Mag-log inAlarm ponselnya bordering nyaring tepat pukul lima pagi. Hendro menggeser layar ponsel untuk mematikannya. Biasanya, Hendro tidak menyentuh lagi ponselnya sampai ia menyelesaikan sesi olahraga pagi dan persiapan bekerja sekitar pukul delamapn pagi.Namun, hari ini hatinya gelisah tanpa sebab. Setelah mematikan alarm, Hendro membuka notifikasi di layar ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk dari Ivander, keponakan dari mendiang istrinya. Pria yang bisa dipastikan mengirim pesan padanya satu tahun sekali untuk mengucapkan selamat ulang tahun.“Ivan? Tumben dia kirim pesan. Ada apa?”Hendro membaca pesan Ivander dengan cermat. Keningnya berkerut, matanya memicing. “Astaga … Emmy!”Buru-buru ia turun dari ranjang, mandi dan bergegas menuju alamat yang Ivander bagikan padanya. Sepanjang jalan, Hendro tak henti berdoa untuk keselamatan menantu dan calon cucunya. Beberapa kali ia menghubungi Arthur, tapi tidak ada jawaban. Begitu pula Raditya, tidak ada jawaban.Pagi ini jalanan pada
Pamela keluar dari bilik periksa dengan wajah kesal. “Sebaiknya, apa yang igin kamu bicarakan adalah hal yang benar-benar penting,” sembur dokter cantik itu.“Aku yang akan jadi wali pasien,” singkat Ivander.“Hah?! Apa? Kamu apanya pasien?!” desis Pamela dengan mata mendelik. “Jadi kamu yang—.”“Dengar!” bentak Ivander tertahan. “Aku akan ceritakan detailnya, yang pasti tidak seperti bayanganmu. Biarkan aku yang tanda tangan semua dokumennya.”Dahi Pamela mengkerut dalam. “Aneh! Aku tidak pernah berpikir kamu akan seputus asa ini, Van.”“Hentikan fantasimu! Aku tidak sebejat itu.”Mata Pamela mengerjap lega. “Syukurlah. Tapi, kamu tetap tidak bisa menjadi wali pasiennya. Harus keluarganya. Kecuali, kamu memang keluarga pasien,” sindir Pamuela jenaka.“Van,” panggil Emily dari balik tirai.Ivander mendekatkan kepalanya ke telinga Pamela dan berbisik, “Segera!” Setelahnya, ia menghilang di balik tirai.“Ya.” Ivander berdiri di samping ranjang Emily. Tangannya mengepal melihat kondaisi
“Hei!” hardik Ivander kaget seraya mencekal lengan Emily yang menghajar tubuhnya. “Apa yang kamu lakukan?!” Matanya membulat marah.“Aku yang bertanya lebih dulu padamu, apa maksudnya ini?!” balas Emily tak kalah marah. “Seolah kamu berhak mengatur seluruh kehidupanku hanya karena beberapa kali memberiku bantuan. Begitu?!”Ivander menarik tubuhnya duduk dan membawa Emily bersamanya, duduk di atas pangkuannya. “Dan beberapa kali itu tidak bisa membuatmu percaya padaku? Baiklah. Aku akan tunjukkan sikap yang akan membuat kepercayaanmu semakin pudar.”Cekalan Ivander berpindah dari pergelangan tangan Emily ke tengkuk wanita itu. Dengan satu kali hentakan, kepala Emily meneleng sesuai perintah Ivander dan menerima ciuman yang menuntut.Emily berontak. Marah dan kesal dengan sikap sesuka hati pria itu. Ia menggigit bibir pria itu dan mulai menangis. Sakit di bibir bawahnya, membuat Ivander terpaksa melepaskan ciumannya.Sikapnya melunak melihat Emily menangis tersedu di pangkuannya. Tangan
Grep!Ivander mencium Emily dengan rakus. Bibirnya menekan, memaksa wanita itu menerima dan membalasnya. Emily terpaku beberapa detik lamanya, sebelum kedua tangannya mulai mendorong dan memukul Ivander.“Humpt … humpt …!” Emily berontak sekuat tenaga, tapi sia-sia. Ivander terlalu kuat untuk dilawan.Tangan Emily berhasil menyusup di antara tubuhnya dan Ivander. Kepalan tangannya mendorong sekuat tenaga. Pikirannya hanya fokus untuk melepaskan diri dari jeratan gairah Ivander yang nyaris menghanyutkannya.“Hhh … hhh … hhh.” Emily terengah-engah kehabisan napas. Kepalanya menggeleng cepat ketika kepala Ivander kembali mendekat. “Tidak … hentikan,” tolaknya lemah.“Lihat aku!” perintah Ivander yang hanya dijawab gelengan kepala Emily. “Emily, lihat aku.” Nada Ivander melembut.Emily mendongak dengan wajahnya yang basah dan merona karena ciuman Ivander. Mata itu basah oleh air mata.“Kamu menangis? Apa aku menyakitimu?” tanya Ivander sambil mengusap bibir bengkak Emily dengan ibu jariny
Tok tok tok.Pintu kamar terbuka. Jemari Ivander masih melanjutkan aktivitasnya.“HEI …!” bentak Arga menghambur masuk.Emily hendak menurunkan kemejanya, tapi tangan bebas Ivander mencegahnya. “Rahimnya keras. Cepat siapkan USG portable-mu!”“Oke.” Dengan kesal karena Ivander tidak berusaha menghentikan aktivitasnya, Arga membuka koper kecil dan mulai menyiapkan peralatannya. Makin kesal hatinya manakala melihat Emily bersemu merah karena sentuhan itu.“Minggir!” usir Arga dingin.Kalimat Arga tidak serta-merta membuat Ivander beranjak. Ia masih sempat mengambil tisu, membersihkan krim dari perut Emily dan bangkit perlahan. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Emily dan tentu saja, semu merah itu terekam juga olehnya.“Emmy, kamu sedang mengalami kontraksi.” Arga menempelkan jemarinya lembut sebelum menuang gel dingin berwarna biru muda. “Ayo, kita cek dulu.”Layar hitam putih segera berubah begitu probe USG Arga menempel di perut Emily. Arga beberapa kali terdiam dan mengambil tang
“Pagi, Emmy!” sapa pria itu penuh semangat dan senyum cerah.“K-kamu?!” pekik Emily kaget. “Untuk apa kamu di sini?” tanyanya bingung.“Lupa? Dalam rekaman itu, ada kita, tidak hanya kamu.” Ivander menarik kursi kosong di sebelahnya dan menyilakan Emily duduk dengan gerakan dagu.“Karena semua sudah datang, mari kita mulai,” ujar Bayusena membuka pembicaraan resmi. “Hari ini kami berempat diberikan tugas dan wewenang untuk meminta penjelasan atas foto dan video terkait anda berdua. Silakan dewan direksi.”Dua jam lamanya, Emily dan Ivander menjawab berbagai pertanyaan dan menjelaskan banyak tuduhan terkait video dan foto yang beredar di kalangan intern rumah sakit. Mereka keluar dari ruangan beriringan dengan raut wajah yang berbanding terbalik. Emily dengan gurat emosinya, sedangkan Ivander dengan senyum cerianya.Begitu mereka keluar dari pintu ruangan, Hendro sudah berdiri menyambut dengan wajah tegang.“Kita perlu bicara,” ujarnya singkat tanpa ingin dibantah.“Dengan kami?” tanya
Emily kembali ke kamarnya, berbaring menyamping setengah meringkuk—posisi favoritnya ketika membutuhkan perlindungan. Sebuah himpitan terasa menyesakkan dadanya melihat kondisi Soraya nyaris kembali ke tahun-tahun setelah kepergian Amelia. Rumah besarnya kembali sunyi. Meja makan bund
Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarak
Raditya terbakar amarah menyadari sikap istrinya yang mulai berani. Diraihnya kunci mobil di atas meja dan bergegas mencari Emily ke rumah sakit.“Dia pikir, siapa dia? Berani sekali meninggalkan rumah tanpa pamit. Mau sembunyi? Percuma!” oceh Raditya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.Sesampa
Brakk …!Emily melempar pintu ruang kerjanya penuh emosi. Dibanting tubuhnya ke kursi hitam besar yang biasanya selalu diperlakukannya lembut karena itu hadiah dari staf bawahannya di hari pertamanya bekerja. Kepalanya yang berdenyut selaras dengan nadi, ditopang tangannya di atas meja, seolah akan







