Share

134. Damar

last update Tanggal publikasi: 2026-07-31 23:31:42

SUV hitam itu perlahan memasuki sebuah kawasan perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Udara malam terasa lebih dingin.

Kabut tipis mulai turun, menyelimuti jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu taman.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang berdiri sendirian di atas lahan luas.

Dari luar...

rumah itu tampak biasa.

Bahkan terlalu sederhana untuk seseorang seperti Damar.

Tak ada pagar tinggi.

Tak ada penjagaan berlebihan.

Tak ada kemewahan yang mencolok.

Justru kesed
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Kakak Tiri   134. Damar

    SUV hitam itu perlahan memasuki sebuah kawasan perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.Udara malam terasa lebih dingin.Kabut tipis mulai turun, menyelimuti jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu taman.Mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang berdiri sendirian di atas lahan luas.Dari luar...rumah itu tampak biasa.Bahkan terlalu sederhana untuk seseorang seperti Damar.Tak ada pagar tinggi.Tak ada penjagaan berlebihan.Tak ada kemewahan yang mencolok.Justru kesederhanaan itulah yang menjadi penyamaran terbaik.Damar turun dari mobil.Tatapannya sempat menyapu sekeliling halaman.Sunyi.Namun ia tetap tidak lengah.Kejadian di pantai beberapa jam lalu masih terus berputar di kepalanya.Seseorang telah mengawasi percakapannya dengan Roy.Dan itu berarti...lingkaran permainan mulai mengecil.Pintu rumah terbuka.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun segera menyambutnya.Rambutnya telah memutih.Tubuhnya sedikit membungkuk.Namun sorot matanya masi

  • Hasrat Kakak Tiri   133. Siapa sebenarnya Arka Madya Raka

    Malam semakin larut.Hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya mulai reda.Lampu-lampu jalan memantulkan bayangan basah di atas aspal.SUV hitam milik Arka melaju tenang meninggalkan kafe.Di balik kemudi...senyum tipis masih bertahan di wajahnya.Entah sudah berapa kali sejak tadi ia mengingat tawa Alena.Tawa yang sederhana.Namun cukup membuat perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat."Hadeh..."gumamnya pelan sambil menggeleng."Aku ini kenapa, sih?"Ia tertawa sendiri.Lalu menggeleng lagi."Baru ngopi sekali aja udah senyum-senyum sendiri."Lampu lalu lintas berubah merah.Mobil berhenti.Arka mengetuk pelan setir dengan jemarinya.Pikirannya kembali melayang.Alena.Perempuan itu terlihat begitu kuat.Namun malam ini...untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain dari dirinya.Sisi yang lelah.Sisi yang rapuh.Dan entah kenapa...Arka ingin terus berada di dekatnya."Aduh..."Ia menepuk dahinya pelan."Jangan mulai macam-macam, Ka.""Itu calon tunangan orang."Lampu beru

  • Hasrat Kakak Tiri   132. Harus Pulang

    Ting tong…Suara bel itu kembali terdengar.Jelas.Nyaring.Dan langsung meremukkan keheningan yang baru saja mendekap apartemen mereka.Tubuh Arion menegang kaku.Begitu pula Shana.Detik sebelumnya mereka masih saling merengkuh di atas sofa, lebur dalam hangat yang membuat dunia luar terasa jauh.Detik berikutnya—realita menampar mereka tanpa ampun.Ting tong…Bel berbunyi lagi.Kali ini lebih lama.Shana refleks menarik selimut, membungkus tubuhnya hingga ke bahu.Wajahnya pucat pasi.“Kak…”Napasnya memburu tak beraturan.“Siapa malam-malam begini?”Arion menggeleng pelan.Ia sendiri sama bingungnya.Jantungnya bergemuruh begitu hebat sampai telinganya berdenging.Pikirannya langsung meliar pada kemungkinan terburuk.Alena kembali.Satpam tadi.Atau…seseorang yang sama sekali tak boleh tahu keberadaan mereka.Ting tong…Bel berbunyi untuk ketiga kalinya.Arion buru-buru bangkit dari sofa.Tangannya menyambar kaos yang tergeletak di lantai.Memakainya sekenanya sambil mata tak le

  • Hasrat Kakak Tiri   131. Gairah Ini

    Apartemen itu mendadak sunyi.Hanya menyisakan detak jantung yang berpacu kencang di balik kesunyian yang mencekam. Arion merayap di atas lantai kayu.Mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris tak bersisa.Aroma parfum Shana yang manis bercampur dengan samar wangi hujan menguar.Memabukkan indra penciuman Arion.Arion mengulurkan tangannya.Menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Shana. jemarinya sengaja menyentuh kulit leher yang halus dan hangat.Tatapan mereka terkunci, sarat akan kebutuhan yang tak lagi bisa ditahan."Shana," bisik Arion dengan suara serak,Tanpa sepatah kata pun Shana menjawab.Shana mencondongkan tubuhnya.membiarkan selimut yang sedari tadi menutupi bahunya melorot jatuh ke lantai.Membiarkan kulit bahunya terekspos udara dingin apartemen yang kontras dengan panas tubuh mereka.Napas mereka mulai memburu.Saling memburu oksigen yang kian menipis.Tangan Arion yang kasar menyusuri garis rahang Shana.Menekan lembut hingga Shana memejamkan mata semba

  • Hasrat Kakak Tiri   130. Siapa Arka Madya Raka

    Ruangan itu nyaris tak bersuara.Hanya dengung pendingin ruangan yang terdengar lirih.Pria tua itu mengangkat ponsel ke telinganya.Tatapannya tetap mengarah ke hamparan kota di balik dinding kaca.Ia tidak membuka percakapan.Menunggu.Karena ia tahu...orang di seberanglah yang selalu memulai.Beberapa detik berlalu.Lalu...suara berat seorang laki-laki terdengar dari speaker ponsel."Aku kira..."suara itu tenang."...kau sudah lupa cara mengangkat telepon."Sudut bibir pria tua itu terangkat tipis."Lama tidak bertemu.""Tidak."Suara itu langsung memotong."Kita hanya lama tidak berbicara."Jawaban singkat itu membuat ruangan terasa semakin dingin.Pria yang sejak tadi berdiri di belakang meja ikut menelan ludah.Ia tidak dapat mendengar isi percakapan dengan jelas.Namun...ia bisa merasakan perubahan ekspresi atasannya.Untuk pertama kalinya...orang yang selama ini tampak mengendalikan segalanya...terlihat berhati-hati.Pria tua itu berjalan pelan menuju meja.Mengambil seb

  • Hasrat Kakak Tiri   129. Orang Yang Punya Rencana Besar

    Ruangan itu kembali sunyi.Pria tua itu berdiri membelakangi semua orang.Tatapannya menembus kaca besar yang menghadap hamparan kota.Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu.Indah.Namun baginya...kota itu tak ubahnya papan catur raksasa.Dan setiap orang...hanyalah bidak."Apa laporan terakhir tentang Roy?"tanyanya tanpa menoleh.Pria di belakangnya segera membuka tablet yang sejak tadi ia bawa."Roy baru saja bertemu Damar."Alis pria tua itu bergerak tipis."Berapa lama?""Hampir satu jam.""Lalu?""Mereka sempat dikejutkan oleh seseorang yang mengawasi dari atas pohon."Pria tua itu mengangguk pelan.Seolah informasi itu memang sudah ia duga."Orang kita?""Bukan."Kini...barulah ia menoleh.Tatapannya berubah tajam."Bukan?""Bukan, Pak.""Identitasnya belum diketahui.""Orang itu kabur sebelum berhasil ditangkap."Ruangan kembali hening.Beberapa detik kemudian...pria tua itu justru tersenyum tipis."Akhirnya..."gumamnya."Mulai banyak pemain baru."Ia berjalan pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status