Share

Perubahan Rencana

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 11:12:40

Suasana rumah mewah itu sudah sangat sepi malam ini, menyisakan gemercik air kolam renang di halaman belakang setelah Juned dan Ratna menyelesaikan makan malam mereka. Juned baru saja hendak melangkah menuju teras belakang untuk merokok, ketika langkahnya terhenti oleh suara Ratna yang memanggil dari ujung koridor lantai bawah.

"Ned! Sini sebentar, ikut aku," panggil Ratna sambil melambaikan tangan di depan sebuah pintu kayu jati yang besar.

Juned memutar langkahnya, berjalan menghampiri Ratna
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kenikmatan Yang Menegangkan

    Nayla dengan cepat menempelkan satu jari telunjuknya di depan bibir Juned seraya menatapnya tajam. "Diem, Mas..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar. Juned membeku di tempat, mematung dengan jantung yang berdegup kencang di balik dadanya. "Iya, Bu... bentar, aku mules banget ini..." sahut Nayla sedikit mengeraskan suara, berpura-pura meringis di balik pintu. Dari luar, suara Ibu terdengar mereda. "Oh, ya udah. Ibu mau ke pasar sekalian ke warung Mbok Nem dulu, mau pesan nasi uduk buat sarapan Mas-mu sekalian Mbak-mu juga." "Iya, Bu... aku juga ya, mau..." balas Nayla cepat seraya melirik Juned dengan senyum nakal. "Ya udah, nanti jam setengah enam bangunin Mbak-mu, ya." "Iya, Bu..." sahut Nayla mantap. Langkah kaki Ibu perlahan terdengar menjauh meninggalkan area depan kamar mandi, meninggalkan Juned yang akhirnya bisa bernapas lega walau ketegangan di antara mereka berdua justru makin terasa."Udah, sana keluar, Nay," bisik Juned cepat, tangannya memegang bahu Nayla.

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kegilaan Di Pagi Hari

    Suara jangkrik di luar mulai surut digantikan sepoi angin dingin menjelang fajar. Juned tersentak pelan dari tidurnya, merasakan sensasi hangat, basah, dan geli yang mendesak di area bawah perutnya. Juned mengangkat kepalanya sedikit dari bantal, melongok ke bawah selimut. Di sana, Desi tampak sibuk menunduk, mengulum penuh kehangatan kejantanan sang suami yang sudah memegang teguh. "Ngapain, Des? Udah jam berapa ini?" gumam Juned dengan suara serak khas bangun tidur, mengusap matanya yang masih berat. Desi mendongak perlahan, melepaskan sejenak gejolak di bibirnya seraya menatap Juned dengan binar mata sayu nan manja. "Masih jam empat subuh, Mas..." bisik Desi lembut, menyapu bibirnya yang basah. "Aku udah lama banget enggak main sama punya kamu yang ini, Mas..." Juned tak bisa menahan senyum tipisnya. Tangan prianya merayap lembut ke kepala Desi, jemarinya menyelusup di antara helai rambut sang istri, lalu perlahan mengarahkan dan membantu gerakan kepala Desi maju mundur menikm

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pelepas Rindu

    Juned mengelus pelan lengan Desi yang masih menyandar di bahunya, menikmati sepoi angin malam yang makin dingin bertiup di teras. "Gimana kandungan kamu, Des? Kan udah jalan sebulan nih..." tanya Juned lembut, mengusap bahu istrinya dengan penuh perhatian. "Ada ngerasa keluhan apa gitu enggak? Mual, pusing, atau ngidam apa gitu?" Desi mendongak sedikit, menatap wajah Juned dari samping seraya menyunggingkan senyum tipis. "Ya namanya juga baru sebulan, Mas... belum terlalu terasa aneh-aneh banget kok. Belum ada mual yang parah juga." Pria itu memiringkan tubuhnya, menatap penuh rasa penasaran. "Beneran enggak ada yang dirasain sama sekali?" "Enggak ada, cuma ya... entah kenapa belakangan ini bawaannya suka malas banget aja ngapa-ngapain," sahut Desi pelan, mengerucutkan bibirnya manja. "Mau gerak dikit aja rasanya mager banget." Juned seketika terkekeh pelan, melirik gemas ke arah sang istri yang tampak bersandar pasrah. "Yee... itu mah emang dasarnya kamunya aja yang malas d

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kehangatan.

    Di meja makan, uap dari hidangan sayur lodeh dan ikan goreng buatan Ibu masih mengepul hangat. Juned, Desi, Nayla, dan Ibu duduk mengelilingi meja, menyantap makan malam bersama dalam suasana santai. ​Ibu meletakkan sendoknya sejenak, lalu menatap Nayla penuh kasih sayang. "Nayla, ntar kalau udah sampai di kota, pinter-pinter bawa diri ya, Nak. Jangan kelayapan kalau enggak ada urusan penting." ​Nayla yang sedang mengunyah langsung mengangguk cepat. "Iya, Bu... Nayla bakal inget terus pesen Ibu sama Mbak Desi." ​Desi menyikut lengan adiknya pelan seraya tersenyum. "Awas aja kalau nakal, Mbak suruh Mas Juned jewer kamu di sana." ​"Sama kerjaan kamu gimana, Ned?" tanya Ibu beralih menatap Juned. "Lancar-lancar aja kan di rumah Bu Ratna?" ​Juned tersenyum tipis, merespons pertanyaan mertuanya dengan tenang. "Alhamdulillah lancar kok, Bu. Semuanya aman-aman aja." ​Di balik senyum dan jawaban santainya, pikiran Juned mendadak terlempar pada sosok Andre yang belakangan ini sering data

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kerinduan

    Juned melirik sekilas ke arah samping, lalu kembali fokus menyetir. "Itu permintaan beliau sendiri, Nay. Dia enggak mau dipanggil ibu atau nyonya sama Mas, risih katanya. Kecuali kalau lagi di kantor atau ada orang lain, baru Mas manggil Bu." Nayla mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan itu. "Oh, gitu..." Gadis itu terdiam sejenak, lalu melirik Juned dengan senyum penuh selidik. "Kirain Mas Juned sama Bu Ratna ada hubungan spesial." Juned mengerjap kaget, sedikit menoleh bingung. "Spesial gimana maksudnya?" "Ya mana tahu... mungkin kayak aku sama Mas ini," ucap Nayla santai seraya menubrukan tubuhnya merangkul erat lengan kanan Juned yang sedang memegang setir. Juned seketika terkekeh pelan mendengar celotehan polos itu, mengacak singkat rambut Nayla dengan tangan kirinya. "Ada-ada aja kamu," ujar Juned seraya menggelengkan kepala, lalu mengarahkan pandangannya ke papan petunjuk jalan di depan. "Nanti sebelum masuk tol, kita mampir jajan dulu ya buat cemilan di jalan." Ro

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pesan Untuk Adik Ipar

    Juned menekan ikon telepon pada layar ponselnya, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya. Baru dua kali nada sambung terdengar, suara Desi sudah menyambut dari ujung seberang dengan nada sarat akan rasa penasaran. "Mas, aku mau nanya deh... kok tiba-tiba banget Nayla disuruh tinggal di rumah majikan Mas Juned?" cecar Desi tanpa basa-basi. "Pake acara bantu-bantu urus rumah segala lagi di sana, ceritanya gimana sih?" Juned menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menghembuskan napas tenang agar suaranya terdengar meyakinkan. "Jadi gini, Des... tadi pagi pas Nayla lagi bikin sarapan di dapur, kebetulan majikan Mas pulang. Dia nyobain masakan Nayla dan ternyata cocok banget di lidahnya." Pria itu memijat pelipisnya pelan seraya melirik ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit. "Terus pas ngeliat rumah udah rapi dan Nayla-nya rajin banget, majikan Mas langsung nawarin dia kerja di sini. Malah katanya kalau kerjanya bagus, Nayla mau dibeliin motor nanti buat operasional." Des

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status