Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 97. Raga Chandrakanta

Share

97. Raga Chandrakanta

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-06-23 15:24:55

“Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”

“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”

“Oh...”

Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.

Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.

Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Aliz
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
Hagia udah janda, beneran gak butuh restu Ayahnya kok. cukup Raga aja udahan jadi wali, atau wali hakim aja. cussss Hagiaaaa... nekat aja kata gue mah wkwkwkwkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk betul kak... ini hny imajinasi aku aja. soalnya mereka udah 2x n gak pake pengaman pulak...
goodnovel comment avatar
NeaNeo
kasian adekny klo cewek mbaaaa.nt gk bs dwaliin bapakny jg ranu..beda nasab...xixixixi biar pun ini dnovel tp klo bs y jangan y..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   106. Kekesalan Carmen

    “Kalau Malin Kundang dikutuk jadi batu gara-gara durhaka sama ibunya...” Carmen mengaduk ramennya dengan ekspresi kesal. “Gimana kalau sekarang kita kutuk aja ibunya Mas Megan jadi batu karena durhaka sama anak sendiri?”Hagia yang sejak tadi menopang dagu justru terkekeh pelan.“Please ya, Men...”“Lah, emang salah?” Carmen terlihat kesal luar biasa. “Gue lagi kesel, ya. Sumpah, nggak suka banget sama kelakuan nenek-nenek ini.” Carmen menusuk telur ramennya dengan sumpit. “Kalau gue jadi kalian, gue nekat kawin lagi, sih. Syukur-syukur lo langsung bunting sekalian, kan. Biar mampus itu nenek-nenek.”Siang itu, Hagia sengaja menemui Carmen untuk makan siang bersama.Sudah cukup lama mereka tidak benar-benar duduk berdua tanpa terburu-buru. Setelah semua kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir, Hagia merasa ia membutuhkan seseorang untuk sekadar mendengarkan.“Lo tahu nggak sih...” gerutu Carmen. “Gue tuh pengen banget nyamperin tuh ibu-ibu terus bilang, ‘Bu, kalau nggak sayang s

  • Hello, Mantan!   105. Penjelasan Megantara

    “Hei… we need to talk, right?”Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, keheningan langsung menyelimuti ruangan. Tidak ada suara selain embusan napas keduanya.Hagia berjalan pelan menuju ruang tengah. Ia meletakkan kardus berisi barang-barangnya di atas lantai, tepat di samping sofa.Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tangan Megantara sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dengan lembut. Hagia menghentikan langkah, kemudian menoleh dan kini keduanya berdiri berhadapan.Sorot matanya dipenuhi perasaan bersalah. “Say something, Nadi,” kata Megantara. Suaranya terdengar pelan, nyaris terdengar seperti bisikan. Terdengar sedang memohon. “Kamu boleh marah, kamu boleh kecewa sama aku.” Ia menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang kini menggenggam tangan Hagia. “Atau tampar aku kalau memang kamu ingin melakukannya.” Megantara menatap perempuan itu lekat-lekat. “Tolong... jangan diam begini,” pintanya. “Aku lebih takut kamu diam daripada kamu marah.”Hagia hanya m

  • Hello, Mantan!   104. Hilangnya Harga Diri Hagia

    “Lo tuh gila ya, Gan.” Vanessa menggeleng tak percaya. “Mama pasti kecewa banget sama lo. Lo yang selama ini jadi anak penurut, anak yang baik, anak yang nggak neko-neko. Tapi lihatlah sekarang kelakuan lo.”Megantara hanya tersenyum tipis. Tatapannya masih tertuju pada Ranu dan Brian yang sedang berlarian di area playground, saling berebut perosotan sambil tertawa riang.“Aku nggak punya pilihan lain, Mbak.” Suara Megantara terdengar tenang. “Dulu, aku pisah sama Nadi juga karena rencana Mama. Dia yang bikin Nadi memutuskan untuk cerai sama aku.” Ia mengembuskan napas pelan. “Dan sekarang... aku nggak mau kehilangan Nadi untuk kedua kalinya.”Vanessa memijat pelipisnya. Ia mengenal adiknya lebih dari siapapun. Jika Megantara sudah mengambil keputusan, hampir mustahil membuatnya berubah pikiran.“Dan lo pikir Mama bakal tinggal diam setelah ini?”Megantara hanya diam.“Mama mungkin udah nggak bisa ngendaliin lo” lanjut Vanessa. “Tapi Mama masih bisa nyerang Hagia. Sama kayak yang Mama

  • Hello, Mantan!   103. Keputusan Maudy

    “Apa kabar, Hagia?”Pertanyaan terdengar sangat sederhana dan mudah dijawab. Namun bagi Hagia, pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada yang terdengar.Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar mampu mengendalikan ekspresinya. Kini ia mengerti. Alasan mengapa sejak semalam Megantara terlihat berbeda dari biasanya. Mengapa lelaki itu memeluknya dengan erat dan memintanya untuk percaya tanpa benar-benar menjelaskan alasannya.Semuanya. Pasti ada hubungannya dengan perempuan yang kini duduk di hadapannya.“Baik, Bu,” jawab Hagia akhirnya.Maudy mengangguk tipis. Tatapannya masih seperti dulu. Tenang, dan tentu saja terlihat mengintimidasi.“Pembicaraan kita akan memakan waktu cukup lama.” Maudy bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju area sofa di sudut ruangan. “Silakan duduk.”Hagia menelan ludah dengan susah payah. Meski seluruh nalurinya ingin segera meninggalkan ruangan itu, namun ia tetap melangkah mendekat. Lalu mendudukkan diri tepat di hadapan Maudy dan hanya dipisa

  • Hello, Mantan!   102. Kegelisahan Hagia

    “Mas, kamu cuti hari ini?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Hagia. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan Megantara. Lelaki itu memang tetap tersenyum, tetap mengobrol dengan Ranu, bahkan sempat bercanda seperti biasanya. Namun entah kenapa, Hagia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dipendamnya. Megantara terlihat begitu tenang. Dan justru itu yang membuat Hagia khawatir.“Kamu sakit?” Hagia meletakkan spatula-nya di atas meja dapur, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur menyentuh dahi Megantara. Kemudian berpindah ke lehernya. “Mm…, tapi nggak panas.” Ia mengernyit. “Mas, jangan bikin aku khawatir, dong.”Megantara tersenyum kecil. Tangannya menggenggam jemari Hagia yang masih menempel di pipinya.“Aku nggak apa-apa, Nadi.”“Beneran?”“Iya.”“Tapi semalam kamu pulang kayak orang lagi banyak pikiran.”Megantara terdiam beberapa detik. Lalu mengusap punggung tangan Hagia pelan.“Aku cuma pengen menghabiskan waktu sama Ranu hari ini. Makanya aku ambil cuti.”H

  • Hello, Mantan!   101. Keputusan Megantara

    “Tinggalkan mantan istri kamu...” Maudy berhenti sejenak, membiarkan keheningan memenuhi ruangan. “Atau menyelamatkan perusahaan ini.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap lurus ke arah ibunya. Namun tidak ada sedikitpun keraguan di wajahnya. Karena bahkan tanpa perlu berpikir, jawabannya sudah ia putuskan sejak hari pertama kembali menginjakkan kaki di Jakarta.“Seharusnya Mama sudah tahu apa jawaban aku.” Suara Megantara terdengar tenang. “Sejak aku memutuskan kembali ke Jakarta, aku sudah memilih, Ma. Dan pilihanku adalah Nadi.”Megantara mengulas senyuman tipis. Menatap Maudy dengan sorot mata yang tidak lagi dipenuhi keraguan seperti dua tahun lalu.“Sekalipun aku harus kehilangan seisi dunia... pilihanku tetap Nadi,” ujar Megantara sekali lagi.Napas Maudy terdengar berat. Namun Megantara belum selesai. “Jadi silakan lakukan apapun yang Mama mau,” lanjut lelaki itu. “Kalau memang harga yang harus aku bayar karena mencintai perempuan yang aku pilih adalah semua yang aku

  • Hello, Mantan!   92. Fakta Sesungguhnya

    “Tadi Bapak bilang, katanya mau ngobrol sama Mbak Hagia. Mbah Hagia sudah ketemu sama Bapak?”Mendengar perkataan itu, Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa sejak menerima telepon dari Megantara tadi, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. “Jam berapa dia pulangnya, Mbak?”

  • Hello, Mantan!   83. Tanda Bahaya

    “MBAK! Astaga, lo lama banget, sih? Toiletnya di Arab apa gimana?”Raut wajah Arsenio tampak kesal begitu melihat Hagia berlari kecil menghampiri rombongan mereka yang sudah bersiap di tepi sungai.“Sorry, sorry, Sen.” Hagia menoleh ke belakang. “Santwi, dong. Noh, masih ada beberapa yang belum ber

  • Hello, Mantan!   78. Meeting Outing

    “Tiba-tiba banget lo dijadiin panitia outing kantor, Mbak?” Suara Arsenio nyaris terdengar seperti bisikan. “Pak Megan lagi mode galak apa gimana, sih?”Hagia yang berjalan di sampingnya hanya mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Gue juga heran padahal kan panitia outing-nya udah lumayan banyak per divis

  • Hello, Mantan!   74. Meyakinkan Hagia

    Mereka tiba di Ruang Kaldu, restoran ramen langganan yang dulu hampir selalu menjadi tujuan mereka setiap kali ingin menghabiskan waktu bersama.Tempat itu tidak banyak berubah.Interior kayunya masih sama. Aroma kaldu yang gurih masih menyambut begitu mereka melangkah masuk. Bahkan beberapa dekora

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status