MasukAzura, seorang wanita yang taat beragama dan hidup dalam kebahagiaan dengan suaminya, Ustad Aslam, merasa bahwa pernikahannya adalah surga yang dijanjikan. Namun, semuanya berubah ketika dia menemukan sebuah rahasia yang mengejutkan tentang suaminya. Ustad Aslam telah menikah lagi, dan Azura bukanlah istri keduanya, melainkan istri keempatnya. Azura merasa hancur dan dikhianati oleh suaminya. Dia tidak bisa memahami mengapa Ustad Aslam tidak memberitahunya tentang pernikahan lainnya. Azura merasa seperti hidup dalam kebohongan dan ketidakpastian. Ketika Azura mengetahui bahwa suaminya telah menikah dengan tiga wanita lainnya sebelum dia, dia merasa seperti tidak berarti lagi dalam pernikahannya. Azura harus menghadapi kenyataan bahwa dia bukanlah prioritas utama dalam hidup Ustad Aslam. Dengan hati yang hancur, Azura memutuskan untuk mengambil langkah drastis untuk menghadapi suaminya dan menentukan masa depannya sendiri. Apakah Azura akan memilih untuk tetap bersama Ustad Aslam atau meninggalkannya untuk selamanya.
Lihat lebih banyakMendengar suaminya mengalami kecelakaan, tangan Arini langsung gemetar. Ponsel yang berada di genggamannya hampir saja terjatuh. Dengan napas memburu, dia segera mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas lalu bergegas keluar dari kamar. "Anak-anak!" teriak Arini kepada ketiga putrinya. "Iya, Ma!" jawab Naomi, Naura, dan Nadira hampir bersamaan. Mendengar teriakan ibunya, mereka langsung bergegas menghampiri Arini di ruang tamu. "Ada apa, Ma?" tanya Naura dengan dahi berkerut. "Sekarang kalian bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan pergi ke rumah sakit," kata Arini berusaha terdengar tenang. Namun, siapa sangka ketenangan itu hanyalah topeng untuk menutupi kepanikannya. "Siapa yang sakit, Ma?" tanya Naomi bingung. Mereka bertiga tadi sedang bermain di ruang keluarga. Tiba-tiba saja mamanya meminta mereka pergi ke rumah sakit sehingga membuat mereka bertanya-tanya. "Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang cepat bersiap," pungkas Arini. Bukan Arini tidak ingin memberitahukan
Setelah kedatangan Arini, rumah tangga Aslam dan Azura tidak lagi baik-baik saja. Hari-hari mereka dipenuhi perdebatan yang tak kunjung usai. Hal-hal kecil berubah menjadi besar, dan yang besar semakin sulit untuk diselesaikan.Malam itu, setelah selesai berdakwah, Aslam pulang dalam keadaan lelah. Jalanan terlihat sepi, hanya lampu-lampu jalan yang menemani perjalanannya.Namun pikirannya tidak tenang.Semua perkataan Azura kembali terngiang di kepalanya.Dadanya terasa sesak.Tangannya menggenggam kemudi lebih erat.Tanpa sadar, pandangannya sedikit kabur.Dan—“Brakkk!”Suara benturan keras memecah malam.Mobil yang dikendarainya menabrak pohon besar di pinggir jalan. Tubuh mobil terbalik, kaca-kaca pecah berserakan, suara mesin masih meraung pelan.Darah mengalir dari pelipisnya.Napas Aslam tersengal.Matanya setengah terbuka, namun pandangannya sudah tidak fokus.Di detik-detik itu, bukan rasa sakit yang dia rasakan—melainkan penyesalan.Bayangan Azura muncul di benaknya.Wajah
Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang bagi Azura.Sinar matahari menembus celah gorden kamar, jatuh di wajah mungil Quensha yang masih terlelap di pelukannya. Anak itu tidur dengan napas teratur, seolah tak tahu badai apa yang sedang menghantam rumah kecil mereka. Azura menatap wajah itu lama, matanya kembali perih.Semalam ia hampir tak tidur.Bukan karena Quensha rewel, melainkan karena pikirannya tak berhenti berputar. Kata-kata Aslam. Bayangan Arini. Dan kenyataan pahit yang kini harus ia telan—bahwa sejak awal, ia bukan pilihan utama.Azura menghela napas pelan, takut mengganggu tidur anaknya. Tangannya terangkat, menyibak rambut Quensha dari kening kecil itu.“Kamu jangan pernah merasa nggak dipilih ya, Nak.” bisiknya lirih.“Kalau dunia nanti jahat sama kamu, Umi akan jadi tempat pulangmu.”Pintu kamar terdengar berderit pelan.Azura refleks menoleh.Aslam berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak lelah, matanya cekung seperti tak kalah menderita. Di tangannya ada segelas su
"Sakit banget ya allah," lirih Azura. Setelah pertengkaran dengan suaminya Aslam. dia tidak keluar kamar sama sekali. Membiarkan Queensha menangis dengan kencang bersama dengan Aslam.Saat ini dia benar-bener butuh waktu sendiri.Meskipun Aslam selalu saja mengetuk pintu kamarnya berkali-kali seperti saat ini.Tok Tok Tok"Azura buka pintunya sayang, Ini Quensha menangis," kata Aslam dengan nada prihatin.TesAir mata Azura menetes, dia begitu sangat sakit hati, dan begitu pun dengan Quensha mungkin anak itu merasakan sakit seperti yang di rasakan ibunya. Tangis Azura semakin pecah, tapi ia tetap menahan suaranya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tak mengeluarkan isakan keras. Ia ingin sendiri. Ia butuh sendiri."Aslam... kenapa kamu tega..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.Tangannya mengepal di atas dada, seolah mencoba menahan sesak yang menyeruak dari dalam. Ingatannya kembali pada pertengkaran hebat tadi. Kata-kata Aslam masih menggema di telinganya—tajam, menusuk, dan
Azura terdiam, pandangannya tak lepas dari sosok wanita asing yang berdiri di samping suaminya, Aslam. Wajah perempuan itu tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa Azura baca dengan mudah.“Maaf,Bu ... cari siapa, ya?” tanya Azura hati-hati. Suaranya terdengar sopan, meski ada keraguan
Keesokan harinya Arini pagi-pagi sekali sudah berdandan Rapi. Dia membangunkan semua anaknya untuk segera bangun. Berusiap berangkat sekolah supaya tidak kesiangan.Tok Tok Tok“Naina bangun,” ucap Arini di depan pintu kamar anaknya.“Iya Mi, Naina sudah bangun kok,” jawabnya di dalam sana sembari
Pikiran Arini semakin tak karuan saat melihat suaminya bersama wanita lain.Terlebih selama ini Arini tidak pernah melihat suaminya dekat dengan siapapun kecuali ibunya dan juga istrinya. Tapi sekarang, dia dekat dengan orang lain.“Siapa perempuan itu?” tanya Arini kepada dirinya sendiri.Dari keja
Di pagi harinya Aslam sudah siap dengan kemeja lengan panjang dan juga celana panjang hitam,tidak lupa dengan topi yang senada dengan dengan baju dan celannya. Dia keluar dari kamar sembari menyeret koper besar miliknya.Berjalan menuruni tangga untuk menghampiri anak dan istrinya."Umi," panggil A












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.