LOGINKeesokan paginya, Rionegro kembali meninggalkan rumah sakit lebih awal.
Kali ini Yusallia tidak bertanya terlalu banyak.Ia hanya menatap Rionegro dari ranjang perawatan dengan wajah yang masih pucat, tetapi matanya sudah jauh lebih sadar daripada hari-hari sebelumnya. Selang infus masih terpasang di tangannya. Monitor di samping ranjang masih mengeluarkan bunyi teratur yang sejak beberapa hari terakhir menjadi suara paling akrab di telinga Rionegro.Rionegro berdirDi dalam kamar, Damian memperhatikan mereka dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.Ia tidak mendengar semuanya, tetapi cukup melihat cara Bryan dan Rionegro berdiri tanpa saling menyerang. Cukup melihat bahwa Bryan tidak lagi menatap Rionegro seperti musuh. Cukup melihat bahwa Rionegro tidak lagi terlihat seperti orang asing di tengah keluarga mereka.Yusallia yang menyadari Damian berdiri dekat pintu menoleh.“Lo nguping?”Damian menoleh cepat. “Nggak.”“Bohong.”“Gue cuma memastikan mereka nggak adu jotos di lorong.”Yusallia menatapnya datar. “Di rumah sakit?”“Justru karena di rumah sakit, gue harus pastikan. Kalau berantem di sini kan malu.”Yusallia tersenyum kecil. “Mereka nggak akan berantem.”“Lo yakin?”“Yakin.”Damian berjalan kembali ke dekat ranjang dan duduk di kursi sampingnya.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap kakaknya.Yusallia meras
Bryan mendekati ranjang Yusallia setelah beberapa waktu. Ia menunggu sampai orang tua mereka berbicara dengan ayah Rionegro dan Alexander di sisi lain ruangan. Damian sedang membantu mama Yusallia membereskan kotak makanan, sementara Rionegro berbicara pelan dengan dokter yang baru masuk sebentar untuk mengecek kondisi Yusallia.Bryan berdiri di samping ranjang, menatap Yusallia dengan senyum kecil.“Lo kelihatan lebih hidup hari ini,” katanya.Yusallia menoleh. “Itu pujian atau sindiran?”“Pujian. Tapi bisa jadi sindiran kalau lo susah makan lagi.”Yusallia mendengus pelan. “Lo sama Damian sekarang kompak banget.”“Dalam urusan kesehatan lo, gue rela satu kubu sama siapa pun.”Yusallia tersenyum kecil.Bryan memandangnya beberapa detik. Senyumnya perlahan melembut.“Gue sempat takut banget,” ucapnya pelan.Yusallia diam.Bryan menunduk sedikit, memasukkan kedua tangannya ke saku celan
Seumur hidup, ayah Rionegro tahu Rionegro tumbuh sebagai anak yang terlalu terbiasa menahan diri. Anak yang lebih banyak diam daripada meminta. Anak yang menyimpan kecewa, luka, dan jarak dengan keluarganya sendiri. Anak yang menganggap tanggung jawab sebagai sesuatu yang harus dipikul sendirian, bukan dibagi.Namun sekarang, di depan matanya, Rionegro duduk di samping istrinya, menyuapi perempuan yang hampir ia kehilangan, dengan ekspresi tenang yang justru terasa penuh rasa takut dan kasih sayang.Ayah Rionegro menarik napas pelan.“Yusallia,” panggilnya.Yusallia menoleh. “Iya, Ayah?”Panggilan itu membuat ruangan hening sebentar.Ayah Rionegro terdiam.Rionegro pun menoleh, seolah ikut menangkap perubahan kecil itu.Yusallia tidak menyadari bahwa panggilan itu terdengar begitu alami keluar dari mulutnya. Sejak menikah dengan Rionegro, ia memang mencoba menghormati keluarga suaminya. Namun hari ini, kata itu
Hari itu, ruang perawatan Yusallia terasa berbeda.Bukan karena alat-alat medis sudah tidak ada.Bukan juga karena Yusallia sudah benar-benar pulih dan bisa pulang.Selang infus masih terpasang di tangannya. Monitor di samping ranjang masih menyala dengan bunyi teratur. Wajahnya masih pucat, tubuhnya masih mudah lelah, dan dokter masih mengingatkan bahwa ia belum boleh terlalu banyak bergerak atau menerima terlalu banyak tekanan.Namun suasana di dalam ruangan itu tidak lagi terasa sesak seperti hari-hari sebelumnya.Tidak ada kepanikan yang menggantung berat di udara.Tidak ada wajah-wajah yang berusaha kuat sambil menyembunyikan ketakutan.Tidak ada lagi berita Arvantara yang menyala di televisi dan membuat semua orang terdiam dengan rahang mengeras.Hari itu, ruang perawatan Yusallia terasa lebih hangat.Di atas meja kecil dekat jendela, ada beberapa kotak makanan yang dibawa keluarga Callisto. Ada b
Sore harinya, kabar runtuhnya Arvantara semakin besar. Media mulai menayangkan wajah Bagas Arvantara ketika ia dibawa untuk pemeriksaan. Tidak ada lagi senyum percaya diri. Tidak ada lagi citra keluarga kuat yang tidak bisa disentuh. Ia menunduk di antara kerumunan wartawan, dikawal petugas, sementara pertanyaan datang bertubi-tubi. Kasus-kasus lama keluarga Arvantara ikut terbuka. Manipulasi tender. Suap. Perusahaan cangkang. Pemalsuan laporan. Pembayaran media bayaran. Tekanan terhadap saksi. Dan yang paling besar, dugaan pembunuhan berencana dalam insiden kecelakaan Yusallia. Publik marah. Investor mundur. Mitra bisnis menjauh. Orang-orang yang dulu berdiri di sekitar Arvantara mulai berpura-pura tidak pernah dekat. Dalam satu minggu, nama Arvantara yang dulu terdengar kuat
Hari pertama, mereka kehilangan dua vendor utama. Hari kedua, tiga kontrak besar yang sudah hampir mereka kuasai tiba-tiba ditahan karena audit kepatuhan. Hari ketiga, nama perusahaan cangkang mereka mulai disebut dalam laporan bisnis tertutup yang beredar di kalangan investor. Hari keempat, saksi internal yang dilindungi Jevano akhirnya memberikan pernyataan resmi. Hari kelima, bukti digital yang berusaha dihapus oleh pihak Bagas berhasil dipulihkan sebagian besar. Hari keenam, media mulai mencium sesuatu. Dan hari ketujuh, semuanya pecah. Pagi itu, Rionegro sedang berada di ruang perawatan Yusallia ketika ponselnya terus bergetar tanpa henti. Yusallia yang sedang duduk bersandar dengan bantuan bantal menoleh pelan. “Telepon terus?” Rionegro mengambil ponselnya dari meja. Ada pesan dari Revano, Jevano, Alexander, dan Axel yang masuk h
Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah le
Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be
Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang bel
Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir ja







