Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 76. Bukan Pagi yang Tenang

Share

Bab 76. Bukan Pagi yang Tenang

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-30 00:08:14

Ada ketenangan yang tidak perlu dijelaskan di meja makan. Cahaya jatuh lembut, piring-piring diam di tempatnya, dan Dio duduk dengan wajah berseri-seri karena menyimpan sesuatu yang ingin ia banggakan.

“Pa,” katanya sambil mendorong kertas gambar ke arah Satria. “Nilai gambarku.”

Satria berhenti mengunyah. Mengambil kertas itu, menatap agak terlalu serius untuk anak seusia Dio. Lalu alisnya terangkat sedikit. “Kapal?” tanyanya.

“Iya,” jawab Dio cepat. “Aku gambar kapal laut. Bu guru bilang b
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (29)
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
jaga anak sakit udah biasa ngapain sih laporan segala, Satria udah mati rasa juga ga usah cari muka
goodnovel comment avatar
henny.orlee
heiiii pak salim licik, jng berharap bisa mengujutkn permintaan anak mu si nadine itu untuk membuat bang Sat jdi suaminya lg y. dah bau tanah tobat y pak
goodnovel comment avatar
iedh
si nadine gagal move on sih ini, setelah cerai baru nyesel ya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 282. Percakapan Terakhir

    __________Memang sepertinya aku harus pindah dari sini.Aku mulai merasa seperti tahanan.Takut keluar. Takut pulang. Takut setiap orang asing yang menatapku.Kalau mereka memang menginginkan uang itu … kenapa tidak ada satu pun yang menghubungiku untuk membicarakannya?__________Ratri ...Apa kabar? Raka sekarang sudah suka pisang? Atau masih lebih suka apel sama mangga seperti dulu?Aku baru saja menandatangani kontrak kerja. Aku diterima sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Sepertinya jalan hidupku mulai terbuka di sini.Andai kita masih bersama … aku pasti minta kamu dan Raka menyusul ke Swiss.Kita mulai dari nol. Nggak perlu rumah besar. Nggak perlu mobil mahal.Yang penting ... kita tinggal serumah lagi.__________Hari ini aku cuma keluar dua jam. Waktu pulang … rumah sudah berantakan.Ada orang yang masuk dengan kunci. Pintu tidak dibobol tapi semuanya berantakan.Semua laci dibuka. Isi lemari diacak-acak.Aku bahkan nggak sempat membereskannya. Besok pagi aku harus berang

  • KAMAR KEDUA   Bab 281. Semua Pasti Berujung

    Ratri mengusap dadanya yang tiba-tiba saja sesak. Ungkapan hati seseorang yang sudah tiada membuat paru-parunya kekurangan oksigen.Air matanya sudah mengalir dan ia mengusapnya cepat-cepat sebelum melanjutkan.…Kamu nggak pernah tahu kan kalau Papa minta aku jadi salah satu direktur perusahaan cangkangnya?Iya. Aku memang nggak pernah minta izin sama kamu. Aku salah.Tapi kali ini alasannya jelas. Aku mau berguna buat Papa. Kupikir apa susahnya mengurus arus keuangan satu perusahaan. Aku lagi-lagi mengikuti semua yang Papa inginkan. Berharap kalau Papa berhenti mengata-ngataiku, ‘Menikahi putriku karena berharap cepat kaya tanpa usaha?’Namun, rupanya itulah awal siksaan batin yang lebih mengerikan.Papa memang tidak pernah bicara dengan nada tinggi. Tidak pernah menggebrak meja. Ucapannya halus, tapi terbukti membuatku rusak dari dalam.Kata-kata Papa semakin jahat.Sekali dua kali aku melakukan kesalahan ringan, Papa menegurku dengan sangat tajam.“Apa kamu benar-benar setolol it

  • KAMAR KEDUA   Bab 280. Menunggu Pengakuan

    Belasan jam kemudian, pesawat yang membawa Ratri dan Raka akhirnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Perjalanan panjang dari Swiss itu nyaris tak diisi percakapan.Raka lebih banyak tertidur sementara Ratri memandangi langit di balik jendela pesawat tanpa benar-benar melihat apa pun.Pikirannya masih tertinggal di sebuah pemakaman di Jenewa.Di sebuah batu nisan yang bertuliskan nama pria yang selama ini ia kira telah meninggalkan mereka.__________Mobil memasuki halaman rumah tepat menjelang sore.Belum sempat sopir mematikan mesin, pintu utama telah terbuka. Hendra Kusuma Wijaya berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak lega."Raka!"Bocah itu langsung berlari kecil menghampiri kakeknya."Opa!”Hendra memeluk cucunya erat, lalu mengusap puncak kepalanya beberapa kali."Kangen, ya?" Raka melompat ke pelukan kakeknya saat pria itu berjongkok."Iya.""Kata Mama liburannya nggak bisa lama.”Hendra tersenyum tipis. "Nanti bisa liburan lebih lama lagi dengan Opa.”“Iya! Ak

  • KAMAR KEDUA   Bab 279. Menunggu Ditemukan

    Tangisan Ratri tidak bisa berlangsung lama. Cepat atau lambat, Raka pasti akan bertanya.Dan kantor polisi bukanlah tempat yang tepat untuk menjelaskan kepada bocah delapan tahun itu bahwa ayah yang selama ini mereka kira hidup damai sambil melupakan mereka ternyata telah meninggal bertahun-tahun lalu.Dengan mata yang masih sembap, Ratri mengusap sisa air matanya.Seorang opsir polisi menghampirinya sambil membawa secarik kertas kecil."Kami menemukan lokasi pemakamannya," ucap opsir polisi itu dengan bahasa aslinya.Ratri menerima kertas itu dengan tangan yang masih gemetar.Di sana tertulis sebuah alamat.Cimetière de Saint-GeorgesChemin François-Dussaud 121205 GenevaDi bawahnya terdapat nomor petak dan nomor makam yang ditulis tangan.Ratri menatap kertas itu lama.Hari itu … Raka tidak jadi ke museum. Hanya sebuah pemakaman yang menunggunya.___________Mobil yang ditumpangi Ratri berhenti perlahan di depan sebuah kompleks pemakaman.Mesinnya masih menyala.Namun sang sopir ti

  • KAMAR KEDUA   Bab 278. Akhirnya Kumenemukanmu

    “May I have your name?” tanya petugas itu. “Ratriana,” sahutnya singkat."His name?" tanya petugas itu. Ratri menelan ludah. "Calvin Tjandra."Petugas kepolisian itu segera mengetikkan nama tersebut ke dalam sistem.Beberapa detik berlalu belum ada hasil. Dahinya berkerut tipis. Ia menggeleng. "Any other name?"Ratri terdiam. Polisi itu menanyakan apakah Calvin memiliki nama lain. Ingatannya melayang pada kartu nama yang didapatnya di ruang kerja Calvin dan masih tersimpan di dalam tasnya. Calvin Andersen.Jadi ... Calvin memang mengganti namanya?Perlahan ia kembali menatap petugas itu. "He may have changed his name ... Calvin Andersen."Jemari petugas itu kembali menari di atas papan ketik.Kali ini … ekspresinya berubah. Ia berhenti mengetik. Tatapannya terpaku pada layar komputer beberapa saat lebih lama.Raut wajahnya yang semula datar berubah serius. Perlahan ia mengangkat pandangan. "Please ... give me a moment."Petugas itu berdiri, meminta izin, lalu berjalan menuju ruang

  • KAMAR KEDUA   Bab 277. Kamu Semakin Dekat

    Raka mengangguk patuh sambil memeluk buku gambarnya. Ratri menggandeng putranya memasuki kantor tersebut."Kamu duduk di sini dulu, ya," pintanya lembut seraya menuntun Raka ke sebuah sofa empuk di ruang tunggu.Raka mengangguk tanpa protes. Ia duduk rapi sambil memeluk buku gambarnya di pangkuan. Kedua kakinya yang belum menyentuh lantai terayun pelan, sementara matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu khas anak-anak.Ruangan itu terang dan tenang. Beberapa pelanggan tampak sedang berbicara dengan petugas di balik meja layanan.Setelah menunggu beberapa menit, tibalah gilirannya."Good afternoon. May I help you?" sapa seorang perempuan berambut pirang dengan senyum profesional.Ratri mengangguk pelan. "Excuse me ... I'd like to ask something." Ia mengeluarkan struk yang sedari tadi disimpannya dengan hati-hati. "Is this receipt from your company?"Ia mengatupkan bibir. Menunggu kepastian apakah tanda terima rental mobil berasal dari perusahaan itu. Perempuan i

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status