Partager

Rumah Teman?

Auteur: Aldra_12
last update Date de publication: 2026-05-27 13:14:13

Sore hari.

Kian berjalan menghampiri Arthur yang sudah menunggu di depan lobby.

“Jadi, siapakah orang yang ingin kita temui?” Kian berdiri di hadapan Arthur, senyumnya terangkat lebar untuk suaminya.

“Nanti kamu akan lihat.” Arthur membuka pintu untuk Kian.

Kening Kian berkerut, dia tatap penasaran suaminya.

“Main rahasia denganku?” Kian tersenyum kecil setelah bicara.

Arthur mengedikkan kedua bahu saat membalas senyum istrinya.

Walau tak bertanya lagi siapa yang akan suaminya temui, tapi tetap
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Kabar Penting

    Sinar matahari pagi yang hangat perlahan mulai menembus celah gorden kamar utama kediaman Arron. Di atas ranjang king size, Arthur dan Kian masih terlelap dengan tenang, menikmati sisa-sisa istirahat mereka setelah hari yang luar biasa melelahkan kemarin. Kian tidur meringkuk nyaman dengan sebelah lengan Arthur yang melingkar posesif di pinggangnya.Hingga suara getaran kuat dari ponsel Arthur yang diletakkan di atas nakas memecah keheningan fajar. Arthur mengerutkan kening, perlahan dia membuka mata dengan rasa kantuk yang masih menggelayut di ujung kelopak matanya. Arthur melirik sekilas ke arah Kian yang bergerak sedikit tapi tidak terbangun.Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengusik tidur istrinya, Arthur mengulurkan tangan menyambar ponsel miliknya. Nama Kendrick berkedip di layar. Kening Arthur berkerut.Kendrick sangat tahu etika dan tidak akan pernah menelepon sepagi ini jika tidak ada hal yang benar-benar darurat.Tak membuang waktu, Arthur menggeser tombol jaw

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Benar-benar Tak Waras

    Malam semakin larut.Di dalam apartemennyanya, Luna menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan tatapan kosong yang telah kehilangan seluruh binar kewarasan. Semua pintu telah tertutup baginya. Adam membuangnya, Fio terbaring tak berdaya setelah dia lukai, dan Rose ... wanita itu baru saja menandatangani surat kematian karier Luna di televisi nasional."Kalau aku harus hancur ... kamu juga tidak boleh hidup tenang, Rose," bisik Luna, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. Senyumnya terangkat mengerikan. Pikirannya tak waras karena pengaruh sisa-sisa alkohol yang masuk ke tubuhnya.Tepat tengah malam, Luna bergerak. Dia memakai pakaian serba hitam yang longgar, melilitkan syal gelap di lehernya, dan mengenakan penutup wajah rapat-rapat hingga hanya menyisakan sepasang matanya yang memancarkan kebencian.Sebuah pisau dapur yang runcing dan berkilau tajam diselipkannya di balik jaket.Dengan memanfaatkan jalur tangga darurat yang minim kamera pengawas, Luna menyelinap melalui pint

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Gilanya Luna

    Di apartemen milik Luna.Suasananya sudah seperti medan perang. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja kaca, dan aroma alkohol yang menyengat memenuhi ruangan yang remang-remang itu.Luna duduk meringkuk di atas sofa beludru mahalnya dengan penampilan yang jauh dari kesan seorang model papan atas. Rambutnya kusut masai, gaun sutranya tampak berantakan, dan sebuah gelas berisi wiski digenggamnya dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya yang merah dan sembap menatap lurus ke layar televisi yang masih menyiarkan ulang pernyataan pers dari Rose."Orang yang membayar saya, orang yang menjadi otak dan dalang dari semua konspirasi busuk ini juga harus ikut bertanggung jawab ….”"Bangsat! Dasar pelacur sialan!" jerit Luna histeris.Dia meneguk sisa wiski di gelasnya dalam sekali tenggak, lalu melemparkan gelas kosong itu ke arah layar televisi. Gelas itu menghantam pinggiran layar dengan keras sebelum akhirnya jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.Napas Luna

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Klarifikasi Rose

    Kian bergegas melangkah kembali ke rumah utama bersama Mia setelah mendengar apa yang pelayan katakan.Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tengah.Tatapan Kian tertuju pada Arthur sedang duduk di sofa dengan pandangan tertuju ke layar televisi besar yang menyala.Kian menghentikan langkahnya, pandangannya kini tertuju pada siaran berita yang sedang berlangsung.“Ada apa, Sayang?” Kian mulai bertanya.Tatapan Arthur tertuju pada Kian. Dia membuat gerakan dengan tangan agar Kian duduk di sampingnya. “Duduklah dulu. Kamu juga, Mia.” Begitu Kian sudah duduk di sampingnya dan Mia duduk di sofa tunggal, Arthur mencari chanel berita lain lalu memperlihatkan berita yang baru saja ditontonnya. “Lihat apa yang baru saja disiarkan di beberapa chanel berita.”Kening Kian berkerut dalam. Pandangan mereka semua kini tertuju sepenuhnya pada layar kaca yang sedang menayangkan sebuah video wawancara eksklusif secara langsung dari kediaman Rose.Di layar televisi. Rose tampak duduk dengan wajah se

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Jangan Terlena

    Sore hari.Kian melangkah menyusuri jalan setapak di taman belakang menuju paviliun tempat yang Mia tinggali sementara agar terhindar dari jangkauan luar dan tekanan dari Luna.Kian sudah berdiri di depan pintu. Dia tak langsung masuk ke dalam, tapi mengetuk pintu lebih dulu dan menunggu sampai Mia membukanya.Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara knop yang diputar.Kian menatap Mia yang berdiri di hadapannya saat pintu di hadapannya ini terbuka.Kian tersenyum hangat pada Mia. “Bu Kian, masuklah.” Mia langsung membuka lebar pintu paviliun.“Kita bicara di luar saja, Mia. Udaranya sejuk dan lebih menenangkan daripada di dalam,” kata Kian agar Mia bisa membiasakan diri dengan suasana di tempat ini.Mia mengangguk patuh. Dia keluar lalu duduk di kursi yang ada di depan paviliun bersama Kian.Kian menatap Mia yang diam dengan tatapan tertunduk.Kian lebih dulu menghela napas panjang, lalu membuka suara. “Bagaimana kondisimu, Mia? Apa tempat ini cukup nyaman untukmu?”Mia mengangka

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Biar Menerima Akibatnya

    Di dalam ruang kerja Arthur yang tenang di gedung HW. Company.Sisa-sisa ketegangan dari konferensi pers tadi siang perlahan mulai mencair. Kian masih duduk di sofa bersama Arthur setelah kepergian Mia.Arthur sudah meminta orang untuk mengawal dan menjaga Mia dengan selamat.“Terima kasih banyak, ya. Kamu sudah mengizinkan Mia untuk tinggal sementara di paviliun belakang rumahmu. Dengan begitu, dia akan aman dari ancaman atau intimidasi dari pihak Luna dan orang-orangnya.” Kian menatap penuh syukur karena Arthur selalu mendukung setiap keputusan yang dibuatnya.Tangan Arthur membelai lembut rambut Kian, bibirnya tersenyum kecil, lalu dia membalas, “Tidak perlu berterima kasih. Semua ini juga demi HW. Company.”“Lagi pula, itu hanya untuk sementara waktu sampai kehebohan ini sedikit mereda dan tim hukum kita berhasil menyelesaikan semua berkas gugatan resmi untuk menyeret Luna dan Rose ke pengadilan. Setelah itu, Mia akan aman di mana pun dia tinggal nantinya.”Kian mengangguk-angguk

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Membuat Sketsa

    Arthur berdiri sambil menatap Dokter yang sedang mengobati jahitan yang kembali terbuka akibat gerakan Kian karena emosi tadi.Arthur melihat tatapan Kian yang kosong. Kondisi Kian saat ini, lebih menyakitkan dari kehilangan bayi mereka.“Pak Arthur, jahitannya sudah dibersihkan dan ditutup ulang.

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Sama-sama Kehilangan

    Di luar kamar.Arron menunduk menyembunyikan tangisnya.Hatinya begitu ngilu mendengar teriakan dari Kian.“Tuan.” Malvin hanya bisa diam menatap kepedihan yang juga Arron rasakan.“Kenapa harus begini? Kenapa harus cicitku yang menjadi korban?” Arron tak bisa membendung air matanya.Malvin hanya b

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Ditemukan

    Arthur duduk di kursi tunggu depan kamar inap Kian.Berulang kali dia mengguyar kasar rambutnya ke belakang.Arthur bingung. Jika Kian bangun nanti, lalu bayi mereka belum juga ditemukan, apa yang harus dia katakan pada Kian.Arthur menyandarkan kepala ke belakang, wajahnya menengadah, matanya terp

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Tahu Pelakunya

    Arthur berjalan tergesa-gesa menuju ruang security.Dia baru saja mendapat kabar perkembangan kasus penculikan bayinya.Saat masuk ke dalam ruang security rumah sakit, tatapan Arthur tertuju pada seorang perawat yang duduk dengan kepala tertunduk.“Dia pelakunya?” Arthur langsung memberikan tuduhan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status