Masuk
“Letakkan berkasnya di meja, dan keluarlah dulu?”
Kirana Calissa bergeming dengan jantung berdegup cepat dan matanya yang membola lebar kala mendengar suara yang sama sekali tak asing baginya. ‘Tidak, bukan dia, ‘kan?’ Kepanikan menyergah hatinya. Kedatangan Kiran kemari untuk mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji tinggi demi mendapatkan biaya operasi bypass jantung ayahnya yang tak sedikit. Tetapi suara ini, memukul mundur tekad Kiran untuk bekerja. Kiran menelan ludah kasar. Wajahnya memucat. Tatapannya masih lurus tertuju ke depan, ketika wanita yang mengantarnya baru saja menyingkir dari hadapannya. Sampai, pandangan Kiran kini terpusat pada sosok yang duduk dengan gagah di balik meja. Pria itu adalah Elvano Radjasa. Mantan kekasih yang dia hancurkan hatinya, dan kini... adalah atasannya? ** 2 hari yang lalu. "Akhirnya, Sang Tuan Putri ingat jalan pulang," sindir Widya dingin. Saat pintu terbuka, bukan sambutan hangat yang dia terima. Ibunya, Widya, berdiri di samping ranjang dengan wajah kaku. Tatapannya jatuh pada pakaian kerja Kiran yang tampak kusut, dan itu adalah satu-satunya pakaian yang dia bawa karena terburu-buru mengejar penerbangan paling awal. Kiran tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok pria tua yang terbaring lemah di ranjang. Ayahnya. Pria yang dulu begitu gagah, kini tampak ringkih dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. "Ayah ...." bisik Kiran, suaranya bergetar. "Jangan hanya memanggil," potong Widya, langkahnya mendekat tatapannya mengintimidasi. "Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Biayanya dua ratus juta. Dan rumah sakit tidak akan melakukan tindakan sebelum kita membayar deposit tujuh puluh persen." Kiran tertegun. "Dua ratus juta? Tapi, Bu ... setiap bulan aku selalu mengirim—" "Uang itu habis untuk biaya perawatan rutinnya selama ini, Kiran! Kamu pikir obat jantung itu murah?" Widya membuang muka, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. “Kalau saja kami tidak menguliahkan dan menghidupimu, keluarga kita tidak akan jatuh miskin seperti ini. Kamu berutang nyawa pada ayahmu." Ibunya melipat kedua tangan di depan dada lalu kembali berucap kasar, seolah tidak pernah puas untuk menyalahkannya. “Ayahmu selalu mengusahakan apa pun untukmu, jadi sudah sepatutnya kalau sekarang kamu juga mengusahakan kebutuhannya.” Kiran menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah yang selama ini dia tekan, mendadak meledak lagi. Dia mendekat ke ranjang, menyentuh tangan ayahnya yang terasa kasar dan dingin. "Aku akan cari uangnya, Bu," ucap Kiran pelan namun tegas. “Itu memang kewajibanmu! Jika terjadi sesuatu pada ayahmu, itu tanggung jawabmu. Ingat itu!” desis Widya. "Aku tidak mau tahu uang itu harus ada. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." Setelahnya, Widya meninggalkan Kiran dan ayahnya begitu saja. Kiran menatap ayahnya yang tertidur. “Yah.” Suaranya lirih dan berat memanggil nama pria yang bertahun-tahun ini memberikan peran ‘ayah’ dalam hidupnya. “Aku pasti akan mengusahakan kesembuhan Ayah, hm ….” Suaranya semakin berat kala matanya berkaca-kaca. “Setelah sembuh, aku akan mengajak Ayah jalan-jalan, ke tempat yang selalu Ayah inginkan, oke. Jadi, bertahan, ya.” Kemudian setelah memandangi ayahnya untuk beberapa saat, Kiran menjauh dari ranjang ayahnya. Dengan bahu merosot, dia keluar dari ruangan itu. Kiran duduk di kursi tunggu koridor yang dingin, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menghubungi satu-satunya sahabat yang masih dia miliki di kota ini. "Sab, aku butuh bantuanmu." Di ujung telepon, Sabrina terdengar terkejut sekaligus cemas. “Ada apa? Kamu di mana?” Setelahnya Kiran menjelaskan keberadaan dan situasinya saat ini pada Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa memahami dan membantunya. Dari ujung sana, Sabrina mendesah pelan, “Setelah enam tahun, akhirnya kamu memutuskan kembali dan tinggal lagi, Kiran.” “Aku terpaksa.” “Sebenarnya aku bisa membantu tapi … aku tidak yakin.” Tubuh Kiran langsung menegak. Antusias mendengar ucapan Sabrina meskipun merasa bingung mengapa sahabatnya itu tidak yakin dengan bantuan yang akan dia berikan. “Kenapa? Kamu bisa membantuku?” “Sebenarnya di kantorku yang sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kamu akan melamar ke sana.” Kening Kiran berkerut. “Kamu pindah tempat kerja? Di mana? Dan … tapi … kenapa kamu tidak yakin? Dengar, Sab, untuk saat ini di mana pun itu aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ayah.” “Di RDJ, Kiran. Kamu tahu ‘kan perusahaan siapa itu?” Mendengar nama perusahaan itu, tubuh Kiran langsung menegang. Sabrina melanjutkan ucapannya, seolah sudah menduga reaksi Kiran. “Tapi, hanya perusahaan ini yang bisa memberikanmu gaji besar. Yang aku tahu gaji cleaning service saja sangat besar.” Kiran menatap pintu kamar rawat ayahnya, sambil masih mendengar Sabrina berbicara, “Jika kamu yakin, datang besok untuk wawancara.” Kepala Kiran bersandar di dinding koridor dengan mata terpejam setelah menutup panggilannya dengan Sabrina. RDJ. Haruskah dia ke sana?Alina dan Aksa saling pandang mendengar jawaban serentak dari Kiran dan Elvano.Alina langsung tersenyum mencibir. “Apa, El? Takut jauh dari Kiran? Memangnya nggak bosan kalau hampir 24 jam bersama Kiran? Kalau Kiran pindah ke posisi lain, bukankah juga bagus, Kiran bisa mengembangkan kemampuannya, kalian juga tidak bosan karena terus bersama selama 24 jam.”Elvano langsung melirik Kiran yang ada di sampingnya, lalu dia buru-buru membalas, “Pokoknya kalau sekarang jawabannya ‘tidak’, aku juga tidak akan kasih izin kalau Kiran pindah posisi.”Alina tersenyum meledek ke Elvano, lalu dia berkata, “Ya sudah, maklum pasangan baru. Sulit dipisahkan.”Kiran melipat bibir mendengar godaan sang mertua. Dia sampai melirik pada suaminya yang malah terlihat bangga.“Kalian pasti capek, ‘kan?” Alina kembali bicara dengan tatapan menggoda. “Naiklah, dan istirahat dulu.”Kiran mengangguk, lalu dia menoleh pada Elvano. Mereka berpamitan pada Aksa dan Alina, lalu keduanya pergi ke lantai atas untuk ber
Kiran dan Elvano sudah meninggalkan Radja Hotel. Mereka kini dalam perjalanan menuju kediaman Radjasa.Sampai beberapa saat kemudian. Mobil Elvano memasuki halaman rumah lalu berhenti tepat di depan garasi. “Sudah sampai.” Elvano menoleh pada Kiran setelah menarik tuas rem tangan..Kiran melebarkan senyumnya, dia mengangguk pelan, lalu melepas sabuk pengaman yang menyilang di depan dada.Keduanya keluar dari dalam mobil. Elvano melangkah mendekati Kiran, lalu menggenggam telapak tangan Kiran dan mengajaknya masuk ke dalam kediaman Radjasa.Mereka melangkah masuk ke dalam rumah, sampai tatapan mereka tertuju pada Alina dan Aksa yang ada di ruang keluarga.“Kalian sudah pulang.” Alina berdiri dengan penuh semangat.Alina melangkah menghampiri Kiran, lalu dia memeluk wanita yang akhirnya menjadi menantunya ini.“Selamat bergabung dengan keluarga Radjasa.” Suara Alina lembut, penuh kasih sayang dan perhatian seperti biasanya.Kiran menatap penuh bahagia. Perasaannya selalu tenang saat me
Kiran melipat bibirnya saat tatapannya sama sekali tak teralihkan dari Elvano.Kiran mengangguk pelan untuk meyakinkan Elvano, jika dia tidak akan menunda suaminya mendapatkan apa yang seharusnya diterima.Dan, tepat saat itu, kedua pipi Kiran ditangkup mesra. Bibirnya kini bersentuhan dengan bibir Elvano. Suaminya ini menyesap lembut daging tak bertulang miliknya.Kiran memejamkan mata saat ciuman mereka semakin dalam. Kedua tangannya perlahan mengalung di leher Elvano, seiring pagutan bibir mereka yang semakin memanas.Suara napas mereka yang memburu semakin saling bersahutan, keduanya saling membalas lumatan bibir masing-masing.Saat pagutan bibir mereka sejenak terlepas. Elvano menatap Kiran dengan napas terengah. Bibirnya tersenyum lepas, lalu kedua tangannya meraup tubuh Kiran ke dalam gendongan dan membawanya ke ranjang king size milik mereka.Begitu merebahkan tubuh Kiran di atas ranjang. Elvano menundukkan tubuhnya saat kembali memagut bibir Kiran.Ciuman mereka semakin memana
Elvano menatap Kiran dengan kening berkerut dalam.“Mau apa? Memangnya mau apa?” Elvano membalik ucapan Kiran.Kiran tertegun dengan mata membola.Sampai Elvano mengerutkan kening melihat ketakutan Kiran yang begitu kentara di wajahnya. Sekali lagi Elvano menahan senyum, dia melepas genggaman tangan mereka, kemudian beralih memegang kedua pundak Kiran.“Memangnya mau apa? Tentu saja makan malam, Ki. Kamu belum makan apa pun sejak tadi, apa kamu tidak lapar?” Elvano bicara sambil masih menahan senyumnya. “Tadi aku pesan makanan dari layanan kamar dan sudah datang, jadi sekarang kita makan dulu, baru beristirahat.”Bibir Kiran terlipat begitu dalam mendengar ucapan Elvano. Rasa malu dan canggung seketika menggelayuti hatinya.Kenapa kepanikan dan kegugupan yang dialaminya, membuat Kiran tak bisa bersikap tenang seperti biasanya. Dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh.Elvano kembali menggenggam telapak tangan Kiran, lalu dia mengajak istrinya pergi ke tempat yang sudah disiapkan.
Kiran masih panik saat melihat kopernya ketika terdengar suara Elvano.“Kamu sedang apa?”Kiran tersentak. Dia buru-buru menutup kopernya lagi.Di belakangnya. Elvano berdiri dengan kening berkerut dalam melihat gerakan cepat tangan Kiran menutup koper.“Apa ada masalah?” Elvano kembali bicara.Kiran buru-buru bangkit dari posisi jongkoknya. Dia berdiri menghadap pada Elvano yang memakai bathrobe putih dengan rambut setengah basah, lalu memaksakan senyumnya untuk menutupi kepanikannya.“Ti-tidak, tidak ada masalah.” Kiran melipat bibir setelah bicara.Kening Elvano berkerut dalam melihat sikap aneh Kiran, sebelum Elvano kembali bicara, dia sudah lebih dulu mendengar Kiran berkata, “Kamu sudah selesai, ‘kan? Kalau begitu aku mandi dulu.”Kiran kembali mengangkat bagian depan gaunnya untuk memudahkan langkahnya, lalu dia berjalan menuju kamar mandi.Sedang Elvano menatap Kiran dengan kening berkerut dalam. Saat melihat pintu kamar mandi tertutup, pandangan Elvano tertuju ke koper kecil m
Mobil Noah berhenti di dekat rumah keluarga Nindy.Mereka meninggalkan hotel lebih awal, dan sekarang Nindy siap turun dari dalam mobil.Di dalam kabin mobil yang hening, jemari Nindy meraba kalung berlian yang melingkar cantik di lehernya. Kemudian dia membuka pengait kalung itu perlahan, lalu melepaskan antingnya juga. Nindy mengambil kotak beludru merah maroon di dalam tasnya, menata perhiasan itu kembali ke tempatnya dengan sangat hati-hati.Saat menoleh pada Noah, Nindy menyodorkan kotak beludru pada Noah sebelum turun."Noah, tolong kembalikan ini ke mamamu, ya. Sekalian sampaikan terima kasihku karena mamamu mau meminjamkan perhiasan ini padaku," kata Nindy dengan nada suara lembut.Noah menoleh, dia menatap kotak beludru di tangan Nindy lalu beralih menatap wajah kekasihnya. Pria itu menggeleng pelan."Tidak usah dikembalikan, Nindy. Itu sudah jadi milikmu," tolak Noah santai. “Bukankah kalung itu memang dibeli untukmu, jadi simpan saja,” katanya kemudian.Nindy mengernyit ra







