MasukMenatap beberapa lelaki remaja yang sedang asyik bertanding basket, sesekali gelak tawa juga sorak kemenangan terdengar dari mereka saat salah satu rekan timnya berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring.
"Ayo sayang, semangat!" teriak remaja perempuan yang sedang duduk di bangku penonton, mengangkat kepalan tangannya ke udara menyemangati kekasihnya yang sudah pasti lelaki yang baru saja beberapa detik lalu memasukkan bola basket ke dalam ring. Si lelaki menatap kekasihnya, memberikan flying kiss, seketika sorak ricuh terdengar dari teman-teman mereka. Bukan pertandingan basket serius sepertinya, hanya beberapa remaja sekitaran perumahan yang sedang bertanding, dan hadiahnya mungkin hanya yang kalah mentraktir yang menang, atau yang lainnya... Naya tidak tahu persis. Perempuan itu kembali melangkahkan kakinya, menunduk menatap sandal yang dipakainya, dan kembali menyusuri jalanan komplek perumahan. Kurang lebih tiga tahun Naya meninggalkan rumahnya, hari ini ia memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian melihat sekitaran perumahan. Ada banyak yang berubah, termasuk lapangan basket tadi... Oh! Omong-omong tentang lapangan basket, ada banyak sekali kenangan Naya dan Nathan di sana. Nathan sangat jago dalam bermain basket, jika lelaki itu sedang berkunjung ke rumahnya, sesekali Naya mengajak Nathan untuk pergi ke lapangan basket yang memang difasilitasi. Nathan mengajari Naya bermain basket, walaupun sampai sekarang Naya tidak kunjung bisa salah satu permainan bola besar itu. Mereka tidak serius belajar, tapi bermain-main, sebenarnya Naya memang tidak tertarik. Naya membuka pintu mini market, hanya berjalan-jalan juga rasanya tubuhnya sedikit lelah, maka dari itu, ia mengunjungi mini market hanya untuk membeli minuman, dan beberapa makanan ringan untuk di bawa ke rumah. Setelah mendapatkan semua yang ingin Naya beli, perempuan itu langsung menuju kasir untuk membayar belanjaanya. "Mohon maaf, Mas, tapi ini uangnya kurang—" "Kurang sedikit 'kan? Ini cuman cokelat, nggak usah diperpanjang!" "Tapi ini uang—" "Uang gue cuman segitu!" "Maaf—" "Biasanya juga lo suka ngambil duit pembeli kan kalau kelebihan? Dengan alasan didonasiin. Ini gue cuman kurang seribu dua ratus perak doang lo ngomel-ngomel mulu!" "Tapi, Mas—" "Kurangnya biar saya bayarin, Mba," kata Naya memotong cepat perkataan si penjaga kasir sambil menampilkan senyum manis. Si Penjaga kasir balas tersenyum, lalu menerima keranjang belanjaan yang dibawa Naya untuk dihitung, lelaki yang tadi berdebat dengan penjaga kasir hanya melirik Naya sekilas, lalu melenggang pergi keluar dari mini market. Dari lelaki itu menatapnya sekilas, sampai lelaki itu melenggang pergi, pandangan Naya tidak pernah lepas untuk memperhatikannya. Perawakan tinggi, dengan pakaian serba hitam, bahkan mengenakan topi dengan warna senada. Dari penampilannya sedikit menyeramkan memang. "Ganteng sih, tapi mukanya serem banget. Masa orang dengan tampang seperti preman itu diijinin masuk ke komplek perumahan ini? Memang lolos dari penjagaan security di depan?" Si Penjaga kasir berkomentar, dengan kedua tangan masih sibuk dengan pekerjaannya. "Saya tadi rasanya pengen nangis Mba, malah saya berniat mau nombokin uang dia yang kurang, karena kalau diperpanjang kayanya saya bakal dihajar," lanjutnya. Naya sedikit meringis ngeri, namun ia mengangguk mengerti. "Terima kasih ya, Mba." Setelah selesai dengan transaksi belanjaannya, Naya segera berjalan keluar dari minimarket, mengambil botol minuman yang tadi dibelinya, membuka tutup kemasan botol itu lalu meneguknya. Tin! Tin! Naya menjauhkan botol minuman itu dari bibirnya. "Ohok! Ohok! ... uhh!" perempuan itu mengusap dadanya, ia tersedak minuman karena suara mengejutkan dari klakson mobil. Wajahnya menoleh untuk menatap siapa gerangan orang tidak tahu diri yang membunyikan klakson, padahal Naya tidak sedang berjalan di tengah-tengah jalanan. Kaca mobil dibuka, Naya bisa melihat lelaki yang berada dibalik kemudi. "Masuk!" titahnya sekenanya. Acuh, Naya kembali hendak berjalan, namun baru beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara pintu mobil dibuka, dan lengannya ditarik sehingga mau tidak mau Naya menghentikkan langkahnya. "Lepas!" ucap Naya. "Saya menyuruh kamu untuk masuk ke dalam mobil!" "Aku bilang tidak mau!" Lelaki itu menatap Naya dengan tatapan nyalang. Walaupun sebenarnya takut, dengan sedemikian rupa Naya memasang wajah berani, mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang dicengkram kuat oleh lelaki itu. Samudra—lelaki itu menyeret Naya hingga ia masuk ke dalam mobil. "Mau apa?!" "Duduk dan diamlah!" Samudra menutup pintu mobil kuat-kuat, lalu dengan cepat berjalan untuk langsung duduk di kursi kemudi. Terdengar helaan napas kasar dari lelaki itu sebelum akhirnya dia menatap Naya. Perempuan itu masih diam menatap lurus jalanan komplek yang sepi, mencoba bersikap tenang walaupun jantungnya berdetak tidak karuan. "Ayo kita menikah." Tubuh Naya rasanya kaku, apa ia tidak salah dengar? Menikah? Katakan jika Naya salah dengar. Dengan refleks Naya mengalihkan wajahnya untuk menatap lelaki di samping yang sedari tadi juga menatap kearahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya serius, ayo kita menikah!" Kali ini udara di sekitar Naya seakan menjauh membuat jantungnya seketika berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ada rasa sakit yang terasa di permukaan dadanya, matanya juga langsung memerah karena air mata yang sedari tadi ditahan agar tidak keluar pada akhirnya terdorong untuk keluar juga karena mendengar perkataan Samudra. "Ti—tidak... terima kasih," ucap Naya terbata "Saya yang melakukannya, jadi—" "Menikah? Lalu dengan bebas dokter Sam merusak kehiduapanku, lagi? Apa tidak cukup sudah merenggut semuanya?" Naya menundukkan wajahnya dalam-dalam, meremas kantong belanjaan yang masih dipegangnya dengan kuat. "Kak Nathan sudah menikah, aku memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup, dan... apa ... menikah—" Naya memberanikan diri untuk mendongak menatap tepat di manik mata lelaki itu. "Kenapa? Supaya lebih gampang menghancurkan hidupku?" lanjutnya. Wajah Samudra berubah mengeras setelah mendengar perkataan Naya, menatap Naya dengan kilat marah. "Iya! Jika kamu menikah dengan saya, saya akan lebih gampang untuk membunuhmu dengan perlahan-lahan!" "Disya dan Mbak Naisya, sudah baikan, keluarga kalian sudah kembali... Bahkan Bang Devan sudah berpisah dengan Disya, menuruti permintaan dokter Sam yang tidak mengijinkan Disya ketemu Bang Devan kalau tidak dengan persetujuan dokter Sam, kan?" Naya terdiam beberapa detik, kembali menundukkan wajahnya. "Dokter Sam, mau apa lagi... balas dendam dokter Sam sudah selesai, apa masih tidak cukup? Aku... harus sampai gimana, biar dokter Sam puas?" Keduanya terdiam, hanya isak tangis Naya yang terdengar seperti ditahan, dan suara itu semakin membuat ia terlihat menyedihkan. "Merasa puas kalau sudah... membunuhku?" tanya Naya. Melalui sudut ekor matanya, Naya bisa melihat jika Samudra masih terus menatapnya, bukan kilatan marah kali ini, tapi tatapan yang... sulit diartikan. "Ayo lakukan!" Naya menatap Samudra sambil tertawa sumbang, lalu kembali berbicara, "Ayo lakukan, lagipula hidupku sudah hancur." "...." ***"Really!"Naya mengangguk pelan, ia sudah menebak bagaimana reaksi sahabatnya ketika ia memberi tahu tentang Samudra."Ini udah ke calon suami banget? Kedua orang tua lo tahu, Bang Devan?" Stevani bertanya, keningnya tampak mengernyit seolah masih banyak kebingungan yang ia rasakan."Bang Dev tahu, Mamah sama Papah ngga... lebih tepatnya belum tahu," jawab Naya pelan, entah mengapa atmosfer di kamar ini terasa tidak nyaman. Naya tahu, dirinya akan dihujani banyak sekali pertanyaan setelah ini."Samudra lho, Nay. Kakak tirinya Disya. Lo yakin?""...."Tidak menjawab, Naya mengangguk pelan.Stevani terperangah, gadis itu sampai bangun dari tempat tidur, mengusap wajahnya frustasi. "Lo bohong kan?"Lagi-lagi, Naya menggeleng."Wait—" Stevani menjeda kalimatnya, perempuan itu tampak memegang kepalanya yang mungkin saja berdenyut sakit karena baru saja mendengar fakta mengejutkan dari sahabatnya. "Jangan-jangan alasan lo tiba-tiba mutusin Nathan karena
Naya menatap dirinya di cermin, ia baru selesai mandi. Kalau boleh jujur selama tiga hari kemarin gadis itu benar-benar tidak mandi, yang ia lakukan hanya berbaring di kasur meratapi kesedihannya, tetapi ia memutuskan untuk mandi pagi ini karena tubuhnya benar-benar sudah tidak terasa nyaman. Semalam sepertinya tidurnya cukup nyenyak dipelukan Mamahnya, hal itu juga yang membuat moodnya cukup baik pagi ini. Naya bangun tepat pukul delapan pagi, sudah tidak ada sang Mamah ketika ia bangun. Setelah mengeringkan rambut, Naya teringat jika semalam Samudra menelpon—matanya dengan cepat mencari handphonenya di atas kasur yang belum dibereskan, tetapi rupanya handphone miliknya berada di atas nakas sedang diisi daya, keningnyanya mengernyit karena seingatnya handphone itu ada di gengamannya semalam, paling tidak handphonenya tergeletak di kasur kalaupun ia ketiduran. Buru-buru mengecek handphonenya—Mamahnya pasti yang menyimpan handphone miliknya di atas nakas.
Justru aneh jika mereka berdua langsung setuju, kan? Devan begitu sangat menentang hubungan Samudra dan Naya, lelaki itu bener-benar tidak percaya dengan cerita cinta keduanya."Alasan kamu berpisah dengan Nathan, dan memutuskan menetap di Lampung, karena Samudra?"Naya hanya mengangguk pelan.Keduanya sudah berada di dalam mobil yang masih terparkir di area parkiran resto."Apa yang sudah dia lakukan?" tanya Devan menatap Naya dengan raut khawatir."Dulu, jauh sekali sebelum Nay tahu Dokter Sam adalah Kakak Disya. Kita tanpa sengaja bertemu di klub. Kita tidur bersama, tidak apa pemaksaan, kita berdua melakukannya begitu saja."Jawaban itu sudah Naya hapal dengan baik. Hatinya sakit— semua penjelasannya adalah kebohongan. Dadanya juga terasa sesak ketika melihat raut kecewa kakak lelakinya setelah ia menjelaskan, Devan terlihat memijat pelipisnya, memalingkan muka menatap ke luar jendela mobil dengan tangannya yang sudah mengepal kuat.Naya menunduk dalam, mencoba untuk berhenti men
Samudra menghela napas untuk yang kesekian kalinya ketika dia sudah duduk di sofa ruang tengah, berhadapan dengan Gina yang sedang menatapnya dengan maniknya yang berkaca menyiratkan kekecewaan. "Kita berdua tidak saling mencintai, Mah. Raina juga sebenarnya mencintai Wisnu, bukan aku—" "Lalu kamu mencintai siapa?" tanya Gina cepat memotong ucapan Samudra. "Ada... seseorang, nanti aku kenalkan." Gina menggeleng pelan. "Terserah! Mamah peringatkan saja sejak awal, jangan salahkan Mamah kalau Mamah akan selalu membandingkan perempuan yang kamu pilih dengan Raina," katanya lalu beranjak pergi meninggalkan Samudra seorang diri. Jelas kedatangan Samudra ke rumah untuk menjelaskan alasan hubungan pertunangannya dengan Raina berakhir, tidak akan berujung baik, Gina marah—Samudra tahu, dia juga menebak hal seperti ini akan terjadi. Gina salah satu yang sangat-sangat setuju tentang hubungan Samudra dan Raina, bisa dibilang Raina adalah sosok menantu idaman, tidak hanya mempunyai paras yan
Keduanya memang merencakan untuk bertemu, besok mereka akan membicarakan tentang hubungan mereka kepada Devan dan Disya. Tentu saja harus ada persiapan sebaik munkin—harus mengarang cerita yang sangat menyakinkan, agar dimengerti Devan maupun Disya. Akan sangat kacau jika Naya dan Samudra tidak bertemu untuk membicarakan tentang ini terlebih dahulu. Pertemuan akan dilakukan sekitar jam tiga sore, menyesuasikan dengan pekerjaan Samudra, semalam sudah disepakati akan bertemu di caffe Angkasa dekat perumahan Naya—tetapi entah kenapa Naya bisa lupa dengan janjinya. Andai saja ia tidak lupa mungkin tidak akan jadi seperti ini—Samudra tidak akan datang ke rumah. Naya sedang berada di kamarnya sekarang, berbaring di kasur menatap langit-langit kamar, berharap rasa kantuknya akan datang. Mamahnya pergi sekitar satu setengah jam yang lalu, secara mendadak ia mendapat kabar jika Ria—salah satu temannya masuk ke rumah sakit. Meninggalkan Naya dan Kai di rumah—Samudra masih ada, sedang berm
“Siapa?” “Gue kenal sama dia?” “Atau anak-anak yang lain ada yang kenal sama dia ngga?” “Lo kenal di mana?” “Kerjanya di mana?” “Anak keluarga mana? Kenalan bokap lo? Atau lo di jodohin ya, Nay?” “....” Naya hanya diam, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Stevani. Membuat perempuan itu terlihat kesal ketika Naya hanya diam mengabaikan pertanyaannya. “Ngga usah banyak tanya tentang dia, nanti aku kenalin dia sama kamu, sama kalian semua....” Kalimat yang jelas membuat mulut Stevani terdiam, beberapa kali perempuan itu terus memaksa Naya untuk bercerita, memintanya memberi tahu tentang calon suami yang dimaksud oleh Naya. Naya menggeleng, tetep kekeh dengan pendiriannya tidak akan memberi tahu. Akhirnya Stevani capek sendiri. Walaupun kesal karena Naya tidak memberi tahu, Stevani sangat senang mengetahui Naya sudah kembali membuka hatinya untuk seorang lelaki—Stevani berbicara seperti itu kepada Naya sebelum pergi dari kediaman Nay
+628xxxxxxxxxx |Disya sedang pergi ke Jogja, pertemuan akan dilakukan setelah Disya pulang dari sana. Naya mengulum bibirnya, hatinya merasa sedikit lega ketika Samudra menggiriminya pesan seperti itu. Setidaknya masih ada beberapa hari lagi untuk mempersiapkan diri sebelum pertemuannya dengan Disya
"Bagaimana kalau kita menonton hari ini?" "Menonton apa?" "Kita berangkat ke bioskop aja, nanti bisa pilih langsung filmnya di sana 'kan?" "Aku sama Om Sam, rencananya akan menonton film Spider-Man, tapi tidak tahu kapan. Om Sam sangat sibuk akhir-akhir ini." Senyum Naya yang sedari terbit kini
Kedua tangannya bergetar ketakutan, namun ia tetap memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, air matanya tidak berhenti menetes walaupun ia menahannya mati-matian. Naya merutuki dirinya sendiri ketika mengingat, dan tersadar atas apa yang telah ia katakan kepada Disya, tentang dirinya dan Samudra
"Belum balik?" Samudra segera mengalihkan pandangan dari seseorang yang sedari tadi dia perhatikan, ketika mendengar suara Wisnu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Samudra melirik Wisnu sebentar sambil berdehem pelan manjawab pertanyaannya, berbalik lalu melangkah pergi yang tentu l







