LOGINAda yang pada rindu gak sih dengan Hot Daddy dan Hot Mommy kita?? Tinggalkan komentar kalian ya kesayanganku ~
Bab 12Dengan langkah cepat dan napas yang naik turun tak beraturan, Irish berlari menyusuri lorong rumah sakit tanpa memedulikan tatapan heran dari beberapa perawat yang berselisih jalan dengannya.Begitu sampai di depan pintu kantornya, Irish langsung melangkah masuk dan memutar kunci pintunya rapat-rapat. Klek.Ia berjalan gontai menuju meja kerjanya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Irish membuang punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas, menatap kosong langit-langit ruangannya yang serba putih."HAH!"Pengap di dadanya akhirnya terhempas bersamaan dengan helaan napas panjang yang terasa menyiksa.Ia melepaskan kacamatanya, lalu meletakkannya di atas meja dengan asal."KAU GILA, IRISH!" umpat wanita cantik itu pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata erat-erat, memijit kening dengan kedua tangannya.Bukan hanya Killian yang membuatnya marah, tapi juga dirinya sendiri! Bagaimana bisa ia sempat terbuai dan memejamkan mata menikmati ciuman menuntut dari pria itu? Seorang Killian—
Bab 11Darah? Sprei?"Oh my!" gumam Irish pelan, namun suara cicitan halus itu terdengar begitu jelas oleh telinga Killian.Desahan halus yang sama persis seperti yang terus terngiang di telinganya sepanjang malam dari mulut wanita cantik di depannya ini.Irish menutup mulutnya tanpa sadar. Wajahnya seketika semerah tomat yang matang. Ingatannya mendadak berputar ke semalam—saat ia ketiduran sebentar di kamar istirahat dokter karena kelelahan pasca-operasi VIP. Irish menahan napas. Apakah jadwal haidnya maju? Apakah ia bocor dan menodai sprei tempat tidur itu dan Dokter Killian melihatnya?!Rasa malu yang luar biasa menghantam kesadaran Irish."An-Anda keterlaluan, Dokter Killian!" bisik Irish gagap, matanya bergetar hebat."Keterlaluan? Kau meninggalkan darahmu di atas ranjangku, Dokter Irish..." Killian semakin mengikis jarak di antara mereka, hingga napas hangat pria itu menyapu permukaan kulit leher Irish.Kalimat Killian benar-benar meruntuhkan sisa-sisa harga dirinya.Blush!Waj
Bab 10"Ikut aku. Sekarang," perintah Killian.Irish masih terdiam beberapa saat, namun suara Killian membuatnya langsung berdiri. “Atau kau ingin semua orang mendengar pembicaraan kita tentang semalam?”Deg!Irish terkesiap, bingung. Tanpa menjawab lagi, ia mengikuti langkah Killian sambil berpikir apa kesalahan yang sudah ia lakukan? Apa benar karena kejadian semalam membuat Killian semarah ini?Begitu memasuki ruang kerja Killian di lantai spesialis, pria itu mendorong pintu hingga tertutup rapat dan menekan selot kuncinya. Klek.Suara kunci yang berputar membuat Irish terlonjak kecil. Jantungnya berdebar kencang saat melihat Killian melepaskan jas dokternya, melemparnya ke sofa, lalu berbalik dan memutari meja untuk berdiri tepat di hadapan Irish. Pria itu menyandar santai di tepi meja, melipat lengan di dada dengan pandangan elang yang menguliti kepolosan Irish."Bisa jelaskan padaku, apa maksud semua ini, Dokter Irish?" tanya Killian, suaranya rendah tapi penuh penekanan.Irish m
Bab 9“Kamu di sini rupanya!”Irish yang sempat tersentak kaget hingga dadanya berdebar keras refleks mendorong laci mejanya dengan halus hingga terkunci rapat. Begitu mengalihkan pandangan ke arah pintu, ia mendapati sosok Dokter Clara yang berdiri dengan napas tersengal-sengal di ambang pintu.Irish menetralkan napasnya, lalu tersenyum tipis. "Clara?""Hah! Kamu aku cariin dari tadi," keluh Clara sambil mengusap dadanya, mencoba mengembalikan sisa-sisa tenaganya setelah berlari membelah lorong rumah sakit. Pintu ruangan itu memantul pelan setelah terdorong kuat oleh siku Clara yang kerepotan membawa papan rekam medis. "Makan yuk! Perutku sudah berbunyi sejak selesai tindakan di bangsal pediatrik tadi."Irish melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat sedikit. Rasa lelah pasca-operasi dua jam dan kepanikannya mencari Dokter Killian tadi mendadak membuat perutnya ikut bergejolak lapar."Aku masih harus cek satu
Bab 8“Apa kutanyain aja ke Irish?”Irina menutup video rekaman CCTV di layar ponselnya, lalu tanpa ragu beralih memanggil nomor saudarinya. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya sambil mengetuk-ngetukkan jari kuku cantiknya ke armrest sofa hotel.Di tempat lain, Irish yang baru saja keluar dari ruangan Killian yang kosong sedang berjalan pelan menuju ruang kerjanya sendiri. Saat ponsel di saku jubah dokternya bergetar, ia merogohnya dan tersenyum melihat nama 'Irina' tertera di layar.Irish mengangkat panggilan itu, "Halo, Ir?""Sis, sibuk gak?" tanya Irina santai dari seberang telepon."Gak, ada apa, Ir?" sahut Irish sambil melangkah masuk ke ruangannya dan menyandarkan tubuhnya yang lelah ke kursi kerja."Nice!" Irina terkekeh senang. Ia sangat tahu betapa padatnya jadwal operasi saudarinya itu di jam-jam sibuk seperti ini. Tanpa membuang waktu, Irina langsung bertanya terus terang, "Aku ingat pernah lihat jam tangan Vacheron Constantin di meja kerja kamu waktu aku main ke aparte
Bab 7“Mampus!”Dengan napas tersengal-sengal dan langkah kaki yang terburu-buru, Irish setengah berlari membelah koridor menuju lift. Rasa lelah pasca-operasi dua jam dan tindakan darurat di bangsal pediatrik menguap begitu saja, berganti dengan kepanikan luar biasa.“Bodoh! Bisa-bisanya aku melupakan Dokter Killian!” maki Irish pada dirinya sendiri.Begitu pintu lift terbuka di lantai spesialis, Irish bergegas menuju pintu kayu bernomor ruangan pria itu. Ia merapikan jubah dokternya yang agak berantakan, menetralkan napasnya yang berburu, lalu mengetuk pintu dengan penuh rasa bersalah.Tok... Tok...Satu detik... Tiga detik... Tidak ada jawaban.“Dokter Killian? Permisi…” bisik Irish pelan. Keraguan menyelimuti dirinya. Ia memberanikan diri menekan handle pintu dan mendorongnya perlahan.Kosong.Ruangan bertembok gelap itu tampak lengang. Meja marmer Killian tertata rapi, dan pemiliknya tidak terlihat di mana pun. Irish mengedipkan matanya bingung. Ke mana pria angkuh itu pergi? Pad







