Share

Chapter 5

Author: Rayana Lovely
last update publish date: 2021-08-12 13:30:19

"Hem—"

Tristan menarik nafas dan membuangnya pelan. Ekspresi kerasnya sedikit memudar. Ia menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya.

"Lumayan! Tidak seburuk yang aku kira," ucapnya datar.

Tidak seburuk yang aku kira!

'Adakah yang lebih menyebalkan dari pria ini? Kenapa dia bisa-bisanya menilai buruk pekerjaan seseorang sebelum merasakan sendiri hasilnya!'

Grizelle membatin. Tak kuasa bersuara. Baginya lebih baik diam daripada merespon ucapan Tristan. Hanya mengumpat dalam hati sambil menyaksikan pria seram ini berceloteh sesuai apa yang ada di otaknya.

"Tapi sebaiknya, kau belajar lagi dari ibumu!" Sontak kedua mata Grizelle kembali melebar mendengar kalimat yang keluar dari mulut Tristan.

"Karna kopi yang kau buat ini cita rasanya belum sama seperti buatan ibumu!" celetuknya lagi. "It's oke! Tidak masalah! Bagiku ini tidak terlalu buruk, maka aku tidak akan menghukummu."

'Menghukumku? Apa maksudnya? Apakah perbedaan rasa pada minuman termasuk salah satu kesalahan yang fatal? Hingga dia berkata seperti itu?'

"Tapi, aku sarankan kepadamu agar kau bisa menyamai rasa kopi bikinanmu sama seperti buatan ibumu!"

Grizelle tak menjawab. Ia memilih diam. Dengan menyembunyikan wajah tidak senangnya, ia berusaha tetap berdiri tegak meski terasa kaku.

"Jika besok rasa kopi buatanmu masih seperti ini ... maka jangan salahkan aku kalau kau—" dengan menggunakan bolpoin yang berada di tangannya, Tristan menunjuk ke arah Grizelle yang menatapnya.

"Akan aku hukum sesuai keinginanku!" lanjutnya dengan senyuman setan.

Walau bibir terasa berat untuk diajak bicara. Dan lidah terasa keluh untuk mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, Grizelle mengangguk pelan.

"Baik, Tuan! Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk Tuan," jawabnya penuh kepalsuan. Sebab ia sangat tidak senang dengan apa yang terlontar dari mulut Tristan dan hanya ingin agar secepatnya berlalu dari ruangan itu.

'Apa itu? Berusaha sebaik mungkin untuk pria ini? Tidak mungkin!'

Grizelle mencibir dalam hati. Terserah Tristan mau menilai kopi buatannya seperti apa, dan juga mengancamnya bagaimana. Satu yang Grizelle pastikan, dia tidak akan kembali ke ruangan ini apalagi dengan membawa secangkir kopi untuk Tristan. Sebab ibunya pasti akan mengambil alih tugas itu esok hari.

Tristan dengan seringai di bibirnya, melanjutkan kembali fokusnya pada layar laptop. Kesempatan baik bagi Grizelle untuk pamit dan segera pergi dari tempat itu.

"Kalo begitu saya permisi dulu, Tuan!" pamit Grizelle menundukkan sedikit kepalanya.

"Hem!" Tristan merespon, namun tak melihat Grizelle. Berpura-pura serius pada pekerjaannya padahal batinnya memberontak, memaksa matanya untuk kembali melihat gadis manis yang dikaguminya itu.

Grizelle memahami bagaimana Tristan. Itu sebabnya ia tak terlalu ambil pusing dengan sikap laki-laki itu kepadanya. Meski merasa tak dihargai, tapi Grizelle berusaha tak mempedulikan ekspresi angkuh itu lagi. Ia berbalik, berjalan cepat keluar ruangan. Meninggalkan Tristan yang kembali memandang punggungnya dengan liar. Ya, Tristan kembali mengamati Grizelle yang sudah berada di balik pintu ruangannya. Berdiri membelakangi pintu tentu dengan perasaan jengkel. Tristan dapat membaca ekspresi Grizelle dari gerak-geriknya. Menghentak-hentakkan kaki sambil menggerutu sendiri.

Namun, pemandangan itu bukannya membuat Tristan marah, laki-laki itu malah tersenyum. Gemas melihat Grizelle yang sedang kesal. Walau hanya dapat memandang punggung Grizelle, tapi Tristan dapat menerka apa yang sedang gadis itu cibirkan. Pastinya karena sikap yang ia tunjukkan tadi.

"Grizelle, hem —," gumamnya. "Kau begitu menggemaskan! Aku semakin tidak sabar menunggumu hingga kau matang dan dapat aku miliki seutuhnya. Dan pada saat itu aku akan menghajarmu habis-habisan. Hingga kau sendiri yang akan merasa kalo aku adalah satu-satunya orang yang berhak atas dirimu!"

Sudut bibir pria itu terangkat. Menciptakan sebuah senyuman iblis. Pikirannya melayang, dan tentu terpacu pada Grizelle yang sudah beranjak sejak tadi. Tristan mendesah sambil menghempaskan tubuhnya ke senderan kursi. Menopang kepalanya dengan kedua tangan. Menatap ke langit-langit ruangan. Fantasinya pada Grizelle muncul kembali. Membuatnya tidak lagi dapat berkonsentrasi dalam pekerjaan.

Drrtt ... Drrtt ....

Handphone yang berada di atas mejanya berbunyi. Sontak membuat Tristan tersentak dari lamunan. Menatap layar ponsel yang menyala. Kaget ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Sebab nama yang muncul mengingatkannya pada pertemuan dadakan hari ini. Ia pun segera mengangkat panggilan telepon yang tak lain dari Miko.

"Hem?" sahutnya. Diam mendengarkan apa yang dikatakan Miko diseberang sana. "Oke! Aku segera ke sana!" Tristan memutuskan panggilan. Menghela nafas berat dan panjang. Menghapus wajah dengan dua telapak tangannya.

"Brengsek! Kenapa aku jadi sange begini! Ini semua karna gadis sialan itu. Jika saja aku bisa memilikinya sekarang, pasti sakit hasratku ini bisa terobati! Ah, sial!"

Tristan meninju meja kerjanya. Menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuang segala pikiran jorok yang hinggap di otaknya. Dia harus konsentrasi dalam pekerjaan. Sebab, akan ada meeting dalam beberapa menit lagi. Namun, semua usahanya sia-sia. Tristan tidak dapat menyingkirkan fantasinya terhadap Grizelle. Gadis itu terus saja muncul di pikirannya. Menari-nari di lingkar matanya.  Otaknya sudah dipenuhi sosok gadis belia yang merupakan anak dari penjaga kantin perusahaannya.

"Arrggghh ...!! Sialan kau, Grizelle!!" teriaknya mengacak rambut. Menggeram pada diri sendiri.

"Lihat saja! Kau pasti akan aku dapatkan cepat atau lambat!" kecam Tristan kesal.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 24

    “Hei, tenanglah. Kau tidak perlu setegang itu. Aku hanya ingin berbicara santai denganmu.” Grizelle yang masih dikuasai rasa terkejut hanya mampu menatap Miko dalam diam. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, melintirnya berulang kali sebagai pelampiasan kegugupan. “Kemarilah,” ujar Miko sambil memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Dengan ragu, Grizelle menarik kursi yang berada di hadapan pria itu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Miko, meski kecanggungan masih begitu jelas terlihat dari sikapnya. “Kau tidak perlu takut,” kata Miko dengan nada menenangkan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai hubunganmu dengan Tristan.” “Maaf, Tuan,” akhirnya Grizelle membuka suara. Ia menegakkan punggungnya sebelum melanjutkan, “Saya memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya.” Meskipun suaranya pelan, nada ketegasan dalam ucapannya tidak dapat disembunyikan. Miko mendadak merasa kikuk. Untuk kesekian kalinya, ia mera

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 23

    Grizelle berdiri sambil memandangi orang-orang di sekelilingnya. Seluruh pasang mata tampak tertuju kepadanya. Ia menatap satu per satu wajah yang berada di dalam kafe itu. Ketika pandangannya bertemu dengan wajah sang ibu, Grizelle menatapnya seolah meminta penjelasan. “Zel, ada apa?” tanya Bu Ambar dengan nada khawatir. Grizelle menyeringai canggung. Ia sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya, kejadian beberapa menit yang lalu hanyalah bunga tidur semata. Pengalaman bertemu dengan Tristan memang meninggalkan kesan yang begitu mendalam hingga membuat tidurnya tidak pernah benar-benar tenang. “Maaf…” gumamnya pelan. Perlahan, tubuhnya kembali melorot hingga ia duduk di kursi yang berada di belakangnya. Beberapa orang yang sempat terkejut oleh gerakan refleks Grizelle akhirnya kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Suasana kafe yang sempat hening pun perlahan kembali ramai oleh suara percakapan dan denting peralatan makan. “Zel.”

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 22

    Seperti hari-hari biasanya, selepas pulang dari sekolah, Grizelle datang menemui kakak dan ibunya di cafe perusahaan tempat mereka mencari pundi-pundi uang. Ia berharap hari ini tidak bertemu dengan Tristan. Jika pria arogan itu memesan secangkir kopi latte lagi, Grizelle tidak akan menyiapkan dan mengantarnya. Ia akan meminta sang ibu untuk yang melakukan hal itu, berhubung ibunya sudah bisa kembali lagi beraktivitas di cafe, sebab ayahnya sudah bisa ditinggal istirahat di rumah. Ia berjanji tak mau lagi berurusan dengan Tristan. Dia ingin menjauh dari pria itu. Akan tetapi, sepertinya keadaan tidak memungkinkan. Sebab, ia hampir setiap waktu mendatangi cafe perusahaan yang dipimpin oleh pria tempramental itu. Grizelle menghela nafas berat. Ia sudah tiba di depan pintu kafe—menatap bangunan itu dengan malas. Pintu kafe yang terbuat dari kaca ia dorong perlahan. Aroma kopi yang khas langsung menyambutnya, hangat dan menenangkan, seolah menjadi pelarian dari penatnya hari. Dari bal

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 21

    “Hai, Tian. Lagi sendiri ya?”Gadis cantik berkulit putih dengan rambut ikal panjang itu mendekati Tian yang sedang duduk di taman sambil membaca sebuah buku.“Eh, iya, nih, Nin. Lagi asyik baca novel,” jawab Tian. Meski sempat terkejut atas kehadiran Nindi, ia berusaha tetap tersenyum.Langkah Nindi terhenti tepat di depan bangku kayu tempat Tian duduk. Tak lama, dua temannya menyusul, saling berbisik kecil sambil sesekali melirik ke arah Tian dengan senyum yang sulit disembunyikan. Suasana taman yang tadinya tenang mendadak terasa lebih ramai.“Sendirian aja? Ketua OSIS kok ngumpet di sini,” goda Nindi dengan nada suaranya yang ringan.Tian terkekeh pelan. “Bukan ngumpet, lagi cari suasana aja. Di kelas berisik.”“Atau lagi nunggu seseorang, nih?” Salah satu teman Nindi langsung menimpali.Tian menggeleng, senyumnya tetap terjaga meski dalam hati ia menghela napas kecil. Ia sudah cukup paham ke mana arah percakapan seperti ini biasanya berjalan. Sejak menjabat sebagai ketua OSIS, p

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 20

    “Jangan bicara seolah-olah dia penyebab semua ini. Perasaanmu itu tanggung jawabmu sendiri, Tris. Dia tidak bersalah dalam hal ini.” Tristan menoleh, tatapannya tajam. “Kau tidak akan mengerti.” “Kalau yang kau maksud adalah menyakitinya, aku sangat mengerti, dan itu salah.” Nada suara Miko kini tegas, tanpa kompromi. “Grizelle tidak berutang apa pun padamu.” Rahang Tristan kembali mengeras. Ia terdiam sesaat, seolah menimbang kata-kata yang ingin keluar. “Aku tidak bilang akan menyakitinya,” ujarnya akhirnya, tapi nada suaranya menggantung, tak sepenuhnya meyakinkan. “Lalu apa?” desak Miko. “Apa yang ada di kepalamu sekarang?” Tristan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. “Aku hanya … ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Kebingungan. Kehilangan kendali. Ketidakpastian.” Ia menatap Miko lagi. “Agar dia tahu rasanya berada di posisi ini.” Miko menatap Tristan lekat, mencoba membaca batas antara emosi dan niat sebenarnya. “Itu tetap berbahaya, Tris. Perasaan

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 19

    Di atas meja kerja yang rapi di dalam kamar mewah itu, dua telapak tangan Tristan mengepal kuat. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol, seolah menahan sesuatu yang hampir meledak. Ketegangan itu bahkan menjalar hingga ke leher dan wajahnya. Rahangnya mengeras, napasnya berat, dan sorot matanya terlihat tajam sekaligus gelap. Pria berwajah antagonis itu berdiri tegak di samping meja, tubuhnya kaku seperti patung yang dipenuhi amarah. Ia menatap keluar jendela kamar di lantai dua, memandangi jalanan di bawah sana tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya dipenuhi bayangan yang terus berulang—pemandangan yang sejak tadi menghantui dan memancing emosi yang sulit ia kendalikan. Ada rasa kesal, cemburu, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu, bercampur menjadi satu. Di belakangnya, Miko berdiri dengan sikap tegap, namun wajahnya jelas menunjukkan kebingungan dan sedikit kekesalan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, berusaha menahan diri agar tidak langsung melon

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 13

    Desiran angin malam menyapa lembut wajah dan rambut Grizelle. Hingga rambut lurus sebahu itu terhembus melayang ke belakang karenanya. Kedua kelopak mata Grizelle urung berkedip, memaksa dua bola mata indah itu agar tetap membulat. Grizelle tercengang. Di hadapannya muncul sosok pria yang begitu

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 2

    "Grizeeeelle ...."Teriakkan seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana itu memekik telinga. Tersenyum melihat gadis yang sedang sibuk mengilap satu persatu meja dengan selembar kain di ta

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 1

    "Rekapitulasi data pengeluaran dan pemasukan perusahaan sudah aku selesaikan. Kau hanya tinggal menandatangani ini!"Pria berjas hitam bernama Miko itu memberikan map yang beris

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Prolog

    Ringkasan Cerita 👇Grizelle Lasmaya, tidak menyangka akan terpenjara pada gairah laki-laki dewasa yang ingin memperistrinya. Adalah Tristan Satria Adinata, seorang pria mapan yang merupakan CEO di perusahaan, memaksa Grizelle agar mau menikah dengannya.Awalnya Tristan mencoba untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status