MasukHampir seluruh divisi keuangan berdiri di sana, menatap dengan mata membesar. Sebagian pura-pura sibuk. Beberapa lainnya mengangkat ponsel, setengah bersembunyi di balik map atau gelas kopi.
Wajah Laras seketika pucat. “Kalian ngapain di sini?” bentaknya panik. “Balik kerja! Sekarang!”
Tak seorang pun bergerak.
Aleksander mengusap rahangnya pelan. Berbagai jadwal pekerjaan memenuhi pikirannya. Belum lagi rencana perjalanan bisnis ke Singapura serta berbagai persoalan keluarga yang beberapa hari terakhir menyita perhatiannya.Melihat Aleksander masih diam, Evalia buru-buru melanjutkan. “Aku nggak akan lama. Berangkat pagi dengan pesawat pertama, lalu pulang malamnya. Kalau memang perlu, aku juga bisa menunggu beberapa hari setelah pemakaman.”Akhirnya Aleksander menoleh. “Bagaimana kalau kita berangkat hari Selasa?”Evalia tertegun. “Kita?”“Tentu.” Jawaban Aleksander terdengar begitu santai, seolah itu keputusan paling masuk akal. “Aku ikut.”“Aleksander, nggak perlu. Sungguh. Reza dan Lisa bisa menemaniku. Aku akan baik-baik saja.”
“Eva…” Aleksander menggenggam tangan Evalia sedikit lebih erat. “Kamu nggak harus memulai percakapan dengannya. Bahkan bisa jadi beliau juga nggak akan bertanya apa-apa.”Evalia mengangkat wajahnya.Sorot mata Aleksander yang hangat perlahan mengikis kecemasan yang sejak tadi mengikat dadanya. “Yang penting, Mama, Oma, dan Opa sudah menyukaimu,” ucap Aleksander lembut. “Aku yakin anggota keluarga yang lain juga akan begitu.”Aleksander berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan hati-hati. “Kalau soal Papa… beliau pasti akan menerimamu setelah benar-benar mengenalmu dan menyadari kalau kamu berbeda dari ayahmu.”Dada Evalia menghangat. Bukan karena rasa takut, melainkan secercah harapan yang perlah
Aleksander ikut makan di sampingnya. Awalnya mereka hanya menikmati hidangan dalam keheningan. Namun ketika Evalia kembali menanyakan soal Mahendra, kali ini Aleksander tidak menghindar. Ia menjelaskan semuanya dengan sabar, seolah mandi tadi benar-benar berhasil menghapus sisa-sisa beban yang memenuhi pikirannya.Sampai akhirnya Evalia menyinggung komentar-komentar yang ia baca di media sosial. Banyak warganet berspekulasi bahwa Mahendra meninggal akibat narkoba, bukan karena serangan jantung.Gerakan tangan Aleksander langsung berhenti di udara. Tatapannya beralih kepada Evalia. Tetap tenang, tetapi kali ini jauh lebih tajam. “Pendapat mereka nggak sepenuhnya salah.”Sendok di tangan Evalia terlepas dan beradu pelan dengan mangkuk. “Serius?”Ale
Semakin lama keheningan itu berlangsung, semakin berat rasa tidak nyaman yang mengendap di dada Evalia. Ia merasa tak berdaya. Bingung. Haruskah ia menghubungi Elenora? Atau Amanda, ibu mertuanya? Apakah ia sebaiknya mengirimkan karangan bunga duka, atau melakukan sesuatu yang lainTak ada pilihan yang terasa benar. Tak ada yang terasa cukup pantas.Hingga makan malam usai, Evalia masih belum menemukan jawabannya. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan menemani Rafael dan menyiapkan putranya untuk tidur. Namun, pikirannya terus kembali kepada Aleksander.Saat Evalia hendak membacakan dongeng sebelum Rafael terlelap, Jono muncul di ambang pintu kamar. Pria itu meminta izin untuk berbicara sebentar.“Sayang, tunggu sebentar, ya. Mami bicara dengan Pak Jono dulu.&r
Erik memutar bola matanya, tetapi memilih diam. Ia tidak ingin membuat luka kakaknya semakin dalam.Namun keheningan itu hanya bertahan bebreapa detik.“Paman Reno… Tante Marlina… Opa…” Suara perempuan muda terdengar dari deretan kursi belakang. Amelia, putri sulung Erik, memandang Reno sebelum melanjutkan ucapannya. “Kalian nggak bisa menyalahkan Papiku. Kalau sejak awal Mahendra diajari menjaga sikap di depan publik, keluarga kita nggak akan dipermalukan seperti sekarang.”“Amelia…”“Nggak, Papi!” Amelia memotong ucapan Erik. “Jangan hentikan aku. Aku sudah lelah jadi bahan bisik-bisik setiap kali keluar rumah. Orang selalu menghubungkan aku dengan tingkah Mahendra. Mereka bilang keluarga
Ini adalah medan perang. Bukan dengan senjata, melainkan dengan kata-kata sopan yang menyembunyikan belati di baliknya.Aleksander telah siap menghadapinya. Seperti biasa, ia hanya perlu mengabaikan mereka semua.Belum sempat memasuki ruang keluarga, Aleksander melihat Rahmat, kepala pelayan kepercayaan kakeknya, berjalan cepat menghampirinya.“Tuan Muda, selamat datang. Maaf… saya tidak sempat menyambut Anda di luar,” ucap Rahmat sambil sedikit membungkukkan badan.Aleksander membalas dengan anggukan singkat. “Nggak apa-apa, Pak Rahmat. Aku tahu kau pasti sedang sibuk.” Ia berhenti di depan pria tua itu, lalu bertanya dengan nada penuh rasa ingin tahu. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Opa tiba-tiba memintaku datang?”
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang







