LOGINPov Melissa
Aku mengembuskan napas panjang, merasakan seulas kelegaan yang amat sangat setelah mobil yang kami tumpangi akhirnya tiba dan terparkir sempurna di pelataran rumah Samuel. Untuk mengusir rasa penat sekaligus kegundahan yang sejak tadi menggelayuti benak, aku memilih untuk melangkah keluar kamar, berjalan-jalan santai sembari melihat-lihat arsitektur rumah menantuku yang begitu megah.
Sejujurnya, perasaanku saat ini sedang tidak karuan. Jantungku b
“Gabriel...!”Pekikan sarat kerinduan itu seketika memecah keheningan lobi mansion. Emelia langsung berlari kencang tanpa memperdulikan rasa nyeri yang mungkin masih mendera perutnya begitu melihat langkah kakiku memasuki rumah. Matanya yang sembab langsung tertuju pada tubuh mungil yang berada di dalam dekapan erat lengan kiriku.Dengan gerakan yang teramat hati-hati seolah sedang memegang permata paling rapuh di dunia, Emelia mengambil alih Gabriel dari tanganku. Ia segera membawa tubuh putra kami ke dalam dekapan hangat dadanya. Sepasang netranya seketika berkaca-kaca, rasa haru, lega, dan sisa kesedihan yang mendalam berbaur menjadi satu, meneteskan air mata yang kini bermakna kebahagiaan.“Mama bahagia kamu kembali, Nak... Mama sangat bahagia,” ujarnya dengan suara parau yang terputus-putus, berulang kali mengecup kening dan pipi Gabriel yang masih sedikit sembap akibat udara dingin pelabuhan.Aku melangkah mendekat, mengelus
Raung mesin SUV hitam yang kutumpangi melaju dengan cepat yang kian mencekam. Jarum speedometer terus bergerak ke kanan, menembus batas kecepatan normal di atas jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan. Di belakangku, delapan mobil taktis berisi pasukan elit melaju dalam formasi tempur yang rapat.Tanganku mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga urat-urat kemerahan menegang di sepanjang lengan. Pikiranku tidak bisa tenang. Setiap detik yang terbuang adalah siksaan batin yang luar biasa. Bayangan wajah pucat Emelia yang menangis histeris terus berputar di kepalaku, bersahutan dengan bayangan tubuh mungil Gabriel yang entah bagaimana nasibnya di tangan para keparat Grup Macan Putih itu.“Bertahanlah, Gabriel. Papa datang,” bisikku parau, menatap lurus ke depan pelabuah yang sudah kelihatan.Pelabuhan barat ini adalah wilayah mati. Dermaga tua yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan dan hanya digunakan oleh jaringan penyelundup hitam untuk mengirim
(POV: Samuel)Brakkk!Satu hantaman tinjuku yang teramat keras melayang telak, menghancurkan permukaan meja kaca di ruang monitor hingga retak seribu. Napasku memburu, naik-turun dengan ritme yang mematikan. Setelah melihat rekaman CCTV yang berputar di layar, rahangku mengeras sempurna hingga rasanya ingin copot.Bagaimana mungkin anak kandungku bisa ditukar di dalam ruang inkubator steril, dan pihak rumah sakit ini tidak ada satupun yang mengetahuinya? Lebih gila lagi, dalang yang mengeksekusi sabotase menjijikkan itu di lapangan adalah salah satu perawat senior mereka sendiri. Wanita itu terlihat dengan sangat tenang menukar Gabriel dengan bayi lain yang sudah disiapkan lebih dulu.“Cari wanita itu sekarang juga! Tangkap hidup-hidup dan bawa ke hadapanku dalam waktu tiga puluh menit!” perintahku mutlak dengan suara bariton yang teramat dingin dan mengintimidasi kepada seluruh kepala pengawal kepercayaanku.Aku membalikkan tubuh, mena
Pagi ini aku bangun dengan semangat yang begitu meluap-luap. Rasa kantuk yang biasanya menggelayuti mataku lenyap seketika, digantikan oleh debaran sarat kebahagiaan yang membuncah di dalam dada. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba juga. Aku sudah tidak sabar untuk menjemput Gabriel dan membawanya pulang agar pangeran kecilku itu bisa segera bergabung bersama kami semua di mansion.Dan rupanya, bukan hanya aku saja yang diliputi kegembiraan luar biasa ini. Para orang tua pun tidak kalah heboh dan bersemangat untuk ikut serta mendampingi kami menjemput sang cucu pulang.“Semangat sekali, Pa?” tanyaku sembari tersenyum lebar, menatap Papa Lucas.“Jelas Papa bersemangat, Emelia! Papa sudah tidak sabar ingin menggendong dan menjemput cucu pertama Papa pulang ke rumah,” jawab Papa Lucas dengan binar mata yang berapi-api.“Cucuku! Kamu jangan lupa kalau dia itu cucuku, Lucas!” sahut Papa Arturo tiba-tiba dari arah sofa,
(POV: Emelia)“Gabriel...” aku bergumam lirih, menatap sayu ke arah tubuh mungil anakku yang masih terbaring di dalam kotak kaca inkubator itu.Rasa sedih yang teramat mendalam mendadak meremas dadaku hingga terasa sesak. Air mataku kembali menggenang di pelipis mata. Seharusnya, bayi sekecil ini lahir langsung berada di dalam dekapanku, merasakan hangatnya kulit sang ibu, dan menyusu untuk pertama kalinya dengan nyaman. Namun, takdir justru memaksanya untuk berjuang sendirian di dalam ruangan steril ini, terikat oleh beberapa kabel medis yang menempel di tubuh rapuhnya.Aku menghapus air mata yang meluncur di pipi, lalu mencoba memfokuskan pandanganku untuk mengamati detail tubuh kecilnya. Wajahnya benar-benar keturunan Samuel yang murni—begitu tampan dan tegas.Saat mataku bergerak turun menyusuri lengannya, aku melihat sesuatu di lengan kanan bagian atasnya. Sebuah tanda lahir yang unik berbentuk melengkung sempurna, seperti bulan sab
Setelah melewati beberapa jam yang terasa menyiksa, keheningan malam itu mendadak pecah. Suara lengkingan tangis bayi yang samar namun tajam terdengar menembus pintu ruang operasi yang kokoh.Oeeekk... Oeeekk...Seketika, jantungku bergemuruh hebat, berpacu begitu kencang hingga rongga dadaku terasa sesak. Seluruh aliran darahku seakan berhenti mengalir selama satu detik penuh. Apakah itu suara tangis Gabriel? Apakah pangeran kecilku benar-benar sudah lahir ke dunia?Sepasang mataku mendadak berkaca-kaca. Rasa haru, lega, dan tidak percaya bercampur aduk menjadi satu di dalam benakku. Aku mematung di tempat, nyaris tidak menyangka bahwa detik ini juga, statusku telah resmi berubah menjadi seorang ayah.“Papa... itu... itu suara anakku, kan?” ujarku dengan suara parau yang bergetar hebat, menoleh ke arah Papa Arturo yang juga setia menemaniku di koridor sejak beliau tiba menyusul beberapa saat yang lalu.Papa Arturo terseny
Aku tidak tahu tugas apa lagi yang akan diberikan padaku. Sejak satu jam yang lalu, Samuel hanya terpaku menatap layar laptop di meja kerjanya, sementara aku diperintahkan berdiri mematung di sudut ruangan.Apa pria ini tidak punya rasa kasihan? Bayangkan saja, kakiku sudah terasa kebas karena berd
Aku benar-benar merasa pria yang kini menjadi suamiku itu gila.Ya, gila! Samuel De Leon sama sekali tidak memiliki perikemanusiaan. Seluruh tubuhku terasa remuk, terutama pinggangku yang serasa ingin patah karena sejak tadi harus memunguti ribuan daun yang berguguran di halaman luas itu.Aku mengh
“Ini kamar Anda, Nyonya...”Aku menatap kamar yang baru saja ditunjukkan pelayan padaku. Ruangannya cukup besar, bahkan sangat luas jika dibandingkan dengan kamarku di rumah lama yang hanya berisi kasur tipis yang membuat sekujur tubuhku pegal setiap pagi.“Aku tidur sendiri?” tanyaku langsung. Men
Pov Emelia “Menikahlah dengan Tuan Samuel, Emelia!”Aku terdiam mendengar Ayah memintaku menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Kutatap wajahnya dengan tenang. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, mengingat selama ini Ayah selalu memanjakan Bianca, adikku, melebihi diriku. Har







