Home / Romansa / Hello, Nanny! / 219. Es Podeng

Share

219. Es Podeng

last update publish date: 2026-06-10 16:36:56
"Suami pasien?"

Seorang dokter keluar seraya menurunkan masker dari hidung dan mulutnya.

Reyga yang tengah duduk dengan pandangan menunduk segera mengangkat wajah dan berdiri. Dadanya bertalu-talu melihat sosok berjas putih yang menangani istrinya itu.

Dia menelan saliva dengan susah payah. "Saya, Dok."

Bukan hanya Reyga yang berdiri dan mendekati dokter, tapi Reyhan juga.

"Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Reyga. Suaranya masih bergetar. Matanya yang memerah juga masih terasa per
Yuli F. Riyadi

Maaf ya, Gaes. Belum waktunya Kalla hamil

| 17
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Acik Martha
reyga aku jualan es podeng cuman 7rebu ...
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
intinya tuh mau punya anak at tdk yg terpenting pasangan kita itu setia tegas sama semua julit orang" terutama oleh orang terdekat mau itu orang tua salah satunya untuk tetap jd garda terdepan buat melindungi pasangannya biar pasangannya itu merasa aman dan jg dicintai dgn tulus dan apa adanya
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Betul gengsi gede
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.3. Temen Akrab

    “Lior, Kaia!”Dengan langkah cepat Kalla mencari kedua putrinya. Beberapa menit lalu dua anak itu masih bermain di taman rumahnya, tapi tahu-tahu sudah menghilang. Dia mencari di setiap penjuru rumah tapi belum juga menemukan batang hidung mereka. “Mereka nggak ke sini kok,” ujar ibu ketika Kalla mendatangi rumah ibunya. Ah, sudah tiga tahun Kalla dan keluarganya pisah rumah dengan ibu. Tidak jauh, masih di sebelah rumah ibu. Reyga memutuskan membangun rumah karena merasa butuh banyak ruang untuk anak-anaknya. “Duh, ke mana mereka itu.”“Tenang. Ibu yakin mereka nggak jauh-jauh mainnya. Nanti ibu tanya tetangga. Sekarang kamu pulang dulu, barang kali mereka sudah ada di rumah.”Kalla menurut dan kembali ke rumahnya. Dia masih tetap mencari dari depan hingga belakang rumah. Memanggil nama si kembar berulang-ulang. Mendengar suara Kalla yang terus memanggil adik-adiknya, Kael yang masih sibuk di kamar keluar. Kening Kael mengerut melihat sang ibu berjalan lunglai dengan bahu meroso

  • Hello, Nanny!   S2.2. Nanny?

    Kalla meninggalkan kamar putri-putrinya setelah mereka jatuh tertidur. Satu dongeng bahkan belum sempat dia selesaikan. Tidak seperti biasanya yang tiap dibacakan dongeng ada saja pertanyaan yang mereka lontarkan. Kali ini mereka langsung pulas.Untuk hari ini berbeda. Mungkin mereka masih sedih karena belum mendapat maaf dari sang kakak. Bahkan sebelum tidur tadi, mereka masih sempat mengatakan penyesalannya. Bertolak dari kamar si kembar, Kalla membuka pintu kamar Kael yang berada tepat di seberangnya. Kael juga sudah terlelap. Wanita itu bergerak mendekat, mengusap kepala sang putra lalu membenarkan selimut. “Sayang, mama tahu kamu kesal banget sama adik-adik kamu. Tapi seharian ini mereka menyesali perbuatannya. Mama harap kamu masih punya maaf yang luas buat mereka,” ucap Kalla pelan, yang mungkin tidak bisa putranya itu dengar.Ketika Kalla akan mematikan lampu kamar, tatapnya menangkap keberadaan maket bricks yang ada di meja. Benda itu yang membuat si kembar hampir menangis

  • Hello, Nanny!   S2.1. Proyek yang Hancur

    Bunyi brakkk terdengar sampai ke dapur. Bunyi familiar yang sekonyong-konyong bisa mematahkan hati seseorang karena usahanya hancur seketika. Kalla yang sedang mengaduk adonan refleks berhenti dan menatap putranya yang berdiri di depannya. Wajah remaja 16 tahun itu spontan memerah sambil memejamkan mata. Kalla tahu betul Kael sedang menahan marah. Dia bahkan melihat tangan putranya itu meremas kuat tangkai hand mixer yang digenggamnya. “Uhm, Sayang. Na-nanti mama bantu kamu merangkainya lagi, oke?” ucap Kalla dengan raut was-was. Perlahan dia melepas spatula. “Jangan marah ya. Mam pastikan adik-adik kamu mendapat hukuman.”Kalla buru-buru lari ke arah kamar. Demi Tuhan dia berharap weekend kali ini aman tanpa keributan. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja. “Kaia…!!! Lior…!!!”Langkah Kalla berhenti mendadak. Dia meringis seraya menutup telinga mendengar teriakan Kael dari dapur, sebelum lanjut lari ke kamar putranya. Pintu kamarnya terbuka sehingga dia bisa melihat langsung

  • Hello, Nanny!   Extra Part 2

    THE TIME Ini akan menjadi momen paling bersejarah untuk Kalla. Dia sudah siap menjalani sectio caesarea hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan makeup tipis hasil pulasan Cecilia. Istri Cade itu bersikeras mendandani Kalla agar saat proses bayi lahir wanita itu tetap terlihat cantik. Sama seperti Ceci, Kalla dan Reyga juga melakukan birth videography. Mulai dari persiapan, proses, hingga pasca melahirkan diabadikan ke dalam birth video diary yang akan menjadi dokumenter pribadi mereka. “Gimana perasaan kamu?” tanya Kiana, yang ikut menunggui persiapan Kalla. “Deg-degan. Tapi seneng juga.” “Harus semangat, kan kalian sebentar lagi ketemu.” Semua keluarga Reyga ikut berkumpul demi menyambut anggota baru keluarga, kecuali Candra karena dia tidak bisa absen dari rumah sakit. Ibu juga datang. Meski lututnya gemetar, ibu bela-belain datang memberi semangat pada putrinya. Ini pertama kali dalam hidup, dan dirinya akan segera menimang cucu. “Lo harus rileks. Jangan sa

  • Hello, Nanny!   Extra Part 1

    Beberapa kali Kalla mematut diri di cermin. Cermin full body yang bisa memantulkan seluruh tubuhnya. Bibirnya mencebik saat melihat pipinya yang terlihat lebih chubby. Lalu tatapannya turun ke perutnya yang makin buncit. Dia tahu kehamilan ini bakal menghancurkan bentuk tubuh idealnya. Tapi Kalla sama sekali tidak menyesal. Terlebih bayi dalam perutnya sangat sehat dan aktif. Kalla berjengit ketika sesuatu menempel di pipinya. Ujung matanya melirik, dan dari pantulan cermin dia bisa melihat foto prenatalnya bersama Reyga. “Cantik banget kamu di sini, Sayang,” ujar Reyga, ikut bergabung dalam pantulan cermin yang sama. Kalla merebut foto tersebut dari tangan Reyga dan memperhatikannya. Di foto itu, dirinya tersenyum lebar. Mengenakan gaun putih yang mempertontonkan bagian perutnya yang besar. Makeup tipis natural dan tatanan rambut yang agak sedikit bergelombang. Meski dengan perut buncit, Kalla terlihat sangat cantik dan bersinar. Dan Reyga di sana mengenakan celana panjang

  • Hello, Nanny!   257. Lamaran Menembus Langit

    “Bayi Om Cade matanya sipit. Mirip banget kayak Tante Ceci.” “Putih dan montok.” Kael dan Kalla sedang membicarakan anak Cecilia dan Cade yang baru lahir beberapa hari lalu. Bayi itu terlahir sehat dengan jalan caesar. Cade sengaja memilih tanggal cantik untuk kelahiran putranya. Pewaris Ganesha selanjutnya. “Bibir sama tangannya juga kecil banget, Ma.” “Iya, kan masih bayi.” “Baby twins ntar mirip siapa ya?” “Mirip papa dong. Kan papa yang paling semangat bikinnya,” sambar Reyga yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan anak dan ibu itu. Namun detik berikutnya dia mengaduh ketika mendapat sikutan dari sang istri. Pria itu nyengir saat Kalla memelotot padanya. “Aku harap sih mirip mama aja. Pasti cakep.” Reyga kontan menoleh dengan tampang tak terima. “Maksud kamu papa nggak cakep?” “Cakep sih, cuma ngebosenin.” “Kamu—” Reyga tidak jadi marah ketika mendengar tawa istrinya pecah. Dia hanya mendengus dengan muka memberengut. “Sejak punya mama, kamu sering banget ngejek pap

  • Hello, Nanny!   169. Fotografer

    Kael mengerutkan kening melihat dua orang dewasa di depannya. Dia menatap Reyga dan Kalla secara berganti dengan bingung. “Kael, makan buah dulu.” Kalla menyajikan semangkok potongan melon ke depan anak itu. Saat ini mereka tengah berada di meja makan. Kalla sendiri masih sibuk mengeluarkan bebe

  • Hello, Nanny!   167. Patah Hati

    Tidak lama setelah Diyani dan Reyhan pulang, SUV pabrikan Jerman yang sangat Kalla kenali memasuki halaman rumah. Secara otomatis wanita itu melirik Moya. Wajah sahabat satu-satunya itu mendadak murung karena dia pun tahu itu mobil milik siapa. “Jangan kelihatan patah hati banget. Lelaki di dunia i

  • Hello, Nanny!   166. Kesepakatan

    Ibu, Kalla, dan Moya bergegas menuju teras ketika mendengar suara halus sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Hari ini orang tua Reyga berkunjung untuk mendiskusikan masalah pernikahan. Luxury MVP yang terparkir rapi di halaman rumah cukup mengundang perhatian tetangga. Menyusul kemudian Maybach

  • Hello, Nanny!   165. Empat Bersaudara

    Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status