LOGINPeringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena
Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul
Pesta amal itu terus berlangsung seolah tidak pernah terjadi apa pun.Alunan musik klasik mengisi aula megah, berpadu dengan dentingan gelas kristal dan tawa para tamu yang terdengar hangat. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan yang mampu menipu siapa saja.Zoey berusaha mempertahankan senyum tipis setiap kali berpapasan dengan tamu lain. Sesekali ia mengangguk sopan ketika seseorang menyapa Dimitri. Dari luar, ia tampak tenang.Padahal, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Tanpa sadar, pandangannya kembali mencari satu sosok di antara kerumunan.Dominic Cassarius.Wanita itu kini berdiri bersama beberapa tokoh penting dunia bisnis. Ia tersenyum, mengangkat gelas wine, lalu tertawa pelan menanggapi lelucon salah satu tamu.Tak ada yang akan mengira bahwa di balik senyum ramah itu, pikirannya masih bekerja tanpa henti.Zoey yakin Dominic belum melupakan dirinya.Wanita itu sedang menyusun potongan-potonga
"Lalu mengapa saya merasa matanya begitu... familiar?"Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menyerap seluruh suara di dalam aula. Alunan musik klasik masih terdengar pelan, begitu pula percakapan para tamu yang kembali berlangsung di berbagai sudut ruangan. Namun, bagi Zoey, semuanya seakan lenyap. Yang tersisa hanyalah tatapan Dominic Cassarius yang tak pernah lepas darinya.Seluruh perhatian di meja itu kini tertuju kepada Dimitri.Pria yang malam itu dikenal sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan raut wajah. Ia tetap berdiri tegak dengan ekspresi tenang, seolah pertanyaan yang baru saja dilontarkan Dominic hanyalah percakapan ringan di sebuah pesta biasa.Senyum tipis terukir di sudut bibirnya."Barangkali karena Anda pernah bertemu dengan banyak orang yang memiliki sorot mata serupa," ucap Dimitri santai. "Mata adalah anugerah yang sulit dijadikan identitas."Jawaban itu terdengar ringan, tetapi cukup cerdas untuk menghindari penjelasan
Ruangan utama dipenuhi kilauan lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Alunan musik klasik mengalun pelan, menyamarkan percakapan-percakapan berbisik yang terjadi di setiap sudut ruangan.Namun Zoey tahu, tidak ada satupun orang yang benar-benar datang untuk menikmati pesta. Semua orang sedang mengawasi. Semua orang sedang menilai.Di ujung ruangan, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri tegak sambil bertumpu pada tongkat berukir. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi wibawa yang terpancar darinya membuat orang-orang di sekitarnya menjaga jarak.Seorang pengawal mendekat lalu membungkukkan badan. "Tuan, tamu yang Anda tunggu telah tiba. Namun Nyonya Dominic Cassarius masih belum hadir."Pria itu mengangguk pelan sebelum membalikkan tubuhnya. Senyum ramah segera menghiasi wajahnya saat melihat Dimitri dan Zoey."Yang Mulia Sheikh Khalid Al Rashid... selamat datang."Dimitri membalas dengan anggukan tenang. "Terima kasih."Pria itu me
Pagi itu, suasana mansion terasa jauh lebih sibuk daripada biasanya.Beberapa orang hilir mudik membawa kotak-kotak besar, koper pakaian, dan berbagai perlengkapan yang belum pernah Zoey lihat selama tinggal di sana. Para pelayan bekerja cepat tanpa banyak bicara, seolah semua telah mengetahui tugas masing-masing.Zoey berdiri di ambang pintu ruang tamu sambil mengernyitkan dahi. "Ada apa sebenarnya?"Belum sempat siapa pun menjawab, terdengar langkah kaki mendekat dari arah lorong.Dimitri muncul mengenakan setelan hitam sederhana. Di sampingnya berjalan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang membawa koper aluminium berukuran sedang."Sudah siap?" tanya Dimitri singkat.Zoey mengedip bingung. "Siap untuk apa?"Dimitri menatapnya beberapa saat sebelum menjawab, "Menjadi orang lain."Kalimat itu membuat Zoey terdiam.Tanpa menambahkan penjelasan, Dimitri melangkah melewatinya menuju sebuah ruangan yang selama ini selalu tertutup rapat. Ia membuka pintu ruangan itu perlahan.







