Share

Chapter 4

Author: Rayana Lovely
last update publish date: 2021-08-11 20:11:16

Pagi ini, Grizelle dan kakak perempuannya yang bernama Stella, tampak sibuk mondar-mandir melayani karyawan kantor yang sengaja mampir untuk makan atau sekedar memesan secangkir teh hangat atau kopi. Kedua gadis itu dengan cekatan menyiapkan berbagai menu yang dipesan. Bergantian mengantarkan pesanan ke meja pelanggan dengan senyum manis yang mengembang.

Dan disaat para karyawan harus kembali ke ruangan mereka masing-masing, Grizelle segera kembali ke dapur kantin. Membereskan piring-piring dan gelas-gelas kotor. Sementara Stella dan dua orang pekerja yang memang sudah lama bekerja dengan orang tua mereka, juga sibuk merapikan meja-meja.

Setelah pekerjaannya lempang, barulah Grizelle mulai pada pekerjaan selanjutnya. Mendekati counter dapur, mengambil cangkir dan meletakkannya di atas piring kecil. Dia ambil gula dan kopi beraroma latte. Kemudian sesuai takaran, Grizelle menyatukan semua bahan tersebut ke dalam cangkir dan menyeduhnya dengan air panas. Dalam sekejap, aroma kopi latte itu langsung menyeruak ke udara. Membuai hidung siapa saja yang menciumnya.

Grizelle mengaduk kopinya dengan pelan. Senyumnya sudah memudar dari tadi. Sejak dia berencana untuk membuat kopi latte tersebut. Sebab kopi yang dia buat adalah untuk dia persembahkan kepada CEO yang terkenal arrogan di perusahaan ini.

Grizelle menghela nafas. Berat dan dalam. Menenangkan pikirannya sejenak. Rasanya tidak ingin menemui CEO yang tampangnya mengerikan tersebut. Setelah dirasa cukup siap, ia kemudian meletakkan cangkir yang berisi kopi itu ke atas nampan, lalu membawanya menuju ruangan yang sama sekali tidak ingin dia datangi. Hanya karena sebuah tugas yang sudah diamanatkan oleh sang ibu, makanya Grizelle terpaksa harus kembali menemui CEO itu untuk memberikan secangkir kopi kegemarannya.

Kedua kaki ramping itu berjalan pelan penuh keraguan. Ketika Grizelle tiba di depan pintu ruangan yang dia tuju, gadis itu kembali menarik nafas panjang. Berusaha menetralkan rasa canggungnya. Yang tanpa dia sadari, Tristan melihat gerak-geriknya dari dalam ruangan. Tersenyum sinis menatap pintu kaca yang hanya dapat menembus pandangan dari dalam. Tristan mengabaikan laptopnya yang menyala. Memilih merebahkan tubuhnya ke senderan kursi kekuasaannya. Melipat tangan ke belakang kepala sambil meluruskan pandangannya. Tak mau beralih pandang dari gadis yang berada di balik pintu yang terlihat ragu untuk masuk ke dalam ruangannya.

Grizelle mengetuk pintu ruangan Tristan. Dan jelas saja Tristan segera menyahutnya dari dalam.

"Masuk!"

Pelan Grizelle mendorong pintu itu. Masuk ke ruangan Tristan dengan langkahnya yang hati-hati.

"Permisi, Tuan! Saya ingin mengantarkan kopi untuk Tuan," ucap Grizelle tanpa melihat wajah Tristan.

Tristan berdehem dengan matanya yang masih saja mengamati gerakan tubuh Grizelle. Begitu kagum melihat lekuk tubuh gadis belia itu. Hanya dengan mengenakan kaos ketat berwarna putih dan celana jeans yang panjangnya sebetis, sudah membuat Grizelle begitu anggun. Hingga Tristan tak habis pikir dengan pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa kagum pada gadis yang tampilannya begitu sederhana seperti ini. Bahkan, rambut gadis itu saja cuma dicepol asal. Tapi kenapa dengan tampilan yang sederhana itu sudah membuatnya terpesona? Hingga fantasinya selalu muncul ketika menatap gadis tersebut.

"Permisi, Tuan, mohon maaf saya izin kembali," pamit Grizelle setelah meletakkan cangkir berisi kopi itu ke atas meja kerja Tristan.

"Tunggu!" Tristan mencegah Grizelle yang baru berjalan setengah langkah.

Grizelle menggigit bibir bawahnya. Tak menyangka kalau Tristan akan mencegah langkahnya lagi sama seperti saat pertama kali dia masuk ke ruangan ini. Dia pun urung melanjutkan langkah. Memilih membalikkan badan menghadapTristan.

"Ada apa, Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Grizelle was-was.

Tristan memegang ganggang cangkir yang terbuat dari tanah liat yang diukir sedemikian cantik itu.

Lalu matanya yang bagaikan mata elang itu menemui mata Grizelle yang sedang memancarkan aura ketakutan.

"Jangan pergi sebelum aku mencicipi kopi buatanmu! Aku tidak tau apakah kau bisa melakukan hal yang sama seperti ibumu. Apakah rasa kopi ini akan sama enaknya, atau bahkan lebih enak dari buatan ibumu. Yang jelas, aku tidak menerima dan memaafkan sebuah kesalahan. Apapun itu, dan bagaimanapun kondisinya ... semua harus sempurna bagiku!" terang Tristan

tegas.

Grizelle menelan saliva kasar-kasar. Matanya bulat seperti bola. Tristan akan menilai kopi buatannya. Dan dengar sendiri bukan? Laki-laki itu mengatakan bahwa dia tidak akan menerima dan memaafkan sebuah kesalahan. Apapun, dan bagaimanapun kondisinya!

Kedua bola mata Grizelle semakin melebar saat cangkir itu diangkat oleh Tristan. Tubuhnya semakin tegang kala bibir pria itu menempel di pinggir cangkir. Menyeruput kopi dengan pelan, dan menelan cairan pekat itu dalam-dalam. Tristan tampak diam sesaat. Menghayati apa yang dia rasakan. Atau memang dia sedang menilai bagaimana rasa kopi buatan gadis yang berada di hadapannya itu. Yang mana ekspresi itu membuat jantung Grizelle berdentum-dentum hebat. Menunggu penilaian dari pria arrogan yang baginya sangat menyebalkan.

Pria yang dinilainya paling angkuh di perusahaan ini, atau bahkan di seluruh alam semesta. Kini, Grizelle merasakan sensasi tubuhnya seperti berada di atas awan yang siap jatuh ke bumi kapan saja.

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 24

    “Hei, tenanglah. Kau tidak perlu setegang itu. Aku hanya ingin berbicara santai denganmu.” Grizelle yang masih dikuasai rasa terkejut hanya mampu menatap Miko dalam diam. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, melintirnya berulang kali sebagai pelampiasan kegugupan. “Kemarilah,” ujar Miko sambil memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Dengan ragu, Grizelle menarik kursi yang berada di hadapan pria itu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Miko, meski kecanggungan masih begitu jelas terlihat dari sikapnya. “Kau tidak perlu takut,” kata Miko dengan nada menenangkan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai hubunganmu dengan Tristan.” “Maaf, Tuan,” akhirnya Grizelle membuka suara. Ia menegakkan punggungnya sebelum melanjutkan, “Saya memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya.” Meskipun suaranya pelan, nada ketegasan dalam ucapannya tidak dapat disembunyikan. Miko mendadak merasa kikuk. Untuk kesekian kalinya, ia mera

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 23

    Grizelle berdiri sambil memandangi orang-orang di sekelilingnya. Seluruh pasang mata tampak tertuju kepadanya. Ia menatap satu per satu wajah yang berada di dalam kafe itu. Ketika pandangannya bertemu dengan wajah sang ibu, Grizelle menatapnya seolah meminta penjelasan. “Zel, ada apa?” tanya Bu Ambar dengan nada khawatir. Grizelle menyeringai canggung. Ia sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya, kejadian beberapa menit yang lalu hanyalah bunga tidur semata. Pengalaman bertemu dengan Tristan memang meninggalkan kesan yang begitu mendalam hingga membuat tidurnya tidak pernah benar-benar tenang. “Maaf…” gumamnya pelan. Perlahan, tubuhnya kembali melorot hingga ia duduk di kursi yang berada di belakangnya. Beberapa orang yang sempat terkejut oleh gerakan refleks Grizelle akhirnya kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Suasana kafe yang sempat hening pun perlahan kembali ramai oleh suara percakapan dan denting peralatan makan. “Zel.”

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 22

    Seperti hari-hari biasanya, selepas pulang dari sekolah, Grizelle datang menemui kakak dan ibunya di cafe perusahaan tempat mereka mencari pundi-pundi uang. Ia berharap hari ini tidak bertemu dengan Tristan. Jika pria arogan itu memesan secangkir kopi latte lagi, Grizelle tidak akan menyiapkan dan mengantarnya. Ia akan meminta sang ibu untuk yang melakukan hal itu, berhubung ibunya sudah bisa kembali lagi beraktivitas di cafe, sebab ayahnya sudah bisa ditinggal istirahat di rumah. Ia berjanji tak mau lagi berurusan dengan Tristan. Dia ingin menjauh dari pria itu. Akan tetapi, sepertinya keadaan tidak memungkinkan. Sebab, ia hampir setiap waktu mendatangi cafe perusahaan yang dipimpin oleh pria tempramental itu. Grizelle menghela nafas berat. Ia sudah tiba di depan pintu kafe—menatap bangunan itu dengan malas. Pintu kafe yang terbuat dari kaca ia dorong perlahan. Aroma kopi yang khas langsung menyambutnya, hangat dan menenangkan, seolah menjadi pelarian dari penatnya hari. Dari bal

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 21

    “Hai, Tian. Lagi sendiri ya?”Gadis cantik berkulit putih dengan rambut ikal panjang itu mendekati Tian yang sedang duduk di taman sambil membaca sebuah buku.“Eh, iya, nih, Nin. Lagi asyik baca novel,” jawab Tian. Meski sempat terkejut atas kehadiran Nindi, ia berusaha tetap tersenyum.Langkah Nindi terhenti tepat di depan bangku kayu tempat Tian duduk. Tak lama, dua temannya menyusul, saling berbisik kecil sambil sesekali melirik ke arah Tian dengan senyum yang sulit disembunyikan. Suasana taman yang tadinya tenang mendadak terasa lebih ramai.“Sendirian aja? Ketua OSIS kok ngumpet di sini,” goda Nindi dengan nada suaranya yang ringan.Tian terkekeh pelan. “Bukan ngumpet, lagi cari suasana aja. Di kelas berisik.”“Atau lagi nunggu seseorang, nih?” Salah satu teman Nindi langsung menimpali.Tian menggeleng, senyumnya tetap terjaga meski dalam hati ia menghela napas kecil. Ia sudah cukup paham ke mana arah percakapan seperti ini biasanya berjalan. Sejak menjabat sebagai ketua OSIS, p

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 20

    “Jangan bicara seolah-olah dia penyebab semua ini. Perasaanmu itu tanggung jawabmu sendiri, Tris. Dia tidak bersalah dalam hal ini.” Tristan menoleh, tatapannya tajam. “Kau tidak akan mengerti.” “Kalau yang kau maksud adalah menyakitinya, aku sangat mengerti, dan itu salah.” Nada suara Miko kini tegas, tanpa kompromi. “Grizelle tidak berutang apa pun padamu.” Rahang Tristan kembali mengeras. Ia terdiam sesaat, seolah menimbang kata-kata yang ingin keluar. “Aku tidak bilang akan menyakitinya,” ujarnya akhirnya, tapi nada suaranya menggantung, tak sepenuhnya meyakinkan. “Lalu apa?” desak Miko. “Apa yang ada di kepalamu sekarang?” Tristan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. “Aku hanya … ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Kebingungan. Kehilangan kendali. Ketidakpastian.” Ia menatap Miko lagi. “Agar dia tahu rasanya berada di posisi ini.” Miko menatap Tristan lekat, mencoba membaca batas antara emosi dan niat sebenarnya. “Itu tetap berbahaya, Tris. Perasaan

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 19

    Di atas meja kerja yang rapi di dalam kamar mewah itu, dua telapak tangan Tristan mengepal kuat. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol, seolah menahan sesuatu yang hampir meledak. Ketegangan itu bahkan menjalar hingga ke leher dan wajahnya. Rahangnya mengeras, napasnya berat, dan sorot matanya terlihat tajam sekaligus gelap. Pria berwajah antagonis itu berdiri tegak di samping meja, tubuhnya kaku seperti patung yang dipenuhi amarah. Ia menatap keluar jendela kamar di lantai dua, memandangi jalanan di bawah sana tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya dipenuhi bayangan yang terus berulang—pemandangan yang sejak tadi menghantui dan memancing emosi yang sulit ia kendalikan. Ada rasa kesal, cemburu, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu, bercampur menjadi satu. Di belakangnya, Miko berdiri dengan sikap tegap, namun wajahnya jelas menunjukkan kebingungan dan sedikit kekesalan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, berusaha menahan diri agar tidak langsung melon

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 13

    Desiran angin malam menyapa lembut wajah dan rambut Grizelle. Hingga rambut lurus sebahu itu terhembus melayang ke belakang karenanya. Kedua kelopak mata Grizelle urung berkedip, memaksa dua bola mata indah itu agar tetap membulat. Grizelle tercengang. Di hadapannya muncul sosok pria yang begitu

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 12

    Ceklek!"Tristan, malam i—"'Ya, Tuhan—'Miko tercegang. Membeku di tempat. Bagaimana tidak, retinanya menangkap jelas adegan Tristan dan Grizelle. Adegan romantis seperti yang terjadi di drama-drama di televisi.&nb

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 11

    Tik! Tik! Tik!Dentingan jarum jam terdengar begitu nyaring. Dalam ruangan yang sejuk itu, dua anak manusia yang berlawanan jenis saling beradu pandang dengan ekspresi yang sangat bertolak belakang.

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 8

    Kegelisahan yang luar biasa menyerang Grizelle. Ia benar-benar sedang merasa terancam. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang bersama Tristan dalam satu mobil. Berdua dengan pria yang terkenal sangat arrogan dan dingin. Gadis itupun meronta-ronta bermohon pada Tristan agar ia menghentikan mobilnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status