Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Jalan Menuju Dunia Manusia

Share

Jalan Menuju Dunia Manusia

Author: Chatrin
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-26 14:59:25

Hujan belum berhenti.

Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.

Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.

Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.

Lyra menyebarkan gulungan tua dan botol-botol ramuan di atas meja panjang dengan wajah frustrasi. Rambut merahnya diikat asal, sementara lingkar hitam samar mulai terlihat di bawah matanya karena tidak tidur
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hati liar sang Alpha   Janji yang Tidak Pernah Berubah

    "Kalau Matahari telah memilih... maka sekarang giliranku menepati janji."Suara itu terdengar begitu pelan.Namun cukup untuk membuat cahaya di sekitar Singgasana Matahari bergetar.Elara menghentikan langkahnya. Ia mengenali suara itu, bukan karena sering mendengarnya.Melainkan karena suara itu pernah menjadi bagian dari hidupnya yang telah lama terkubur.Dari balik cahaya keemasan, sesosok pria perlahan melangkah keluar.Jubah putihnya telah dipenuhi retakan cahaya, seolah tubuhnya sendiri sedang perlahan menghilang.Wajahnya tenang. Tatapannya lembut, tidak ada kebencian dan tidak pula penyesalan."Varkhiel..." Nama itu keluar dari bibir Elara hampir seperti bisikan, Aelmon ikut mengangkat kepala.Matanya menyipit. "Mustahil..."Varkhiel tersenyum tipis. "Tidak ada yang benar-benar hidup.""Dan tidak ada yang benar-benar mati, selama masih ada seseorang yang mengingat."Ia berhenti beberapa langkah dari Singgasana.Tubuhnya semakin transparan.Seolah setiap kata yang keluar dari m

  • Hati liar sang Alpha   Jawaban Sang Matahari

    "Wahai Matahari... apakah engkau siap kehilangan satu cinta demi menyelamatkan seluruh dunia?"Suara itu tidak datang dari langit.Tidak pula dari bumi.Suara itu bergema dari dalam jiwa Elara sendiri.Tangga emas yang membelah langit terus memanjang. Setiap anak tangga memancarkan cahaya lembut, tetapi setiap langkah yang harus diambil terasa lebih berat daripada ribuan peperangan yang pernah ia lalui.Elara mengangkat wajah."Aku tidak pernah ingin menjadi penyelamat."Keheningan menjawabnya.Ia kembali melangkah."Tetapi jika dunia hanya bisa hidup karena satu orang harus kehilangan segalanya..." Suara Elara bergetar untuk pertama kalinya. "...maka dunia ini terlalu kejam."Angin berembus pelan.Cahaya yang menyelimuti tubuhnya sempat meredup, seolah Singgasana Matahari ikut mendengarkan keraguan pemiliknya.Di bawah tangga, Aelmon berdiri tanpa berkedip sedikit pun. Jemarinya terkepal hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.Ia membenci perasaan tidak mampu.Ia pernah mela

  • Hati liar sang Alpha   Janji Terakhir Sang Alpha

    Langkah mereka kembali menginjak tanah Lunaris.Udara yang dahulu membawa aroma dedaunan kini dipenuhi debu dan abu. Retakan-retakan hitam menjalar di sepanjang bumi seperti luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Cahaya matahari menggantung redup di langit, seolah ikut kehilangan alasan untuk bersinar.Elara memandang sekeliling dengan napas yang terasa berat."Aku terlambat..."Aelmon menggenggam tangannya lebih erat."Tidak.""Masih ada waktu."Meski berkata demikian, Alpha itu tahu dunia sedang menunggu keputusan yang hanya bisa diambil oleh satu orang.Dari kejauhan terdengar pekik kawanan serigala yang sedang mengevakuasi penduduk. Rowan berdiri di atas reruntuhan tembok, memimpin para prajurit dengan satu tangan yang tersisa. Saat melihat Aelmon dan Elara kembali, wajahnya memancarkan kelegaan yang hanya bertahan sesaat."Alpha."Retakan baru muncul di langit.Suara gemuruh memenuhi udara.Tanah berguncang pelan. Rowan menatap Elara, "Takhta itu..."Elara mengangguk perlahan.

  • Hati liar sang Alpha   Jalan Pulang yang Tidak Membawa Dua Hati

    "Masih ada satu pilihan terakhir."Suara Aurelion menggema pelan di antara pilar-pilar putih."Tapi... pilihan itu akan meminta harga yang bahkan kalian belum tentu sanggup membayarnya."Keheningan kembali menyelimuti Singgasana Matahari.Aelmon menatap pintu batu hitam yang perlahan muncul di belakang singgasana. Ukirannya memancarkan cahaya redup, seolah setiap hurufnya ditulis menggunakan ribuan doa yang telah lama dilupakan.Elara mengembuskan napas perlahan."Aku sudah tahu."Aurelion menoleh."Sejak kapan?""Sejak aku membaca Kitab Takdir."Aelmon langsung memandang Elara. "Kau... sudah mengetahuinya?"Elara tidak segera menjawab. Jemarinya menyentuh ujung jubah putih yang kini terasa begitu asing di tubuhnya."Aku hanya berharap... takdir berubah."Alpha itu tertawa lirih. "Ternyata selama ini, aku yang terlalu berharap."Kalimat itu menusuk hati Elara jauh lebih dalam daripada pedang mana pun.Ia melangkah mendekat hingga hanya tersisa satu langkah di antara mereka."Aelmon. J

  • Hati liar sang Alpha   Singgasana yang Selalu Menunggu

    Gerbang Kesembilan terbuka perlahan.Tidak terdengar dentuman.Tidak pula suara rantai yang bergesekan seperti delapan gerbang sebelumnya.Yang terdengar hanyalah desir angin hangat yang membawa aroma bunga matahari. Kehangatan itu menyentuh pipi Elara, menghapus dingin Dunia Bawah yang selama ini menempel pada kulitnya.Aelmon memandang ke depan.Di balik gerbang terbentang sebuah dataran luas yang diselimuti cahaya keemasan. Langitnya tidak memiliki matahari, tetapi seluruh tempat itu bersinar seolah setiap butir udaranya memancarkan cahaya sendiri.Di tengah dataran berdiri ribuan pilar putih yang menjulang tinggi.Di ujungnya...Sebuah singgasana emas. Tidak megah karena perhiasannya, melainkan karena wibawanya.Singgasana itu tampak sunyi.Kosong.Namun justru terasa seperti sedang menunggu seseorang sejak ribuan tahun silam.Elara menghentikan langkah. Dadanya berdenyut pelan, ia mengenali tempat itu.Bukan dari ingatan manusianya. Melainkan dari ingatan yang jauh lebih tua."In

  • Hati liar sang Alpha   Anak yang Tidak Pernah Dilahirkan

    "Ibu...""Ayah...""...kenapa kalian terlambat menjemputku?"Suara kecil itu menggantung di lorong yang sunyi.Tidak ada ancaman di dalamnya.Tidak ada kebencian.Justru karena terdengar begitu polos, dada Elara terasa diremas oleh sesuatu yang tak kasatmata.Anak laki-laki itu berdiri beberapa langkah di depan mereka. Rambut hitamnya berayun pelan diterpa angin yang entah datang dari mana. Sepasang mata hijau yang begitu mirip Aelmon menatap mereka dengan rasa penasaran, sementara senyum kecil di bibirnya menghadirkan kehangatan yang seharusnya tidak mungkin ada di Dunia Bawah.Aelmon membeku.Ia telah menghadapi dewa, kutukan, bahkan kematian berkali-kali. Namun tak satu pun mampu membuatnya kehilangan kata-kata seperti saat ini.Elara merasakan jemarinya bergetar.Tatapannya tak mampu lepas dari wajah anak itu. Ada sesuatu yang begitu akrab, bukan karena mereka pernah bertemu.Melainkan karena... ia pernah membayangkannya.Dalam kehidupan yang tak pernah sempat terjadi."Siapa... n

  • Hati liar sang Alpha   Bulan dan matahari

    Selamat berimajinasi.Ledakan itu membutakan.Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka.Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa

  • Hati liar sang Alpha   Dua energi berbeda

    Selamat membaca.Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup.Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun.Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru,melainkan senja abadi berwarna hi

  • Hati liar sang Alpha   Cahaya yang menuntut.

    Selamat membaca.Angin di atap gedung berubah panas, bukan seperti api. Lebih seperti fajar yang dipaksa turun terlalu cepat.Retakan emas di langit melebar, menyilaukan mata.Cahaya yang keluar darinya membuat bayangan yang melilit kaki Elara berdesis, seolah terbakar.Elara menatap pria itu takut

  • Hati liar sang Alpha   Hukum tiga dunia

    Selamat membaca.Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.Singkat, Elara bisa melihat kalau kening R

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status