MasukVio merasakan matanya panas. Bukan karena rasa perih di pipinya yang mulai membiru, tapi karena cengkeraman tangan Kael di pergelangan tangannya terasa begitu dingin. Pria yang tadi pagi bersikap seolah ingin menjaga dan melindunginya, kini justru berdiri menjadi tameng bagi wanita yang baru saja merendahkannya.
“Kael, dia malah menamparku,” bisik Vio dengan suara bergetar. Wanita itu, yang belakangan diketahui bernama Shena, langsung bergelayut di lengan Kael dengan manja. “Sayang, lihat! Sekretaris barumu ini sangat tidak sopan. Dia mengancam mau panggil security! Aku hanya memberinya sedikit pelajaran.” Kael tidak menatap Shena. Matanya tetap terkunci pada wajah Vio yang memerah. “Masuk ke ruangan, Violleta. Sekarang.” “Tapi dia—” “Masuk!” bentak Kael pendek. Vio melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Kael. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke ruang kerja adik angkatnya itu, membanting pintu kaca hingga bergetar. Di dalam, ia hanya bisa terduduk lemas, melihat dari balik kaca bagaimana Kael berbicara dengan wanita itu. Vio merasa bodoh. Tentu saja sangat mungkin bagi Kael untuk memiliki kekasih atau tunangan. Kael pria sempurna, sedangkan Vio? Bagi dirinya sendiri ia hanya kakak angkat yang pemalas dan tidak berguna. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Kael masuk sendirian dan Shena ternyata sudah tidak ada. Vio berdiri, bersiap untuk meledak. “Kalau dia tunanganmu, kenapa kamu minta aku jadi sekretaris? Biar aku bisa menonton kemesraan kalian? Kamu jahat, Kael!” Kael menutup pintu, menguncinya dengan suara yang pelan, tetapi terdengar sedikit mengancam. Ia berjalan mendekat, menyudutkan Vio hingga punggung wanita itu menempel pada meja jati besar. “Aku menahan tanganmu bukan karena membelanya, Kak,” ucap Kael rendah. Ia mengambil tangan Vio yang tadi hendak menampar, lalu mengecup telapak tangan itu perlahan. Vio terpaku. “Lalu kenapa?” “Karena aku tidak suka kamu menyentuh sampah seperti dia. Dia terlalu kotor, dan aku tidak mau kulitmu bersentuhan dengan kulitnya.” Kael mendongak, tatapannya kini berubah gelap dan penuh obsesi. “Dan soal tunangan, dia hanya pion bisnis Papa. Aku tidak pernah menganggapnya ada.” Kael mengusap pipi Vio yang memerah akibat tamparan tadi dengan jempolnya yang kasar, tetapi lembut. “Siapa pun yang menyentuh milikku, akan menerima pembalasan yang lebih kejam. Tapi untuk sekarang…” Kael menunduk, napasnya terasa panas di permukaan kulit pipi Vio yang sakit. “Biarkan aku mengobati bagian yang luka ini, Kak.” Vio masih terpaku, napasnya tertahan saat merasakan ibu jari Kael mengusap lembut pipinya yang berdenyut. Kebenciannya pada Shena seolah menguap, digantikan oleh debaran jantung yang begitu keras hingga ia takut Kael bisa mendengarnya. “Kael, lepas! ini di kantor,” protes Vio, meski tubuhnya sama sekali tidak menolak saat Kael menariknya untuk duduk di atas meja jati yang dingin. Kael tidak menggubris. Ia mengambil kompres es kecil dari kulkas mini di sudut ruangannya. Ia berdiri di antara kedua kaki Vio, membuat posisi mereka sangat intim. Vio reflek mencengkeram pinggiran meja, tangannya gemetar. Ia merasa heran, padahal dulu mereka sering melakukan sentuhan yang lebih dari ini, bahkan berpelukan dan saling mencium sama sekali bukan hal yang canggung, tapi mengapa sekarang respon tubuhnya jadi begini? “Sakit?” bisik Kael sambil menempelkan kompres itu ke pipi Vio. “Sedikit,” jawab Vio lugu sambil menatap leher Kael yang kokoh, tepat di depan matanya. Ia bisa melihat jakun pria itu bergerak naik turun. “Lain kali, jangan pernah membalas dengan tangan Kakak sendiri,” ucap Kael, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. “Katakan padaku, dan aku akan menghancurkannya untukmu. Tangan halus Kakak ini tidak diciptakan untuk menyentuh wajah jalang seperti dia.” Vio menelan ludah. “Tapi dia bilang dia tunanganmu, Kael. Papa dan Mama—” “Papa dan Mama hanya bicara soal kerja sama bisnis, Kak. Tidak ada pertunangan jika aku tidak setuju.” Kael menjauhkan kompres es itu, lalu wajahnya mendekat. “Kenapa? Kakak cemburu?” “Nggak! Siapa juga yang cemburu!” bantah Vio cepat, tetapi wajahnya yang semakin memerah tidak bisa berbohong. Kael menyeringai tipis. Ia meletakkan kompres es di meja, lalu kedua tangannya mencengkram pinggang Vio, menarik tubuh wanita itu hingga benar-benar merapat pada tubuhnya. Vio bisa merasakan kekerasan otot dada Kael menekan dadanya. “Bagus kalau Kakak tidak cemburu. Karena kalau Kakak cemburu, aku mungkin tidak akan bisa menahan diri lagi untuk tidak mengurung Kakak di ruangan ini selamanya.” Vio merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis. Sifat lugunya membuat ia merasa terjebak, tetapi sisi manja di dalam dirinya justru merasa sangat terlindungi. Tanpa sadar, tangan Vio terangkat, menyentuh kancing kemeja teratas Kael. “Kael, kamu banyak berubah,” gumam Vio pelan. “Aku hanya menjadi pria yang seharusnya, Kak. Pria yang sudah cukup dewasa untuk melekukan apa yang dia mau.” Kael menunduk, bibirnya kini hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir Vio. Vio memejamkan mata, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apakah ia inginkan atau ia takuti. Namun, bukannya mencium bibirnya, Kael justru mengecup pelan pipi Vio yang bekas ditampar tadi. Cukup lama dan sangat lembut, tetapi terasa terasa sangat posesif. “Tanda ini harus hilang sebelum besok pagi,” bisik Kael di depan bibir Vio. “Karena aku tidak suka melihat ada bekas milik orang lain di kulitmu.” Tiba-tiba, telepon di meja Kael berdering keras, memecah suasana yang hampir meledak itu. Vio tersentak dan hampir melompat turun dari meja, tetapi Kael masih menahannya sebentar, menatap mata Vio dengan tatapan mengunci sebelum akhirnya melepaskannya. Vio merapikan roknya dengan tangan gemetar, sementara Kael mengangkat telepon dengan wajah yang kembali dingin seolah tidak terjadi apa-apa. “Ya? Batalkan semua pertemuan sore ini. Aku akan pulang lebih awal dengan sekretarisku.” Vio membelalak. Pulang lebih awal? Kael menutup telepon, lalu menatap Vio. “Ayo pulang. Aku tidak mau kamu terlihat berantakan di kantor ini. Dan mulai besok, jangan pakai lipstik warna merah itu lagi.” Vio mengernyit. “Kenapa? Ini sangat bagus.” Kael berjalan menuju pintu, membukakannya untuk Vio dengan gaya gentleman yang mengintimidasi. “Karena itu membuatku ingin menghapusnya dengan caraku sendiri. Dan aku yakin, Kakak tidak mau itu terjadi di depan staf yang lain, kan?” Vio berjalan melewati Kael dengan kepala menunduk, jantungnya hampir copot. Ia merasa Kael bukan lagi adiknya, melainkan pemangsa yang sedang bermain-main dengan mangsanya sebelum benar-benar menerkam.Mesin mobil menderu kencang menembus kegelapan malam. Hujan deras dan petir menyambar di luar, membasahi kaca mobil yang sudah dirancang khusus tahan peluru.Di kursi belakang yang luas dan bernuansa kulit mewah, Kael duduk bersandar. Keagresifan dan emosi Kael yang meletup-letup sejak kejadian tadi belum benar-benar mereda. Pria itu tidak membiarkan Vio duduk di kursinya sendiri. Sejak awal mobil bergerak, Kael sudah menarik Vio ke dalam pangkauannya.Kael merangkul pinggang ramping istrinya sangat erat, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Vio. Napasnya hangat dan memburu, menyesap aroma tubuh Vio berulang kali bagaikan pria yang sedang kecanduan.“Suamiku,” ucap Vio lembut, memegang bahu lebar Kael. Pipi Vio merona merah sempurna di bawah remang lampu interior mobil. “Jangan memelukku terlalu kencang, nanti lukamu makin sakit.”Vio memegang kapas bertotol alkohol dan perban kecil di tangan kirinya. Dengan telaten Vio berusaha mengobati luka robek di sudut bibir dan buku-bu
Angin malam yang biasanya sejuk mendadak berubah menjadi badai buatan. Suara baling-baling helikopter begitu memekakkan telinga, menerbangkan dedaunan dan membuat debu berhamburan.Vio yang baru saja melangkah keluar dengan balutan gaun tidur putih tipisnya dan sebuah kardigan rajut, terpaksa menyipitkan mata dan menghalangi wajahnya dengan tangan. Jantungnya berdebar kencang, ketakutan mulai merayap di dadanya yang lugu.“Suamiku, kamu di mana?” panggil Vio dengan suara bergetar, nyaris tenggelam oleh suara bising baling-baling.Dari balik pepohonan yang tersorot lampu helikopter, sesosok pria berjaket kulit melangkah cepat mendekati pekarangan. Itu bukan Kael. Pria itu adalah Rey, dengan wajah tegang dan luka tembak di dadanya yang belum sepenuhnya pulih.Melihat Vio berdiri di teras dengan raut ketakutan, Rey bernapas lega. “Violletta! Akhirnya aku menemukanmu!” panggil Rey seraya berlari menaiki tangga teras kayu.Vio tersentak kaget. Secara refleks, naluri bertahannya beker
Gemericik air sungai yang jernih dan udara perbukitan yang sejuk menjadi latar sempurna di sore itu. Vio sedang melangkah pelan di tepi sungai, mencelupkan jemari kakinya ke dalam air yang dingin. Gaun terusan berwarna putih lembut yang dikenakannya melambai ditiup angin, membuatnya tampak begitu murni dan cantik.Kael melangkah mendekat dari belakang tanpa suara. Dengan sifat agresif yang makin tak terkendali setiap harinya, pria itu langsung merengkuh pinggang Vio, menarik tubuh ramping istrinya hingga menempel ketat di dada bidangnya.“Suamiku!” Vio tertawa renyah, refleks memegang kedua lengan kokoh Kael yang melingkar di perutnya.Kael tidak membiarkan Vio berbalik. Dia menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu Vio, menyesap wangi tubuh istrinya dengan hembusan napas yang berat dan memabukkan. Bibirnya menyusuri leher jenjang Vio, memberikan gigitan-gigitan kecil yang manja hingga Vio menggeliat geli dan melenguh pelan.“Sayang, airnya dingin, tapi tubuhmu sangat hangat,”
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu, membiaskan cahaya keemasan di atas meja makan. Vio terbangun lebih dulu dengan tubuh yang terasa sedikit pegal, tetapi dipenuhi kehangatan luar biasa. Dengan berbalut gaun tidur santai sebatas lutut, Vio berniat menyiapkan sarapan sederhana untuk suami tercintanya.Saat Vio sedang fokus memotong buah apel dan merebus telur, dua lengan kokoh nan hangat tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya dari belakang, membuat Vio terkejut bukan main. “Suamiku... ih,” protes Vio, tubuhnya sedikit tersentak.Kael tidak menyahut dengan kata-kata. Pria itu menenggelamkan wajah tampannya di leher jenjang Vio, menyesap aroma alami tubuh sang istri yang selalu berhasil membakar nalurinya. Dengan sifat agresifnya yang dominan, Kael langsung mengecupi leher Vio dari belakang, membuat desah pelan terlepas begitu saja dari bibir mungil Vio.“Pagi istriku,” bisik Kael dengan suara serak khas bangun tidur, seraya memutar tubuh Vio agar menghadapnya.Sebelum Vio
Begitu prosesi pernikahan yang sederhana namun sakral itu selesai, Kael tak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia buru-buru membawa Vio pulang, selain khawatir bertemu dengan anak buah Clara, Kael juga seakan tak sudah tak sabar ingin segera berduaan dengan Vio. Rasa rindu yang bertahun-tahun membendung, bercampur dengan lega dan cinta yang meletup-letup, telah mencapai puncaknya.Brak.Begitu pintu kamar utama tertutup rapat, Kael menarik tubuh Vio ke dalam pelukannya. Masih dalam posisi berdiri menyender di balik pintu, Kael langsung menunduk dan mencium bibir Vio dengan sangat lahap, dalam, dan penuh gairah.Vio sempat tersentak kaget sekejap, tetapi naluri tubuh dan rasa cintanya yang murni, meski tanpa ingatan masa lalu itu bekerja begitu saja. Vio melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher Kael, berjinjit sedikit, dan membalas ciuman suaminya dengan penuh kehangatan dan kepatuhan yang amat tulus.Pikiran Kael makin membara. Dengan jemari yang bergetar menahan desakan emo
Aroma kayu cemara dan hawa dingin perbukitan menelusur masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, namun atmosfer di dalam kamar bernuansa hangat itu justru terasa begitu panas membakar.Di atas ranjang kayu berbalut sprei katun putih, Kael terkunci dalam tatapan polos Vio yang masih mengusap pipinya lembut. Kepolosan tanpa dosa dari wanita yang amat dicintainya itu bagaikan bensin yang menyiram kobaran api dalam dadanya. Kael benar-benar seperti pria yang kehilangan seluruh kewarasannya, napasnya memburu berantakan, dibakar rindu, rasa bersalah, dan gairah yang telah tertahan sekian lama.“Kamu milikku, Vio... kamu sepenuhnya milikku,” bisik Kael dengan suara bariton yang serak dan berat.Tanpa mampu membendungnya lagi, Kael menundukkan kepala, mendaratkan ciuman-ciuman panas yang bertubi-tubi di sepanjang garis rahang hingga leher jenjang Vio yang halus. Setiap kali bibir Kael menyentuh kulitnya, Vio menahan napas, memegang bahu lebar Kael dengan kedua tangan kecilnya yang gem
Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.Vio men
Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama mene
Sore itu, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen untuk menjernihkan pikiran justru berubah menjadi neraka baru bagi Violletta. Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu berat, hanya aroma parfum milik Kael yang memenuhi indra penciuman Vio, membuatnya merasa seolah sedang
Vio masih terpaku di kursinya bahkan setelah Kael meninggalkan ruangan. Kalimat ‘Hanya aku yang boleh melakukannya’ terus terngiang dalam pikiran, menciptakan getaran aneh di perut bawahnya yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh delapan tahun hidupnya.Baru saja ia hendak menarik napas panj







