Home / Romansa / Forbidden Desire / 2. Jalan Satu-Satunya

Share

2. Jalan Satu-Satunya

Author: Yuyun Batalia
last update publish date: 2026-05-04 17:27:20

Luvella segera pergi ke rumah sakit saat ia mendengar bahwa neneknya terjatuh di kamar mandi dan mengalami benturan keras di kepalanya.

Di depan pintu ruang operasi, seorang wanita berusia empat puluhan tahun yang dibayar oleh Luvella untuk menjaga nenek Luvella berdiri di sana.

"Luvella, kau akhirnya datang."

"Bibi Rose, bagaimana keadaan Nenek?" tanya Luvella dengan cemas.

"Bibi belum tahu seperti apa keadaan Nenek, saat ini dokter masih menanganinya." Rose menjawab dengan khawatir.

"Bagaimana Nenek bisa terpeleset?"

"Bibi sedang menyiapkan makan siang tadi, Nenek pergi ke kamar mandi dan terlepeset." Rose menjelaskan dengan jujur.

Luvella tidak bisa menyalahkan Rose karena tidak menjaga neneknya dengan benar karena saat itu Rose juga sedang menyiapkan makan siang untuk neneknya.

Luvella menunggu selama beberapa waktu. Sampai akhirnya dokter keluar dari ruang operasi.

"Dokter, bagaimana keadaan nenek saya?" Luvella bertanya dengan penuh harap.

"Kondisi pasien saat ini tidak terlalu baik. Terjadi pendarahan di otaknya. Dan dibutuhkan operasi lanjutan untuk menangani pendarahan tersebut.

Namun, operasi ini cukup sulit dan hanya sedikit dokter yang mampu melakukan operasi karena kemungkinan berhasil yang kecil."

Lutut Luvella terasa lemas. Neneknya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Jika neneknya juga meninggalkannya, maka ia akan tinggal sendirian di dunia ini.

"Dokter, tolong selamatkan Nenek saya."

"Di rumah sakit ini hanya dokter Adam yang bisa mengoperasi Nenek Anda. Namun, saat ini dokter Adam sedang cuti setelah jadwal panjang yang padat. Dokter Adam biasanya tidak bisa diganggu ketika sedang cuti."

Luvella tidak tahu bahwa ada dokter yang seperti itu. "Dokter, bisakah Anda memberikan pada saya kontak dokter itu?"

"Saya akan memberikan nomor asistennya pada Anda."

"Terima kasih, dokter."

"Selain masalah dokter, Anda juga harus mempersiapkan biaya operasi yang cukup besar."

"Saya mengerti, dok." Luvella akan memikirkan biaya operasi neneknya.

Dokter kemudian meninggalkan Luvella setelah ia memberikan nomor asisten dokter yang dibutuhkan untuk mengoperasi Nenek Luvella.

Setelahnya Luvella pergi ke bagian administrasi. Ia membayar biaya tagihan neneknya. Lalu kemudian menanyakan tentang biaya operasi lanjutan neneknya.

Luvella duduk di kursi rumah sakit, saat ini tidak memiliki cukup banyak uang. Biaya operasi neneknya benar-benar jumlah yang tidak ia pikirkan sebelumnya.

Luvella memikirkan Lexion, seharusnya kemarin ia tidak menolak uang yang diberikan pria itu padanya. Ia yakin dengan uang itu, ia tidak perlu memikirkan biaya operasi  neneknya.

Luvella berhenti memikirkan tentang uang sejenak, ia harus menghubungi dokter yang dibutuhkan oleh neneknya.

"Halo."

"Iya, dengan siapa saya bicara dan ada keperluan apa?"

"Saya Luvella, Nenek saya harus melakukan operasi lanjutan karena pendarahan di otak. Apakah saya bisa bertemu dengan dokter Adam untuk membicarakan mengenai operasi nenek saya."

"Maafkan saya, Nona. Saat ini dokter Adam sedang cuti dan dia tidak akan mengambil pekerjaan apapun saat sedang cuti. Nona bisa mencari dokter lain di rumah sakit lain untuk operasi Nenek Anda."

"Saya benar-benar membutuhkan bantuan dokter Adam."

"Tidak ada yang bisa saya lakukan tentang hal itu. Maafkan saya." Panggilan itu kemudian di tutup.

Luvella tidak putus asa. Ia harus membuat dokter Adam bersedia mengoperasi neneknya.

Luvella kemudian menghubungi temannya. "Luna, aku membutuhkan bantuanmu. Temukan jadwal dokter Adam dalam waktu dekat ini."

"Dokter Adam?"

"Ya, saat ini Nenek mengalami pendarahan di otak dan mengharuskan dioperasi. Dan yang  bisa menangani operasi Nenek di rumah sakit saat ini hanya dokter Adam."

"Aku mengerti, aku akan segera mencarinya untukmu."

"Terima kasih, Luna."

"Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih, Luvella. Beri aku waktu lima belas menit."

"Baik."

Luvella menutup panggilan itu. Ia kemudian menunggu selama beberapa menit sampai akhirnya Luna menghubunginya lagi.

"Luvella, saat ini dokter Adam berada di luar negeri dan baru akan kembali satu minggu lagi. Luvella, bagaimana jika mencari dokter dari rumah sakit lain?"

"Aku akan membicarakan ini dengan dokter yang menangani nenekku dulu." Luvella tidak bisa mengejar dokter Adam ke luar negeri karena kondisi neneknya saat ini.

"Baiklah, kabari aku jika kau membutuhkan bantuanku, Luvella."

"Ya, Luna."

Setelahnya Luvella kembali menemui dokter yang menangani neneknya. Dokter itu membantu Luvella menghubungi beberapa dokter yang mungkin bisa mengoperasi nenek Luvella, tapi karena pendarahan yang terletak di daerah yang vital beberapa dokter itu tidak bisa menyanggupi operasi yang mereka tahu kemungkinan akan berhasilnya sangat kecil.

Tubuh Luvella lemas. Ia tidak pernah berada dalam posisi seputus asa ini.

Wanita itu berjalan lemas keluar dari ruangan dokter. Ia berhenti melangkah dengan tangannya yang menyentuh dinging. Semua tenaganya kini telah terkuras.

Dadanya seperti ditekan benda kuat, membuatnya sangat sulit untuk bernapas.

Ia telah bersama dengan neneknya sejak ia dilahirkan. Ketika orangtuanya meninggal karena kecelakaan, ia hanya tinggal berdua dengan neneknya, saling menguatkan. Neneknya telah melakukan begitu banyak hal untuk menghidupnya. Ia tidak mungkin menyerah pada hidup neneknya.

Luvella merasa dunianya akan runtuh sekarang. Rasa sakit karena patah hati kemarin, telah dikalahkan oleh rasa sakit dan putus asa karena bayangan kehilangan neneknya.

Luvella menguatkan dirinya. Wanita itu pergi ke tangga. Ia duduk di sana lalu kemudian menangis sejadi-jadinya. Ia tidak bisa pergi ke ruangan neneknya dan menangis di sana, karena itu mungkin akan mengganggu neneknya.

Setelah beberapa waktu menangis, Luvella kembali berdiri. Ia tidak boleh putus asa. Wanita itu kemudian mengeluarkan ponselnya.

Ia akan menghubungi Lexion. Orang-orang dari kalangan atas bisa melakukan apa saja dengan cepat dengan menggunakan pengaruhnya. Ia berharap Lexion bisa membantunya mengingat hubungan mereka selama lima tahun ini.

Namun, panggilan Luvella tidak kunjungi diangkat oleh Lexion.

Luvella melakukan panggilan lagi, kali ini panggilan itu diangkat.

"Halo, Lexion."

"Halo, saat ini Lexion sedang mandi. Jika ada yang ingin dikatakan, katakan saja padaku. Aku akan menyampaikannya pada Lexion."

"Dengan siapa aku  bicara?"

"Selena."

Luvella diam sejenak. Lexion sedang mandi dan yang menjawab ponsel Lexion adalah Selena, calon istri Lexion.

"Dengan siapa saya bicara? Saya akan menyampaikan pada Lexion nanti."

"Saya Luvella, tolong sampaikan pada Lexion untuk menghubungi saya nanti."

"Baik."

Luvella kemudian memutuskan panggilan itu. Ia seharusnya tidak menghubungi Lexion lagi, tapi saat ini ia dalam kondisi terdesak. Bahkan jika ia harus merendahkan dirinya sendiri untuk menyelamatkan neneknya, maka ia akan melakukannya.

Di tempat lain, Selena yang menjawab panggilan Luvella segera memasukan nomor Luvella ke daftar blokir. Ia juga menghapus jejak panggilan Luvella.

Selena tidak akan membiarkan Lexion kembali memiliki hubungan dengan Luvella.

Lexion keluar dari kamar mandi, pakaian pria itu kotor karena kopi yang tumpah, jadi ia pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Selena sengaja berbohong pada Luvella mengenai Lexion yang mandi. Ia ingin membuat Luvella tahu diri dan berhenti mengganggu Lexion.

"Lexion, temani aku membeli beberapa hadiah untuk Bibi Jena." Selena mendekati Lexion.

Lexion bersikap baik pada Selena karena pria ini akan memanfaatkan Selena untuk mendapatkan keuntungan dari kedua keluarga.

"Baik, ayo."

Selena tersenyum lembut. Ia segera menggandeng lengan Lexion dan melangkah bersama Lexion.

**

Waktu berlalu, Luvella masih tidak mendapatkan panggilan dari Lexion.

Ia mencoba untuk menghubungi Lexion, tapi yang ia temukan adalah nomornya diblokir oleh Lexion.

Luvella meletakan banyak harapan pada Lexion, tapi pria itu bukan hanya tidak menghubunginya kembali, ia juga memblokir nomor ponselnya. Tampaknya Lexion tidak ingin diganggu lagi olehnya.

Tidak, Luvella masih tidak ingin menyerah. Ia menghubungi asisten pribadi Lexion.

"Ya, Nona Luvella."

"Ada hal yang perlu aku bicarakan dengan Lexion."

"Maafkan saya, Nona Luvella. Saat ini Tuan Lexion sedang tidak bisa diganggu. Jika ada yang ingin Anda katakan pada Tuan Lexion, sampaikan saja pada saya."

"Nenek mengalami pendarahan otak dan harus dioperasi. Aku ingin meminta tolong pada Lexion untuk menggunakan koneksinya agar bisa membuat dokter Adam Flynn mengoperasi Nenek."

"Nona, meskipun Tuan Lexion menggunakan kekuasaannya. Dokter Adam tidak akan bersedia melakukan apapun untuk Tuan Lexion. Tuan Adam adalah sahabat baik Tuan Diello."

Luvella tertegun. Tampaknya, takdir terus mempermainkannya. Dokter Adam adalah sahabat Diello, pria bajingan yang ia benci. "Baiklah, aku mengerti."

Dengan hubungan Lexion dan Diello, meminta bantuan pada Lexion juga akan percuma.

Sekarang jalan satu-satunya yang ia miliki adalah meminta bantuan dari Diello. Ia tidak pernah berpikir bahwa akan datang suatu hari ia membutuhkan bantuan pria yang melecehkannya.

tbc

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Forbidden Desire   Extra Part – Hanya Akan Mencintai Satu Wanita Saja

    Diello membawa Luvella ke sebuah jamuan yang diadakan oleh salah satu petinggi negara itu.Setelah menemani Diello menyapa beberapa orang, Luvella pergi ke toilet.Seorang wanita memanfaatkan perginya Luvella untuk mendekati Diello. Wanita itu lebih muda dari Luvella, dia terlihat cantik dan segar.“Tuan Diello, mari berkenalan.” Wanita itu berdiri di depan Diello, ia tersenyum menawan. Ia mengulurkan tangannya. “Aku adalah Jacqueline Thompson, pewaris dari keluarga Thompson.”Diello tidak tertarik untuk berkenalan dengan wanita di depannya, jadi dia tidak menerima uluran tangan itu.“Tuan Diello, mari bertukar kontak.” Jacqueline bersuara lagi. Dia tidak akan menyerah hanya dengan satu kali penolakan dari Diello.“Saya tidak memberikan kontak saya pada orang asing.” Diello membalas dingin. Sikap Diello terhadap wanita yang mencoba mendekatinya masih sama, sangat dingin.Jacqueline tersenyum. “Tuan Diello, aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu. Suatu hari nanti kau pasti akan men

  • Forbidden Desire   42. Hasrat Terlarang (Tamat)

    Satu bulan berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Diello dan Luvella.Sebuah aula hotel telah disulap seperti negeri di atas awan. Bunga mawar merah muda dan putih ditata dengan indah di sana.Tamu undangan telah mengisi tempat mereka masing-masing. Semua orang itu berdecak kagum dengan setiap detail dekorasi di aula itu.Luvella dengan balutan gaun pengantin melangkah di atas kelopak bunga mawar yang terhampar di lantai. Tatapan wanita itu terarah pada Diello yang menunggunya di depan sana. Rasa haru menyelimuti dirinya, belasan tahun lalu dia telah mengklaim Diello sebagai miliknya. Setelah beberapa hal yang membuat mereka terpisah, pada akhirnya Diello masih ditakdirkan untuknya.Ia benar-benar bahagia karena menikah dengan cinta pertama dan juga akan menjadi cinta terakhirnya.Diello mengulurkan tangannya ketika Luvella sudah ada di depannya. Pria ini awalnya telah menyerah pada Luvella, ia pikir suatu hari nanti ia akan melihat Luvella mengenakan gaun pengantin, tapi yang menja

  • Forbidden Desire   41. Kejutan

    Pekerjaan Diello di luar negeri masih belum selesai, setelah ia menemani Luvella sehari, ia kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.Begitu juga dengan Luvella, wanita itu kembali bekerja setelah istirahat satu hari. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia benar-benar sibuk. Ia memiliki banyak janji temu dengan beberapa klien yang ingin berkonsultasi dengannya dan beberapa pekerjaan lainnya.Siang ini Luvella makan bersama dengan klien barunya. Makan siang itu selesai, Luvella dan kliennya bersalaman lalu setelah itu keduanya meninggalkan meja mereka.Langkah kaki Luvella berhenti saat seseorang yang ia kenal berdiri di depannya.“Luvella, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Elian.“Aku baru saja selesai bertemu dengan klien.”“Ah, seperti itu.” Elian menganggukan kepalanya. “Kau sangat sibuk sepertinya.”“Begitulah.”“Omong-omong, Luvella. Lusa adalah ulang tahun Diello. Apakah kau tahu ini?”Luvella diam. Dia lupa tentang ulang tahun Diello. “Terima

  • Forbidden Desire   40. Membusuk Di Rumah Sakit Jiwa

    Lexion pergi ke mini bar villa itu, ia mengabil sebotol minuman lalu membukanya dan menuangkan cairan di dalam sana ke dalam gelas kosong lalu kemudian menenggaknya dalam satu kali tegukan.Kemarahan tampak di wajahnya, Luvella benar-benar memilih mati daripada disentuh olehnya.Namun, tidak apa-apa. Dia masih memiliki banyak waktu dan kesabaran untuk Luvella. Tidak akan ada yang bisa menemukan Luvella.Lexion menuang minumannya lagi dan lagi. Sementara itu di kamar, Luvella sedang berdiri di balkon. Saat ini sedang malam hari, jadi tidak ada banyak hal yang bisa ia lihat di kegelapan.Wanita itu mulai merasa tidak tenang sekarang, bagaimana dia bisa menghubungi Diello? Suaminya itu pasti sangat mencemaskannya sekarang.“Lexion, aku sangat membencimu!” Luvella menggeram marah.Lexion harusnya berhenti mengganggunya bukan malah semakin menjadi-jadi. Atas dasar apa Lexion berpikir bahwa dia masih bisa bersama dengan pembunuh orangtuanya. Cara berpikir Lexion benar-benar tidak sama denga

  • Forbidden Desire   39. Diculik

    Waktu berlalu, saat ini Diello sedang berada di sebuah ruangan persidangan. Pria itu menatap kagum istrinya yang saat ini sedang bicara sebagai pengacara.Ini bukan pertama kalinya Diello melihat persidangan Luvella, dia sangat menyukai istrinya dengan seragam pengacara. Wanitanya terlihat begitu luar biasa dan memukau.Persidangan itu berjalan dengan lancar, Luvella dan kliennya telah menyiapkan bukti-bukti dan saksi yang bisa membuat mereka memenangkan persidangan.Luvella melangkah keluar dari ruang persidangan bersama dengan Joceline dan juga Diello. Namun, langkah mereka terhenti saat Finn -suami Joceline berada di depan mereka.“Joceline, haruskah kau begitu keras kepala?”“Finn, ini namanya bukan keras kepala, tapi prinsip hidup! Jatuh bangunmu akan aku temani, tapi tidak dengan pengkhianatanmu. Setelah ini kau bisa bersama dengan wanita manapun yang kau sukai. Yang pasti, bukan wanita membosankan sepertiku.”“Joceline, aku tahu aku salah. Aku akan memperbaiki semuanya. Beri ak

  • Forbidden Desire   38. Balasan

    Luvella datang ke pemakaman Jena bersama dengan Diello. Saat ini hanya ada beberapa orang saja di sana. Berita kematian Jena telah menyebar, tapi karena kejahatan yang dilakukan oleh Jena sangat mengerikan, hanya beberapa orang saja yang datang melayat, sementara banyak kenalan Jena yang lainnya memilih untuk tidak datang karena tidak ingin terlibat dengan Jena lagi dalam hal apapun.Selena juga ada di sana, dia masih menunjukan sedikit penghormatan atas hubungannya dengan Jena di masa lalu. Selain itu saat ini dia masih tunangan Lexion, dia akan menunjukan bahwa dalam keadaan ini dia masih menemani Lexion.Tatapan Luvella terarah ke gundukan tanah di depannya. Dia tidak mengharapkan Jena mati secepat ini, Jena seharusnya merasakan penderitaan lebih banyak lagi. Namun, begini juga cukup baik. Setidaknya dia tidak perlu lagi menghirup udara yang sama dengan wanita yang sudah membunuh orangtuanya.“Suamiku, ayo kita pergi.” Luvella hanya ingin melihat sebentar saja, bukan untuk berbelas

  • Forbidden Desire   31. Alasan

    Acara inti perjamuan itu sudah dimulai, saat ini di depan Bouvier memberikan kata sambutan.“Hari ini saya ingin memperkenalkan seseorang pada kalian semua.” Bouvier mengarahkan pandangannya pada Diello. “Tuan Diello Alterion, pemilik sekaligus pemimpin L Security.”Diello berdiri dari tempat duduk

  • Forbidden Desire   30. Dipetik Oleh Orang Lain

    Perjamuan bisnis itu diadakan di sebuah aula hotel mewah, Diello menunjukan undangan yang diberikan padanya.Pintu besar di depannya terbuka, pria itu kemudian melangkah di atas karpet merah bersama dengan Luvella yang menggandeng lengannya.Di dalam aula megah itu, terdapat banyak orang yang semua

  • Forbidden Desire   25. Masih Sama

    Lexion baru menerima kabar bahwa Luvella mengalami kecelakaan. Pria itu segera meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Luvella. Saat pria itu sampai di depan ruangan rawat Luvella, dua pengawal segera menghentikannya.“Aku datang untuk mengunjungi Luvella.” Lexion member

  • Forbidden Desire   24. Harus Mati

    Tetes air mata Luvella jatuh ke lengan Diello. Detik selanjutnya, kelopak mata Diello berkibar. Cahaya putih menyilaukan Diello sejenak.Luvella segera menghapus air matanya saat ia menyadari Diello sudah sadarkan diri.“Diello, kau sudah sadar.”“Kenapa kau menangis?” Diello melihat ke mata Luvell

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status