MasukMegan menurunkan topinya hingga nyaris menutupi sebagian besar wajahnya. Dengan langkah tenang ia berjalan melewati lorong-lorong gelap, melewati penjaga-penjaga yang lengah, melangkah dengan percaya diri seperti ia memang berhak berada di sana.Tidak ada yang menyadari.Tidak ada yang menoleh.Tidak ada yang bertanya.Hingga langkahnya hampir mencapai gerbang keluar."Hei!"Langkah Megan berhenti mendadak.Darahnya membeku.Ia tidak berbalik. Ia hanya berdiri diam, mencoba mengatur nafasnya, mencoba berpikir cepat.Di belakangnya, suara langkah kaki berlari mendekat."Kau mau ke mana?" Pria itu menepuk pundak Megan dengan kasar. "Ini jam keamanan beroperasi. Tidak ada yang boleh keluar tanpa izin."Megan menarik nafas dalam.Perlahan, sangat perlahan, ia menoleh. Wajahnya setengah mendongak, cukup untuk memperlihatkan garis rahangnya, cukup untuk membuat lawan bicaranya membeku."Kau?! "Mata penjaga itu melebar kaget. Mulutnya terbuka, siap berteriak, siap memberi peringatan.Tapi M
Suara langkah kaki terdengar pelan, terukur, seperti detak jam yang menghitung mundur nyawa seseorang. Derit pintu yang didorong perlahan membelah kegelapan, dan seberkas cahaya dari luar menyusup masuk, menusuk mata Megan yang sudah terbiasa dengan gelap.Ia menyipit, mencoba menajamkan pandangannya ke arah sosok yang muncul di ambang pintu. Sementara tangannya, terikat kuat di belakang punggung, hanya bisa mengepal dalam frustasi.Sosok itu melangkah masuk.Cahaya dari balik pintu menerangi wajahnya, dan Megan merasakan darahnya membeku.Niel Bosch.Pria yang sudah menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Pria yang telah menghancurkan keluarganya. Pria yang sekarang berdiri di hadapannya dengan senyum puas di bibirnya.Megan refleks mengepalkan tangannya lebih erat. Kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa perih, tapi rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kebencian yang membakar di dadanya.Niel berjalan mendekat dengan langkah santai, seperti seseorang yang se
Di sisi lain.Daniel mengirim pesan pada anak buahnya untuk mencari keberadaan Adrian terlebih dahulu sebelum ia melacak kembali keberadaan Megan. Jari-jarinya bergerak cepat di layar ponsel, singkat, jelas, tanpa jejak yang bisa dilacak.Saat ini ia tidak bisa gegabah.Andrew mengawasinya. Setiap gerakan, setiap kedipan mata, setiap tarikan nafas, semuanya diamati. Sedikit kesalahan bisa membuat mereka menghabisi nyawa Megan lebih cepat dari dugaan.Daniel menaruh ponselnya di atas meja dengan gerakan santai, seolah tidak ada yang terjadi. Ia mengambil gelas minumannya, menyesapnya perlahan, dan menatap Andrew dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca."Mau tawar-menawar apa lagi?" tanya Daniel memecah kesunyian, kembali ke topik pembicaraan yang tadi sempat terputus.Andrew menyeringai, senyum yang tidak pernah benar-benar mencapai matanya. Ia duduk kembali di kursi, menyandarkan punggungnya dengan santai, seperti singa yang sedang bersantai di bawah pohon setelah memangsa."Kau masih
Adrian berjalan bersama Megan setelah mereka turun dari taksi. Gedung apartemen Daniel sudah ada di depan mata, sebuah bangunan modern dengan kaca gelap yang memantulkan langit sore Barcelona. Mereka tinggal masuk, menunggu Daniel kembali, dan membicarakan lebih lanjut rencana apa yang akan mereka lakukan untuk membalas keluarga Bosch.Megan merasakan sedikit kelegaan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa ada tujuan yang jelas, dengan sedikit harapan ia ingin ketenangan segera kembali tanpa mendapatkan teror dari para iblis yang ingin mengambil nyawanya.Namun saat mereka hampir memasuki lobi...Dua orang dari dalam gedung sudah mencegat mereka.Mereka muncul dari balik pilar-pilar marmer, bergerak dengan cepat dan terkoordinasi. Bukan penjaga keamanan. Bukan petugas kebersihan. Mereka bergerak seperti predator, tenang, terukur, dan penuh ancaman.Adrian melihat gerak-gerik yang mencurigakan. Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik Megan menjauh."Lari!" bisiknya.Ali
Dari kejauhan, Andrew menyandarkan tubuhnya pada mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Sebatang rokok terjepit di antara jari-jarinya, asap tipis membumbung ke udara dingin Barcelona. Sepasang mata tajam yang tidak pernah kehilangan target, kini tertuju pada sebuah bangunan tua di ujung jalan.Bangunan yang sejak kemarin ia lacak keberadaannya.Dan kini, dari balik pintu besi yang berkarat, ia melihat Megan keluar.Perempuan itu berjalan dengan langkah waspada, matanya bergerak cepat mengamati sekeliling. Seperti kucing liar yang selalu siap melarikan diri. Tapi kali ini, Megan tidak sendirian.Di belakangnya, dua pria bertopi hitam berjalan dengan langkah tegas, satu di sisi kanan, satu di sisi kiri. Wajah mereka tertutup masker, menyisakan hanya sepasang mata yang gelap dan sulit dibaca.Andrew menyipitkan matanya.Rokoknya berhenti di tengah jalan, tidak lagi ia hisap."Siapa mereka?" batinnya.Dengan gerakan lambat, ia mengangkat telepon. Jari-jarinya menekan nomor yang suda
Mempercayai seseorang seperti Daniel adalah hal paling sulit yang Megan lakukan sekarang.Setiap kali ia menatap pria itu, ada perang di dalam dirinya, perang antara logika yang mengatakan "jangan percaya padanya, dia sudah mengkhianatimu sekali" dan hati yang berbisik "tapi dia menyelamatkanmu, dia ada di sini, dia tidak meninggalkanmu".Pria ini membuat pikiran dan hatinya menjadi bingung. Seperti dua kutub yang saling tarik menarik, tidak pernah menemukan titik tengah.Namun di sisi lain, Megan membutuhkan bantuan. Jika ia ingin tetap hidup bersama Adrian, jika ia ingin membalaskan dendam keluarganya, ia tidak bisa melakukannya sendirian. Ia butuh sekutu. Ia butuh seseorang yang mengenal medan perang ini.Dan untuk saat ini, satu-satunya orang yang ada di sisinya adalah Daniel.Megan menghela nafas dalam. Ia berbalik, menyugar rambutnya dengan gerakan frustasi. Jari-jarinya menarik helai-helai rambutnya, seperti sedang mencoba mencabut semua kebingungan dari kepalanya."Mereka suda
Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.
Tiga hari kemudian.Cahaya keemasan membanjiri aula megah tempat pesta ulang tahun Pangeran Andrew digelar. Kristal berkilau dari langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut, dan tawa para tamu elit berpadu dengan denting gelas anggur.Di balik kemewahan itu, Megan berdiri di antara para pel
Sepanjang hari, jantung Megan tak pernah tenang. Setiap langkah di belakangnya terasa seperti ancaman. Ia yakin sekali saja tertangkap, semuanya berakhir.Namun malam datang… dan tak ada yang mencarinya.Di ruangan sempit, uang berhamburan di atas meja. Trix dan Byne tertawa ringan.“Banyak hari in
“Aku tidak punya uang.”Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Megan, nyaris tak terdengar.“Tapi adikmu butuh penanganan khusus, Megan,” kata Diana cemas, berusaha tetap terdengar tegar. “Kita tidak bisa menunda lagi. Kalau terlambat… kau bisa kehilangan Adrian.”Megan terdiam. Tangannya mengepal e







