Share

Dibalik Tabir Pernikahan
Dibalik Tabir Pernikahan
Author: Rahma S.R

Kecurigaan Arini

Author: Rahma S.R
last update publish date: 2025-05-01 21:08:58

"Assalamualaikum," ucap Aslam saat membuka pintu masuk.

Berjalan menghampiri istrinya yang saat ini sedang duduk di kursi ruang tamu. Menundukan pandangannya sembari membaca buku-buku islam yang dia belikan kepada istrinya.Tampaknya Arini sedang fokus membaca buku, namun saat mendengar suara Aslam Arini langsung saja mengangkat pandangannya.

"Waalaikumsalam," jawab Arini Istri seorang Aslam.

Mendengar suara suaminya datang Arini langsung saja bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Aslam yang sedang berjalan ke arahnya.Dengan langkah yang anggun dan juga santai Arini menyambut kedatangan suaminya dengan penuh suka cita dan kasih sayang.

"Kenapa, Baru pulang Bi?" tanya Arini sembari mencium tangan Aslam dengan takdim.

Aslam tersenyum saat Arinia bertanya seperti itu, dia sudah tahu Istrinya akan bertanya seperti itu karena bagaimanapun Aslam telat setengah jam saat pulang dari waktu yang ditentukan.

"Maaf Mi tadi, di jalan macet jadi lama.”Aslam mengusap tengkuknya dengan pelan sembari membuang muka ke sembarang arah untuk menghindari tatapan menyelidik dari istrinya.

Inilah yang Arini suka dari suaminya, dia selalu tenang dalam berbicara serta selalu menghargai Arini. Menjelaskan apa yang tidak perlu dijelaskan supaya hubungannya suami istri terjalin dengan baik.

Arini tersenyum sembari menatap ke arah suaminya yang saat ini sedang menatapnya.

"Kenapa menatap abi seperti itu??" tanya Aslam kepada Arini.

 Aslam merasa tidak nyaman saat Arini menatapnya dengan tatapan tajam dan menyelidik. Tidak biasanya Arini seperti itu, dia heran ada apa dengan istrinya hari ini. Namun meskipun begitu dia tidak mengatakan apapun kepada Arini, dia ingin tahu apa yang akan istrinya lakukan.

"Tidak, aku hanya merasa sangat bersyukur mempunyai suami seperti Abi yang begitu pengertian juga bisa menghargai istri Abi.” Arini menunduk malu, wajahnya tersipu malu saat menjawab pertanyaan Aslam kedua tangannya saling bertaut  untuk menghilangkan rasa malu dan juga gugupnya.

Aslam tersenyum mengembang saat mendengar jawaban Istrinya itu yang terlihat begitu menggemaskan saat dirinya sedang malu.Tangannya perlahan menyentuh puncuk kepala Arini mengelusnya dengan lembut sembari menatap ke arah Arini.Sontak saja perlakukan Aslam membuat Arini semakin malu kepada suaminya.

"Sudah lebih baik sekarang kita makan bersama ayo," ajak Aslam kepada Arini untuk mengalihkan pembicaraan.

Aslam tahu Arini saat ini sedang tersipu malu.Dia merasa sangat geli saat melihat istrinya seperti itu.Dia juga geleng-geleng kepala tdiak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang masih saja tersipu malu padahal mereka sudah lama menikah bahkan sudah dikaruniai tiga anak.

"Iya Bi ayo," jawab Arini sembari menganggukan kepala.

Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba saja dari arah dalam Naina berjalan menghampiri mereka berdua. tadinya dia  berada di ruang makan menunggu ayahnya pulang namun setelah setengah jam berlaru Naina baru mendengar suara ayahnya sehingga dia berjalan ke depan untuk memastikan bahwa ayahnya pulang.

"Umi, Abi, Naina nungguin kalian loh, kenapa masih di sini ayo kita makan Umi, Abi, Cancel dulu lah romantis-romantisannya,” ucap Naina menggoda Umi dan Abinya yang terlihat tersipu malu saat mendengar ucapan anak sulungnya.

Naina melihat raut wajah ibunya yang sudah memerah bagaikan tomat busuk begitu juga dengan abinya. Mereka berdua sama-sama membuang muka ke arah lain  untuk menghindari kontak mata.Sungguh mereka berdua bener-bener malu saat ini, mereka merasa kepergok sedang selingkuh dengan orang lain.

"Naomi, hus jangan begitu lihat wajah Umimu, merah begitu," kata Aslam kepada anaknya untuk menanggapi godaan nya bahkan dia juga malah ikut menggoda istrinya.

Setiap harinya kehidupan mereka begitu harmonis dengan diselingi  canda tawa bersama dengan anak dan juga istrinya sehingga membuat Arini begitu bersyukur mempunyai suami seperti Aslam. Aslam seorang pria yang bertanggung jawab juga pengertian namun yang pasti dia sangat peka terhadap perasaan istrinya itu.Entah Arini atau Aslam yang begitu bersyukur telah memiliki satu sama lain.

"Sudah, sudah lebih baik ayo kita ke meja makan sekarang pasti Namira dan Naomi telah menunggu kita," pungkas Arini kepada Aslam dan Naina sembari berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua.

"Hehehehe,"

Naina dan Aslam saling tatap satu sama lain sebelum mereka terkekeh pelan bersama saat melihat tingkah Arini yang tersipu  malu.

Di meja makan Aslam dan yang lainnya makan dengan Khidmat. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka masing-masing, karena mereka semua tahu adab saat makan sehingga mereka lebih fokus kepada makanan masing-masing.

Gluk

Gluk

Gluk

"Abi sudah selesai," ucap Aslam menatap ke arah semua orang yang ada di meja makan sembari menyimpan gelas di sampingnya.

Arini yang mendengar ucapan Suaminya langsung saja mengangkat wajahnya menatap ke arah Aslam sembari mengagukan kepalanya.Beberapa saat terjadi keheningan dia antara mereka semua sampai akhirnya tiba-tiba saja Aslam berbicara kepada mereka semua.

"Umi, besok abi akan pergi untuk mengisi kajian seperti biasanya," ucap aslam tiba-tiba sembari menatap ke arah Arini.

"Berapa lama??" tanya Arini  kepada suaminya.

Untung saja saat ini dia sudah selesai makan sehingga bisa menanggapi ucapan Suaminya. Sedangkan ketiga anaknya mereka terlihat acuh dan tidak ingin ikut campur urusan orang tua mereka berdua karena itu adalah urusan orang dewasa.Jadi mereka bersikap seolah tidak terjadi apapun.

"Mungkin sedikit lama Mi, paling sekitar enam bulanan.” Aslam membuang muka ke arah lain saat Aslam mengatakan itu.

“Maafkan aku Mi,” gumam Aslam dalam hati.

Hatinya begitu sakit saat membayangkan jika rahasia dia terbongkar. Aslam tidak bisa membayangkan bagaimana jika Arini tahu tentang rahasia besarnya itu.Arini tertegun saat mendengar ucapan Aslam, dia merasa aneh dengan pekerjaan Aslam akhir-akhir ini, biasanya dia tidak akan pergi mengisi kajian selama itu paling lama juga dia mengisi kajian itu satu minggu sampai satu bulan tapi ini kenapa sampai enam bulan lamanya.

"Enam bulan kenapa lama sekali, tidak seperti biasanya," gumam Arini dalam hati.

Dia tidak mengatakan kecurigaan nya kepada Aslam dan hanya memendam sendirian. Dia akan cari tahu sendiri karena sepertinya jika dia bertanya kepada suaminya. Dia tidak akan pernah mengatakan apapun kepada Arini dan memberikan alasan  hanya mengisi kajian di luar kota.

"Owh ya sudah nanti Umi siapkan semua baju dan perlengkapan lainnya Bi," jawab Arini  akhirnya.

Aslam tersenyum dengan lebar saat mendengar jawaban Arini dia bangkit dari duduknya berjalan ke arah Arini. Berdiri di samping nya menarik Arini kedalam pelukannya sembari mengelus pucuk kepalanya. Mengeratkan pelukannya dengan Arini, dia akan memanfaatkan momen kebersamaan mereka berdua sebelum nanti mereka tidak ada waktu lagi untuk berpelukan seperti ini.

"Yang sabar ya sayang," gumamnya dengan pelan sembari memeluk Arini.

"Iya Bi," jawab Arini...

"Maafkan aku Arini, aku terpaksa membohongi kamu," gumam Aslam dalam hati.

Meskipun Arini merasa curiga kepada suaminya dia saat ini akan bersikap biasa saja sebelum ada bukti yang mengarah kepada suaminya berbuat salah sehingga kalau firasatnya salah itu jatuhnya akan jadi fitnah.Arini mengangkat wajahnya menatap wajah Aslam yang terlihat biasa saja.Namun entah kenapa matanya menangkap sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan dari mata suaminya.

"Aku akan mencari tahu semuanya, karena aku merasa akhir-akhir ini Abi begitu berbeda tidak seperti biasanya,”

 Arini bertekad untuk mencari tahu semua informasi tentang suaminya.Bukan dia tidak percaya hanya saja dia ingin memastikan sesuatu. Serta apa yang dia rasakan itu supaya tidak menjadi prasangka buruk.

“Sebenarnya apa yang Abi sembunyikan dariku? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang Abi tutup-tutupi dariku??”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Kabar duka

    Mendengar suaminya mengalami kecelakaan, tangan Arini langsung gemetar. Ponsel yang berada di genggamannya hampir saja terjatuh. Dengan napas memburu, dia segera mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas lalu bergegas keluar dari kamar. "Anak-anak!" teriak Arini kepada ketiga putrinya. "Iya, Ma!" jawab Naomi, Naura, dan Nadira hampir bersamaan. Mendengar teriakan ibunya, mereka langsung bergegas menghampiri Arini di ruang tamu. "Ada apa, Ma?" tanya Naura dengan dahi berkerut. "Sekarang kalian bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan pergi ke rumah sakit," kata Arini berusaha terdengar tenang. Namun, siapa sangka ketenangan itu hanyalah topeng untuk menutupi kepanikannya. "Siapa yang sakit, Ma?" tanya Naomi bingung. Mereka bertiga tadi sedang bermain di ruang keluarga. Tiba-tiba saja mamanya meminta mereka pergi ke rumah sakit sehingga membuat mereka bertanya-tanya. "Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang cepat bersiap," pungkas Arini. Bukan Arini tidak ingin memberitahukan

  • Dibalik Tabir Pernikahan   kecelakaan

    Setelah kedatangan Arini, rumah tangga Aslam dan Azura tidak lagi baik-baik saja. Hari-hari mereka dipenuhi perdebatan yang tak kunjung usai. Hal-hal kecil berubah menjadi besar, dan yang besar semakin sulit untuk diselesaikan.Malam itu, setelah selesai berdakwah, Aslam pulang dalam keadaan lelah. Jalanan terlihat sepi, hanya lampu-lampu jalan yang menemani perjalanannya.Namun pikirannya tidak tenang.Semua perkataan Azura kembali terngiang di kepalanya.Dadanya terasa sesak.Tangannya menggenggam kemudi lebih erat.Tanpa sadar, pandangannya sedikit kabur.Dan—“Brakkk!”Suara benturan keras memecah malam.Mobil yang dikendarainya menabrak pohon besar di pinggir jalan. Tubuh mobil terbalik, kaca-kaca pecah berserakan, suara mesin masih meraung pelan.Darah mengalir dari pelipisnya.Napas Aslam tersengal.Matanya setengah terbuka, namun pandangannya sudah tidak fokus.Di detik-detik itu, bukan rasa sakit yang dia rasakan—melainkan penyesalan.Bayangan Azura muncul di benaknya.Wajah

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Istri yang tak pernah di pilih

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang bagi Azura.Sinar matahari menembus celah gorden kamar, jatuh di wajah mungil Quensha yang masih terlelap di pelukannya. Anak itu tidur dengan napas teratur, seolah tak tahu badai apa yang sedang menghantam rumah kecil mereka. Azura menatap wajah itu lama, matanya kembali perih.Semalam ia hampir tak tidur.Bukan karena Quensha rewel, melainkan karena pikirannya tak berhenti berputar. Kata-kata Aslam. Bayangan Arini. Dan kenyataan pahit yang kini harus ia telan—bahwa sejak awal, ia bukan pilihan utama.Azura menghela napas pelan, takut mengganggu tidur anaknya. Tangannya terangkat, menyibak rambut Quensha dari kening kecil itu.“Kamu jangan pernah merasa nggak dipilih ya, Nak.” bisiknya lirih.“Kalau dunia nanti jahat sama kamu, Umi akan jadi tempat pulangmu.”Pintu kamar terdengar berderit pelan.Azura refleks menoleh.Aslam berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak lelah, matanya cekung seperti tak kalah menderita. Di tangannya ada segelas su

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Rasa sakit

    "Sakit banget ya allah," lirih Azura. Setelah pertengkaran dengan suaminya Aslam. dia tidak keluar kamar sama sekali. Membiarkan Queensha menangis dengan kencang bersama dengan Aslam.Saat ini dia benar-bener butuh waktu sendiri.Meskipun Aslam selalu saja mengetuk pintu kamarnya berkali-kali seperti saat ini.Tok Tok Tok"Azura buka pintunya sayang, Ini Quensha menangis," kata Aslam dengan nada prihatin.TesAir mata Azura menetes, dia begitu sangat sakit hati, dan begitu pun dengan Quensha mungkin anak itu merasakan sakit seperti yang di rasakan ibunya. Tangis Azura semakin pecah, tapi ia tetap menahan suaranya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tak mengeluarkan isakan keras. Ia ingin sendiri. Ia butuh sendiri."Aslam... kenapa kamu tega..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.Tangannya mengepal di atas dada, seolah mencoba menahan sesak yang menyeruak dari dalam. Ingatannya kembali pada pertengkaran hebat tadi. Kata-kata Aslam masih menggema di telinganya—tajam, menusuk, dan

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Hancurnya Hati Arini

    "Arggghhht apa yang harus aku lakukan," teriak Aslam menarik rambutnya dengan Frustasi.dia tidak menyangka pernikahan dengan istri kedua, tiga dan Empat akan cepat terbongkar oleh Arini,Istri pertamanya."Padahal kan aku gak salah, aku kan laki-laki bisa mempunyai istri empat, tapi kenapa mereka begitu marah sih," gumam Aslam.Dia masih saja merasa begitu sangat benar, dan apa yang dia lakukan itu seperti hanya biasa saja. padahal sebenarnya tanpa dia sadari dia telah menyakiti hati para istrinya.Sedangkan di sisi lain saat ini Arini pulang sendiri ke rumahnya mengendarai mobilnya dengan keadaan tidak baik-baik saja."Ya allah sakit," ucap Arini dengan lirih.Dia memegang stir mobil dengan sangat kuat, sungguh dia tidak bisa menahan rasa sakit hatinya. Aslam suaminya ternyata diam-diam menikah lagi dengan wanita lain bahkan dia sudah mempunyai anak."Mas, kenapa kamu tega kepada ku dan anak-anak," gumam Arini."Hiks hiks hiks, kenapa ya allah cobaan ini begitu berat sekali." Tangisa

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Pertengkaran hebat

    Arini berdiri terpaku di ambang pintu rumah itu, hatinya teriris tajam oleh ucapan Aslam yang baru saja menghancurkan seluruh pengorbanannya selama ini. Tangannya mengepal, matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tetap berusaha tegar."Kalau begitu, aku akan pulang, Mas. Karena menurutmu barusan, aku sudah tak punya hak lagi di hidupmu," ucap Arini dengan suara bergetar. Ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan rumah Azura—dan semua kenangan pahitnya bersama Aslam."Mbak, tunggu!" teriak Azura dari dalam rumah. Ia segera berlari mengejar Arini, napasnya tersengal.Arini menghentikan langkahnya, berbalik perlahan. Wajahnya kini tampak dingin dan lelah. "Ada apa, Azura?" tanyanya datar, namun jelas suara itu menyimpan kepedihan.Azura menunduk, ragu, tapi tetap berusaha menyampaikan perasaannya. "Maafkan aku, Mbak... aku benar-benar nggak tahu kalau Mas Aslam sudah punya istri. Aku kira aku istri satu-satunya."Arini menatap Azura lama. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya—buk

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Terungkap

    Azura terdiam, pandangannya tak lepas dari sosok wanita asing yang berdiri di samping suaminya, Aslam. Wajah perempuan itu tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa Azura baca dengan mudah.“Maaf,Bu ... cari siapa, ya?” tanya Azura hati-hati. Suaranya terdengar sopan, meski ada keraguan

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Titik terang

    Keesokan harinya Arini pagi-pagi sekali sudah berdandan Rapi. Dia membangunkan semua anaknya untuk segera bangun. Berusiap berangkat sekolah supaya tidak kesiangan.Tok Tok Tok“Naina bangun,” ucap Arini di depan pintu kamar anaknya.“Iya Mi, Naina sudah bangun kok,” jawabnya di dalam sana sembari

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Siapa perempuan itu?

    Pikiran Arini semakin tak karuan saat melihat suaminya bersama wanita lain.Terlebih selama ini Arini tidak pernah melihat suaminya dekat dengan siapapun kecuali ibunya dan juga istrinya. Tapi sekarang, dia dekat dengan orang lain.“Siapa perempuan itu?” tanya Arini kepada dirinya sendiri.Dari keja

  • Dibalik Tabir Pernikahan   Kepergian Ustadz Aslam

    Di pagi harinya Aslam sudah siap dengan kemeja lengan panjang dan juga celana panjang hitam,tidak lupa dengan topi yang senada dengan dengan baju dan celannya. Dia keluar dari kamar sembari menyeret koper besar miliknya.Berjalan menuruni tangga untuk menghampiri anak dan istrinya."Umi," panggil A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status