تسجيل الدخولCassey Lovern (22), dianggap bekerja sama dengan pemberontak kerajaan yang notabene adalah suaminya sendiri, Duke Gregoire Blane (35). Ia berakhir dihukum mati bersama putranya. Namun, ketika membuka mata, ia menemukan dirinya kembali ke satu tahun sebelum ia mati. Kenyataan pahit terkuak satu per satu. Tak punya kuasa memberantas semua itu, ia pun meminta bantuan pada pangeran ketiga, Theodore Lizth Regnum (30). Ketika hidup dimulai lagi, Cassey berniat menyelamatkan keluarganya.
عرض المزيد“Kepung mereka!”
Teriakan komandan tentara pribadi Garda Raja menggema di kediaman Blane.
Tubuh Cassey meringkuk di dekat ranjang, mendekap erat Cezar, putranya, yang baru saja menginjak usia 1 tahun. Atas usulan kepala pelayan wanitanya, Cassey diminta bersembunyi di kamar sang suami.
Sang kepala mansion—pria tua dengan kacamata satu lensa, berdiri tegap di depan pintu penerimaan tamu, pasang badan. Netranya menatap tajam, lalu menyentak marah. “Beraninya kalian bersikap bengis seperti ini di kediaman Duke!”
Begitu pun, para tentara terlihat tidak takut. Mereka semakin gencar bergerak menangkap para pekerja keluarga Blane dengan kasar.
“Gregoire Blane sudah ditangkap atas tuduhan pemberontakan terhadap kerajaan! Kalian semua akan dihukum mati! Tanpa kecuali!”
Para pekerja panik mendengar ucapan itu. Namun, mereka sudah bersumpah setia pada rumah Blane. Tahu ataupun tidak soal pemberontakan, tidak berdampak pada nasib mereka.
Pikiran Cassey Blane—sang duchess, kosong mendadak. ‘Tanpa kecuali?! Astaga, Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?!’
Tengah memusatkan diri untuk tidak bersuara, tiba-tiba terdengar teriakan murka dari salah satu tentara yang datang. “Di mana Duchess Blane?!”
Kekehan bernada mengejek pun lepas dari beberapa mulut para pelaku penangkapan ini.
“Duchess?! Bodoh! Blane sudah hancur!”
“Dia bukan lagi bangsawan!” cecar yang lain, merendahkan. “Dia kini rakyat jelata! Atau lebih rendah dari itu! Hahaha!”
Cassey meremas kuat dua tangan yang masih memeluk Cezar. Namun, belum reda amarah itu, pintu kamarnya terbuka.
Komandan utama tentara pribadi raja berdiri dengan wajah kecewa di sana.
“Menyerahlah, Cassey! Bukti-bukti sudah lengkap. Kau membocorkan strategi perang kami pada kerajaan Beverlyn!”
Netra Cassey membulat seketika. Masih sambil menggendong Cezar, ia berdiri dan membantah, “Tidak! Aku tidak melakukan itu, Komandan!”
“Tidak ada gunanya mengelak, Cass!” tukas sang komandan Garda Raja seraya berbalik. “Cepat berdiri dan ikut aku kalau tidak mau kuseret!”
Cassey tidak bisa mempertahankan diri. Dia kini hanyalah seorang tahanan yang katanya terbukti menjadi kaki tangan pemberontakan sang suami. Bahkan label rakyat jelata terlalu bagus untuknya sekarang.
“Ta—tapi Komandan, putraku—”
“Raja Arvandor menyatakan bahwa semua harus mati, tanpa kecuali!” potong sang komandan, tidak ingin memperpanjang diskusi mereka.
Hati Cassey menyusut seketika. Air mata tumpah tak terbendung, membayangkan bukan hanya dirinya, tetapi juga putranya yang masih berusia satu tahun, harus menyambut kematian.
“Aku dan putraku tidak bersalah, Komandan,” gumam Cassey lirih di tengah isak tangisnya.
Dengan dingin, sang komandan menimpali, “Bukti tidak menyatakan ucapanmu barusan, Cassey!”
Begitu pintu utama mansion di buka, teriakan rakyat yang menonton di sepanjang gerbang kediaman Blane terdengar menyayat hati Cassey. Seluruh staf yang bekerja di bawah keluarga Blane sudah berada dalam posisi berlutut dengan tangan dan kaki terikat ke belakang.
Puluhan tentara sudah menghunus pedang mereka, bersiap memisahkan kepala dengan tubuh mereka yang dilabeli sebagai pendukung pemberontakan.
“Atas nama Raja Arvandor Lizth Regnum! Hukuman mati bagi keluarga pemberontak kerajaan Regnum dijalankan!”
Detik kata terakhir terdengar melengking tinggi, seluruh pasukan Garda Raja mengangkat pedang mereka dan mengayunkannya ke arah leher setiap tahanan.
Di tengah hukuman dijalankan, sebuah teriakan terdengar dari arah gerbang utama. “Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada Cassey?!”
Cassey menoleh ke belakang dan menyadari, suara raungan penuh keputusasaan itu datang dari Theodore Lizth Regnum. Sang pangeran ketiga kerajaan Regnum dan komandan utama pasukan tentara kerajaan.
“Dorvan! Hentikan!” perintah Theodore lagi.
Namun, Cassey menggeleng pelan ke arah Theodore. Sambil menggenggam tangan putranya, ia tertunduk menerima takdir.
Hati Cassey sedikit berharap, ‘Kalau memang Dewa Ovnyx mengasihani kami, bela lah aku dan putraku.’
Slash!
“Cassey!”
Suara teriakan memilukan itu tak bisa menyelamatkan nyawa Cassey. Jiwanya terlepas dari dunia fana, tetapi sebuah kekuatan di luar nalar manusia menariknya kembali ke kehidupan.
Kembali ke masa sebelum semuanya terlambat.
“Nyonya!”
Netra Cassey mengerjap cepat. Kepalanya menoleh ke arah suara dan mendapati raut khawatir gadis muda yang selalu melayaninya sejak ia menjadi Duchess.
Satu detik yang lalu ia baru saja merasakan kematian, tetapi sekarang ia bisa menghirup udara kehidupan.
“Anda sudah sadar!” pekik sang pelayan dengan mata berkaca-kaca. “Biar kupanggilkan dokter!”
Namun, tangan Cassey meraih ujung seragam pelayannya. “Hill, kau di sini? Apa yang terjadi padaku?”
Masih sambil menangis kecil, pelayan muda itu menggenggam erat tangan Cassey. “Anda sudah 2 hari tidak sadarkan diri, Nyonya.”
Cassey terlihat bingung setelah mendengar jawaban itu. Namun, belum sempat ia bertanya lebih jauh, sang pelayan segera beranjak dengan langkah ringan.
“Saya harus panggil Dokter Hansen, Nyonya. Anda tunggu sebentar!”
Cassey membiarkan pelayan tersebut pergi. Ia masih bertanya-tanya, “Bukankah barusan aku mati dipenggal di halaman rumah?”
Di tengah kebingungan, terdengar suara bayi yang semakin mendekat. Cassey tahu suara itu. Sembarangan, ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
“Cezar?!”
Seperti orang yang putus asa, Cassey terus meraung, “Cezar! Putraku!”
Mendengar teriakan dari kamar nyonyanya, pelayan muda tadi segera masuk. “Nyonya, tenang dulu!”
“Berikan putraku!” pinta Cassey dengan nada tak sabar.
Sang pelayan segera menyerahkan bayi lelaki yang terbungkus kain lembut itu pada Cassey. “Hati-hati, Nyonya.”
Sekejap, Cassey memeluk erat putranya. Dengan suara gemetar bercampur tangisan, Cassey berkata, “Oh, Tuhan! Cezar! Kamu kembali, Cez!”
Melihat majikan wanitanya menangis seperti itu, sang pelayan memutuskan untuk menunda pemeriksaan dokter. Ia keluar dan menutup pintu kamar, memberikan sedikit waktu bagi Cassey bersama putranya.
Sementara itu, Cassey perlahan menyadari apa yang terjadi padanya. ‘Dewa Ovnyx mengabulkan doaku!’
Cassey kembali ke satu tahun sebelum hukuman mati dijalankan. Tepatnya dua hari setelah ia melahirkan Cezar.
Persalinannya memang sangat berat dan menguras tenaganya, padahal ia adalah kapten pasukan kavaleri kerajaan. Bahkan ia sempat berpikir hidupnya tidak akan lama setelah melahirkan.
“Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Cez,” bisik Cassey sambil menghujani puncak kepala putranya dengan kecupan-kecupan sayang.
Senyum di wajahnya terulas lebar, bersyukur dengan kehidupan baru yang bisa ia mulai ulang.
“Kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkan Ayahmu.”
Ketenangan itu terganggu dengan suara ketukan di pintu. Cassey menegakkan tubuh, waspada. ‘Siapa?’
“Cassey, Honey!”
“Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa pergi.”Cassey tertegun di tempatnya, mendengar penolakan itu.Setelah mengutarakan niatnya ke Istana pada Hill, 5 hari kemudian Cassey bersiap berangkat. Namun ternyata, keluar dari mansion tidak semudah pikirannya.Bahkan cara Hill—mengatakan bahwa sang duchess merindukan sang duke, pun tidak mempan.Cassey memang sudah bersiap untuk menghadapi penolakan, tetapi mengalaminya langsung membuat hati sang duchess semakin penuh dengan pertanyaan dan kecurigaan.Dia seorang Duchess yang seharusnya punya kuasa dalam mansion tersebut, tetapi selangkahpun tidak berhak diambilnya untuk keluar dari batas gerbang kediaman Blane.&n
“Nyonya, Anda kelihatan pucat.”Hill menatap majikan perempuannya, yang sudah dua hari ini ia dapati termenung tak bertenaga di kursi balkon kamar. “Mungkin anda perlu sedikit berjalan-jalan, Nyonya,” usul Hill mencoba menarik perhatian Cassey.Namun, Cassey terlalu larut dalam pikirannya. Ia butuh seseorang. Seseorang yang berpihak padanya. Karena setelah peta dan surat yang ditemukan, Cassey menyadari, ada yang salah dengan pemikirannya soal Gregoire. Ia bahkan mulai merasakan tatapan mengawasi dari setiap staf di mansion.‘Dulu kukira mereka mengkhawatirkanku. Sepertinya aku salah,’ batin Cassey was-was. ‘Bisa jadi, Hill termasuk salah satu dari mereka. Dibayar untuk mengawasiku.’Kepanikan Cassey semakin besar, membuatnya tak sadar kalau Hill terus saja mengajaknya bicara. Barulah ketika Cezar menangis, pandangan mata Cassey yang kosong seolah kembali berbinar.“Ada apa dengan Cezar?” tanya Cassey panik. Ia berdiri sambil menengadahkan tangan ke arah sang pelayan. “Berikan di
“Seharusnya masih sama,” gumam Cassey meraih sesuatu di rak atas, dekat pintu penghubung. Di kehidupan pertama, Cassey ingat Huppert meletakkan kunci pintu penghubung itu di rak paling atas, saat ia bersembunyi di kamar Gregoire. Sret!Sesuatu bergeser ketika tangan Cassey meraba pelan. Yakin bahwa itu adalah kunci yang dicarinya, ia segera mengambilnya dan mencoba membuka pintu tersebut. ‘Terbuka!’ pekiknya dalam hati, girang. ‘Untung saja kali ini tidak ada perubahan.’Tanpa menunggu lama, Cassey segera masuk dan langsung menyasar meja kerja Gregoire. Peta yang kemarin ia temukan sudah tidak ada di meja kerja Gregoire. Meja itu sudah bersih dan rapi. Hanya ada pena dan tinta.Hati Cassey semakin tak karuan—takut kalau Gregoire menaruh curiga padanya. Kalau benar suaminya itu seorang pemberontak, nyawa Cassey dan Cezar mungkin dalam bahaya besar.Namun, ia tak bisa berhenti setelah sejauh ini berusaha. Cassey bahkan merasa tangisan Cezar yang tiba-tiba tadi seperti pertolongan da
‘Apa aku ketahuan?’Cassey berjalan mondar-mandir di depan ranjang petidurannya. Sejak 3 hari lalu, hatinya tak nyaman dengan perubahan yang terjadi. Di kehidupan pertama, Cassey ingat jadwal Gregoire pergi ke istana adalah hari ke-30 dalam bulan lahir Cezar. Namun sekarang, kalender kerajaan Regnum sudah memasuki Bulan Dingin. Tepatnya hari ke-3.‘Apa Gregoire tahu aku membuka peta rahasianya, ia jadi menunda kepergian?’ batin Cassey menebak-nebak. ‘Bagaimana kalau dia menempatkan penjaga di kamarnya? Rencanaku bisa gagal.’Tengah pusing dengan pikiran sendiri, Gregoire mengetuk pintu kamar yang setengah terbuka dan terkekeh pelan. “Sayang, apa yang sedang kau susahkan? Apa kau sudah merindukanku bahkan sebelum aku pergi?”Cassey terkesiap.‘Astaga! Kenapa aku lupa menutup pintu?!’ tegur Cassey pada dirinya sendiri. ‘Aku harus bertingkah layaknya wanita yang tidak rela suaminya pergi lama. Aku sudah membaca adegan seperti ini.’ Demi akting, Cassey terpaksa menyentuh novel-novel yan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.