LOGINSatu minggu berlalu. Figo sudah dibolehkan pulang setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Tetapi luka di perutnya belum benar-benar kering.Sora menghabiskan hari-harinya di rumah untuk menemani Figo. Dia hanya pergi ke Skyline jika ada rapat penting. Selebihnya dia membawa pekerjaan ke rumah.Sore ini, Sora baru selesai membuat espresso brownies, yang dibuat khusus untuk Figo. Sedangkan Shopie dipesankan cheese cake dari toko kue favoritnya, dan diambil oleh Pak Yudi–sopir yang dipekerjakan Figo untuk keluarga kecil mereka.Sambil membawa piring berisi beberapa potong brownies dan cheese cake itu Sora membuka pintu perpustakaan, tetapi dia tidak menemukan Figo dan Shopie di sana.“Ke mana mereka?” gumamnya, lalu mencari keberadaan mereka di seisi rumah.Samar-samar Sora mendengar gelak tawa Figo dan Shopie dari arah taman belakang. Sora bergegas menghampiri.Matanya seketika membulat melihat suami dan putrinya tengah berlarian, entah mengejar apa.“Apa yang kamu lakukan, Figo?” cec
“Seharusnya kamu biarkan saja peluru itu mengenaiku. Kenapa melindungi–”“Kamu pikir aku akan membiarkan itu terjadi?” sela Figo cepat dengan suara lemahnya. Dia mendongak, menatap Sora lembut. “Sekalipun harus mengorbankan nyawaku, aku tetap akan melindungimu.”Sora tertegun.Figo melepaskan pelukannya, lalu mengangkat kedua tangannya untuk menangkup pipi Sora. Ibu jarinya mengusap air mata yang terus membasahi pipi itu.“Jangan menangis lagi. Kamu kelihatan jelek kalau menangis.”Bibir Sora merengut. “Gimana bisa aku nggak menangis saat melihat kondisimu seperti ini?” gerutunya. Kepalanya sedikit menunduk seraya menangkup tangan Figo di pipinya. “Aku… benar-benar takut kehilanganmu.”Figo seketika membeku mendengar pengakuan itu. Dadanya terasa berdenyut. Dia kembali memeluk pinggang Sora erat dan mendengarkan detak jantung wanita itu yang terasa menenangkan.“Gimana kondisimu? Ada yang terluka?”Sora menggeleng pelan. “Nggak ada.”“Nggak ada?” ulang Figo, seolah tak percaya. Dia la
Ada yang jauh lebih menyakitkan bagi Figo daripada rasa terbakar dan nyeri yang menikam perutnya, yaitu melihat Sora menangis histeris seperti sekarang.Jantung Figo terasa seperti diremas-remas. Sebab dia gagal untuk membuat wanita itu terus tersenyum.“Kita….” Figo mengetatkan rahangnya menahan rasa nyeri, napasnya tersengal-sengal, bahkan untuk mengeluarkan satu kata pun butuh perjuangan keras. “Kita harus… keluar dari… sini.”Sora menggeleng pelan sembari terisak. Mereka tidak bisa keluar dengan kondisi Figo yang terluka.Sora tidak mempedulikan apapun saat ini termasuk keselamatan dirinya sendiri. Yang dia pedulikan hanya kondisi suaminya.Figo menoleh ke belakang. Anak buah Ivara berhasil membebaskan diri dari kabut asap dan kini tengah menghampiri mereka.Jika menyerah begitu saja, Sora akan ikut terluka.Perlahan Figo memaksa tubuhnya untuk berdiri. Di sisa-sisa tenaga yang dia miliki dan seraya menahan nyeri yang semakin menjadi, Figo menggenggam tangan Sora dengan satu tanga
Setelah mendekati hair pin itu Sora langsung berbalik membelakanginya. Berusaha meraih benda logam itu dengan kedua tangan yang terikat.‘Please…,’ batin Sora penuh permohonan dengan napas tersengal lelah.Dan… dapat!Sora menegakkan punggung lalu buru-buru menggesekkan bagian kelopak sakura hair pin itu pada tali yang mengikat pergelangan tangannya.“Bagaimana?” bisik Ivara seraya mengusapkan jemarinya di perut Figo. “Sentuhanku lebih mendebarkan, bukan?” Bibirnya menyusuri garis rahang pria itu. “Memohonlah padaku kalau kamu membutuhkan aku sekarang, Figo.”Figo mengepalkan tangannya kuat-kuat di belakang punggungnya. Keringat semakin membanjiri wajahnya yang penuh penderitaan. Sementara tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Sora.“Kenapa diam?” tanya Ivara sembari mengerjap polos. Lalu seketika terkekeh kecil. “Ah, lupa. Mulutmu masih terkunci, ya.”Detik berikutnya Ivara menarik lakban yang sejak tadi mengunci mulut Figo.“Memohonlah.” Ivara kembali berbisik, jemarinya be
“Ini penculikan yang terencana dengan matang,” ucap Ryan seraya menatap whiteboard di hadapannya, yang sudah dia corat coret dengan spidol hitam, menampilkan skema penculikan Figo dan Sora yang telah dia susun.“Pelaku lebih dulu meretas nomor Bu Sora, lalu menghubungi Pak Figo menggunakan identitas beliau,” lanjut Ryan, dia menatap tiga pria di hadapannya. “Setelah itu mereka menghilangkan jejak dengan merusak beberapa CCTV di jalur yang dilewati Pak Figo.”Ryan menggambar sebuah garis yang menghubungkan foto Figo, Sora, dan Ivara.“Kemudian mereka menculik Bu Sora saat perjalanan pulang. Itu artinya target mereka sejak awal memang bukan cuma satu, tapi keduanya.”Ketiga pria di hadapan Ryan mengangguk setuju.“Mereka bukan mengincar uang.” Ryan lalu menatap foto Ivara. “Ini balas dendam. Jadi, yang perlu kita cari keberadaannya sekarang adalah Ivara.”Ketiga pria itu saling berpandangan sesaat. “Tapi sampai sekarang kita belum bisa menemukan keberadaan wanita itu.”“Benar. Maka dari
“Maaf merepotkan,” gumam Sora sembari meremas jemarinya yang bergetar dan dingin. “Karena kejadian ini kencan kalian harus batal.”Perempuan yang tengah menyetir mobil milik Ryan itu pun tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Bu. Saya mengerti, kok. Keadaannya memang sedang darurat.”“Ryan beruntung sekali punya kamu.” Sora berusaha tetap tenang dan tersenyum kendati gemuruh di dalam dadanya semakin hebat. “Siapa nama kamu?”“Panggil saja Amara, Bu.”Sora mengangguk. “Salam kenal, Amara.”Amara menoleh sejenak dan kembali tersenyum. “Bu Sora tetap tenang, ya. Suami Ibu pasti baik-baik saja.”“Hmm. Aku harap begitu.”Sora menghela napas berat lalu menatap ke luar jendela dengan perasaan takut dan khawatir.Rasa kesal serta kecewa yang sempat dia rasakan untuk Figo tadi, kini lenyap dan berganti dengan penyesalan.Menyesal karena telah berprasangka buruk pada pria yang selalu berusaha membuktikan kesungguhannya itu.TIIN! TIINN!!!Amara membunyikan klakson kencang-kencang saat seseorang tiba-
Didorongnya pintu kamar Shopie untuk meyakinkan diri.Kosong.Figo hanya mendapati deretan boneka yang memenuhi headboard ranjang.Dia menghela napas berat. Merasa kecewa karena tidak bisa bertemu putri kecilnya malam ini.Akhirnya Figo kembali menutup pintu. Berbalik. Seketika itu juga dia membeku
Figo menggerakkan bibirnya dengan lembut dan sangat pelan. Seolah sengaja memberi waktu pada Sora untuk menolak.Namun, Sora tidak bergerak. Tidak menolaknya. Dan itu sudah cukup bagi Figo.Ciuman itu berubah sedikit lebih dalam tapi tidak terburu-buru. Figo kembali mengecap rasa manis dari bibir l
“Figo nggak membuat Skyline kesulitan, bukan?”Sora mengalihkan tatapannya dari Shopie yang sedang bermain dengan boneka kesayangannya ditemani Arlo, ke arah Lingga yang baru saja duduk di sampingnya di ruang keluarga.“Ayah dengar, Figo berulah di ruang rapat beberapa hari yang lalu,” lanjut Lingg
“Bapak tidak perlu khawatir. Begitu konsep ini kami pegang, semuanya akan berjalan sesuai rencana.”Sora berdiri dan mengangguk sopan pada pria paruh baya di hadapannya.Pria itu tertawa penuh wibawa. “Ini yang saya suka dari Skyline. Setiap acara yang kalian tangani selalu berjalan melebihi ekspek







