แชร์

58

ผู้เขียน: Dinara Sofia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-28 13:35:21

‘Haih, dasar keras kepala. Padahal udah diingatkan dari tadi, mau kasian … tapi dia terlalu sombong,’ pikir Miranda.

Miranda yang berdiri di samping kakaknya menatap pemandangan itu dengan tatapan iba. Tidak ada riak kepuasan yang berlebihan di matanya, sebuah sikap kedewasaan yang lahir dari tempaan penderitaan masa lalu.

Dia menggandeng lengan Aris dengan lembut, mengajak kakaknya melangkah pergi meninggalkan Leni yang masih menangis tersedu-sedu di atas lantai pameran, dibarengi tatapan cemo
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dekapan Mantan Majikan   61

    “Mira! Sudah cukup!” panggil Aris.“Iya, Kak!” seru Miranda, “aku masuk dulu, ya. Nanti kita telponan lagi, aku rada geli bahasanya formal,” cakap Miranda.“Siapa suruh kamu terus-terusan panggil aku Tuan,” balas Rolan.“Dih, nyolot. Nah … kalo bahasanya begini kan enak. Udah, pulang sana, nanti masuk angin,” lontar Miranda.Rolan patuh dan pergi meninggalkan rumah tiga lantai tersebut, Aris meminta adiknya mengganti pakaian dan beristirahat.“Mira, kamu jangan salah paham. Aku kayaknya ga rela deh kalo ada Rolan,”” gerutu Aris.“Rolan baik, Kak. Cuma yah … dia tuh dominan aja. Sama kayak kakak,” sahut Miranda.“Asal kamu bahagia, Mira. Kakak dukung siapapun pilihanmu, asal jangan Bayu,” balas Aris.“Idih, siapa juga yang mau balikan sama dia,” gerundel Mira. Beberapa hari setelah peristiwa malam itu, Aris yang kini diberikan restu atas hubungan Miranda dan Rolan secara bertahap, Rolan meminta izin secara khusus untuk membawa Miranda pergi sejenak dari hiruk-pikuk kota.Mobil merek

  • Dekapan Mantan Majikan   60

    Rolan menarik napas panjang, tatapan matanya tidak lagi dingin saat menyebut nama wanita yang selama beberapa minggu ini selalu menguasai pikiran dan hatinya.Di depan seluruh masyarakat negeri ini, Rolan memilih untuk meruntuhkan seluruh gengsi, ego, dan reputasi dinginnya demi memberikan kepastian hukum dan emosional yang layak didapatkan oleh Miranda.“Miranda itu bukan sekadar asisten saya. Kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah menyembunyikan hubungan kami, dan hari ini saya meminta maaf secara terbuka kepada Miranda atas luka yang pernah saya torehkan,” ujar Rolan dengan kejujuran yang terpancar jelas dari raut wajahnya.“Apakah ini berarti Anda mengonfirmasi hubungan spesial di antara kalian berdua?” tanya wartawan media nasional, disambut sorotan lampu kilat kamera yang kian gencar.“Miranda adalah wanita terhormat dari keluarga berada, dan dia adalah satu-satunya wanita yang saya cintai. Di depan media hari ini, saya nyatakan bahwa dialah satu-satunya wanita yang ingin sa

  • Dekapan Mantan Majikan   59

    “Tuan Rolan, kita berdua ini lelaki. Ada yang janji manis ada yang komitmen, saya tidak bisa menilai Anda dengan cepat, tetapi bertahap.”“Untuk saat ini, saya belum bisa melepas adik saya. Secara pribadi akan memantau cara Anda apakah bus membahagiakan Miranda atau tidak,” tegas Aris.“Tidak masalah, aku akan sabar menunggunya. Mira baru mulai kuliah, dia tidak mengambil paket. Kemungkinan dalam waktu 3-3,5 tahun dia bisa menyelesaikan studinya.”“Selama rentang waktu itu, tolong izinkan saya bertemu dengannya tanpa harus diusir. Anda tentu mengerti arti rindu, bukan?” sahut Rolan berdiplomasi.“Selama tidak membuatnya menangis, aku pertimbangkan,” balas Aris.‘Aku hanya bisa buat dia menangis di ranjang, Tuan Aris,’ pikir Rolan.Kesepakatan kedua pria itu akhirnya tercapai, Rolan bertekad dia akan mendukung karir Miranda terlebih dahulu, baru menikahinya. Jika perlu, Rolan akan bertunangan dengan Miranda. Tentu saja dengan demikian wanita itu akan terikat dengannya dan bisa bertemu

  • Dekapan Mantan Majikan   58

    ‘Haih, dasar keras kepala. Padahal udah diingatkan dari tadi, mau kasian … tapi dia terlalu sombong,’ pikir Miranda.Miranda yang berdiri di samping kakaknya menatap pemandangan itu dengan tatapan iba. Tidak ada riak kepuasan yang berlebihan di matanya, sebuah sikap kedewasaan yang lahir dari tempaan penderitaan masa lalu.Dia menggandeng lengan Aris dengan lembut, mengajak kakaknya melangkah pergi meninggalkan Leni yang masih menangis tersedu-sedu di atas lantai pameran, dibarengi tatapan cemooh para tamu undangan.“Yuk kita pergi dari sini, Kak. Jangan lupa traktiran karena telat,” bisik Miranda dengan suara yang sangat tenang dan elegan.“Oke. Mulai sekarang, gak akan ada satu orang pun yang berani menyentuh atau merendahkan kamu lagi,” sahut Aris sambil mengusap lembut jemari adiknya di atas lengannya.“Mana ada yang berani, kakaknya galak begini, hahaha.” Miranda tertawa lepas.“Kamu harus bahagia ya, Dek. Udah lama aku gak liat kamu ketawa begitu,” tutur Aris.Tanpa terasa, satu

  • Dekapan Mantan Majikan   57

    Seketika Leni dan Baskoro jadi pusat perhatian semua pengunjung. Beberapa berbisik-bisik menyalahkan Leni yang sejak awal mencari masalah, sebagian menyalahkan Aris yang datang terlambat, sebagian lagi memuji Miranda yang rendah hati tidak membuka identitasnya.Udara yang sejuk membuat Baskoro resah dan wajah panik. Baskoro berdiri gemetar, pria paruh baya itu baru saja mendapatkan kerja sama proyek perumahan elit bernilai puluhan miliar, yang baru saja ditandatanganinya bersama perwakilan Vardana Development beberapa jam lalu. Sayangnya, secercah harapan untuk menyelamatkan perusahaannya dari jurang kebangkrutan itu sirna dalam hitungan detik.“Tuan Aris, saya memohon kebijaksanaan Anda. Leni ini memang sangat bodoh dan kurang ajar, saya bakal kasih pelajaran di rumah, tetapi proyek ini tidak ada hubungannya dengan kelakuannya yang gak tau aturan itu,” ratap Baskoro dengan suara bergetar.Lelaki itu mencoba menyelamatkan perusahaannya, tanpa proyek ini … perusahaannya nyaris bangkru

  • Dekapan Mantan Majikan   56

    Seorang pria bertubuh tegap dalam balutan setelan jas buatan Italia melangkah anggun melewati kerumunan orang, diiringi oleh empat orang pengawal pribadi berseragam hitam yang langsung membuat barisan pengamanan. Pria itu adalah Aris, sosok pemilik baru Vardana Development yang kini memegang kendali penuh atas industri real estate di kota tersebut. “Ada keributan apa ini di depan stan utama perusahaan saya?” tanya Aris dengan nada dingin. Hanya mendengar suaranya saja, sudah memancarkan dominasi yang seketika membungkam suara riuh di aula pameran. “Tuan Aris! Selamat sore, Tuan! Maafkan keributan kecil ini, perempuan babu gatel yang kerja sampingan jadi sales ini yang mengganggu ketenangan pengunjung pameran,” jawab Leni penuh percaya diri. Sikapnya berubah seketika, menjadi manis, memasang senyuman paling memikat sambil merapikan gaun merahnya. Baskoro yang mengenali sosok pemilik baru raksasa properti itu langsung membungkukkan badannya secara terhormat, merasa ini adalah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status