LOGINPagi itu, cahaya Jakarta menyelinap pelan ke dalam apartemen Rionegro. Sinar matahari masih lembut, menembus tirai tipis dan memantul ke lantai dengan pola yang hampir sama seperti beberapa hari terakhir. Namun pagi itu berbeda. Ada rasa cemas yang tak terlihat namun menempel di udara. Rionegro duduk di kursi ruang kerjanya, laptop terbuka di hadapannya, catatan materi perkuliahan minggu depan berserakan di meja, tapi pikirannya sulit fokus.
Ia mencoba membaca slide yang sudah ia buaRionegro sampai di rumah sakit dengan napas yang masih tersengal dan tangan gemetar. Mobilnya diparkir sembarangan di area drop-off, tidak peduli dengan mobil lain atau petugas yang memberi isyarat. Seluruh tubuhnya terasa panas dan dingin sekaligus, seperti ada arus listrik yang terus berputar di dalamnya. Ia hampir tidak menyadari langkahnya sendiri ketika keluar dari mobil, hanya tahu satu hal: Yusallia. Hanya Yusallia yang ada di kepalanya saat itu. Koridor rumah sakit yang biasanya terasa rapi dan tenang kini tampak seperti labirin asing yang bergerak lambat. Lampu neon di atasnya berkelip seolah menahan waktu, dan suara langkah perawat yang berlarian terdengar terlalu jauh, terlalu cepat, dan terlalu jauh dari kontrolnya. Rionegro berlari, melewati meja registrasi, tanpa menoleh pada siapa pun. Saat ia telah sampai di lantai UGD, bau antiseptik, suara monitor, dan bunyi sepatu perawat di lantai keramik yang mengilap membuatnya hampir tidak bisa b
Minggu siang itu Jakarta terasa panas dan lengang. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan, tapi tidak terlalu padat. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya di aspal yang sedikit basah dari hujan semalam, memberi kesan kota yang seolah bergerak lambat. Di dalam mobil hitamnya, Yusallia memegang setir dengan tangan sedikit berkeringat. Ia menyesuaikan posisi kaca spion, lalu menarik napas panjang. "Santai aja, Yusa," gumamnya pelan, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali ke apartemen Rionegro sendiri. Bukan karena ia ingin membuat jarak, tapi karena ada perasaan aneh di dada yang membuatnya ingin mengurus semuanya sendiri, meski hanya sebatas perjalanan pulang.Yusallia menyalakan radio mobil, tapi hanya terdengar suara samar, hampir seperti latar yang tidak terlalu penting. Matanya terus menatap jalan, tapi pikirannya melayang ke apartemen. Ia membayangkan Rionegro menunggu, duduk di sofa, menatap ke arah pintu saat langkah kak
Pagi itu, cahaya Jakarta menyelinap pelan ke dalam apartemen Rionegro. Sinar matahari masih lembut, menembus tirai tipis dan memantul ke lantai dengan pola yang hampir sama seperti beberapa hari terakhir. Namun pagi itu berbeda. Ada rasa cemas yang tak terlihat namun menempel di udara. Rionegro duduk di kursi ruang kerjanya, laptop terbuka di hadapannya, catatan materi perkuliahan minggu depan berserakan di meja, tapi pikirannya sulit fokus.Ia mencoba membaca slide yang sudah ia buat, menata kata demi kata agar bisa jelas ketika menjelaskan ke mahasiswa. Tapi matanya terus melayang ke layar ponsel yang bergetar beberapa kali di samping laptop. Setiap notifikasi terasa menambah tekanan yang sudah ada, meskipun itu hanya pesan dari staf atau pengingat kecil dari Pak Arman, asisten ayahnya.Lalu, telepon itu berdering. Nama ayahnya muncul di layar.Rionegro menarik napas panjang, meletakkan pena, dan mengangkat panggilan. “Iya, Ayah.”“Rion,” suara
Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa hangat, tapi tetap dipenuhi rasa tegang yang samar. Yusallia duduk di ruang tamu, memeluk bantal kecil di pangkuannya, matanya sesekali menatap ke luar jendela, ke halaman yang diterangi cahaya senja yang perlahan meredup. Ia tahu Rionegro akan datang. Sudah sejak beberapa jam lalu, ponselnya bergetar dengan pesan singkat dari pria itu.> Aku akan datang sore ini, setelah dari kampus. Kita bicara berdua.Pesan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat jantung Yusallia berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menaruh cangkir teh hangat di meja sampingnya, menarik napas perlahan, dan mencoba menenangkan pikiran. Ia tidak punya jadwal rumah sakit hari itu, tapi hatinya tetap terasa penuh. Setiap menit yang ia habiskan menunggu Rionegro terasa seperti waktu yang terseret terlalu lambat.Beberapa staf rumah bergerak pelan di sekitar, menyiapkan teh, memastikan lampu tetap menyala, tapi Yusallia hampir tidak menyadari
Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan karena tidak ada orang di dalamnya. Justru ada beberapa staf rumah yang masih berjalan pelan di lorong, sesekali terdengar suara pintu tertutup dari kejauhan, dan dering ponsel Damian yang sejak tadi tidak berhenti sepenuhnya.Tapi tetap saja.Ada sunyi yang terasa lain.Sunyi yang muncul bukan karena tidak ada suara, melainkan karena seseorang di rumah itu sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja.Yusallia duduk di sofa ruang tengah dengan kedua tangan menggenggam cangkir teh hangat yang bahkan belum ia minum sejak tadi. Rambutnya dibiarkan jatuh di bahu, sedikit berantakan, seolah ia tidak punya cukup tenaga untuk merapikannya. Wajahnya pucat. Matanya lelah.Dan senyumnya...Senyum itu ada.Tapi tidak sampai ke matanya.Damian berdiri tidak jauh darinya, bersandar di dekat rak buku dengan kedua tangan terlipat di depan dada
Malam di rumah Callisto terasa lebih sunyi daripada biasanya.Bukan karena rumah itu benar-benar sepi. Lampu-lampu tetap menyala hangat di beberapa sudut. Dari lantai bawah, sesekali terdengar langkah pelan para staf rumah yang masih membereskan sesuatu. Suara televisi dari ruang keluarga sempat terdengar sangat kecil, lalu menghilang lagi. Semuanya tetap berjalan seperti rumah besar yang hidup sebagaimana mestinya.Namun entah kenapa, malam itu tetap terasa sunyi bagi Yusallia.Ia sedang duduk sendiri di kamar lamanya, tepat di tepi tempat tidur yang dulu pernah terasa begitu akrab sampai ia bisa duduk berjam-jam di sana tanpa merasa asing. Tirai jendela setengah terbuka. Di luar, langit Jakarta tampak gelap dengan cahaya lampu taman yang jatuh lembut ke halaman samping rumah. Angin malam bergerak pelan, membuat ujung tirai sesekali bergeser tipis.Di pangkuannya, jemari Yusallia saling bertaut.Sudah beberapa hari ia pulang ke rumah ini
Siang hari datang lebih cepat dari yang Yusallia sadari. Jam di dinding ruang praktiknya sudah hampir menunjukkan waktu istirahat makan siang ketika pasien terakhir pagi itu duduk di hadapannya. Seorang perempuan muda yang sejak awal terlihat sedikit cemas, tapi perlahan mulai lebih tenang setelah
Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang ma
Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah le
Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be







