Short
Hatinya Memohon, Tangannya Merusak

Hatinya Memohon, Tangannya Merusak

Oleh:  EternityTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
735Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pada makan malam keluarga hari Minggu lainnya di kediaman Brahmani, asisten Luca Brahmani, Eva Miskandar, sedang duduk di kursiku. Tempat itu adalah kursi pertama di sebelah kanan Luca di meja makan panjang dari kayu walnut. Kursi itu diketahui semua orang di dunia mafia Kota Chicandi sebagai milik Nyonya Brahmani. Eva duduk di sana seolah-olah kursi itu memang terlahir untuknya. Pergelangan tangannya yang pucat, sesekali menyentuh lengan baju Luca saat dia menuangkan anggur untuk pria itu. Aku berdiri di ambang pintu dan menatapnya. "Dia duduk di kursiku. Nggak ada yang ingin kamu katakan?" Luca mengangkat pandangan. "Kamu terlambat. Jangan salahkan orang lain karena duduk duluan. Masih ada kursi kosong di sana. Kalau mau, duduklah. Kalau nggak, keluar." Ruang makan itu langsung sunyi senyap. Bahkan sebelum sempat menjawab, isi pikirannya sudah masuk ke telingaku. 'Vivian, jangan pergi. Duduklah di sampingku. Katakan pada mereka itu kursimu. Katakan kalau kamu masih ingin menjadi istriku.' 'Tolong marah. Tolong bersikap peduli. Katakan kalau kamu butuh aku dan aku akan memberikan seluruh dunia untukmu.' Dulu, pikiran yang lembut itu telah membuatku merasa lebih dari cukup. Aku pasti akan menerima penghinaan ini dan tetap tinggal di sisinya seperti anjing setia yang tidak tahu kapan harus pergi. Namun kali ini, aku tidak melakukannya. Aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku dan meletakkannya di atas meja. "Kalau Keluarga Brahmani bahkan nggak bisa mempertahankan kursi seorang Nyonya untukku, kurasa keluarga ini sudah nggak butuh seorang Nyonya lagi. Luca, mari kita bercerai."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Wajah Luca langsung pucat.

Ayah Luca, Satrio, meletakkan cerutunya. Sementara itu, ibu Luca, Nisya, mematung di tempat. Bahkan Eva juga mengangkat alis seolah aku baru saja melontarkan lelucon yang buruk.

Enam tahun.

Aku telah menjadi istri Luca selama enam tahun dan semua orang tahu bahwa akulah satu-satunya orang yang bisa menenangkan bos mafia Kota Chicandi yang kejam dan berlidah tajam itu.

Saat dia mengejekku di depan umum, aku mendengar pikirannya berkata, 'Vivian, aku nggak bersungguh-sungguh. Aku cuma takut kamu mengabaikanku.'

Saat dia menyuruhku pergi, aku mendengar, 'Jangan pergi. Aku membutuhkanmu.'

Saat dia membanting pintu, aku mendengar namaku dipanggil dari balik pintu itu dengan lembut dan tak berdaya. Karena itulah, aku selalu luluh. Berkali-kali, aku memilih untuk kembali.

Lama-kelamaan, Keluarga Brahmani terbiasa dengan hal itu. Nisya bahkan pernah tertawa dan berkata, "Pria yang sulit dihadapi memang butuh istri yang nggak bisa diusir."

Mereka lupa bahwa bahkan seorang wanita yang tidak bisa diusir juga bisa merasa lelah.

"Vivian." Nisya menghampiriku dan menggenggam tanganku, suaranya terdengar hati-hati. "Suasana hatimu lagi buruk? Kamu tahu sendiri seperti apa Luca. Mulutnya keras, tapi hatinya lembut."

Satrio mengernyit. "Ini makan malam keluarga. Para tetua juga ada di sini. Perceraian bukan sesuatu yang bisa kamu lontarkan cuma karena sedang kesal. Pakai kembali cincinmu."

Aku tertawa pelan. "Ternyata Anda tahu ini makan malam keluarga."

Aku menoleh ke arah Eva. "Kalau begitu, sejak kapan dia jadi keluarga?"

Eva berdiri. Dia mengenakan gaun satin hitam dengan bros mawar perak Keluarga Brahmani tersemat di garis leher gaunnya. Bros itu hanya diperuntukkan bagi kerabat sedarah, anggota inti keluarga, dan istri bos mafia.

"Vivian, aku datang hanya karena Luca butuh bantuanku untuk menjelaskan laporan keuangan Pelabuhan Selatan," katanya. "Aku nggak tahu kalau kursi itu ternyata sepenting itu."

Luca langsung berdiri. Kursinya bergeser kasar di atas lantai.

"Cukup. Berapa lama lagi kamu akan terus mempermalukan dirimu sendiri? Kamu mau cerai? Oke. Pergi saja. Keluarga Brahmani nggak butuh wanita yang cuma tahu membuat masalah."

Kata-katanya tajam seperti pisau, tetapi pikirannya menghantam dadaku dengan rasa sakit yang berbeda. 'Tidak. Vivian, jangan ngomong soal perceraian. Kamu sudah janji akan tetap bersamaku. Kamu cuma lagi menakut-nakutiku, 'kan? Kalau aku marah, kamu akan datang memelukku seperti dulu.'

Aku telah hidup dengan sikap yang kontras itu selama sepuluh tahun.

Saat pertama kali bertemu Luca, dia baru saja selamat setelah dikurung selama tujuh hari di ruang bawah tanah milik keluarga rival. Sejak kembali, Luca tidak percaya bahwa akan ada seseorang yang mau bertahan demi dirinya.

Luca tidak bisa mengungkapkan perasaannya, tidak bisa membiarkan orang lain menyentuhnya, dan selalu menggunakan kata-kata kejam untuk menjauhkan siapa pun yang mencoba mendekat.

Semua orang takut padanya. Hanya aku yang bisa mendengarnya.

Saat dia berkata, "Jauh dariku," aku mendengar, 'Tolong jangan takut padaku.'

Saat dia membuang kue yang kubuat, aku mendengar, 'Aku menginginkannya. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih.'

Aku merasa kasihan padanya dan mengira itu membuatku menjadi seseorang yang istimewa.

Empat tahun mengenalnya, enam tahun menjadi istrinya. Aku menyaksikan Luca tumbuh menjadi bos mafia termuda dan paling dingin di Kota Chicandi. Dia belajar tersenyum kepada musuh-musuhnya dan memperlakukan orang luar dengan kesabaran.

Namun terhadapku, dia tetap kejam.

Dulu aku sanggup menahannya karena aku bisa mendengar isi hatinya. Lalu, Eva muncul. Eva Miskandar adalah adik perempuan dari wakil kepala organisasi Luca yang telah meninggal. Cantik, cerdas, dan sangat ahli mengurus pembukuan pelabuhan Keluarga Brahmani.

Luca sendiri yang membawanya masuk ke kantor Pelabuhan Selatan.

Luca tidak pernah menghabiskan ulang tahunku bersamaku. Namun untuk ulang tahun Eva, dia memesan restoran di atas atap secara khusus.

Aku pernah menyukai sebuah bros zamrud selama setengah tahun. Dia membelinya dalam sebuah lelang dan menyematkannya di gaun Eva.

Saat aku demam, dia hanya menyuruh sopir mengantarkan obat untukku. Saat Eva mengeluh pergelangan tangannya sakit, dia sendiri yang menyetir melintasi setengah kota untuk menemuinya.

Setiap kali itu terjadi, pikirannya tetap berkata bahwa dia mencintaiku.

'Vivian, cemburulah. Katakan kalau kamu nggak suka aku bersama dia. Katakan satu kata saja, dan aku akan berhenti menemuinya.'

Namun, dia tidak pernah menjauhi Eva atas kemauannya sendiri sekali pun. Kelembutan yang hanya terkurung di dalam kepala seorang pria bukanlah kelembutan. Cinta yang tidak pernah diwujudkan dalam tindakan bukanlah cinta.

Aku menatap bibir Luca yang pucat lalu mengangguk. "Baik. Aku akan pergi."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status