LOGINDengan tidak sabaran, jemari Figo menarik cepat celana dalam Sora.Dia buka lebar kaki indah wanita itu hingga dia temukan sesuatu di pangkal paha yang membuat gairahnya bergejolak.Sora seketika menahan napas saat Figo membenamkan wajah di bawah sana.Lidah panas itu menyapu miliknya dengan liar.Tubuh Sora menggeliat, bibirnya tanpa sadar mendesah lirih, sementara jemarinya menyusup di sela-sela rambut Figo dan menekan kepala pria itu agar semakin dalam mengoyaknya.Dari bawah, Figo mengawasi ekspresi Sora. Bibirnya yang terbenam kini menyunggingkan senyum puas melihat wanita itu hampir putus asa.Sorot mata Sora yang tak berdaya, bibirnya yang tak berhenti mendesah, serta tarikan kuat di rambutnya membuat gairah Figo semakin terpacu. Lidah panasnya bergerak semakin cepat, semakin liar. Mengantarkan wanita itu pada puncaknya.“Figo. Aah… aku mau… aku akan sampai,” racau Sora tanpa sadar seraya menggeliat hebat. Kenikmatan yang luar biasa itu membuat dadanya nyaris meledak.Figo ters
Sial. Padahal Sora sudah berusaha menyembunyikan pakaian seksi itu dari Figo. Tapi kenapa pria itu berhasil menemukannya?“Kamu masih perlu istirahat, Figo.” Sora melangkah mendekati meja rias, dan berusaha mengabaikan suaminya yang–sialnya, benar-benar menggoda. “Lukamu bisa terkena masalah kalau kita bercinta.”Tenggorokan Sora tercekat ketika mengucapkan satu kata terakhir.Bercinta.Kata itu membuat pikiran Sora melayang jauh. Sentuhan panas Figo, ciuman mematikannya dan hujaman liarnya seketika datang silih berganti di benak Sora.Ya Tuhan, aku pasti sudah gila.Sora mengipasi pipinya yang panas lalu duduk di meja rias dan mulai mengaplikasikan skincare di wajahnya, tanpa memedulikan Figo.“Kapan kamu membelinya? Kenapa aku nggak tahu?”Melalui cermin, Sora melihat pria itu masih mengangkat lingerie dalam genggamannya. Astaga. Sora benar-benar malu.“Waktu ulang tahun kamu,” aku Sora akhirnya dengan pipi terbakar.“Ulang tahunku?” Figo kembali menyeringai. Mata abu-abunya menatap
Satu minggu berlalu. Figo sudah dibolehkan pulang setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Tetapi luka di perutnya belum benar-benar kering.Sora menghabiskan hari-harinya di rumah untuk menemani Figo. Dia hanya pergi ke Skyline jika ada rapat penting. Selebihnya dia membawa pekerjaan ke rumah.Sore ini, Sora baru selesai membuat espresso brownies, yang dibuat khusus untuk Figo. Sedangkan Shopie dipesankan cheese cake dari toko kue favoritnya, dan diambil oleh Pak Yudi–sopir yang dipekerjakan Figo untuk keluarga kecil mereka.Sambil membawa piring berisi beberapa potong brownies dan cheese cake itu Sora membuka pintu perpustakaan, tetapi dia tidak menemukan Figo dan Shopie di sana.“Ke mana mereka?” gumamnya, lalu mencari keberadaan mereka di seisi rumah.Samar-samar Sora mendengar gelak tawa Figo dan Shopie dari arah taman belakang. Sora bergegas menghampiri.Matanya seketika membulat melihat suami dan putrinya tengah berlarian, entah mengejar apa.“Apa yang kamu lakukan, Figo?” cec
“Seharusnya kamu biarkan saja peluru itu mengenaiku. Kenapa melindungi–”“Kamu pikir aku akan membiarkan itu terjadi?” sela Figo cepat dengan suara lemahnya. Dia mendongak, menatap Sora lembut. “Sekalipun harus mengorbankan nyawaku, aku tetap akan melindungimu.”Sora tertegun.Figo melepaskan pelukannya, lalu mengangkat kedua tangannya untuk menangkup pipi Sora. Ibu jarinya mengusap air mata yang terus membasahi pipi itu.“Jangan menangis lagi. Kamu kelihatan jelek kalau menangis.”Bibir Sora merengut. “Gimana bisa aku nggak menangis saat melihat kondisimu seperti ini?” gerutunya. Kepalanya sedikit menunduk seraya menangkup tangan Figo di pipinya. “Aku… benar-benar takut kehilanganmu.”Figo seketika membeku mendengar pengakuan itu. Dadanya terasa berdenyut. Dia kembali memeluk pinggang Sora erat dan mendengarkan detak jantung wanita itu yang terasa menenangkan.“Gimana kondisimu? Ada yang terluka?”Sora menggeleng pelan. “Nggak ada.”“Nggak ada?” ulang Figo, seolah tak percaya. Dia la
Ada yang jauh lebih menyakitkan bagi Figo daripada rasa terbakar dan nyeri yang menikam perutnya, yaitu melihat Sora menangis histeris seperti sekarang.Jantung Figo terasa seperti diremas-remas. Sebab dia gagal untuk membuat wanita itu terus tersenyum.“Kita….” Figo mengetatkan rahangnya menahan rasa nyeri, napasnya tersengal-sengal, bahkan untuk mengeluarkan satu kata pun butuh perjuangan keras. “Kita harus… keluar dari… sini.”Sora menggeleng pelan sembari terisak. Mereka tidak bisa keluar dengan kondisi Figo yang terluka.Sora tidak mempedulikan apapun saat ini termasuk keselamatan dirinya sendiri. Yang dia pedulikan hanya kondisi suaminya.Figo menoleh ke belakang. Anak buah Ivara berhasil membebaskan diri dari kabut asap dan kini tengah menghampiri mereka.Jika menyerah begitu saja, Sora akan ikut terluka.Perlahan Figo memaksa tubuhnya untuk berdiri. Di sisa-sisa tenaga yang dia miliki dan seraya menahan nyeri yang semakin menjadi, Figo menggenggam tangan Sora dengan satu tanga
Setelah mendekati hair pin itu Sora langsung berbalik membelakanginya. Berusaha meraih benda logam itu dengan kedua tangan yang terikat.‘Please…,’ batin Sora penuh permohonan dengan napas tersengal lelah.Dan… dapat!Sora menegakkan punggung lalu buru-buru menggesekkan bagian kelopak sakura hair pin itu pada tali yang mengikat pergelangan tangannya.“Bagaimana?” bisik Ivara seraya mengusapkan jemarinya di perut Figo. “Sentuhanku lebih mendebarkan, bukan?” Bibirnya menyusuri garis rahang pria itu. “Memohonlah padaku kalau kamu membutuhkan aku sekarang, Figo.”Figo mengepalkan tangannya kuat-kuat di belakang punggungnya. Keringat semakin membanjiri wajahnya yang penuh penderitaan. Sementara tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Sora.“Kenapa diam?” tanya Ivara sembari mengerjap polos. Lalu seketika terkekeh kecil. “Ah, lupa. Mulutmu masih terkunci, ya.”Detik berikutnya Ivara menarik lakban yang sejak tadi mengunci mulut Figo.“Memohonlah.” Ivara kembali berbisik, jemarinya be
Didorongnya pintu kamar Shopie untuk meyakinkan diri.Kosong.Figo hanya mendapati deretan boneka yang memenuhi headboard ranjang.Dia menghela napas berat. Merasa kecewa karena tidak bisa bertemu putri kecilnya malam ini.Akhirnya Figo kembali menutup pintu. Berbalik. Seketika itu juga dia membeku
Figo menggerakkan bibirnya dengan lembut dan sangat pelan. Seolah sengaja memberi waktu pada Sora untuk menolak.Namun, Sora tidak bergerak. Tidak menolaknya. Dan itu sudah cukup bagi Figo.Ciuman itu berubah sedikit lebih dalam tapi tidak terburu-buru. Figo kembali mengecap rasa manis dari bibir l
“Figo nggak membuat Skyline kesulitan, bukan?”Sora mengalihkan tatapannya dari Shopie yang sedang bermain dengan boneka kesayangannya ditemani Arlo, ke arah Lingga yang baru saja duduk di sampingnya di ruang keluarga.“Ayah dengar, Figo berulah di ruang rapat beberapa hari yang lalu,” lanjut Lingg
“Bapak tidak perlu khawatir. Begitu konsep ini kami pegang, semuanya akan berjalan sesuai rencana.”Sora berdiri dan mengangguk sopan pada pria paruh baya di hadapannya.Pria itu tertawa penuh wibawa. “Ini yang saya suka dari Skyline. Setiap acara yang kalian tangani selalu berjalan melebihi ekspek







