LOGINJangan lagi.
Ia berharap takdir keji ini akan berhenti menariknya pada pusaran menyakitkan ini lagi. Namun bunyi bantingan benda pecah belah di luar sana, diikuti hentak teriakan menggema saling merampas bersahutan, membuat ia sepenuhnya sadar, tak ada jalan kembali sebelum melalui kesakitan ini setuntas mungkin.
Mendekap erat-erat tubuhnya meringkuk di sudut kamar, telinganya makin awas menangkap semua suara serapah menyakitkan yang masih terus memecah keheningan
"Oma senang, kamu masih mau memutuskan berkonsultasi kembali dengan Dokter Robert." Andreas berdecak merapatkan ponsel ke telinga. "Kami hanya mengobrol tidak lebih dari dua puluh menit." Rosana terlalu berlebihan menganggap pertemuan singkat ia dan Robert kemarin di klinik pria itu sebagai bagian dari konsultasi. Walau Andreas sendiri masih tidak paham apa yang melatarbelakangi sikap spontannya menyambangi Robert atas kesadaran sendiri, tanpa paksaan Rosana yang sebelum-sebelumnya rutin menyeret ia menemui psikiatri manapun ketika pertama kali tahu mimpi mengerikan seperti apa yang selalu menghantui alam bawah sadarnya setiap kali menutup mata. "Tapi tetap saja, Deas. Melihatmu mendatanginya sendiri dengan sukarela, merupakan kemajuan yang baik. Mengingat sebelumnya aku harus bersusah payah menyeretmu ke sana seperti kambing jagal yang takut disembelih." Andreas tersenyum kecil. "Ya, pasti cukup melegakan mengetahui si kambing ini sudah lebih mandiri." Tawa Rosana mengalun renda
Robert menutup pintu ruang kerja saat senja sudah mulai memupuk kelabu di ujung barat, pertanda kunjungan pasien terakhir cukup menyita jadwal padatnya seharian ini yang biasanya selalu selesai sebelum pukul 5 sore, tenaganya harus mampu tersimpan dengan baik sampai pergantian shift berikut di rumah sakit tempat ia biasa praktik malam nanti. Pria pertengahan 40-an itu hendak berlalu menuju parkiran, sebelum perlahan langkah tergesanya tertahan oleh kehadiran punggung tegak seseorang yang tengah duduk pada bangku taman minimalis di depan klinik. Punggung familiar yang sudah lama tak lagi ia lihat kurang lebih satu atau mungkin saja dua tahun terakhir. Sebuah pemandangan cukup langka yang tak kuasa mencegat kakinya untuk bergerak maju menghampiri. "Untuk seseorang yang bekerja lembur bertahun-tahun bagai kuda, anda bahkan tidak mampu mengeluarkan sepeserpun meski hanya untuk membayar seorang tukang taman?" Ada sebersit senyum terbit begitu mendapati sarkasme yang melantun tak acuh se
"Sejak awal Ciputra dibangun oleh Pak Mateo Pramoedya dan Pak Tama Hudoyo, kakek saya, branding kuat terhadap kepercayaan masyarakat dan kepercayaan investor tidak dipungkiri adalah salah satu kunci utama bagaimana Ciputra bisa bertahan sejauh sekarang." "Sudah menjadi tugas mutlak bagi setiap eksekutif mengemban tanggung jawab itu tanpa cela. Kegagalan dalam memisahkan kehidupan pribadi dan profesionalitas pekerjaan, adalah kesalahan yang tidak boleh ditoleransi dengan mudahnya. Apalagi jika hal tersebut sudah berdampak besar merugikan perusahaan, seperti menghadirkan pemberitaan buruk media dan kehebohan masyarakat yang merusak citra perusahaan, serta penurunan saham yang cukup signifikan di pasar modal." "Maka dari itu, tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat terhadap pimpinan, keputusan pemberhentian sementara ini saya rasa harus juga mempertimbangkan keadilan yang lebih merata. Dan tentunya dengan sanksi setegas-tegasnya, agar ke depan dapat menjadi pembelajaran bagi kita bersama
Taman samping dengan saung kayu jati dinaungi pohon-pohon flamboyan berbunga cukup rindang, selalu menjadi tempat ternyaman Mateo menghabiskan sisa senja untuk mengusir suntuk. Entah hanya sekedar membaca beberapa lembar halaman buku falsafah hidup, mengikuti perkembangan berita terbaru dari layar mini tablet miliknya, atau sekedar memberi pakan pada kumpulan koi dalam kolam berundak batu alam seperti apa yang bisa Andreas lihat ketika ia mengayun langkah mendekat.Sebuah cerutu dengan asap mengepul terselip di bibir keriput lelaki tua itu, satu kebiasaan yang sulit hilang sekalipun paru-paru rentanya berteriak kewalahan. Andreas tak perlu heran darimana ia mewarisi kebiasaan candu menyecap batang nikotin setiap kali ia merasa kalut, mengingat kakeknya sendiri adalah pencetus nomor satu menurunkan kebiasaan memuja racun karsinogen itu.Derit kayu terdengar sesaat setelah Andreas ikut mendaratkan diri ke atas saung tempat Mateo masih bergeming duduk. Dirogohnya bungkusan rokok yang sel
"Wow, pantas aja kamu kelihatan betah melarikan diri. Aku juga kalau disuruh semedi berhari-hari di villa mewah model asri begini juga nggak akan protes banyak---" Rena tak membiarkan Mala menyelesaikan ucapannya, dan lebih dulu menerjang bertubi-tubi gadis itu dengan pelukan erat. Astaga, padahal mereka tidak pernah absen saling bertukar kabar lewat sambungan telepon, tapi melihat kehadiran Mala secara nyata ada di hadapannya sekarang, benar-benar membuat perpisahan mereka terasa seperti berabad-abad. Melepaskan dekapan, Rena tersenyum kian lebar. "Aku janji akan traktir kamu makan apapun setelah gajian nanti," janjinya karena Mala sudah mau bersedia ia usik akhir pekannya dengan jauh-jauh menjemputnya kemari. Mala mendengus geli. "Traktiran yang kamu maksud pasti juga nggak akan jauh-jauh dari street food dan makanan murah lain. Kalau mau balas budi, sekali-kali yang levelnya setara Amuz atau Grand Hyatt biar lebih kerasa." Rena terkekeh pelan seraya menggandeng lengan gadis itu
Penolakan bukan hal baru dalam hidupnya. Beberapa belas tahun lalu, ia pernah berada di titik serupa, bahkan dengan rasa sakit yang jauh lebih besar. Saking hebatnya goresan luka tak terlihat itu, ia nyaris tak bisa merasakan lagi apapun. Termasuk untuk sebuah penyesalan dan amarah sekalipun. Dan satu-satunya hal yang tersisa hanya perasaan hampa dan kosong. Jadi seharusnya semua berjalan baik-baik saja bukan? Belasan tahun tidur diselingi semua mimpi buruk itu, buktinya ia masih bisa bertahan sejauh sekarang. Terbiasa berkawan dengan kehilangan dan perasaan tak diinginkan bukanlah sesuatu yang akan membunuhnya. Ya, Andreas sudah cukup familiar dengan situasi seperti itu. Mematikan puntung rokok, ia menyandarkan diri ke kursi penumpang tanpa melepaskan pandangan dari biasan lampu hilir-mudik kendaraan di luar sana. Embusan napas beratnya terdengar samar. Nyaris setengah jam perjalanan ia habiskan hanya memandang kosong dari jendela terbuka mobil yang tengah melaju. Berharap udara m
Apa yang dia lakukan di sini? Rena ingin sekali menertawakan pertanyaan Andreas yang lebih terdengar seperti lelucon konyol di telinganya. Memangnya apa yang bajingan itu pikir sedang ia lakukan berada di depan pintu ini kalau bukan karena semua kekacauan yang telah lelaki itu sebabkan. "S
"Bagaimana tanggapan anda tentang skandal ciuman yang telah menyebar luas di media massa, Pak?""Siapa identitas perempuan yang ikut terlibat bersama anda dalam pemberitaan panas ini?""Ada info lainnya mengatakan bahwa sosok wanita itu adalah karyawan di kantor anda sendiri, menginga
Jika orang itu bukan Namira Sanjaya, mantan bintang ternama yang pernah begitu bersinar bahkan sehari sebelum memutuskan waktu pensiunnya di dunia hiburan, mungkin situasinya tidak akan sesulit ini.Jika orang itu bukan Andreas Pramoedya, keturunan salah satu raksasa bisnis manufaktur, yang
Meskipun tidak dilakukan secara terang-terangan, Rena masih bisa merasakan tatapan penuh minat dan ingin tahu dari orang-orang yang tanpa sengaja berpapasan dengannya, terhitung sepanjang jalan ia kembali ke ruang marketing sehabis jam makan siang.Keberadaan Mala sebagai teman makan







