LOGINPintu kaca kantor direksi akhirnya tertutup rapat pasca-kepergian Stella yang melangkah keluar dengan raut wajah hancur menahan malu.Kini, hanya tersisa Edgar dan Selina di dalam ruang kerja yang ber-AC dingin tersebut.Keheningan yang sempat menggantung di udara terasa lebih rileks dibandingkan ketegangan sebelumnya.Selina melangkah maju, lalu meletakkan map dokumen inspeksi di atas meja kerja Edgar.Namun, alih-alih langsung membahas angka-angka di dalam laporan, Selina memberanikan diri membuka percakapan mengenai kejadian yang baru saja berlangsung."Tampaknya Nona Stella sangat menyukaimu," ucap Selina seraya menatap Edgar yang kini sibuk membuka lembaran berkas."Bahkan sepertinya dia sudah memendam perasaan itu sejak lama."Edgar tidak memindahkan pandangannya dari kertas di hadapannya.Pria itu menyahut dengan intonasi datar, seolah topik yang dibicarakan Selina adalah hal paling membosankan di dunia. "Biarkan saja. Aku tidak peduli dengan hal itu."Selina memiringkan kepala
Keesokan paginya, suasana di kantor direksi proyek luar kota itu terasa teramat dingin dan mencekam.Selina berdiri tegak di samping meja kerja Edgar dengan pakaian formal yang sangat rapi, membawa map laporan inspeksi yang siap untuk ditandatangani.Namun, ketenangan di ruangan itu seketika terusik ketika pintu kaca terdorong terbuka dan sosok Stella melangkah masuk dengan gaya anggun yang penuh dengan kepura-puraan.Pagi ini Stella mengenakan dress pas badan berwarna krem yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.Wajah cantiknya sudah dipoles makeup sempurna, dan senyuman manis nan menggoda langsung terukir di bibirnya begitu matanya menangkap keberadaan Edgar yang sedang duduk di kursi kebesarannya.Tanpa memedulikan kehadiran Selina yang berdiri hanya beberapa langkah dari sana, Stella melangkah percaya diri mendekati meja Edgar.Aroma parfum bunganya yang menyengat seketika memenuhi sudut ruangan."Selamat pagi, Edgar," sapa Stella dengan nada suara yang sengaja dibuat men
Tubuh Selina masih bergetar hebat di atas sprei yang kusut, kejang pasca-klimaks yang baru saja menghantamnya membuat dadanya naik turun dengan napas yang memburu.Peluh halus membasahi kening dan lehernya, sementara pandangan matanya sayu, menatap pasrah pada sosok tegap yang masih mengungkungnya dari atas.Edgar tidak memberikan jeda satu detik pun bagi Selina untuk memulihkan kesadaran.Pria itu menatap liarnya pelepasan Selina dengan kilat kepuasan yang teramat pekat di mata elangnya.Senyuman miring yang begitu dominan terukir di bibirnya, seolah gairah di dalam dirinya justru makin terbakar melihat betapa mudahnya dia meruntuhkan pertahanan wanita itu.Tanpa membuang waktu, Edgar melepaskan celananya dalam satu sentakan tegas.Miliknya yang sudah menegang keras dan berurat menempel panas di paha dalam Selina, menuntut ruang untuk segera amblas ke tempat paling hangat."Kau melayang begitu cepat hanya karena jariku, Selina," bisik Edgar dengan suara baritonnya yang teramat serak
Edgar merebahkan tubuh Selina di tengah ranjang berukuran king-size yang empuk.Sebelum Selina sempat membenahi posisinya, tubuh tegap Edgar sudah mengungkungnya dari atas, menindih Selina dengan dominasi mutlak yang tak memberi celah sedikit pun untuk meloloskan diri.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Edgar menunduk dan menyergap bibir Selina dalam sebuah ciuman yang langsung membakar.Ciuman itu tidak lagi memiliki kelembutan; itu adalah serangan liar, panas, dan menuntut.Lidah Edgar menerobos masuk dengan kasar, membelit lidah Selina, menyapu setiap sudut rongga mulutnya, dan menyerap saliva yang bertukar di antara mereka.Selina melenguh tertahan, kedua tangannya yang gemetar bergerak naik untuk meremas bahu berotot Edgar, terhanyut sepenuhnya oleh keliaran pria yang sedang menguasainya.Puas melahap bibir Selina hingga membengkak basah, Edgar mengalihkan kecupannya turun ke garis rahang, menyusuri leher jenjang Selina yang jenjang.Tangannya yang lincah bekerja cepat melucuti pak
Edgar memperhatikan raut wajah Selina dengan lekat di dalam temaram lampu kamar suite hotel.Ibu jarinya merayap lembut, mengusap bekas jejak air mata di pipi mulus wanita itu.Tatapan mata elangnya meneliti setiap inci ekspresi Selina yang tampak begitu rapuh namun tertutup oleh pertahanan dingin."Apakah kau masih kesal padaku, Selina?" tanya Edgar dengan suara baritonnya yang rendah dan serak.Selina terdiam sejenak. Dia membuang pandangannya ke samping, menatap dinding kamar yang dingin sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya dengan pelan."Tidak," bisik Selina lirih.Sebuah tawa hambar dan samar lolos dari bibirnya. "Lagipula... apakah aku berhak untuk kesal padamu, Edgar? Memangnya apalah aku ini di matamu?"Mendengar pertanyaan bernada puitis namun penuh keputusasaan itu, raut wajah Edgar seketika berubah.Senyuman miring yang tadinya menghiasi bibirnya sirna perlahan.Edgar menatap lekat wajah Selina seolah ucapan yang baru saja keluar dari mulut wanita itu adalah sebuah kesa
Di dalam ruang kerja pribadi kantor direksi proyek yang megah, suasana terasa begitu mencekam.Suara barang pecah belah terdengar nyaring ketika Stella memukul meja kacanya dengan telapak tangan, menghempaskan cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping di atas marmer.Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini memerah padam akibat amarah yang membakar dada.Napasnya memburu, matanya membelalak menatap pintu ruang kerja yang telah tertutup rapat sejak keberangkatan Edgar beberapa jam lalu."Sialan! Pria tidak tahu diri!" maki Stella histeris, sembari menyapu beberapa dokumen rapat di mejanya hingga berserakan di lantai.Stella tidak bisa menerima kenyataan ini. Selama bertahun-tahun dia mengejar Edgar Anderson, menahan kepalanya tetap tegak di hadapan pria sedingin es itu, dan berusaha keras menjadi wanita yang pantas berdiri di samping sang penguasa Anderson Group.Namun hari ini, Edgar justru membawanya, seorang wanita tak dikenal dengan pakaian formal sederhana yang di
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan







