MasukBab 109. Padang Seratus JebakanPerdebatan di antara para gadis masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan berakhir. Yue Qing’er tetap bersikeras ingin bergabung, Han Yue terus mengajukan alasan yang sulit dibantah, Su Lian berusaha menjadi penengah, sementara Mu Xueyan sama sekali tidak bergeming dari pendiriannya. Gu Chen yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa mengusap wajahnya berulang kali, sedangkan Tian Fan akhirnya berdiri perlahan lalu melangkah ke tengah lingkaran mereka.Ia mengangkat satu tangan sebagai isyarat agar semua berhenti, lalu berkata dengan nada tenang, “Cukup. Kalau terus seperti ini, kita mungkin akan menghabiskan satu hari penuh hanya untuk berdebat di tepi sungai.”Keempat gadis itu akhirnya terdiam dan menoleh kepadanya.Tian Fan memandang Yue Qing’er, Han Yue, dan Su Lian bergantian sebelum berkata, “Kalian boleh bergabung.”Kalimat sederhana itu langsung membuat wajah ketiga gadis Sekte Bulan berubah cerah. Yue Qing’er bahkan tampak hampir melangkah maju,
Bab 108. Mereka yang Datang dari Retakan RuangSetelah tawa yang sempat menghangatkan suasana di tepian Sungai Cermin perlahan mereda, pembahasan mengenai aroma kacang akhirnya benar-benar ditinggalkan. Keenam orang itu duduk melingkar di atas hamparan rumput yang tidak jauh dari tepi sungai, sementara angin lembah bertiup perlahan membawa aroma air dan ilalang yang bergoyang tenang.Tian Fan memandang Yue Qing’er, Han Yue, dan Su Lian bergantian sebelum berkata dengan nada santai namun lebih serius.“Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Retakan ruang tadi jelas bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan.”Yue Qing’er mengangguk pelan, lalu menatap kedua rekannya sejenak sebelum mulai berbicara. “Sebenarnya sejak awal kami bertiga bergerak bersama kelompok Pangeran Shui Feng dan Tang Bohu. Mereka mengaku memiliki petunjuk mengenai makam kuno ini, sehingga cukup banyak cultivator yang memilih mengikuti mereka.”Han Yue melanjutkan penjelasan itu dengan nada yan
Bab 107. Membahas kacang.Suasana di tepian Sungai Cermin berubah menjadi sangat aneh. Tidak lama setelah gelombang retakan ruang mereda, Tian Fan dan Gu Chen akhirnya duduk berdampingan di atas tanah dengan posisi seperti sedang berlutut, sementara di hadapan mereka Mu Xueyan duduk bersama tiga gadis dari Sekte Bulan. Keempat gadis itu duduk berjajar dengan posisi yang hampir sama, menatap Tian Fan dan Gu Chen dengan sorot mata tajam yang masih dipenuhi rasa kesal akibat kejadian memalukan beberapa saat lalu.Tian Fan mengusap pelipisnya pelan lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. “Kenapa kalian masih menatap kami seperti itu? Lalu kenapa kami harus duduk seperti ini? Bukankah kejadian tadi murni kecelakaan? Kalau terus dipandangi begini, orang yang tidak tahu bisa mengira kami berdua telah melakukan kejahatan besar pada kalian.” Gu Chen yang duduk di sampingnya segera mengangguk cepat seolah menemukan sekutu. “Benar sekali. Aku bahkan tidak melakukan apa-a
Bab 106. Kacang.Sama seperti fenomena magis yang sebelumnya terjadi di Hutan Seribu Ilusi pada Lin Yuer, kubah formasi kekkai yang melingkupi area pertarungan kini perlahan menyamarkan dan membiaskan keberadaan Jian Mu dari alam nyata. Hanya dalam beberapa tarikan napas, aura pedang yang tajam beserta sosok tubuhnya benar-benar lenyap dari pandangan, membuat Tian Fan, Mu Xueyan, dan Gu Chen tak lagi mampu menangkap keberadaannya maupun struktur rumit dari formasi tersebut. Mu Xueyan yang menyaksikan raibnya Jian Mu mendadak diliputi rasa cemas. Ia menoleh dengan raut khawatir lalu bertanya." Saudara Tian Fan, apa yang sebenarnya akan terjadi pada Jian Mu di dalam sana? Apakah bayangan itu akan benar-benar membunuhnya jika ia lengah?" Tian Fan menghentikan pandangannya pada riak air sungai yang perlahan memudar, lalu membalas dengan nada yang amat tenang. "Sama seperti yang terjadi pada Lin Yuer sebelumnya yang menerima warisan, ia akan bertarung melampaui batas dirinya di
Bab 105. Lembah Neraka?Petunjuk yang diberikan Tian Fan bagaikan cahaya yang menembus kabut. Jian Mu, Mu Xueyan, dan Gu Chen tidak lagi berusaha mengalahkan bayangan mereka dengan cara lama. Mereka mulai memaksa diri keluar dari kebiasaan yang selama ini menjadi fondasi teknik masing-masing.Jian Mu perlahan mengubah ritme ayunan pedangnya. Tebasan yang biasanya lurus kini tiba-tiba berhenti di tengah jalan sebelum berubah menjadi tusukan dari sudut yang sama sekali berbeda. Gerakan itu bahkan terasa asing baginya sendiri. Bayangan di hadapannya sempat mengikuti pola lama, lalu terlambat sepersekian tarikan napas. Kesempatan kecil itu langsung dimanfaatkan Jian Mu untuk memaksa lawannya mundur.Di sisi lain, Mu Xueyan tidak lagi membiarkan tarian pedangnya mengalir mengikuti naluri yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Ia sengaja memutus irama setiap beberapa jurus, kemudian menyambungnya dengan teknik yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Bayangan di depannya beberapa kali
Bab 104. Pikiran sang jenius. Tian Fan tidak segera mendekati tepian sungai. Ia berdiri sekitar belasan meter di belakang ketiga rekannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sementara tatapannya tenang mengamati setiap perubahan yang terjadi di permukaan air. Ia sama sekali tidak terlihat terburu-buru. Dibandingkan mencoba melewati ujian, yang jauh lebih menarik baginya adalah memahami prinsip di balik ujian itu sendiri. Di tengah sungai, Jian Mu telah berhadapan dengan sosok yang benar-benar menyerupai dirinya. Tinggi badan, wajah, pakaian, bahkan bekas luka kecil di sudut alis pun tidak berbeda sedikit pun. Yang paling menggetarkan adalah aura yang dipancarkan bayangan itu. Kekuatan Qi, tekanan pedang, hingga niat bertarungnya benar-benar identik. Jian Mu mengayunkan pedangnya lebih dulu. Cahaya pedang melesat bagaikan bulan sabit yang membelah udara. Namun hampir pada saat yang sama, bayangannya melakukan gerakan yang persis sama. Dua cahaya pedang bertabrakan
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca







