LOGINMalam itu turun dengan cara yang lebih lembut dari biasanya.
Setelah kontrol kandungan siang tadi, setelah perjalanan pulang yang terasa lebih tenang dari biasanya, dan setelah makan malam sederhana yang hampir seluruhnya mereka habiskan dalam diam yang tidak lagi canggung, apartemen Rionegro terasa berbeda. Tidak banyak berubah dari luar. Lampu-lampu tetap menyala hangat. Ruang tengah tetap rapi. Bunyi pendingin ruangan tetap samar. Kota di luar jendela masih bergerak seperti biasaSore itu, rumah keluarga Callisto terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan karena tidak ada orang di dalamnya. Justru ada beberapa staf rumah yang masih berjalan pelan di lorong, sesekali terdengar suara pintu tertutup dari kejauhan, dan dering ponsel Damian yang sejak tadi tidak berhenti sepenuhnya.Tapi tetap saja.Ada sunyi yang terasa lain.Sunyi yang muncul bukan karena tidak ada suara, melainkan karena seseorang di rumah itu sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja.Yusallia duduk di sofa ruang tengah dengan kedua tangan menggenggam cangkir teh hangat yang bahkan belum ia minum sejak tadi. Rambutnya dibiarkan jatuh di bahu, sedikit berantakan, seolah ia tidak punya cukup tenaga untuk merapikannya. Wajahnya pucat. Matanya lelah.Dan senyumnya...Senyum itu ada.Tapi tidak sampai ke matanya.Damian berdiri tidak jauh darinya, bersandar di dekat rak buku dengan kedua tangan terlipat di depan dada
Malam di rumah Callisto terasa lebih sunyi daripada biasanya.Bukan karena rumah itu benar-benar sepi. Lampu-lampu tetap menyala hangat di beberapa sudut. Dari lantai bawah, sesekali terdengar langkah pelan para staf rumah yang masih membereskan sesuatu. Suara televisi dari ruang keluarga sempat terdengar sangat kecil, lalu menghilang lagi. Semuanya tetap berjalan seperti rumah besar yang hidup sebagaimana mestinya.Namun entah kenapa, malam itu tetap terasa sunyi bagi Yusallia.Ia sedang duduk sendiri di kamar lamanya, tepat di tepi tempat tidur yang dulu pernah terasa begitu akrab sampai ia bisa duduk berjam-jam di sana tanpa merasa asing. Tirai jendela setengah terbuka. Di luar, langit Jakarta tampak gelap dengan cahaya lampu taman yang jatuh lembut ke halaman samping rumah. Angin malam bergerak pelan, membuat ujung tirai sesekali bergeser tipis.Di pangkuannya, jemari Yusallia saling bertaut.Sudah beberapa hari ia pulang ke rumah ini
Pagi itu dimulai dengan langit Jakarta yang muram, meski hujan belum benar-benar turun. Awan-awan kelabu menggantung rendah di atas gedung-gedung tinggi, membuat cahaya matahari tampak pucat dan tertahan. Jalanan kota sudah dipenuhi kendaraan sejak jam-jam awal, sementara di dalam mobil hitam yang membelah arus lalu lintas dengan tenang, Rionegro duduk di kursi belakang sambil menatap layar tablet di tangannya. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Terlalu tenang, mungkin. Namun siapa pun yang mengenalnya cukup lama akan tahu bahwa ketenangan seperti itu justru sering muncul saat pikirannya sedang bekerja terlalu keras. Di layar tablet, beberapa dokumen digital terbuka berurutan. Bukan file laporan rapat. Bukan juga ringkasan presentasi biasa. Itu adalah file-file perkembangan perusahaan keluarga Raymond yang beberapa bulan terakhir rutin diberikan oleh asisten ayahnya untuk dipelajari. Selama ini, Rionegro
Pagi datang seperti biasanya.Cahaya matahari tetap masuk dari sela tirai apartemen dengan sudut yang sama. Jam dinding tetap bergerak pelan. Pendingin ruangan tetap berdengung halus. Kota di luar jendela juga tetap hidup, dengan jalanan yang pelan-pelan dipenuhi kendaraan dan gedung-gedung yang memantulkan cahaya pagi.Semuanya tampak biasa.Setidaknya, begitu yang ingin diyakini Rionegro.Ia bangun lebih awal seperti biasa, mandi, mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika dengan licin, lalu berjalan ke dapur dengan langkah tenang. Tangannya otomatis meraih teko, menyalakan air, mengambil cangkir, dan menata meja makan tanpa perlu berpikir.Sampai di satu titik, gerakannya berhenti.Tangannya baru saja mengambil dua piring dari rak atas.Dua.Padahal pagi ini hanya ada dia.Rionegro menatap dua piring itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembalikan salah satunya ke tempat semula. Wajahnya t
Malam setelah pertengkaran itu berlalu tanpa benar-benar memberi istirahat pada siapa pun.Di dalam kamar, Yusallia tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah basah dan dada yang masih terasa sesak, sementara di luar sana apartemen tetap sunyi seperti tidak ada apa-apa yang baru saja pecah. Tidak ada suara langkah mendekat ke pintu. Tidak ada ketukan pelan. Tidak ada suara Rionegro yang mencoba meminta ia membuka pintu dan bicara baik-baik. Yang ada hanya hening yang panjang, dingin, dan membuat semuanya terasa semakin nyata.Yusallia memeluk dirinya sendiri cukup lama sampai akhirnya lelah itu datang.Bukan lelah fisik.Bukan juga mual atau pusing yang biasa ia rasakan sejak hamil.Ini jenis lelah yang hidup di hati. Lelah karena terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang. Lelah karena berkali-kali berusaha mengerti, berkali-kali memaklumi, berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa sem
Malam itu, apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan sunyi yang tenang. Bukan juga sunyi yang nyaman seperti malam-malam awal ketika mereka masih sama-sama belajar tinggal di bawah atap yang sama. Sunyi kali ini terasa seperti sesuatu yang menahan napas, menunggu pecah, menunggu satu kalimat saja terucap agar semuanya berubah bentuk.Setelah pulang dari kafe, Yusallia dan Rionegro tidak banyak bicara.Mereka masuk ke apartemen bersama, melepas sepatu, lalu berjalan ke ruang tengah dengan langkah yang sama-sama pelan. Lampu masih menyala hangat. Ruangan masih rapi. Gelas air di meja masih seperti tadi. Tapi suasana di dalamnya sudah berbeda. Terlalu rapat. Terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak diucapkan.Rionegro berdiri sebentar di dekat meja, meletakkan ponsel dan dompetnya seperti biasa. Gerakannya tetap tenang. Terlalu tenang, sampai membuat dada Yusallia terasa semakin sesak. Seolah apa pun yang baru saja ia lihat-Bryan yang mendengarn
Pukul sembilan malam hampir tiba ketika Rionegro akhirnya menutup laptopnya. Lampu apartemen masih menyala setengah redup, hanya cukup terang untuk menampilkan bayangan samar furnitur modern yang tertata rapi. Tidak banyak dekorasi. Tidak ada benda yang benar-benar berlebihan. Semuanya terasa fungs
Siang hari datang lebih cepat dari yang Yusallia sadari. Jam di dinding ruang praktiknya sudah hampir menunjukkan waktu istirahat makan siang ketika pasien terakhir pagi itu duduk di hadapannya. Seorang perempuan muda yang sejak awal terlihat sedikit cemas, tapi perlahan mulai lebih tenang setelah
Pukul tujuh pagi. Langit Jakarta belum sepenuhnya terang ketika pagi mulai merayap masuk melalui celah-celah gedung tinggi. Cahaya matahari yang masih tipis menyusup pelan ke balkon apartemen, memantul lembut di lantai marmer berwarna pucat yang masih menyimpan dingin malam. Udara pagi terasa tenan
Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang ma







