Share

Bab 9

Author: Bilkis29
last update publish date: 2026-06-20 09:26:50

Hari itu akhirnya tiba. Matahari baru saja mulai meninggi di langit Bekasi, menyinari jalan raya yang mulai ramai dengan lalu lintas.

Udara terasa panas namun Rina tetap tidak peduli. Sejak pagi buta, ia sudah bangun dan sibuk mempersiapkan segalanya dengan sangat teliti.

Kamar tamu yang akan dijadikan kamar untuk ibu mertuanya sudah dibersihkan hingga bersih. Kasur sudah diganti dengan sprei yang baru dan wangi, bantal dan selimut disusun rapi.

Lantai disapu dan dilap hingga kilap, jen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 37

    Malam itu hujan turun deras kembali, memukul atap rumah mewah di kawasan elit Bekasi Selatan dengan bunyi berisik yang seolah menirukan kekacauan di dalam dada Dimas . Ia memarkirkan mobilnya di halaman belakang, memastikan tidak ada yang melihat, lalu melangkah cepat masuk lewat pintu samping yang sudah dibuka terlebih dahulu. Di ruang tengah yang beraroma wangi bunga melati, Sari sudah menunggunya dengan pakaian santai yang rapi, senyum manis menyambutnya seolah tidak ada masalah berat yang sedang mengancam dunia yang mereka bangun bersama. Dimas langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara napasnya terdengar berat dan tidak tenang. “Ada apa, Mas? Kenapa wajahmu kusut sekali?” tanya Sari lembut, mendekat lalu memijat pelan bahu lebar suaminya itu. Dimas menurunkan tangannya, menatap wanita di hadapannya dengan pandangan yang campur aduk antara marah dan takut. “Rina. Dia benar-benar melakukannya. Dia sudah mendaftarkan percera

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 36

    Suara kipas angin gantung di ruang tamu rumah Pak Adi berputar pelan, menimbulkan bunyi ngung-ngung samar yang seolah menjadi iringan kesunyian yang menyesakkan dada. Hujan gerimis baru saja reda, menyisakan bau tanah basah yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Dita duduk di samping Rina di atas sofa kain bermotif bunga yang sudah mulai kusam, tangannya menggenggam erat tangan muda itu—tangan yang dulunya halus kini terasa kasar dan kaku, seolah setiap inci kulitnya telah menyerap semua luka yang tak sempat terucap. “Kamu benar-benar tidak mau berpikir lagi, Rin?” suara Dita terdengar bergetar, matanya berkaca-kaca menatap wajah Rina yang tenang terlalu tenang. “Pak Adi sudah berusaha bicara dengan Dimas, memintanya untuk berhenti bersikap kasar, untuk jujur tentang semua yang dia sembunyikan… Tapi kamu tahu sendiri, posisi Dimas sekarang. Dia atasan suamiku. Kalau Pak Adi terlalu keras menekan, takutnya dia yang malah dianiaya di kantor.” Rina mengan

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 35

    Saat ia sedang mengangkat dus itu untuk diletakkan di ambang pintu depan, terdengar suara ketukan pelan di pintu. Rina membukanya, dan melihat Bu Siti tetangga sebelah berdiri di sana dengan wajah serba salah, matanya melirik ke arah dus besar di samping Rina. "Pagi, Rin..." sapa Bu Siti pelan. Matanya menyapu ruangan sebentar, seolah mencari sosok Dimas yang tidak ada di sana. "Eh... benar saja ya kabar yang beredar?" Rina mengangguk tenang, menyandarkan punggungnya ke bingkai pintu. "Iya, Bu. Kami bercerai." Bu Siti menghela napas panjang, lalu menunduk sejenak sebelum kembali menatap Rina dengan wajah iba. "Astaga... padahal kemarin sore baru ketemu Pak Dimas, dia bilang mau pulang cepat. Belum sempat saya tanya apa-apa, eh pagi ini sudah bertebaran kabar di seluruh kompleks. Katanya Pak Dimas sudah menikah diam-diam dengan wanita lain, sudah dua tahun lebih? Dan kau baru tahu belakangan ini? Ya ampun, Nak... betapa beratnya beban yang kau pikul sendirian selama ini." Kabar itu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 34

    Angin sore di Bekasi terasa sejuk menyapa wajah Rina saat ia melangkah masuk ke halaman rumahnya. Rumah yang selama lima tahun ini ia anggap sebagai tempat pulang paling aman, kini terasa asing seperti rumah orang lain. Tapi tidak ada lagi sesak di dadanya, tidak ada lagi air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Beban yang memikul pundaknya bertahun-tahun akhirnya terangkat, seberat apapun kenyataannya. Ia membuka pintu depan perlahan. Dimas sudah duduk di ruang tengah, kepala menunduk dalam, kedua tangannya meremas erat lutut. Baju yang dikenakannya masih sama seperti saat mereka bertemu tadi pagi—kini kusut, berantakan, dan ada noda basah di lengan kiri, bekas air hujan yang tiba-tiba turun siang tadi. Ia tidak berani menatap Rina, bahkan saat suara langkah kaki Rina terdengar jelas di lantai keramik. "Kau sudah pulang," ucap Dimas pelan, suaranya pecah dan serak. Rina mengangguk, meletakkan tas kecilnya di atas meja tamu. Ia berdiri tegak, pandangannya tenang dan tajam, tidak

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 33

    Setelah Rina kembali ke Bekasi dan mulai menyusun semua berkas serta bukti yang ia dapatkan di Bandung, Dimas baru menyadari bahwa situasinya telah berubah total. Ia baru saja pulang dari perjalanan dinas, masih merasa tenang karena mengira semuanya berjalan seperti yang ia bayangkan—Rina akan pergi tanpa banyak perlawanan, dan ia bisa bebas menjalani hubungan dengan Sari. Namun ketenangan itu hancur seketika ketika Rina datang ke rumah dengan wajah tenang namun tegas, meletakkan selembar kertas draf gugatan cerai beserta salinan bukti di atas meja ruang tengah. Begitu membaca isi surat dan melihat foto serta catatan yang ada, wajah Dimas langsung pucat pasi. Tangannya gemetar memegang kertas itu, dan seketika rasa sombong serta ketidakpedulian yang selama ini ia tunjukkan hilang lenyap digantikan rasa panik yang luar biasa. Ia tidak menyangka Rina akan melangkah sejauh ini, apalagi sampai pergi ke Bandung dan menemukan segala rahasianya. “Rina… apa ini? Dari mana kau dapatk

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 32

    Setelah beberapa hari mencoba bekerja namun pikiran tak pernah lepas dari Dimas, Rina akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah tegas. Ia mengajukan permohonan cuti selama satu minggu ke bagian kepegawaian kantor, dengan alasan urusan pribadi yang mendesak. Ia sadar, selama hanya berpegang pada firasat dan rasa sakit hati, proses perceraian yang ia inginkan takkan berjalan lancar. Ia butuh bukti nyata, sesuatu yang tak bisa dibantah, agar ia bisa melepaskan ikatan itu dengan kepala terangkat tinggi tanpa rasa bersalah sedikit pun. Hatinya sudah mati, namun logikanya tetap bekerja jernih. Ia menduga bahwa tempat persembunyian Dimas dan wanita lain itu bukan di Bekasi, melainkan di kota lain yang cukup sering dikunjungi suaminya dengan alasan dinas. Selama ini Dimas sering berangkat ke Bandung dengan alasan tugas kantor yang memakan waktu berhari-hari, dan setiap kali kembali, sikapnya selalu terasa semakin dingin dan menjauh. Rina pun yakin, di sanalah letak kebenaran ya

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 10

    Namun apa yang tidak diketahui oleh Rina adalah, di balik setiap senyum dan kata-kata manis itu, ada rencana jahat yang sedang disusun bersama oleh Dimas dan ibunya. Sementara Rina merasa bahagia dan lega, Dimas dan ibunya sedang berdiskusi lagi tentang masa depan. Saat mereka sedang beristira

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status