa!" potong Gibran tegas, nyaris membentak. "Kalau Nika tahu, dia akan panik dan justru melakukan hal yang lebih berbahaya. Ardi sudah mengorbankan hatinya sendiri, dia rela dibenci o

  • Degrees Of Intimacy   Bab 33: Bayangan di Balik Pintu

    Setibanya di kos nomor 9, Nika membanting pintu dan jatuh terduduk di lantai semen yang dingin. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah ada beban berat yang menghimpit paru-parunya. Isak tangisnya pecah tanpa sisa, memenuhi ruangan sempit itu. Ia meringkuk di sudut kamar, memeluk lututnya sendiri, berusaha menahan guncangan di sekujur tubuhnya. ​Ponselnya bergetar di dalam saku. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal menampilkan foto Ardi bersama wanita tadi di ruang lab. Bukti yang terlalu nyata untuk disangkal. ​"Jadi, dia sudah melakukannya sejak lama? Selama ini aku cuma jadi bahan tertawaan?" bisik Nika parau. ​Tak lama, ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Ardi masuk: Nika, tolong jangan lakukan apa pun. Aku akan menjelaskan semuanya besok pagi. Tolong, jangan buat dirimu dalam bahaya. ​Nika mengetik balasan dengan jemari gemetar: Menjelaskan? Tidak akan pernah! Ia lalu memblokir nomor itu dengan kasar. Ia melempar ponselnya ke kasur, lalu menatap roda gigi kuni

  • Degrees Of Intimacy   Bab 32: Tirai yang Terbuka

    Seminggu terakhir, apartemen terasa sangat dingin. Ardi, yang biasanya menjadi sumber kehangatan, kini berubah menjadi sosok yang sulit digapai. Setiap malam ia menghilang, meninggalkan Nika dengan alasan klise soal "tambahan proyek keamanan" dan "riset mendesak". ​Malam ini, pukul 11.30, Nika menatap secangkir kopi dingin di meja kerja Ardi. Frustrasinya memuncak. Ia memutuskan untuk memberikan kejutan. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya membuat pria itu begitu sibuk hingga melupakan keberadaannya. Dengan membawa tas bekal berisi makanan kesukaan Ardi, Nika berangkat menuju kampus. ​Gedung laboratorium pusat berdiri megah, namun terasa angker. Nika berjalan dengan jantung berdegup kencang di koridor yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu lab, ia mendengar suara tawa dari dalam. Bukan tawa Ardi yang hangat, melainkan tawa pria itu yang terdengar asing, terdengar... berbahaya. ​Nika mendorong pintu perlahan. Di sana, di bawah lampu laboratorium yang temaram, Ardi sedang berdiri.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status