/ Romansa / Hasrat Kakak Tiri / Bab 2. Retakan

공유

Bab 2. Retakan

last update 게시일: 2025-09-30 11:22:11

Pagi itu, cahaya matahari merambat masuk lewat celah tirai apartemen, menebarkan warna keemasan ke ruangan yang biasanya terasa dingin. Arion membuka mata dengan kepala berat, seperti baru bangun dari mimpi panjang. Tapi ia tahu itu bukan mimpi. Semalam benar-benar terjadi—pelukan Shana, bisikan lirihnya, bahkan detik-detik saat bibir mereka hanya berjarak sekian senti. Ia menatap langit-langit kamar, berusaha menepis bayangan itu dari pikirannya. Tidak. Aku tidak boleh memikirkan itu. Dia hanya adik… hanya adik tiri.

Dengan gerakan mekanis, ia bangun dari ranjang. Langkahnya pelan menuju dapur kecil yang tertata rapi, seperti kebiasaan rutinnya setiap pagi. Mesin kopi menderu, roti dimasukkan ke toaster, dan dalam waktu singkat aroma pahit kopi hitam memenuhi ruangan. Semua berjalan sesuai ritme yang ia bangun bertahun-tahun. Disiplin. Tanpa gangguan. Hingga sebuah suara ceria merobek ketenangan itu.

“Wah, Kak Arion ternyata jago masak juga ya?”

Arion menoleh cepat. Jantungnya hampir meloncat. Shana berdiri di pintu dapur, mengenakan kaus kebesaran yang jelas-jelas miliknya, rambut berantakan tapi senyumnya segar. Gadis itu terlihat seperti seseorang yang memang sudah lama menghuni apartemen ini, padahal baru semalam.

“Itu bukan masak,” gumam Arion datar. “Hanya roti bakar.”

Shana berjalan mendekat, menepuk kursi lalu duduk santai. Ia meraih roti yang baru saja Arion taruh di piring. Tanpa izin, digigitnya roti itu dengan nikmat. "Hmm, lumayan enak. Tapi serius, Kak, kamu tiap hari sarapan ginian? Kasian banget. Tubuhmu bisa protes, lho.”

Arion mendengus. “Hey, Itu punyaku.”

Shana malah terkekeh, menaruh sisa roti setengah di piring Arion. “Yaudah, bagi dua aja. Kan adil.”

Arion menatapnya, bingung antara kesal atau pasrah. Tak ada seorang pun yang berani seenaknya seperti ini di apartemennya. Tapi anehnya, ia tidak bisa benar-benar marah.

Sepanjang pagi itu, gangguan demi gangguan terus terjadi. Saat Arion duduk dengan laptopnya, membaca jurnal untuk tugas akhir, Shana menyalakan musik pop keras-keras dari ponselnya, bernyanyi sumbang dengan lirik yang ia ciptakan sendiri. Saat Arion sedang mengatur ulang buku di rak, Shana dengan santai menaruh boneka kelinci mungil di antara buku-buku tebalnya. Bahkan kulkas minimalis yang biasanya berisi air mineral dan beberapa telur, kini penuh dengan botol minuman manis dan snack warna-warni.

“Rumah ini kaku banget, Kak,” kata Shana sambil menggantung foto polaroid di papan gabus milik Arion. “Kalau nggak ada aku, rasanya pasti kayak kuburan.”

Arion hanya bisa menghela napas. Ayah… kenapa menitipkannya ke sini sih? Apa aku bisa bertahan meski hanya seminggu saja?

Menjelang siang, Arion mencoba belajar lagi. Tapi setiap kali ia membuka laptop, Shana selalu punya alasan untuk mengganggunya. "Kak, aku boleh pinjem wifi? Password-nya apa?” "Kak, di sini ada N*****x nggak? Aku mau nonton drama nih.” "Kak, kalau aku bikin ramen, boleh nggak aku pakai panci yang itu?” Arion menahan diri, menjawab sependek mungkin. Tapi dalam hatinya, ia merasa apartemen ini bukan lagi miliknya. Segalanya berubah hanya dalam waktu semalam saja.

Malam datang. Arion akhirnya bisa menarik napas lega ketika Shana tampak sudah masuk kamar. Ia menutup laptop, mematikan lampu ruang tamu, lalu kembali ke ranjang. Tubuhnya terasa lelah, pikirannya masih berkecamuk antara rasa terganggu dan rasa bersalah.

Namun tepat ketika ia mulai terlelap, terdengar suara gesekan pelan di luar kamar. Bukan langkah acak seperti orang tidur sambil berjalan, melainkan langkah ragu, seperti seseorang yang sadar. Arion membuka mata, tubuhnya refleks siaga. Ia berjalan ke pintu dan membukanya dengan hati-hati. Lorong apartemen gelap, hanya diterangi cahaya redup dari jendela. Kosong.

Tapi matanya yang tajam menangkap sosok Shana di ujung lorong. Gadis itu menunduk dengan ponsel di tangannya, punggungnya menghadap ke Arion. "Shana?" panggil Arion, suaranya datar tapi tegas. Gadis itu tersentak. Ia cepat-cepat memalingkan ponselnya ke belakang, lalu tersenyum canggung. “Eh… aku cuma… lagi nyari sinyal. Wifi apartemenmu lemot banget, Kak.”

Arion menyipitkan mata. Ia tahu alasan itu tidak masuk akal. Tapi lebih dari itu, ia sempat melihat sekilas: layar ponsel Shana memantulkan cahaya merah, bukan tampilan aplikasi biasa. Seperti alarm, atau notifikasi dari sesuatu yang tidak seharusnya ada. Sebuah tulisan singkat dalam bahasa asing terlihat sekilas, membuat jantung Arion berpacu lebih cepat.

“Shana.” Arion melangkah mendekat, nada suaranya menekan. “Apa yang kamu lakukan?”

Shana mundur selangkah. Wajahnya tetap tersenyum, tapi matanya tampak gelisah. "Beneran cuma cari sinyal, Kak. Nggak ada apa-apa, sumpah.”

Namun sebelum Arion sempat meraih lengannya, Shana berbalik cepat. Ia berlari masuk ke kamarnya, pintu ditutup rapat hingga terdengar bunyi klik. Arion berdiri terpaku di lorong. Ada sesuatu yang Shana sembunyikan, sesuatu yang jelas bukan sekadar sikap manja atau usil. Ia menempelkan punggungnya ke dinding, mencoba berpikir jernih. Apa yang sebenarnya dia bawa ke apartemenku ini?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Hasrat Kakak Tiri   131. Gairah Ini

    Apartemen itu mendadak sunyi.Hanya menyisakan detak jantung yang berpacu kencang di balik kesunyian yang mencekam. Arion merayap di atas lantai kayu.Mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris tak bersisa.Aroma parfum Shana yang manis bercampur dengan samar wangi hujan menguar.Memabukkan indra penciuman Arion.Arion mengulurkan tangannya.Menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Shana. jemarinya sengaja menyentuh kulit leher yang halus dan hangat.Tatapan mereka terkunci, sarat akan kebutuhan yang tak lagi bisa ditahan."Shana," bisik Arion dengan suara serak,Tanpa sepatah kata pun Shana menjawab.Shana mencondongkan tubuhnya.membiarkan selimut yang sedari tadi menutupi bahunya melorot jatuh ke lantai.Membiarkan kulit bahunya terekspos udara dingin apartemen yang kontras dengan panas tubuh mereka.Napas mereka mulai memburu.Saling memburu oksigen yang kian menipis.Tangan Arion yang kasar menyusuri garis rahang Shana.Menekan lembut hingga Shana memejamkan mata semba

  • Hasrat Kakak Tiri   130. Siapa Arka Madya Raka

    Ruangan itu nyaris tak bersuara.Hanya dengung pendingin ruangan yang terdengar lirih.Pria tua itu mengangkat ponsel ke telinganya.Tatapannya tetap mengarah ke hamparan kota di balik dinding kaca.Ia tidak membuka percakapan.Menunggu.Karena ia tahu...orang di seberanglah yang selalu memulai.Beberapa detik berlalu.Lalu...suara berat seorang laki-laki terdengar dari speaker ponsel."Aku kira..."suara itu tenang."...kau sudah lupa cara mengangkat telepon."Sudut bibir pria tua itu terangkat tipis."Lama tidak bertemu.""Tidak."Suara itu langsung memotong."Kita hanya lama tidak berbicara."Jawaban singkat itu membuat ruangan terasa semakin dingin.Pria yang sejak tadi berdiri di belakang meja ikut menelan ludah.Ia tidak dapat mendengar isi percakapan dengan jelas.Namun...ia bisa merasakan perubahan ekspresi atasannya.Untuk pertama kalinya...orang yang selama ini tampak mengendalikan segalanya...terlihat berhati-hati.Pria tua itu berjalan pelan menuju meja.Mengambil seb

  • Hasrat Kakak Tiri   129. Orang Yang Punya Rencana Besar

    Ruangan itu kembali sunyi.Pria tua itu berdiri membelakangi semua orang.Tatapannya menembus kaca besar yang menghadap hamparan kota.Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu.Indah.Namun baginya...kota itu tak ubahnya papan catur raksasa.Dan setiap orang...hanyalah bidak."Apa laporan terakhir tentang Roy?"tanyanya tanpa menoleh.Pria di belakangnya segera membuka tablet yang sejak tadi ia bawa."Roy baru saja bertemu Damar."Alis pria tua itu bergerak tipis."Berapa lama?""Hampir satu jam.""Lalu?""Mereka sempat dikejutkan oleh seseorang yang mengawasi dari atas pohon."Pria tua itu mengangguk pelan.Seolah informasi itu memang sudah ia duga."Orang kita?""Bukan."Kini...barulah ia menoleh.Tatapannya berubah tajam."Bukan?""Bukan, Pak.""Identitasnya belum diketahui.""Orang itu kabur sebelum berhasil ditangkap."Ruangan kembali hening.Beberapa detik kemudian...pria tua itu justru tersenyum tipis."Akhirnya..."gumamnya."Mulai banyak pemain baru."Ia berjalan pe

  • Hasrat Kakak Tiri   128. "Kita Percepat"

    BRAAKK !!!Suara benturan keras mengguncang ruangan.Gelas di atas meja bergetar.Beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi berhamburan ke lantai.Pria tua yang berdiri di balik meja besar itu baru saja menghantam permukaan kayu dengan kedua telapak tangannya.Wajahnya memerah.Ia murka.Karena sesuatu yang selama ini ia susun perlahan—kininmulai retak."Bagaimana bisa?"Suaranya rendah.Namun penuh tekanan.Di hadapannya, seorang pria lain berdiri diam.Kepala tertunduk dalam.Sama sekali tidak berani menatap langsung."Saya minta maaf, Pak.""Maaf?"Pria itu tertawa kecil.Tapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya."Rencana yang dibangun selama bertahun-tahun mulai berubah arah, dan jawabanmu hanya maaf? Kamu pikir ini lucu, hah?!"Ruangan itu kembali sunyi.Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.Di layar besar di belakangnya—terpampang beberapa foto.Foto Arion.Foto Alena.Foto keluarga Mahendra.Dan foto terbaru...Alena sedang duduk di sebuah kafe bersama

  • Hasrat Kakak Tiri   127, Apa Lagi

    Mobil hitam itu meringkuk di seberang jalan, menyatu dengan bayang-bayang malam yang pekat.Ia diam.Tak mencolok,Namun kehadirannya seperti predator yang sabar menunggu mangsa.Kaca di sisi pengemudi turun sedikit, membiarkan angin yang dingin menyelinap masuk, menyapu wajah pria di dalamnya.Suhu dingin itu tak mampu menembus fokusnya. Mata pria itu terkunci rapat pada satu titik di dalam kafe: meja tempat Alena duduk bersama Arka.Ponsel di genggamannya bergetar.Memecah keheningan kabin. Tanpa perlu melirik layar, ia mengangkatnya, matanya tetap tertuju pada interaksi di balik kaca kafe."Halo." Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang ditekan."Lapor." Suara di seberang terdengar tajam dan singkat.Pria itu mengamati Alena yang sedang berbicara, dan Arka—pemuda itu—tengah bersandar ke depan, berusaha memancing tawa dari perempuan tersebut."Target bersama seseorang," lanjut suara di telepon.Pria itu terdiam, alisnya bertaut. "Siapa?""Belum diketahui.""Pria?""Iya."Suara

  • Hasrat Kakak Tiri   126. Belum menyadari

    Kafe itu tidak terlalu ramai.Hujan tipis di luar membuat suasana terasa lebih tenang dibanding biasanya.Lampu-lampu kuning temaram memantulkan cahaya hangat ke meja-meja kayu yang tersusun rapi.Aroma kopi memenuhi udara.Namun anehnya—semua itu gagal menenangkan pikiran Alena.Perempuan itu duduk diam di dekat jendela.Kedua telapak tangannya memeluk cangkir kopi yang sejak lima belas menit lalu bahkan belum sempat ia minum.Tatapannya kosong.Jauh.Masih tertinggal di depan pintu apartemen Arion.Masih tertinggal pada celah pintu yang sedikit terbuka.Masih tertinggal pada firasat buruk yang sejak tadi menolak pergi.Di seberangnya—Arka duduk dengan posisi yang jauh lebih gelisah.Kakinya bergerak-gerak sendiri di bawah meja.Sesekali ia melirik Alena.Sesekali menggaruk tengkuk.Sesekali berpura-pura sibuk melihat menu meski sejak tadi tidak membacanya sama sekali.Jujur saja—situasi ini jauh lebih menegangkan daripada saat ia menghadapi dosen penguji skripsi dulu.Karena Alen

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status