MasukDiperbudak dan diracun oleh suaminya sendiri, Keeva Nayanika akhirnya berhasil bangkit. Setelah bercerai, Keeva menjalani pernikahan kontrak dengan Aldrich demi menyelamatkan mahakarya AI kelas dunia yang ia kembangkan bersama mendiang ayahnya. Ketika identitasnya terungkap, mantan suami membujuknya. “Keeva, balikan yuk!” Keeva menatapnya jijik. “Sori, kamu siapa?” Muncul lelaki tampan dari belakang mereka, menggendong bayi mungil yang lucu. “Sayang, anak kita mau nyusu.”
Lihat lebih banyak“Bu Keeva, Anda sudah sadar?” tegur salah seorang perawat wanita dengan tatapan iba.
Kali ini sudah keempat kalinya dia yang kebetulan merawat Keeva untuk alasan tragis yang sama, yaitu keguguran.
Keeva terbangun dengan napas memburu hebat.
Beberapa detik terdiam, Keeva mengedarkan pandangan. ‘Rumah sakit?’ gumamnya.
Barulah ia ingat kalau dirinya baru saja menjalani operasi kuretase. Karena janin dalam rahimnya tidak berkembang.
Tanpa bisa dicegah, badan Keeva gemetar. Ia mengusap perutnya yang kini hampa, tidak ada lagi kehidupan di dalamnya.
Ruangan jadi terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tubuhnya menggigil walau sudah meringkuk di bawah selimut. Rasa bersalah perlahan datang menyergap dadanya. Membuat kecemasan Keeva kian membesar.
“Argh!” Keeva meringis, menggunakan tangan yang gemetar dia jambak rambutnya sendiri.
Bayangan janin yang ada di dalam rahimnya, yang Keeva tunggu-tunggu penuh harap selama berbulan-bulan harus kembali lenyap.
Bahkan ia belum sempat memberitahu sang suami tentang kehamilannya. Keeva berencana ingin memberitahu kehamilannya sebagai kejutan di hari ulang tahun Aditya, yang bertepatan hari ini juga.
‘Janin anda tidak berkembang.’
‘Harus segera dilakukan operasi untuk mengeluarkannya.’
‘Mungkin ini kesempatan terakhir anda bisa hamil.’
Suara dokter yang beberapa saat lalu ia dengar sembari menahan sakit luar biasa di perutnya, kembali terngiang. Tangan yang semula menjambak rambut, turun untuk menutup telinga. Pandangannya mengabur. Ruangan yang didominasi warna putih kini tampak gelap semua.
Keeva ingin menjerit, tapi suaranya tercekat. Perempuan itu hanya bisa diam, menggigit bibirnya kuat-kuat. Sampai akhirnya semua kalimat dokter yang memenuhi kepalanya perlahan menghilang dan Keeva berangsur tenang dibantu oleh perawat yang sedari tadi berinisiatif mengusap-usap punggungnya.
“Ibu perlu sesuatu? Biar saya bantu ambilkan atau belikan,” tawar perawat itu lagi.
“Nggak usah, sus. Makasih. Tinggalin saya sendiri aja. Nanti kalau butuh saya panggil lagi.” Keeva memaksakan senyum pada perawat di sampingnya.
Miris sekali, harusnya yang berkata seperti tadi adalah suaminya bukan orang lain yang bahkan tidak mengenalnya.
Perawat wanita tersebut pamit keluar ruangan.
Keeva kembali menunduk menyentuh perut ratanya yang terhalang baju pasien. Air matanya menetes begitu saja. Namun, buru-buru ia mengusapnya karena terdengar suara pintu diketuk kemudian disusul kemunculan seorang Dokter laki-laki.
Terlihat jelas wajah dokter tersebut cukup tegang. Tangannya memegang sebuah map laporan lab yang ia remas sedikit bagian ujungnya.
“Ibu Keeva,” sapanya ramah. “Ada sesuatu yang harus saya sampaikan,” Dokter yang menangani program hamil Keeva tersebut menjeda sejenak.
Keeva sempat kaget, tetapi ia kembali menegakan badan, mencoba tersenyum tenang.
“Ada apa, Dok? ” kata Keeva.
Dokter pria itu menghela napas, matanya menatap Keeva dengan simpati yang mendalam.
“Sebelumnya mohon maaf kalau apa yang akan saya sampaikan ini membuat bu Keeva tidak nyaman. Tapi, ini demi kebaikan dan kesehatan bu Keeva kedepannya.”
Tangan sang dokter terulur ragu memberikan map tersebut. “Kami menemukan kadar zat LSD yang cukup tinggi dalam tubuh anda. Saya harus mengkonfirmasi dulu, apa anda sengaja mengkonsumsinya?”
Mendengar itu, Keeva seketika lupa caranya bernapas. Hatinya mencelos. Zat tersebut bukan hal asing di telinganya. Namun, bagaimana mungkin ada di dalam tubuhnya?
“LSD?! Dokter tidak salah diagnosa? Siapa tahu tertukar?” tanya Keeva memastikan.
Dokter menggeleng. “Dosisnya cukup besar, apa anda rutin mengkonsumsi obat-obatan tertentu? Atau, merasakan sesuatu yang aneh dalam diri anda?”
“Nggak, Dok. Apa itu juga yang membuat saya terus mengalami keguguran?” tebak Keeva.
Dengan berat hati Dokter Hendra mengangguk. “Betul, Bu. Dari semua rangkaian test yang kami lakukan, tidak ada kondisi tertentu dalam tubuh Bu Keeva yang menjadi penyebab keguguran itu kecuali adanya kandungan LSD yang berlebih.”
Dunia Keeva seketika runtuh. Ingatannya melayang pada obat-obatan yang ia konsumsi beberapa tahun ini. Tidak ada yang aneh dari obat itu, semua dari dokter resmi. Aditya yang memastikan itu semua.
Selama ini dia juga sangat menjaga kesehatannya, jauh dari alkohol apalagi narkotika.
“Apa mungkin obat itu ada hubungannya?” lirih Keeva sendirian.
Melihat Keeva terdiam larut dalam pikirannya sendiri, Dokter berhenti mengintrogasinya. Tidak ingin membuat Keeva makin tertekan.
Belum selesai rasa nyeri hebat yang menyerang perutnya sisa-sisa operasi, kini bertumpuk dengan perih yang berkali lipat rasanya. Tubuh ringkih Keeva terbaring telentang, menatap nanar langit-langit bangsal yang putih bersih di atas sana.
Beberapa jam lalu, ia masih sangat menantikan ponselnya berdering, berharap balasan dari sang suami. Sekarang, ponsel itu ia simpan di bawah bantal dan Keeva belum berniat untuk menghubunginya.
Keeva tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada suaminya nanti. Ditambah lagi berbagai prasangka muncul dalam benaknya, hingga membuat kesadarannya kembali terenggut.
***
Harusnya hari ini mereka berdua sedang makan malam bersama merayakan ulangtahun Aditya. Keeva sudah merencanakan semuanya, tapi Yang Kuasa menunjukan jalan lain untuknya.
Pagi ini Keeva berdiri kaku sendirian di tengah hamparan pemakaman yang begitu luas. Langit di atas pemakaman dipenuhi awan mendung, gerimis pun mulai turun rintik-rintik.
“Semua sudah siap, Bu. Masih ada yang ditunggu?” tanya salah seorang petugas makam.
“Sepuluh menit lagi, pak,” pinta Keeva.
Ia kembali mengecek ponselnya. Belum ada balasan pesan dari Aditya, pun dengan panggilan yang ia lakukan. Tak ada satupun yang di respon.
Keeva masih menunduk dalam-dalam, hatinya tersayat menatap kotak kayu mungil dan batu nisan di hadapannya. Tidak ada sanak saudara, kerabat atau rekan yang menemaninya di sana.
Dia tidak memilikinya. Hanya Aditya yang dia punya, yang seharusnya membantunya tetap tegar menghadapi kehilangan ini. Namun, justru Aditya lah sumber segala rasa sakitnya sekarang.
Di tengah lamunannya, ponsel Keeva bergetar. Ia buru-buru membukanya berharap itu Aditya.
‘Aditya tidak akan pulang hari ini. Berhenti mengganggunya! Dia sedang menikmati hadiah ulangtahun dariku.’
Pesan tersebut dilanjut dengan kiriman sebuah foto yang menunjukan punggung seorang pria telungkup di atas kasur. Tentu Keeva mengenali tanda lahir di dekat tulang belikat pria itu adalah milik Aditya.
Tangan Keeva bergetar, irama detak jantungnya menjadi liar seolah menolak memahami kenyataan yang terpampang jelas di matanya. Pria itu sedang berpesta di atas kematian darah dagingnya sendiri.
Keeva terdiam membisu. Ia mencoba menghirup udara sebanyak mungkin saat rasa sesak makin menghimpit dadanya.
“Selesaikan sekarang saja, Pak,” ucap Keeva pada petugas makam.
Peti kecil itu pelan-pelan terkubur sepenuhnya. Keeva berlutut, menyematkan buket bunga Lily di atasnya.
“Sampai bertemu di surga nanti, Sayang. Selamat bertemu kakak-kakakmu yang lain di sana.”
Sambil menekan telapak tangannya ke atas tanah, bahunya bergetar, menahan jerit yang meledak dalam dirinya.
Keeva ingin mengutuk takdir yang begitu tidak adil padanya. Namun, pada akhirnya ia hanya bisa tertunduk pasrah. Duka itu sudah ia kubur dalam-dalam bersama peti kecil tadi.
Mendadak Dunia terasa berputar. Keeva menggelengkan kepalanya untuk meraih kesadaran, tetapi pandangannya makin kabur dan tubuhnya limbung seketika..
.
.
...Drrtttt!Getar ponsel di saku Aldrich memecah semuanya. Mata Keeva langsung terbuka. Sementara Aldrich memejamkan mata lebih kencang dari sebelumnya hingga beberapa detik. Seakan tengah menahan sesuatu.Getaran ponsel itu kembali terdengar. Makin lama makin sengaja menghancurkan momen mereka.Dengan rahang mengeras, Aldrich merogoh ponselnya lalu menjauhkan diri dengan tidak rela.Tatapannya jatuh pada layar ponsel. Dalam sekejap raut bahagia dan rona merah di wajahnya lenyap begitu saja. keeva ikut melirik ke arah layar. Nama yang tertera di sana membuat dadanya mencelos.Sania is Calling ….Sedikit saja, Keeva berharap Aldrich tidak merusak hadiahnya dengan mengangkat panggilan itu.Detik demi detik berlalu begitu lambat. Keeva tak berharap banyak lagi, ia cukup sadar diri untuk segera menjaga jarak dari suaminya untuk urusan ini.“Bentar, yaa?” ucap Aldrich, mengusap lengan Keeva tanpa menghiraukan perubahan raut wajah istrinya.Keeva melengos, menyeret kakinya untuk menghamp
...Drrtttt!Getar ponsel di saku Aldrich memecah semuanya. Mata Keeva langsung terbuka. Sementara Aldrich memejamkan mata lebih kencang dari sebelumnya hingga beberapa detik. Seakan tengah menahan sesuatu.Getaran ponsel itu kembali terdengar. Makin lama makin sengaja menghancurkan momen mereka.Dengan rahang mengeras, Aldrich merogoh ponselnya lalu menjauhkan diri dengan tidak rela.Tatapannya jatuh pada layar ponsel. Dalam sekejap raut bahagia dan rona merah di wajahnya lenyap begitu saja. keeva ikut melirik ke arah layar. Nama yang tertera di sana membuat dadanya mencelos.Sania is Calling ….Sedikit saja, Keeva berharap Aldrich tidak merusak hadiahnya dengan mengangkat panggilan itu.Detik demi detik berlalu begitu lambat. Keeva tak berharap banyak lagi, ia cukup sadar diri untuk segera menjaga jarak dari suaminya untuk urusan ini.“Bentar, yaa?” ucap Aldrich, mengusap lengan Keeva tanpa menghiraukan perubahan raut wajah istrinya.Keeva melengos, menyeret kakinya untuk menghamp
...Sudah hampir setengah jam Keeva bermain ombak dan berlarian kecil di tepi pantai. Kadang mengejar ombak, kadang menendangnya dan berlarian menghindarinya.Dan selama itu pula Aldrich hanya bisa mengikuti dari belakang seperti pengawal pribadi.“Keeva,” panggilnya.“Hm.”“Kamu nggak capek?” Aldrich mengalah, menghampiri Keeva yang sedang berbaring di atas pasir.“Nggak. Emangnya kamu, lari doang nggak kuat.” jawabnya ketus.Aldrich memejamkan matanya, meraup udara sekitar dengan rakus. Dia bukan nggak kuat lari, tapi dia hanya tidak tahu cara menemani istrinya bermain.“Ok, aku temenin sekarang. Aku harus ngapain?” tanya Aldrich akhirnya. Dia tidak ingin merusak mood istrinya.Keeva menyipitkan mata, menatap Aldrich dengan tatapan menantang yang tiba-tiba muncul. “Aku laper,” kata Keeva.“Oke, kita cari makan.” “Gimana, kalau kamu gendong aku sambil cari makan?” usul keeva, jahil.“Oke! Silakan tuan puteri.” Aldrich segera memposisikan punggung untuk menggendong Tuan Puterinya.
...Keeva tertegun. Ancaman halus Aldrich tentang mengumumkan status mereka di depan public sukses membuat lidahnya mendadak kelu. Pria itu selalu tahu bagaimana cara membungkam kekhawatirannya dengan cara yang seolah memojokan istrinya.Melihat Keeva hanya bisa berkedip pasrah, sebuah senyuman tipis menghiasi wajah tampan Aldrich. Senyum yang selalu bisa menawan hati Keeva sedari awal ia melihatnya. Dan, Keeva tidak akan pernah rela Aldrich memberikan senyum semanis itu pada orang lain.“Turunlah, yang kamu khawatirin itu cuma ada di kepala kamu, Keeva.” Aldrich menyentil pelan dahi istrinya sebelum membuka sabuk pengamannya.Ia sendiri keluar lebih dulu dari dalam mobil. Memutari mobil ke sisi penumpang. Ia membungkukan badanya untuk sejajar dengan Keeva.“Kamu nggak percaya sama aku? Hm,” tanya Aldrich pelan. Sangat lembut, sampai Keeva tak bisa lagi untuk ragu padanya.Keeva menurut, melangkah turun dengan ragu.“Mau aku gendong? Biar bisa ngumpet di balik punggung aku?” tawar A
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan