Share

30~Beban

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-06-03 15:02:35
Arif langsung menutup laptop ketika Deswita sudah duduk di hadapannya sambil membawa segelas air minum. Ia tidak bertanya apa pun, karena menunggu wanita itu bicara lebih dulu.

“Kenapa Bunda ngerasa kamu semakin nggak ngehargai Bunda?” tanya Deswita tajam dan dingin setelah meminum air hangat yang baru diambilnya. “Apalagi setelah nikah sama perempuan itu.”

“Bunda, nama perempuan itu, Suci,” ucap Arif berusaha menghadapi Deswita dengan santai. “Suci itu istriku. Menantu Bunda.”

“Bunda nggak sud
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
beneran capek klo kek arif gini deswitanha ngga merasa bersalah soalnya
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
berharap nya sih suci ga cari calon suami lagi.menunggu keajaiban tiba
goodnovel comment avatar
Wieta Wieta
lagi mba beb
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   50~Sehari Lagi

    “Ini … kenapa rumahnya besar-besar semua?” ujar Suci menggeser layar ponsel Arif dengan perlahan. Ia melihat beberapa foto dan video yang dikirim oleh bagian marketing perusahaan milik istri Bias. “Karena ada kita, Sahli, sama Hadi,” jawab Arif santai. Ia menyandarkan tubuh di kepala ranjang dan memeluk tubuh Suci yang bersandar nyaman di dadanya. “Ke depannya juga ada ART buat bersih-bersih rumah.”“ART?” Suci sedikit menggeser tubuhnya lalu mendongak. “Aku punya ART buat bersih-bersih rumah?”Arif mengangguk. Mengecup puncak kepala Suci. “Nggak mungkin kamu bersihin rumah sendirian, kan?”Suci tersenyum simpul. Ia kembali bersandar nyaman, lalu menggeser layar untuk melihat foto-foto yang ada di galeri ponsel sang suami. Tidak pernah sekali pun terlintas di benak Suci, bahwa suatu hari nanti ia akan memiliki kehidupan seperti sekarang. Memiliki seorang suami yang bukan hanya tampan dan mapan, tetapi juga menyayanginya sepenuh hati.“Lusa kita keliling lihat rumahnya,” lanjut Arif

  • Kontrak Suci   49~Bersabar Dulu

    Pagi itu, Arif terjaga lebih dulu. Matanya menyipit, menyesuaikan diri dengan bias cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah tirai kamar.Selama beberapa saat, Arif hanya berbaring diam dan menikmati keheningan yang menyelimuti ruangan. Perlahan, senyum tipis mengembang di wajahnya saat kenangan semalam kembali memenuhi kepala.Arif lalu memiringkan tubuh, menatap wajah Suci yang masih terlelap nyaman di atas lengannya. Napas istrinya terdengar teratur, sementara wajahnya memancarkan ketenangan yang belum pernah Arif lihat sebelumnya. Dengan hati-hati, Arif mengusap lembut pipi Suci dengan ujung jarinya, lalu menyelipkan rambut yang menghalangi wajah sang istri di belakang telinga. Cantik.Suci bukanlah tipe gadis yang bisa membuat pria jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, semakin lama mengenalnya, semakin sulit pula mengalihkan hati darinya. Di balik wajah yang sederhana itu, ada ketulusan, keberanian, dan kelembutan yang perlahan berhasil merebut hati Arif. Hingga

  • Kontrak Suci   48~Melepas Segala Batasan

    “Sorry,” ucap Arif begitu melihat Suci sudah duduk manis di ruang tengah. Sebuah koper juga telah siap di samping sofa. “Aku pulang agak telat.”Suci tersenyum. Menyimpan rasa gugupnya dalam-dalam. “Kan, Mas tadi juga sudah nelpon karena ada kerjaan mendadak. Jadi, nggak usah minta maaf.”Arif mengangguk. Menarik handle koper dan bersiap menariknya dengan terburu. “Sudah siap semua? Atau masih ada yang harus dibawa? Koper lain?”Suci menggeleng sambil berdiri. “Semua baju sudah di koper. Nggak ada yang ketinggalan.”“Lingeri?”“Mas!” Arif lantas tertawa. Akhirnya, hari itu datang juga. Hari di mana mereka akan menikmati malam pergantian tahun berdua, sekaligus menghabiskan waktu yang telah lama ia nantikan sebagai pasangan suami istri.“Aku cuma memastikan,” ujar Arif tersenyum jahil.“Nggak usah dipastikan.”“Berarti ada?”Wajah Suci seketika memerah. Ia buru-buru meraih tas selempangnya di sofa lalu berjalan lebih dulu menuju lift. “Ayo, berangkat. Nanti kena macet.”“Duh … yang su

  • Kontrak Suci   47~Kenangan Pertama

    “Mas, Hadi bilang nggak usah pindah sekolah karena nanggung,” ujar Suci segera mematikan televisi. “Sekolah juga tinggal lima bulanan lagi. Nggak terasa.”“Bentar, ya,” ucap Arif masih mondar-mandir di depan televisi dan sibuk dengan ponselnya. “Hmm.” Suci mengangguk.Tidak ingin mengganggu kesibukan sang suami, Suci pun beringsut ke dapur. Pikirannya masih saja tertuju pada malam tahun baru yang tinggal menghitung hari. Setiap kali mengingat ajakan staycation, wajahnya selalu terasa panas. Kata bulan madu yang diucap Arif saat itu, benar-benar tidak bisa hilang dari benaknya. “Fully booked,” gerutu Arif sambil melangkah ke dapur tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. “Aku sudah cek lima hotel dan semuanya penuh pas tahun baru.”Suci yang baru membuka lemari pendingin, lantas menutupnya kembali. Ia menggigit bibir, lalu berbalik. “Mas beneran mau nginap di hotel?”“Kita,” ralat Arif sembari duduk di stool bar dan kembali mencari hotel bintang lima yang bisa ia booking. “

  • Kontrak Suci   46~Bulan Madu

    “Kita nggak akan pergi, sebelum ada yang menjelaskan apa yang sudah terjadi?”Arif merubah posisi duduknya, agar bisa melihat Suci, Sahli, dan Hadi yang sudah berada di dalam mobil. Kendati bisa mengambil sedikit kesimpulan, tetapi Arif tetap ingin mendengar penjelasan dari ketiga kakak beradik itu. “Mereka nagih uang listrik sama air,” jawab Suci lalu bercerita singkat, tentang apa yang terjadi barusan.“Dan kenapa kamu biarkan Tantemu itu ngambil uang di dompetmu?” Arif menatap tegas pada Suci. “Biar dia lihat sendiri, kalau uangku di dompet itu nggak banyak,” jawab Suci. “Harusnya kamu nggak perlu ngelakuin itu.”“Kalau aku nolak, urusannya bakal lebih panjang, Mas. Mereka pasti tetap maksa.”Arif mengembuskan napas pelan sambil menggeleng. Bukan karena tidak percaya, tetapi ia tidak menduga jika hal seperti ini ternyata akan dialami keluarganya. Lebih tepatnya, istrinya sendiri.“Ci, dengerin aku.” Tatapannya kembali bertemu dengan mata Suci. “Aku nggak peduli berapa uang yang

  • Kontrak Suci   45~Minggu Depan

    “Resepsi?” Suci mengerjab sambil memijat tengkuknya. Lagi-lagi, Arif membuatnya terpaku. Belum juga sehari menikmati status baru sebagai pasangan yang sedang pacaran, Arif kembali membuat gebrakan baru. Urusan rumah saja belum selesai dibicarakan hingga tuntas, kini, pria itu memiliki ide untuk melakukan resepsi. “Mas yakin mau ngadain resepsi?” sambung Suci tidak yakin. Ia bukan tidak yakin dengan Arif, melainkan dengan dirinya sendiri. Suci tidak bisa membayangkan, apa yang akan dikatakan orang-orang jika mengetahui istri seorang seperti Arif Adiningrat adalah mantan office girl. “Aku yakin,” jawab Arif sembari mengangguk. Ia menduga, Suci masih saja insecure dan akan mengelak idenya tersebut. “Kenapa? Kamu nggak mau?”Suci menggeleng pelan. Ia diam sejenak, menyeruput teh hangat di tangan sambil memandang gemerlap kota dari balkon kamar Arif.“Di satu sisi, jelas aku mau,” jawab Suci berusaha jujur dan tidak memikul kekhawatirannya sendirian lagi. “Tapi, di sisi lain … aku mik

  • Kontrak Suci   27~Jaga-jaga

    “Yaaang, aku belum pake dasi.”Perdebatan kecil antara Deswita dan Ivan di ruang tengah, mendadak senyap begitu mendengar teriakan Arif dari arah kamar. Sejurus kemudian, tatapan mereka tertuju pada putra mereka yang berjalan tergesa-gesa melewati ruang tengah menuju dapur, menghampiri Suci yang ma

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status