Mag-log inSuasana di lokasi proyek pembangunan gedung Su Group mendadak mencekam pada suatu sore. Hari itu, Chen Fan—yang dikenal sebagai Xiao Chen si kuli lugu—baru saja menyelesaikan tugasnya memindahkan tumpukan bata merah yang porsinya lima kali lipat lebih banyak dari pekerja lain.
Keringat membasahi kaos oblongnya yang pudar. Di sudut lapangan, Mandor Lin yang baru tampak sibuk memeriksa cetak biru bangunan, sementara tidak jauh dari sana, Wang—mantan mandor serakah yang kini didegradasi menjadi kuli biasa akibat ketahuan memotong gaji pekerja—sedang merangkak payah memanggul satu karung semen sambil mengumpat nasibnya sendiri. Chen Fan hanya mengangguk pasrah dengan wajah lugu saat Mandor Lin memberinya instruksi tambahan. "Xiao Chen, rapikan besi siku di sebelah barat itu sebelum pulang, ya." "Baik, Mandor Lin. Saya kerjakan sekarang," jawab Chen Fan pelan. Di dalam hati, sang Master Alkemis hanya mendengus geli. Dia sengaja menahan diri demi melatih kesabaran mental kultivasinya di dunia fana. Brak!!! Prankkk! Tiba-tiba, gerbang seng pembatas proyek dihantam keras dari luar hingga roboh ke tanah beton. Suara hantaman itu mengejutkan seluruh pekerja. Sebuah mobil jip bak terbuka bersama lima sepeda motor berknalpot bising melesat masuk ke dalam area proyek tanpa memedulikan portal keamanan. Dari atas kendaraan, turunlah sekitar belasan pria berbadan kekar dengan potongan rambut cepak dan pakaian serba hitam. Lengan mereka dipenuhi tato sangar, dan di tangan mereka tergenggam pipa besi, balok kayu, serta beberapa bilah parang panjang yang sengaja diseret di atas tanah, menciptakan suara gesekan yang memekakkan telinga. Mereka adalah kelompok preman lokal suruhan mafia tanah yang terkenal kejam di wilayah pinggiran Jiangnan. "Siapa kepala proyek di sini?! Keluar!" teriak sang bos preman, seorang pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam dan bekas luka bacok di pelipisnya. Dia memukulkan pipa besinya ke mesin molen semen hingga menimbulkan suara dentuman keras. Melihat kedatangan monster-monster jalanan ini, Mandor Lin langsung pucat pasi. Sementara si Wang, mantan mandor yang kini jadi kuli, langsung menjatuhkan karung semennya dan merangkak ketakutan ke balik tumpukan batu bata, sama sekali tidak punya lagi taji seperti saat dia berkuasa dulu. Dengan lutut gemetaran, Mandor Lin maju sambil membungkuk-bungkuk ketakutan. "A-Ada apa, Tuan-Tuan sekalian? Kalau masalah uang keamanan bulanan... bukankah kami sudah menyetornya minggu lalu?" Bos preman itu meludah tepat di depan sepatu Mandor Lin. "Uang bulanan itu sudah basi! Mulai hari ini, tarif keamanan di wilayah ini naik tiga kali lipat! Kalau kalian tidak bisa bayar tunai sore ini juga, proyek ini harus dihentikan!" "Tapi Tuan, kami tidak memegang uang tunai sebanyak itu di lapangan. Semua keuangan diatur oleh kantor pusat Nona Besar Su Qingxue—" "Persetan dengan Su Qingxue! Di tanah ini, kata-kataku adalah hukum!" bentak bos preman itu murka. Dia menoleh ke arah anak buahnya dan memberi isyarat kejam. "Hancurkan fasilitas mereka! Biar mereka tahu apa akibatnya kalau menunda uang kami!" "Hajar!!!" Belasan preman itu langsung bergerak liar. Mereka mulai memukuli panel listrik proyek, memecahkan kaca pos keamanan, dan menendang tumpukan material hingga berantakan. Para pekerja proyek lari berhamburan ketakutan. "Hei, tua bangka! Keluar kamu!" Seorang preman bertato kalajengking menarik paksa seorang pekerja tua bernama Paman Lao dari dalam barak. Paman Lao adalah kuli paling senior di sana yang sering bersikap ramah dan membagikan bakpao dinginnya kepada Chen Fan. "Maaf, Tuan... Tolong jangan rusak tempat tinggal kami..." ratap Paman Lao sambil memegangi kakinya yang gemetaran. Brak! Preman itu tanpa belas kasihan menendang dada Paman Lao hingga orang tua itu terjungkir ke atas tanah berdebu, batuk-batuk kesakitan. Tidak puas, sang preman mengangkat balok kayunya, bersiap menghantam punggung Paman Lao. "Mati kamu, tua bangka!" Dari jarak sepuluh meter, sepasang mata Chen Fan yang tersembunyi di balik poni rambutnya mendadak berkilat dingin. Hawa malas dan keluguan di tubuhnya menguap dalam sekejap. Paman Lao adalah satu dari sedikit manusia fana yang memperlakukannya dengan tulus di kota ini. ‘Manusia-manusia fana berotak udang... kalian benar-benar bosan hidup,’ batin Chen Fan dingin. Sebelum balok kayu itu mengenai Paman Lao, Chen Fan bergerak secepat kilat menyergap pergelangan tangan sang preman, lalu sengaja menariknya ke arah area reruntuhan bangunan yang sepi di balik proyek untuk dieksekusi tanpa terlihat kamera pengawas.Langit di atas Bandara Internasional Ibu Kota pagi itu tampak diselimuti oleh lapisan awan mendung tipis yang kelabu. Angin utara yang kering berembus kencang di sepanjang landasan pacu, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kompleks penerbangan privat sektor barat, yang biasanya hanya dilintasi oleh para diplomat asing atau menteri kabinet, kini tampak dijaga oleh puluhan personel keamanan berseragam hitam tanpa atribut resmi.Sebuah jet pribadi berlogo Su Group membelah awan, melakukan pendaratan dengan mulus di landasan pacu khusus nomor empat. Deru mesin jet perlahan mereda saat pesawat itu berputar menuju pelataran parkir VIP yang terisolasi dari terminal komersial utama.Di dalam kabin jet yang mewah, Su Qingxue duduk dengan anggun di kursi kulit utama. Dia mengenakan mantel panjang berbahan wol kasmir berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kacamata hitam besar. Penampilannya memancarkan aura dingin seorang ratu bisnis dari selatan yang siap menaklukkan wilayah
Tiga hari setelah runtuhnya Keluarga Wang, Kota Jiangnan tampak begitu tenang di permukaan. Namun, di bawah ketenangan itu, arus energi spiritual di kediaman pribadi Su Qingxue—sebuah vila mewah yang berdiri terisolasi di puncak Bukit Wanahening—berada dalam kondisi yang teramat kritis. Vila ini sengaja dipilih karena letaknya yang jauh dari pemukiman warga, dikelilingi oleh formasi hutan pinus alami yang mampu menyamarkan fluktuasi energi berskala besar.Malam itu, jam dinding besar di ruang meditasi bawah tanah menunjukkan pukul sebelas malam. Ruangan yang dilapisi oleh dinding batu giok hitam itu tidak menyalakan lampu satu pun, hanya diterangi oleh pendaran cahaya keemasan yang keluar dari tubuh Chen Fan dan hawa perak kebiruan yang memancar dari tubuh Su Qingxue.Chen Fan duduk bersila di tengah ruangan. Kaus oblongnya telah dilepas, memperlihatkan gurat-gurat otot tubuhnya yang proporsional, dengan tato samar berbentuk naga melingkar di sepanjang tulang belakangnya. Se
Fajar belum sepenuhnya pecah di langit Kota Jiangnan, namun kegelapan malam telah digantikan oleh semburat ungu keperakan yang dingin. Di depan gerbang utama Menara Su Group, aspal jalanan masih basah oleh embun pagi. Suasana yang biasanya sepi sebelum jam kantor dimulai, kini mendadak dicekam oleh keheningan yang teramat janggal.Sebuah sedan hitam mewah bergulung pelan, berhenti tepat di depan undakan marmer menara. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Wang Jiansheng, Kepala Keluarga Wang sekaligus salah satu penguasa bisnis terbesar di Provinsi Jiangnan. Pria paruh baya yang biasanya selalu tampil necis dengan tatapan angkuh itu kini tampak sangat rapuh. Rambutnya berantakan, dan gumpalan kantung mata hitam di wajahnya menceritakan bahwa dia tidak tidur semenit pun sepanjang malam.Di sampingnya, Wang Jue memegangi lengan ayahnya dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Sisa trauma dari amukan energi spiritual Chen Fan semalam telah meruntuhkan seluruh mentalitas putra ma
Riuh rendah perjamuan di Balai Kota Jiangnan perlahan memudar seiring berjalannya malam, namun bagi Chen Fan, pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di bawah pendaran lampu kristal yang mulai meredup, matanya tetap mengunci setiap pergerakan Wang Jue. Sinyal pelacak dari Regu Bayangan Gagak yang menempel di kerah jas pemuda itu berdenyut konstan dalam radar indra spiritual (Divine Sense) milik Chen Fan.Setelah ancaman dingin dari Su Qingxue, Wang Jue memilih untuk tidak melakukan konfrontasi terbuka lagi. Pria muda itu bergerak ke arah ruang privat di lantai dua balai kota, diikuti oleh dua pengawal pribadinya yang berjalan dengan langkah tegap dan waspada."Qingxue," bisik Chen Fan pelan, matanya tidak beralih dari tangga besar menuju lantai dua. "Tetaplah di sini bersama Kapten Zhang. Aku akan membersihkan beberapa lalat pengganggu di atas."Su Qingxue membalikkan tubuhnya, menatap Chen Fan dengan pandangan penuh kepatuhan dan kecemasan yang samar. "Apakah A
Gedung Balai Kota Jiangnan malam itu diselimuti kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula utama memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai marmer impor. Ratusan mobil mewah dari berbagai merek papan atas mengantre panjang di halaman depan, menurunkan para taipan bisnis, pejabat pemerintahan tinggi, hingga tokoh-tokoh berpengaruh dari seluruh penjuru Provinsi Jiangnan.Ini adalah perhelatan tahunan yang menjadi ajang pamer kekuasaan, kekayaan, dan koneksi politik. Di balik dentingan gelas sampanye dan alunan musik klasik yang lembut, transaksi rahasia bernilai miliaran rupiah dinegosiasikan di sudut-sudut ruangan.Di tengah kerumunan elit tersebut, perhatian semua orang mendadak tersedot ke arah pintu masuk utama saat sosok Su Qingxue melangkah masuk.Mengenakan gaun malam formal berwarna merah marun yang pas di tubuh indahnya, CEO wanita dari Su Group itu tampak layaknya seorang ratu yang turun dari singga
Ketenangan di lantai tiga puluh enam Menara Su Group setelah tunduknya sang ratu bisnis Jiangnan tidak serta merta membuat roda takdir berhenti berputar. Sementara Kota Jiangnan menikmati kedamaian semu di bawah perlindungan tak kasat mata dari sang Master Alkemis, di belahan utara negeri—tepatnya di dalam distrik finansial paling eksklusif di ibu kota—sebuah pergerakan rahasia berskala global sedang dikoordinasikan.Menara Tianlong, sebuah mahakarya arsitektur modern setinggi seratus delapan lantai yang dilapisi kaca antipeluru dan baja titanium, berdiri kokoh sebagai simbol kekuasaan finansial dan supranatural tertinggi. Di sinilah markas pusat Tianlong Group berada, sebuah konglomerat raksasa yang tidak hanya menguasai sepertiga perputaran ekonomi negara, melainkan juga memegang kendali atas faksi-faksi kultivasi terselubung di balik bayangan pemerintahan.Di lantai tertinggi menara tersebut, di dalam sebuah ruangan kedap suara yang dijaga ketat oleh puluhan petarung bers







