مشاركة

6. Dia Datang

مؤلف: Rosa Uchiyamana
last update تاريخ النشر: 2026-04-09 15:41:52

“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”

Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, menggenggam benda itu dengan kuat.

“Hm.” Sora mengangguk seraya menatap Figo. “Aku akan menjaganya dengan baik.”

Figo tersenyum, tatapannya tampak hangat. “Gadis pintar,” ucapnya sembari mengusap-usap puncak kepala Sora.

Sora sedikit menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang mendadak panas. Apa Figo sadar kalau sikapnya selama ini selalu membuat jantung Sora berdebar-debar?

“Bu? Apa Ibu masih di sana? Halo?”

Sora tersentak.

Suara Elian di seberang sana berhasil melemparkan Sora dari lamunannya dan kembali ke alam nyata.

“Maaf. Sampai mana tadi?”

Sora mencabut flashdisk berwarna silver yang berisi data pekerjaannya, dari laptop, lalu langsung memasukkannya ke dalam laci.

Setiap kali melihat benda kecil itu, ingatannya selalu kembali melayang kepada masa lalu yang tak ingin diingatnya lagi.

“Iya, Bu, Tim Anniversary Steering Committee bertanya, apa kita akan merevisi seluruh konsep acara sesuai keinginan Pak Figo?” Elian mengulangi pertanyaannya.

Sora menekan pelipisnya yang berdenyut. Kata-kata Figo yang menilai hasil kinerja Skyline seperti sampah dan murahan, terngiang di telinga Sora.

“Nggak perlu, El.”

“Ya? Jadi kita akan tetap mempertahankan konsep yang sudah ada?”

“Benar,” jawab Sora tanpa ragu. “Kita akan mempertahankan konsep itu. Kalau CEO mereka tetap nggak mau pakai kita, kita mundur.”

Sora meletakkan ponsel ke meja setelah panggilannya dengan Elian berakhir beberapa saat kemudian. Ruangan kembali sunyi. Sora menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.

“Aku menjaganya,” gumam Sora saat mengingat kembali masa lalunya. “Aku benar-benar sudah berusaha menjaganya.”

Sora menghela napas panjang, lalu mengalihkan tatapannya pada jam dinding. Pukul sepuluh malam.

Akhirnya Sora beranjak keluar dari ruangan kerjanya. Dia masuk ke kamar Shopie untuk memastikan putrinya tidur dengan nyaman.

Sora membuka pintu sedikit dan menatap Shopie yang tertidur sambil memeluk boneka beruang kesayangannya. Itu boneka hadiah ulang tahun dari Figo tahun lalu.

Ya, segala sesuatu yang berhubungan dengan Figo selalu menjadi sesuatu yang spesial bagi Shopie.

Sayang, Figo tidak menganggapnya demikian. Figo hanya menganggap Shopie sebagai tanggung jawab yang datang tanpa pernah dia inginkan.

Bel tiba-tiba berbunyi nyaring.

Sora menoleh ke arah pintu. “Siapa yang datang malam-malam begini?” gumamnya sambil menutup kembali pintu kamar Shopie.

Kemudian menyeret langkahnya menuju pintu unit apartemennya dan membukanya.

Mata Sora sedikit membulat kala melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.

Figo.

Pria itu terlihat berantakan. Kemeja putihnya tampak kusut. Beberapa kancing atasnya terbuka sembarangan. Dasinya menggantung longgar di lehernya dan nyaris terjatuh.

Tapi yang paling mencolok adalah matanya. Manik abu-abu yang selalu menatap Sora dengan tajam itu kini tampak merah dan sayu, yang justru terlihat lebih berbahaya.

Sora mengerjap pelan, seolah tidak percaya dengan pandangannya sendiri. Pria yang anti menginjakkan kaki di rumahnya itu tiba-tiba datang malam ini dalam keadaan mabuk.

Benar-benar sesuatu yang sangat mengejutkan.

“Sepertinya kamu salah alamat.” Sora mendengus pelan. “Aku akan menghubungi Ryan untuk menjemputmu.”

Sora berbalik hendak mengambil ponsel yang dia tinggalkan di ruang kerja.

Namun pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram Figo. Langkah Sora terhenti. Dia menoleh dan menatap tajam Figo.

“Lepas!”

“Kamu tahu?” Figo akhirnya bersuara sambil terkekeh kecil tanpa melepaskan cengkeramannya. “Aku seharusnya nggak pernah menikahi kamu.”

Sora seketika terdiam. Dadanya terasa nyeri seperti diremas-remas ribuan tangan tak kasat mata. Perlahan kedua belah telapak tangannya mengepal.

“Bagus,” balas Sora dingin. “Karena aku juga menyesal.”

Cengkeraman Figo pada pergelangan tangannya justru semakin menguat. Seakan-akan kata-kata terakhir Sora membuat emosinya semakin tersulut.

“Kamu yang memulai semuanya.” Figo berkata tajam. “Kamu yang masuk ke hidupku dan membuat semuanya berantakan.”

Sora menggeleng pelan sambil tersenyum getir. “Sampai sekarang kamu masih mikir gitu?”

“Hidupku akan baik-baik saja kalau kita nggak pernah bertemu.”

Sora tercenung. Kata-kata Figo bagai pedang yang menyayat hatinya. Namun Sora tetap menunjukkan ekspresi tenangnya, dia sudah terlatih untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya pada pria itu.

“Kamu pikir aku juga mau ada di posisi ini, Figo?”

“Jangan pura-pura jadi korban. Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan.”

“Nggak!” tegas Sora, “kamu yang nggak pernah mau tahu apa-apa!”

Figo terdiam sepersekian detik.

Sora memanfaatkan itu untuk kembali bicara, “Dari dulu sampai sekarang, kamu cuma percaya sama versimu sendiri!” Dia menatap Figo tajam. “Kamu nggak pernah nanya ke aku! Kamu nggak pernah kasih aku kesempatan buat menjelaskan semuanya!”

Rahang Figo mengeras, matanya memerah. “Karena aku nggak butuh penjelasan dari seorang pengkhianat.”

Sora seketika mengatupkan bibirnya. Kepalan tangannya semakin menguat. Lalu akhirnya Sora mengangguk kecil.

“Oke,” kata Sora pelan. “Kalau itu yang kamu percaya, silakan.”

Sora menarik tangannya dari genggaman Figo dengan kasar. Dan kali ini berhasil lepas.

“Benci aku, silakan,” lanjut Sora sambil mundur satu langkah. “Tapi berhentilah datang ke hidupku.”

Setelah mengatakan kalimat tersebut Sora berbalik pergi dengan kepalan tangan yang bergetar. Tapi detik berikutnya….

“Akh!”

Sora memekik pelan saat Figo tiba-tiba menarik tangannya lalu memenjarakannya di dinding. Dan di detik yang sama, Figo menarik pinggang Sora dan memeluknya dengan erat lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sora.

Figo hendak mempertemukan bibir mereka.

Namun, dengan gerakan cepat Sora menghindar hingga bibir pria itu hanya menempel di pipinya.

Figo mengumpat lirih, dia memiringkan kepalanya ke arah lain kemudian menyambar bibir Sora dan melumatnya dengan kasar.

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (6)
goodnovel comment avatar
Putri Marthia Sari
dih,ape mksd Lo figo
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
kyknya Sora di fitnah sm si ivara deh
goodnovel comment avatar
Iin Iin
Figo aneh, kata ny benci sama Sora, tp datang trs gangguin Sora..
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   220. Akhirnya Bertemu

    “Maaf merepotkan,” gumam Sora sembari meremas jemarinya yang bergetar dan dingin. “Karena kejadian ini kencan kalian harus batal.”Perempuan yang tengah menyetir mobil milik Ryan itu pun tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Bu. Saya mengerti, kok. Keadaannya memang sedang darurat.”“Ryan beruntung sekali punya kamu.” Sora berusaha tetap tenang dan tersenyum kendati gemuruh di dalam dadanya semakin hebat. “Siapa nama kamu?”“Panggil saja Amara, Bu.”Sora mengangguk. “Salam kenal, Amara.”Amara menoleh sejenak dan kembali tersenyum. “Bu Sora tetap tenang, ya. Suami Ibu pasti baik-baik saja.”“Hmm. Aku harap begitu.”Sora menghela napas berat lalu menatap ke luar jendela dengan perasaan takut dan khawatir.Rasa kesal serta kecewa yang sempat dia rasakan untuk Figo tadi, kini lenyap dan berganti dengan penyesalan.Menyesal karena telah berprasangka buruk pada pria yang selalu berusaha membuktikan kesungguhannya itu.TIIN! TIINN!!!Amara membunyikan klakson kencang-kencang saat seseorang tiba-

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   219. Tolong Selamatkan Dia

    Sora menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Tersenyum seraya mengusap lembut hair pin sakura pemberian Figo yang menghiasi rambutnya.Lalu memasukkan cermin itu ke dalam tas dan melirik arloji sejenak. Sudah tiga puluh menit dia duduk di sini. Tetapi Figo tak kunjung datang.Meski begitu Sora masih sabar menanti.Mungkin pria itu terjebak macet.Atau mungkin Figo mendadak ada meeting jadi dia terlambat, dan mungkin Figo sempat mengirim pesan padanya atau menghubunginya, tetapi karena jaringan di ponselnya hilang jadi Sora tidak tahu.Sora tetap berpikir positif.Namun, satu jam kemudian. Pria itu masih tak kunjung datang.Sora mulai hilang kesabaran.Akhirnya Sora memanggil staf yang tadi mengantarnya lalu meminjam ponsel miliknya. Sora menghubungi nomor telepon Figo menggunakan nomor staf tersebut.Akan tetapi tidak aktif.“Ada apa dengan dia?” gumam Sora dengan bingung.Sesaat kemudian Sora menghubungi Ryan. Tersambung. Hanya saja Ryan tidak mengangkat panggilan itu.“Apa merek

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   218. Malam Ulang Tahun

    Figo menatap Rolex di pergelangan tangan kirinya sejenak.Pukul 16.55.Bibirnya mengulas senyum kecil, sebab waktu pertemuannya dengan Sora semakin dekat.Figo langsung menutup laptop dan beranjak dari meja kerja. Kakinya melangkah masuk ke dalam ruang istirahat untuk memperbaiki penampilan.Entah sejak kapan Figo merasa ingin selalu terlihat sempurna di mata Sora.Jarak dari Wiranegara Group ke Moonrise Hotel tidak terlalu jauh. Waktu tempuhnya hanya sekitar 30 menit. Jadi seharusnya Figo tidak akan terlambat.“Kita ketemu jam tujuh, Sayang. Aku jemput kamu ke apartemen nanti.”Satu alis Figo terangkat saat mendengar sekretarisnya berbicara mesra dan lembut di telepon, sesaat setelah Figo keluar dari ruangannya.“Jangan khawatir, aku akan minta izin atasanku untuk pulang lebih cepat biar nggak terlambat. Hm? Kita makan malamnya di mana? Nggak bakal aku kasih tahu. Namanya juga surprise.” Ryan terkekeh kecil.Ehem!Deheman keras Figo membuat Ryan seketika menegakkan punggungnya. Lalu

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   217. Rencana Kejutan

    Sora tersenyum menatap box hitam kecil yang dihiasi pita gold dalam genggamannya. Itu hadiah ulang tahun untuk Figo, yang akan dia berikan nanti malam.Sora kemudian memasukkan kotak itu ke dalam tas yang akan digunakan hari ini.Setelah itu dia keluar dari kamar, masih mengenakan piyama satin putih di atas lututnya. Mengecek Shopie yang masih terlelap di kamarnya yang berdampingan dengan kamar utama.Kemudian turun ke dapur dan menemukan sosok pria bertelanjang dada tengah berjibaku dengan alat masak.Pipi Sora merona merah memperhatikan otot keras yang terpahat di punggung dan lengan pria itu.“Masak apa?” tanya Sora sambil berjalan menghampiri. Figo langsung menoleh, tersenyum kecil. “Sudah bangun?”“Hmm.”“Aku bikin omelet sama roti panggang,” ujar Figo seraya menunduk lalu mengecup bibir Sora sejenak. “Aku juga bikin jus jeruk buat kamu.”Sora mengintip ke arah wajan di depan pria itu. “Kelihatannya enak,” gumamnya, lalu melingkarkan kedua tangan di perut Figo dan menempelken pi

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   216. Budak Cinta

    Sora keluar dari toko tersebut setelah membeli satu setel pakaian seksi itu, berwarna hitam, yang bahkan hanya membayangkan dirinya mengenakan itu saja sudah membuat pipinya memanas.Tetapi Sora penasaran bagaimana reaksi pria itu saat melihat dirinya mengenakan pakaian ini, di malam ulang tahunnya nanti?Sora mengulum senyum tipis. Kemudian masuk ke sebuah coffee shop, untuk membunuh waktu selagi Figo dalam perjalanan.Namun lagi-lagi Sora merasa sedang diperhatikan oleh seseorang–yang entah ada di mana. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, tapi tetap tidak menemukan seseorang yang tengah menatap ke arahnya.Menghela napas pelan, Sora menghampiri tempat order.Karena siang tadi sudah banyak makan manis, Sora memutuskan untuk memesan americano.Ya, ini americano pertamanya selama dia hidup. Dulu Sora tidak berani mengonsumsi kopi.Pernah satu kali dia mencoba caramel macchiato yang menurutnya masih aman. Akan tetapi jantungnya berkata lain. Malam harinya dia kolaps dan harus dilar

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   215. Hadiah untuk Suami

    Sora mengulas senyum kecil melihat foto keluarga pertama mereka yang sudah dicetak ulang dan dibingkai oleh Figo.Foto yang diambil ketika malam acara Riviera City. Saat itu Sora berpikir bahwa hari itu adalah hari-hari terakhir sebelum mereka bercerai.Namun, takdir rupanya berkata lain.“Aku mau kita foto ulang. Minggu depan, ya. Aku lagi cari fotografer profesional,” ucap Figo tadi pagi ketika pria itu mengantar Sora ke Skyline.Menghela napas pelan, Sora lantas menaruh bingkai tersebut di atas meja kerja. Kemudian beralih pada MacBook di hadapannya dan membuka file proposal salah satu klien.Ya, hari ini Sora sudah kembali beraktifitas di Skyline setelah dua hari beristirahat di rumah pasca kepulangannya dari Berlin.Sora benar-benar merindukan ruangannya yang selama ini dijaga dengan baik oleh Elian. Bahkan dia tidak menemukan sedikitpun debu yang menempel di meja.Tok. Tok. Tok.“Bu Sora, saya izin masuk,” ucap Elian di luar sana.Sora mengalihkan tatapannya sejenak dari layar M

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   64. Tidak Bisa Berhenti

    Figo menggerakkan bibirnya dengan lembut dan sangat pelan. Seolah sengaja memberi waktu pada Sora untuk menolak.Namun, Sora tidak bergerak. Tidak menolaknya. Dan itu sudah cukup bagi Figo.Ciuman itu berubah sedikit lebih dalam tapi tidak terburu-buru. Figo kembali mengecap rasa manis dari bibir l

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   159. Buku Diary

    Didorongnya pintu kamar Shopie untuk meyakinkan diri.Kosong.Figo hanya mendapati deretan boneka yang memenuhi headboard ranjang.Dia menghela napas berat. Merasa kecewa karena tidak bisa bertemu putri kecilnya malam ini.Akhirnya Figo kembali menutup pintu. Berbalik. Seketika itu juga dia membeku

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   2. Membencimu Seumur Hidup

    “Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”Figo tidak langsung memberi tanggapan pada permintaan Sora. Dia hanya menatap wanita itu dengan dingin.“Kalau kamu lupa, aku nggak pernah meminta anak itu,” ucap Figo beberapa detik kemudian. Rahangnya berkedu

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   1. Enam Bulan Lagi

    ‘Ma, Papa nggak sayang aku, ya?’‘Kenapa, kok, Shopie nanyanya gitu? Papa sayang, kok, sama Shopie.’‘Tapi kenapa Papa nggak pernah jemput aku sekolah? Papa juga nggak pernah menginap di rumah kita.’Sora memejamkan mata ketika percakapannya dengan Shopie tadi pagi kembali terngiang di telinganya.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status