Masuk"Di mana... aku?" Nathan mengedarkan pandangan ke segala arah dengan wajah dipenuhi kebingungan.Sejauh mata memandang terbentang hamparan daratan yang begitu luas. Burung-burung beterbangan bebas di langit, kawanan binatang buas berkeliaran tanpa rasa takut, sementara energi spiritual yang memenuhi tempat itu jauh lebih pekat dibandingkan Sektor Bayangan.Saat masih mencoba memahami situasi, delapan sosok perlahan berjalan menghampirinya. Mereka mengenakan jubah bergaya kuno, dan pada dada setiap jubah terbordir dua kata yang langsung menarik perhatian Nathan.Aula Luminaris.Tatapan Nathan langsung membeku. "Bukankah mereka..."Jantungnya berdegup kencang ketika menyadari wajah kedelapan orang itu identik dengan patung-patung yang berdiri di dalam Sanctum Oblivion.Tanpa berpikir panjang, Nathan segera melangkah maju untuk menghentikan mereka dan mencari jawaban. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Kedelapan orang itu sama sekali tidak mempedulikannya, seakan dirinya hanyalah bayangan
Suara Garrick bergema di dalam ruangan. "Pamanmu tidak mungkin mengurusmu setiap saat. Aku hanya memiliki satu orang putra, sedangkan Aula Seribu Relik masih menunggumu untuk meneruskan warisan keluarga."Magnus menggeleng pelan. "Ayah, warisan apa lagi yang tersisa?" balasnya tanpa ragu. "Menurutku, Aula Seribu Relik sekarang kemungkinan besar sudah berubah menjadi puing-puing. Dengan sifat Nathan, mana mungkin dia membiarkan seluruh artefak itu tetap utuh?"Dia menarik napas sebelum melanjutkan. "Kalaupun semua artefak sudah lenyap, apa lagi yang bisa diwariskan? Menunggu Ayah menempa kembali sebanyak itu? Entah harus menunggu sampai kapan. Menurutku, justru Aula Elysium milik Paman jauh lebih menjanjikan.""Aku akan mencabik-cabik Nathan sampai tubuhnya berkeping-keping!" Garrick menggertakkan gigi begitu mendengar ucapan Magnus. Dadanya dipenuhi amarah karena setiap artefak di Aula Seribu Relik merupakan hasil kerja keras yang ia tempa selama bertahun-tahun."Adik seperguruan, kar
Magnus membelalakkan mata karena tidak memahami perbedaan itu."Apa kamu melihatnya?" tanya Loyd sambil menunjuk aliran cahaya tersebut. "Resonansi berwarna putih menunjukkan keyakinan paling lemah, sedangkan warna ungu menandakan tingkat pengabdian tertinggi."Pandangan Magnus segera menyapu seluruh aula hingga berhenti pada seorang gadis cantik yang sedang berlutut di barisan depan. Di atas kepalanya, Resonansi Devosi berwarna ungu menyala jauh lebih terang daripada milik yang lainnya. Artinya, gadis itu merupakan pengikut yang paling setia.Melihat sorot mata Magnus terus tertuju kepada gadis tersebut, Loyd terkekeh pelan. "Keponakanku... apa menurutmu gadis itu cantik?"Magnus mengangguk tanpa menutupi pikirannya. "Memang cantik."Sejak melarikan diri beberapa hari lalu hingga menetap di Aula Elysium selama dua hari, dia belum pernah bertemu wanita. Wajar jika pandangannya kini dipenuhi hasrat ketika melihat wajah gadis itu."Hahaha..." Loyd tertawa pelan. "Bagi pengikut yang bena
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan apa pun." Tatapan Nathan dipenuhi tekad. "Aku pasti akan menemukan cara agar kalian bisa keluar dari sini. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kalian terkurung di tempat ini selamanya."Sarah justru tersenyum lembut. "Sebenarnya tinggal di sini juga tidak terlalu buruk. Lingkungannya tenang, udaranya juga nyaman."Dia sengaja berkata demikian karena memahami beban yang sedang dipikul Nathan.Prisly seakan baru mengingat sesuatu. "Pantas saja waktu kami menemui Tuan Ryujin, beliau sempat bertanya apakah kami rela mengorbankan nyawa demi Kak Nathan.""Beliau juga bertanya apakah aku dan Rebecca memiliki kekuatan khusus, lalu menyerahkan Buku Resonansi Dunia kepada kami berdua.""Jadi... beliau memang sudah mengetahui semuanya." Prisly akhirnya memahami maksud ucapan Ryujin saat itu. "Beliau pasti sudah tahu kami akan bertemu Kak Nathan dan berhasil menyerahkan Buku Resonansi Dunia kepadanya."Mendengar itu, Nathan langsung mengernyit. "Tua
Ryujin hanya memandangnya dengan tenang. "Aku sudah mengatakannya. Semua itu adalah takdirmu, dan untuk saat ini kamu belum memiliki kemampuan untuk mengubahnya.""Mungkin suatu hari nanti, ketika kamu telah berdiri di puncak kekuasaan, barulah kamu mampu menentukan jalan hidupmu sendiri.""Namun selama hari itu belum tiba, satu-satunya pilihan hanyalah menjalaninya. Semakin keras kamu melawan takdir yang belum sanggup kamu ubah, semakin besar pula penderitaan yang akan kamu rasakan."Ryujin mengangkat tangan dan mengibaskannya pelan. "Pergilah."BANG!Gelombang kekuatan tak kasatmata langsung menyapu tubuh Nathan hingga terpental keluar dari ruangan.Brak!Sesaat kemudian, pintu ruang kerja Ryujin menutup rapat, menyisakan keheningan yang terasa begitu menyesakkan."Nathan!"Melihat kondisi Nathan yang dipenuhi luka, Paul segera berlari menghampiri dan menopang tubuhnya.Namun, tatapan Nathan kosong tanpa sedikit pun fokus, seolah jiwanya masih terperangkap di dalam percakapan bersam
Nathan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan suara yang mantap. "Dengarkan baik-baik, aku tidak pernah mengejar kekuatan demi menjadi dewa. Kalau harus memilih, aku lebih rela mempertaruhkan nyawaku demi menyelamatkan mereka, sama seperti mereka yang juga tidak akan ragu mengorbankan jiwa mereka demi menyelamatkanku."Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu tegas hingga membuat amarah Ryujin perlahan mereda. Pria tua itu kembali menghembuskan napas panjang."Sejak dahulu, perasaan yang terlalu dalam memang selalu berakhir dengan penyesalan." Ryujin kembali duduk di kursinya sebelum berkata dengan nada datar, "Aku tahu alasan kedatanganmu. Kalau ingin menyelamatkan Sarah, Prisly, dan Rebecca, satu-satunya cara adalah membawa mereka kembali ke Sektor Bayangan.""Hanya tempat itu yang mampu memulihkan kondisi mereka. Jika tetap dibiarkan berada di luar, mereka tidak akan mampu bertahan lebih dari satu hari."Mendengar itu, Nathan mengepalkan tangan dengan er
Pada saat masih sekolah, Simon jatuh cinta pada Arina yang duduk di bangku SMA, dan langsung mencarinya di sekolah. Hal ini membuat kepala sekolah sangat ketakutan hingga mengeluarkan Arina. Lalu, setelah lulus, Simon mengancam Arina dengan menggunakan kedua orang tua Arina, dan Arina tidak punya pi
“Reus, kenapa kamu menyerang bawahan Keluarga Holcy?” Aston melihat orang yang datang dan berteriak dengan marah. Reus yang tiba-tiba datang berkata dengan dingin dan arogan. “Aston, orang-orang disini berada dalam perlindunganku. Kalau tidak ingin menjadi musuh Keluarga Alvaro, sebaiknya kamu pergi
Arina bergegas mengibaskan tangannya, dan terkejut hingga melangkah mundur. “T-tidak! Kakak ipar, ini terlalu mahal, aku tidak berani menerimanya!” “Apa yang terlalu mahal, ini adalah ucapan salam hangat dari kakak ipar!” Sarah berkata lalu menarik Arina untuk mengenakannya langsung : “Lihatlah, b
Namun saat Beverly dan Sarah bangkit berdiri dan hendak berlari ke arena, Reus dan Aston yang berada di tepi arena menatap Beverly dan Sarah bersamaan. Karena siapapun pasti akan melirik kepada para wanita cantik. Dan pada saat itu, Reus dan Aston seketika membelalakkan matanya. Karena mereka menemu







