Share

Pilihan

Penulis: Olivia
last update Tanggal publikasi: 2025-12-07 12:57:07

Pagi itu, Sevi bangun dengan kepala berat dan hati yang kusut. Ia bahkan tidak ingat kapan tepatnya ia tertidur semalam, entah sebelum atau setelah ia menatap lama notifikasi ponselnya yang menuntut jawaban.

Chat dari Arlan.

Chat dari dokter Alvaro.

Dua pesan dengan bermaksud yang sama… dan sama-sama memengaruhi perasaannya.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap layar ponsel yang masih menyala. Belum ada balasan. Ia belum membalas siapa pun. Hanya membiarkan semuanya menggantung begitu saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos, Jangan di Sini!   Ruang Pemeriksaan

    Menjelang siang, Arlan dan Sevi akhirnya berangkat menuju kantor kepolisian. Perjalanan mereka berlangsung nyaris tanpa percakapan. Arlan lebih banyak memandang ke luar jendela mobil, sementara Sevi membiarkannya tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sesampainya di sana, mereka langsung diarahkan menuju ruang penyidikan.Ternyata Maya, Bagas, dan Dito sudah lebih dulu tiba.Maya melambaikan tangan kecil. "Pak.""Gimana?" tanya Arlan."Baru selesai dimintai keterangan."Bagas mengangguk. "Semua rekaman udah kita serahin. Backup juga aman." Dito menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Pak Jaenul masih di dalam. Katanya habis ini gantian bapak sama Mbak Sevi."Arlan mengangguk pelan. "Oke, thank u guys."\\\Hampir empat puluh menit berikutnya, Arlan dan Sevi bergantian memberikan keterangan. Penyidik meminta mereka menjelaskan kronologi sejak awal.Mulai dari kejanggalan produksi, merubah takaran, rekaman CCTV, hingga penangkapan Pak Jaenul pagi tadi.Arlan menjawab satu per satu dengan tenang.

  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Anak Kecil

    Sudah hampir satu jam berlalu dan pintu ruang kerja Arlan masih tertutup rapat. Kesibukan di luar perlahan kembali seperti biasa. Maya sudah lebih dulu berangkat bersama tim legal untuk mengurus proses pemeriksaan Pak Jaenul. Bagas dan Dito juga sibuk menyiapkan dokumen tambahan yang sewaktu-waktu dibutuhkan.Hanya Sevi yang masih bertahan di depan ruangan itu. Sesekali ia melihat jam di ponselnya, bukan karena tidak sabar, melainkan khawatir.Ia tahu Arlan bukan tipe orang yang mudah menangis. Selama mereka bersama, ia bisa menghitung dengan jari berapa kali lelaki itu benar-benar kehilangan kendali. Dan hari ini adalah salah satunya.Sevi akhirnya berdiri. "Kayaknya aku balik ke ruangan dulu deh," gumamnya pelan.Baru saja ia membalikkan badan. Klik. Pintu ruang kerja terbuka perlahan.Arlan berdiri di sana. Dengan matanya merah dan kelopak matanya bengkak. Terlihat rambutnya sedikit berantakan karena berkali-kali diusap sendiri. Begitu melihat Sevi, ia tidak mengatakan apa-apa. I

  • Bos, Jangan di Sini!   Ayah Kedua

    Setelah Pak Jaenul resmi dibawa keluar gedung, suasana kantor belum juga kembali normal. Beberapa karyawan masih berbisik membicarakan apa yang baru saja terjadi. Tim legal mulai menyusun berita acara, sementara Maya, Bagas, dan Dito sibuk memastikan seluruh rekaman disimpan dengan aman. Di tengah kesibukan itu, Arlan hanya berkata pelan,"Aku mau sendiri dulu."Sevi yang berdiri di sampingnya sempat hendak mengikuti, tetapi langkahnya terhenti. "Lan..."Arlan tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. "Nggak apa-apa, sayang. Aku cuma butuh waktu bentar."Sevi mengangguk pelan. "Oke, kalau butuh apa-apa aku di luar ya."Tanpa banyak kata, Arlan masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu dari dalam.\\\Ruangan itu mendadak terasa begitu luas dan sunyi. Yang terdengar hanya dengungan pendingin ruangan dan suara kendaraan samar dari luar gedung.Arlan berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah belum tahu harus melakukan apa. Pandangannya perlahan menyapu seluruh isi ruangan.Meja kerja, r

  • Bos, Jangan di Sini!   Kata Terakhir Pak Jaenul

    Senin pagi datang lebih cepat dari biasanya. Sejak pukul tujuh, Arlan sudah berada di ruang kerjanya. Tidak hanya dirinya, Sevi, Maya, Bagas, Dito, tim legal perusahaan, bagian HR, serta dua orang dari pihak berwenang yang sebelumnya telah dihubungi juga sudah berada di gedung. Mereka datang dengan pakaian biasa agar tidak menarik perhatian. Semuanya sudah ditata sejak malam, tidak ada lagi ruang untuk kesalahan. Arlan berdiri di depan jendela ruangannya, dengan tatapannya mengarah ke halaman parkir."Udah masuk?"Dito melihat layar CCTV. "Belum, Pak."Beberapa detik kemudian... "Itu, mobilnya."Semua orang spontan melihat monitor. Mobil Pak Jaenul perlahan memasuki area parkir seperti hari-hari biasa. Ia turun dengan wajah tenang, menyapa beberapa karyawan yang berpapasan. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya sedang diawasi.Arlan menarik napas panjang. "Oke, ayo."\\\Pukul delapan tepat, Pak Jaenul menerima pesan dari sekretaris untuk menghadiri rapat mendadak di ruang utama.

  • Bos, Jangan di Sini!   Tahan, Lan.

    Pak Jaenul baru meninggalkan area produksi menjelang sore. Begitu mobilnya keluar dari gerbang pabrik, Dito mengembuskan napas panjang."Akhirnya kelar juga."Bagas yang masih memegang kamera segera mematikan mode perekaman."Udah cukup ini, video lengkap. Mukanya juga jelas."Maya mengangguk sambil kembali mengecek hasil rekaman. "Jangan sampai ada yang hilang. Backup sekarang ya gas."Tanpa menunggu lama, seluruh rekaman langsung dipindahkan ke dua perangkat berbeda. Maya bahkan mengunggah salinannya ke penyimpanan daring yang hanya bisa diakses oleh dirinya dan Arlan."Kalau kenapa-kenapa sama satu file, masih ada cadangan."Dito mengangguk. "Bagus, nggak boleh selip ini mah."Tak lama kemudian ponsel Maya bergetar, itu pesan dari Arlan."Langsung ke ruanganku. Jangan ngobrol di luar."\\\Beberapa puluh menit kemudian, keempat orang itu sudah berkumpul di ruang kerja Arlan. Pintu ditutup rapat, pun tirai jendela ikut ditarik.Arlan berdiri di depan meja kerjanya dengan kedua tanga

  • Bos, Jangan di Sini!   Mengubah Takaran

    Minggu siang biasanya menjadi waktu paling lengang di area produksi. Sebagian besar mesin tetap beroperasi, tetapi hanya ditangani oleh tim yang mendapat giliran shift.Lorong-lorong pabrik terlihat lebih sepi dibanding hari kerja. Suara mesin pengolah susu justru terdengar lebih jelas karena minimnya aktivitas para karyawan.Di sisi lain gedung, Maya, Bagas, dan Dito masih menjalankan tugas yang diberikan Arlan. Mereka bergantian mengawasi agar tidak menarik perhatian."Masih di dalam?" bisik Bagas.Dito mengangguk. "Belum keluar, malah masuk lebih dalem."Maya mengangkat kamera kecil yang sedari tadi ia gunakan. "Jangan terlalu deket, aku takut ada CCTV yang ngerekam kita.""Tenang, ini masih jarak aman."Ketiganya berpencar beberapa meter agar tidak terlihat bergerombol. Tak lama kemudian... Pak Jaenul muncul di balik pintu ruang produksi.Pria itu mengenakan jas laboratorium putih lengkap dengan masker dan penutup kepala seperti prosedur standar di area steril. Namun yang membuat

  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Bersama

    Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Overthinking

    Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Belalai

    Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status