Se connecter“Kalau Malin Kundang dikutuk jadi batu gara-gara durhaka sama ibunya...” Carmen mengaduk ramennya dengan ekspresi kesal. “Gimana kalau sekarang kita kutuk aja ibunya Mas Megan jadi batu karena durhaka sama anak sendiri?”Hagia yang sejak tadi menopang dagu justru terkekeh pelan.“Please ya, Men...”“Lah, emang salah?” Carmen terlihat kesal luar biasa. “Gue lagi kesel, ya. Sumpah, nggak suka banget sama kelakuan nenek-nenek ini.” Carmen menusuk telur ramennya dengan sumpit. “Kalau gue jadi kalian, gue nekat kawin lagi, sih. Syukur-syukur lo langsung bunting sekalian, kan. Biar mampus itu nenek-nenek.”Siang itu, Hagia sengaja menemui Carmen untuk makan siang bersama.Sudah cukup lama mereka tidak benar-benar duduk berdua tanpa terburu-buru. Setelah semua kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir, Hagia merasa ia membutuhkan seseorang untuk sekadar mendengarkan.“Lo tahu nggak sih...” gerutu Carmen. “Gue tuh pengen banget nyamperin tuh ibu-ibu terus bilang, ‘Bu, kalau nggak sayang s
“Hei… we need to talk, right?”Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, keheningan langsung menyelimuti ruangan. Tidak ada suara selain embusan napas keduanya.Hagia berjalan pelan menuju ruang tengah. Ia meletakkan kardus berisi barang-barangnya di atas lantai, tepat di samping sofa.Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tangan Megantara sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dengan lembut. Hagia menghentikan langkah, kemudian menoleh dan kini keduanya berdiri berhadapan.Sorot matanya dipenuhi perasaan bersalah. “Say something, Nadi,” kata Megantara. Suaranya terdengar pelan, nyaris terdengar seperti bisikan. Terdengar sedang memohon. “Kamu boleh marah, kamu boleh kecewa sama aku.” Ia menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang kini menggenggam tangan Hagia. “Atau tampar aku kalau memang kamu ingin melakukannya.” Megantara menatap perempuan itu lekat-lekat. “Tolong... jangan diam begini,” pintanya. “Aku lebih takut kamu diam daripada kamu marah.”Hagia hanya m
“Lo tuh gila ya, Gan.” Vanessa menggeleng tak percaya. “Mama pasti kecewa banget sama lo. Lo yang selama ini jadi anak penurut, anak yang baik, anak yang nggak neko-neko. Tapi lihatlah sekarang kelakuan lo.”Megantara hanya tersenyum tipis. Tatapannya masih tertuju pada Ranu dan Brian yang sedang berlarian di area playground, saling berebut perosotan sambil tertawa riang.“Aku nggak punya pilihan lain, Mbak.” Suara Megantara terdengar tenang. “Dulu, aku pisah sama Nadi juga karena rencana Mama. Dia yang bikin Nadi memutuskan untuk cerai sama aku.” Ia mengembuskan napas pelan. “Dan sekarang... aku nggak mau kehilangan Nadi untuk kedua kalinya.”Vanessa memijat pelipisnya. Ia mengenal adiknya lebih dari siapapun. Jika Megantara sudah mengambil keputusan, hampir mustahil membuatnya berubah pikiran.“Dan lo pikir Mama bakal tinggal diam setelah ini?”Megantara hanya diam.“Mama mungkin udah nggak bisa ngendaliin lo” lanjut Vanessa. “Tapi Mama masih bisa nyerang Hagia. Sama kayak yang Mama
“Apa kabar, Hagia?”Pertanyaan terdengar sangat sederhana dan mudah dijawab. Namun bagi Hagia, pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada yang terdengar.Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar mampu mengendalikan ekspresinya. Kini ia mengerti. Alasan mengapa sejak semalam Megantara terlihat berbeda dari biasanya. Mengapa lelaki itu memeluknya dengan erat dan memintanya untuk percaya tanpa benar-benar menjelaskan alasannya.Semuanya. Pasti ada hubungannya dengan perempuan yang kini duduk di hadapannya.“Baik, Bu,” jawab Hagia akhirnya.Maudy mengangguk tipis. Tatapannya masih seperti dulu. Tenang, dan tentu saja terlihat mengintimidasi.“Pembicaraan kita akan memakan waktu cukup lama.” Maudy bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju area sofa di sudut ruangan. “Silakan duduk.”Hagia menelan ludah dengan susah payah. Meski seluruh nalurinya ingin segera meninggalkan ruangan itu, namun ia tetap melangkah mendekat. Lalu mendudukkan diri tepat di hadapan Maudy dan hanya dipisa
“Mas, kamu cuti hari ini?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Hagia. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan Megantara. Lelaki itu memang tetap tersenyum, tetap mengobrol dengan Ranu, bahkan sempat bercanda seperti biasanya. Namun entah kenapa, Hagia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dipendamnya. Megantara terlihat begitu tenang. Dan justru itu yang membuat Hagia khawatir.“Kamu sakit?” Hagia meletakkan spatula-nya di atas meja dapur, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur menyentuh dahi Megantara. Kemudian berpindah ke lehernya. “Mm…, tapi nggak panas.” Ia mengernyit. “Mas, jangan bikin aku khawatir, dong.”Megantara tersenyum kecil. Tangannya menggenggam jemari Hagia yang masih menempel di pipinya.“Aku nggak apa-apa, Nadi.”“Beneran?”“Iya.”“Tapi semalam kamu pulang kayak orang lagi banyak pikiran.”Megantara terdiam beberapa detik. Lalu mengusap punggung tangan Hagia pelan.“Aku cuma pengen menghabiskan waktu sama Ranu hari ini. Makanya aku ambil cuti.”H
“Tinggalkan mantan istri kamu...” Maudy berhenti sejenak, membiarkan keheningan memenuhi ruangan. “Atau menyelamatkan perusahaan ini.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap lurus ke arah ibunya. Namun tidak ada sedikitpun keraguan di wajahnya. Karena bahkan tanpa perlu berpikir, jawabannya sudah ia putuskan sejak hari pertama kembali menginjakkan kaki di Jakarta.“Seharusnya Mama sudah tahu apa jawaban aku.” Suara Megantara terdengar tenang. “Sejak aku memutuskan kembali ke Jakarta, aku sudah memilih, Ma. Dan pilihanku adalah Nadi.”Megantara mengulas senyuman tipis. Menatap Maudy dengan sorot mata yang tidak lagi dipenuhi keraguan seperti dua tahun lalu.“Sekalipun aku harus kehilangan seisi dunia... pilihanku tetap Nadi,” ujar Megantara sekali lagi.Napas Maudy terdengar berat. Namun Megantara belum selesai. “Jadi silakan lakukan apapun yang Mama mau,” lanjut lelaki itu. “Kalau memang harga yang harus aku bayar karena mencintai perempuan yang aku pilih adalah semua yang aku
“Tadi Bapak bilang, katanya mau ngobrol sama Mbak Hagia. Mbah Hagia sudah ketemu sama Bapak?”Mendengar perkataan itu, Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa sejak menerima telepon dari Megantara tadi, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. “Jam berapa dia pulangnya, Mbak?”
“Gi, mau ke mana?”Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi.“Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.”Alis Sinta l
Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru be
Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, seme







