MasukRoselline, seorang penulis novel, tiba-tiba terbangun di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Sistem memberinya waktu 100 hari untuk mengubah akhir cerita. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya agar berhasil yakni harus membunuh Grand Duke Azrael, villain utama yang kelak mengakhiri hidup sang protagonis. Namun, rencana itu berantakan sejak hari pertama. Roselline justru menikah dengan seorang pengawal misterius bernama Zal—pria yang selalu melindunginya, memanjakannya, dan perlahan menguasai setiap sudut hatinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik senyum lembut dan tatapan penuh kasih itu, Zal menyimpan identitas yang mampu mengguncang seluruh misinya. Zal adalah Grand Duke Azrael Von Drachenfeld. Pria yang setiap malam memeluknya sebagai suami ... adalah villain yang harus ia bunuh. Kini, hitungan menuju hari ke-100 terus berjalan. Jika Roselline gagal membunuh Azrael, ia akan dinyatakan meninggal di dunia nyata. Namun jika ia berhasil ... Ia harus menusukkan pedang ke dada pria yang telah mencintainya lebih dalam daripada siapa pun. Akankah Roselline menyelamatkan sang protagonis ... atau justru menulis ulang takdir sang villain?
Lihat lebih banyak"Jangan bergerak! Atau ... aku akan memastikan kau tak bisa turun dari ranjang ini sampai esok hari, Roselline."
Suara bariton yang serak, rendah, dan sarat akan dominasi itu berbisik tepat di telinga Roselline. Sebelum ia sempat menjauh, sepasang lengan sekokoh pelukan beruang mendadak melingkar posesif di pinggangnya, menyentak tubuh Roselline hingga punggungnya merapat ke dada bidang Zal yang sekeras batu. Roselline memejamkan mata rapat-rapat. "Zal, lepaskan aku! Ini sudah pagi." "Pagi masih terlalu awal untuk membiarkanmu lepas dari pelukanku, Istriku," gumam Zal, suaranya terdengar sangat seksi khas orang baru bangun tidur. Roselline merutuki nasib sialnya. Baru dua hari yang lalu, ia masih menjadi seorang penulis novel web biasa berusia 23 tahun di Bumi. Namun, akibat protes brutal dari para pembaca yang tidak terima dengan akhir tragis dalam novelnya yang berjudul 'The Secret of the Moon Princess', ia mendadak pingsan dan terbangun di dalam tubuh gadis karakter anomali bernama Roselline berusia 17 tahun. Sialnya, ia terbangun tepat setelah sah dinikahi oleh pengawal miskin berwajah dewa ini. Tepat di sudut matanya, sebuah layar hologram biru transparan mendadak berkedip-kedip. [ Sisa Waktu Misi Anda: 98 Hari, 12 jam 43 Menit ] [ Misi Utama: Ubah takdir tragis Protagonis Wanita dalam waktu 100 hari. Jika gagal, tubuh asli Anda di Bumi akan dinyatakan mati secara permanen. ] 'Kejam sekali! Padahal aku hanya seorang penulis yang jujur dan adil. Kenapa pembaca membenciku sampai segitunya?' keluh Roselline dalam hati. Ia hembuskan helaan napas berat. Mau bagaimana pun caranya, Roselline harus keluar dari sini! Terutama dari jeratan suami posesifnya ini. "Matahari sudah tinggi, Zal," desis Roselline sembari mencoba menyikut dada bidang pria di belakangnya. "Kau sendiri yang bilang kalau hari ini kau harus pergi bertugas mengawasi perbatasan kota, bukan?" "Tugas itu bisa menunggu," jawab Zal malas. Ia justru menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Roselline, menghirup aromanya dalam-dalam. "Tetapi membiarkanmu berkeliaran di luar sana sendirian ... aku sama sekali tidak suka. Kau terlalu menarik perhatian pria-pria brengsek di distrik bawah." "Aku hanya ingin pergi ke pasar!" kilah Roselline panik, buru-buru mencengkeram tangan Zal yang mulai merambat turun ke pahanya. "Persediaan roti dan bahan makanan kita di dapur sudah menipis, Zal. Kau mau kita berdua mati kelaparan di dalam gubuk ini?" "Kita tidak akan mati kelaparan hanya karena melewatkan satu kali sarapan, Roselline." Zal terkekeh rendah, mempererat kuncian lengannya. "Atau, kau sengaja ingin kabur dariku?" "Kabur ke mana? Aku bahkan tidak tahu jalan keluar dari hutan Oakhaven ini!" seru Roselline frustrasi. "Lepaskan aku, Zal Freyan! Kau bertingkah seolah aku akan diculik jika keluar rumah selama lima menit." "Di dunia luar, lima menit sudah cukup bagi bajingan lain untuk menatapmu dengan pandangan menjijikkan," sahut Zal, manik mata abu-abunya yang sepekat badai menatap Roselline dengan intensitas yang mengerikan. "Dan aku bersumpah akan mencungkil mata siapa pun yang berani melakukannya." Roselline meneguk ludah, merinding mendengar ancaman suaminya. Sebagai penulis asli novel ini, ia berani bersumpah tidak pernah menciptakan karakter pengawal miskin seposesif dan semesum ini. Zal memiliki rahang tegas, simetri wajah sempurna, dan tubuh jangkung atletis yang terlalu berlebihan untuk ukuran rakyat jelata. Namun berapa kali pun ia periksa, identitas Zal Freyan tidak terkonfirmasi oleh sistem. Itu artinya Zal sama dengan Roselline Callen, tubuh karakter anomali yang sedang ia tempati. "Kau berlebihan. Aku hanya rakyat biasa, tidak akan ada yang mempedulikan ku," ujar Roselline, mencoba mencairkan ketegangan. "Sekarang, berdirilah! Mandi, pakai seragam mu, dan pergi bekerja. Apa kau tidak ingin menafkahi ku lagi?" Zal mengembuskan napas panjang, akhirnya mengalah dengan seulas dengusan sebal. "Kau benar-benar keras kepala, Istriku. Semangat sekali ingin mengusirku." Pria itu bangkit berdiri dari ranjang, membiarkan tubuh bagian atasnya yang telanjang terekspos sejenak sebelum menyampirkan jubah abu-abu polosnya yang tampak usang. Zal membalikkan tubuh, membungkuk untuk menangkup dagu Roselline dan mengecup dahinya sekilas. Namun setelah itu, sorot matanya mendadak meredup, mendingin drastis. "Aku akan pergi bertugas sekarang," ujar Zal dengan nada datar yang tidak menerima bantahan. "Tetapi ingat satu hal ini baik-baik di dalam kepalamu, Roselline. Jangan pernah melangkahkan kakimu mendekati area Katedral Dewi Bulan hari ini, dan jangan pernah sekali-kali berurusan dengan siapa pun yang memiliki nama Evelyn Celestia. Apakah kau mengerti?" Roselline tersentak di tempatnya duduk. "Tunggu ... Bagaimana kau bisa tahu nama Evelyn Celestia? Dia putri dari keluarga Count di ibu kota, sedangkan kau—" "Cukup jawab pertanyaanku, Roselline. Kau mengerti atau tidak?" potong Zal, suaranya kini terdengar sedalam jurang, mutlak tanpa celah untuk berdebat. "Ya, aku mengerti," jawab Roselline lirih, mencengkeram remas gaun katunnya karena terkejut. Ia merasa ada yang salah. Bagaimana mungkin Zal mengenal Evelyn Celestia? Saat ini, harusnya gadis itu belum terkenal karena kekuatannya belum bangkit dengan sempurna. Dan, ohh tunggu dulu! Bagaimana ia tahu jika Evelyn akan pergi ke area Katedral Dewi Bulan? Kening Roselline berkerut dalam, mencoba mengingat kembali halaman demi halaman novelnya. 'Kepergian Evelyn ke Katedral Dewi Bulan terjadi di Bab 3. Syukurlah aku masuk ke dunia ini di awal cerita. Sepertinya ... misi ini bukan mustahil untuk ku selesaikan. Paling berat kemungkinan harus bertarung langsung dengan Villain utama, Grand Duke Azrael Von Drachenfeld!' Garis bibir Roselline tertarik ke atas. Berbagai rencana telah muncul di otaknya. Demi mempertahankan nyawa, ia sudah putuskan untuk membunuh Azrael terlebih dahulu sebelum Antagonis itu membunuh pemeran utama. "Apa yang kau pikirkan Rossie?" tanya Zal yang langsung memecah kesadaran Roselline. "A-ah, tidak ada!" balas Roselline cepat. Mata Zal memicing tajam, seolah ingin menembus isi pikiran istrinya saat ini. Roselline mengulum senyum manis, mencoba menutupi rasa gugupnya. Pemuda itu hanya bisa menghela napas berat. "Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu yang nakal. Tapi–" Zal memberikan sekantong uang logam ke Roselline. "Belanja lah sesuka hatimu. Tetapi jangan main terlalu jauh dari rumah. Aku akan segera kembali," ucap Zal. Mata Roselline berbinar senang melihat uang pemberian suaminya. "Terima kasih!" ujarnya girang. Zal hanya bergumam pelan seraya mencubit gemas pipi istrinya. "Aku pergi!" Akhirnya Zal berbalik melangkah keluar gubuk dan menutup pintu kayu dengan rapat. Ia berhenti sejenak di luar pintu karena ada seekor merpati terbang ke arahnya. Zal mengambil sebuah surat yang diikat ke kaki merpati itu. Sesaat kemudian, ia menghancurkan surat itu. Lalu mulai berjalan ke arah hutan-hutan rimbun di bagian utara gubuknya. Begitu derap langkah kakinya menjauh dan menghilang di balik rimbunnya hutan Oakhaven, ekspresi wajah Zal berubah dalam sekejap mata. Gurat manja dan binar mesum yang tadi ia tunjukkan di depan Roselline lenyap tak berbekas, digantikan oleh hawa membunuh yang teramat pekat. Sret! Tiga sosok ksatria yang mengenakan zirah hitam legam mendadak muncul dari balik bayangan pohon ek raksasa, langsung berlutut dengan satu kaki di hadapan Zal. "Melapor, Yang Mulia," ucap ksatria di baris paling depan dengan suara bergetar hormat. "Kereta kuda milik keluarga Celestia telah memasuki distrik pinggiran kota. Target tampaknya bersiap menuju Katedral Dewi Bulan untuk melakukan ritual doa, persis seperti prediksi Anda." Zal mengulas seringai kejam. Manik mata abu-abunya mendadak berkilat memancarkan siluet merah darah yang mengerikan. "Apakah wanita dari keluarga Celestia itu membawa banyak pengawal?" tanya Zal dingin. "Hanya beberapa ksatria tingkat rendah dan pelayan pribadinya, Yang Mulia," jawab ksatria bayangan itu cepat. "Apakah kami harus melenyapkan mereka sekarang?" "Belum saatnya. Awasi saja setiap jengkal pergerakannya," perintah Zal, aura magis naganya yang masif mendadak menekan atmosfer hutan hingga terasa mencekik. Pria itu menatap lurus ke arah menara Katedral di balik bukit. "Tetapi ingat, jika jalang dari keluarga Celestia itu mencoba mendekati gubukku, atau berani menyentuh sehelai rambut milik istriku ...." Zal sengaja menggantung kalimatnya, merendahkan suaranya hingga ke tingkat yang paling mengintimidasi. "Maka pastikan hari itu menjadi hari di mana seluruh garis keturunan Celestia musnah dari muka bumi. Kalian mengerti?" "Dimengerti dan akan segera dilaksanakan, Yang Mulia Grand Duke Azrael!" jawab para ksatria bayangan serempak, membungkuk lebih dalam sebelum akhirnya lenyap kembali ke dalam kabut pagi.Burung-burung hutan Oakhaven bersahut-sahutan menyambut hangatnya fajar. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding kayu yang renggang, membiaskan garis-garis emas di atas selimut tipis yang melapisi tubuh Roselline. Roselline perlahan membuka kelopak matanya. Lengannya bergerak canggung, mengusap dahinya yang tak lagi terasa terbakar. Rasa pusing yang menyiksa dan gelombang panas yang semalam nyaris melumpuhkan otaknya kini lenyap tanpa bekas, menyisakan sedikit rasa pegal yang wajar di persendiannya. Ting! Sebuah pendar cahaya biru yang familiar mendadak muncul di depan pandangannya. [ Misi Utama Berhasil Dilewati! ] [ Status Pengguna: Pulih Total dari Efek Afrodisiak ] [ Peringatan Kelumpuhan Saraf Ditarik Kembali ] "Aku ... selamat?" gumam Roselline dengan suara parau. Ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang kayu reot gubuk mereka, menatap sekeliling dengan bingung. Ingatannya semalam sangat kabur dan tidak berurutan. Ia ingat dituduh dan dije
"Z-Zal ... tolong ...." rintih Roselline parau. Suaranya kian melemah saat rasa panas itu kembali membakar kesadarannya, membuat jemarinya mencengkeram erat kemeja usang di dada Zal. Zal membeku di atas tubuh istrinya. Manik mata abu-abunya menatap lurus ke dalam netra Roselline yang berkaca-kaca dipenuhi ketakutan dan keputusasaan. Di dalam dadanya, emosi bergejolak hebat. Rasa ingin memiliki wanita ini sepenuhnya beradu keras dengan prinsip dasarnya untuk melindungi Roselline dari mara bahaya—termasuk dari dorongan liarnya sendiri. ‘Dia baru saja berusia tujuh belas tahun. Tahan!' batin Zal menjerit. Bagaimanapun kejamnya gelar Sang Naga yang ia sandang di luar sana, melihat raut rapuh Roselline saat ini melumpuhkan seluruh keangkuhannya. Ia tidak akan pernah memanfaatkan kondisi istrinya yang sedang terpengaruh obat. "Dengar suaraku, Rosie. Buka matamu dan tatap aku," bisik Zal dengan suara bariton yang teramat dalam dan bergetar menahan diri. Roselline perlahan membu
Derap langkah kaki Zal menghantam tanah hutan yang basah dengan kecepatan yang hampir tak masuk akal. Bayangan pepohonan ek raksasa berkelebat cepat di sekeliling mereka, melebur menjadi garis-garis hitam yang buram. Di dalam dekapan dada bidang suaminya, Roselline meremas kencang jubah abu-abu Zal. Napasnya memburu, mengembuskan hawa panas yang membakar hulu hatinya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan jarum-jarum api yang menusuk ke seluruh pembuluh darahnya. "Z-Zal ... pelan-pelan ... sakit ..." rintih Roselline parau. Suaranya gemetar, sarat akan gairah tersiksa yang kian melumpuhkan sarafnya. "Tahan sebentar lagi, Rosie," bisik Zal. Suara baritonnya terdengar amat dalam, bergetar menahan luapan emosi yang siap meledak. "Sedikit lagi kita sampai. Bertahanlah untukku." Ting! Ting! Ting! Layar hologram merah di pelipis Roselline mendadak berkedip-kedip brutal, diiringi suara denting peringatan yang kian memekakkan telinga. [ PERINGATAN KRITIS: Sisa Waktu 08
"L-Lepas! Akh!" Roselline menjerit parau, sekuat tenaga menarik lengannya yang terkunci di atas pinggiran bak batu. Namun, tenaganya kian menguap seiring rasa panas yang menggerogoti kesadarannya. Pengemis itu menyeringai menjijikkan, mencondongkan wajah busuknya kian dekat. Brak! Suara hantaman keras bergema memenuhi paviliun pemandian. Sebelum bibir kotor pengemis itu sempat menyentuh kulitnya, sebuah tangan kekar dengan kecepatan yang tidak manusiawi mendadak muncul dari kegelapan, mencengkeram erat pergelangan tangan pengemis itu hingga terdengar bunyi gemertak tulang yang patah. "Siapa yang mengizinkan tangan kotormu menyentuh milikku, hah?" Suara bariton yang dingin, rendah, dan sarat akan hawa membunuh yang pekat memecah keheningan. Roselline tersentak, kelopak matanya yang terasa berat perlahan terbuka. Di balik kabut gairah yang menyiksa otaknya, ia melihat siluet jangkung Zal berdiri tegak bak dewa kematian. Belum sempat pengemis itu memproses rasa sakit di tangannya,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.