LOGINPada akhirnya, Suci tidak lagi bisa membuat alasan apa pun untuk menolak. Setelah Arif memastikan suhu tubuhnya masih terasa hangat, mau tidak mau ia menurut diajak ke praktik dokter umum terdekat. Beberapa pertanyaan dan pemeriksaan standar pun dilakukan. Sampai akhirnya, satu pertanyaan dokter membuat Suci dan Arif membeku.“Kapan haid terakhir?”Suci berkedip pelan. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. “Sebentar, Dok,” gumam Suci pelan lalu menelan ludah. Ia mencoba mengingat-ingat tanggal terakhir kali mengalami haid. Namun, semakin dipaksa mengingat, pikirannya justru semakin kosong.Sebenarnya, Suci bukan tidak bisa mengingat hal tersebut. Namun, pertanyaan sang dokter membuat benaknya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat, karena ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan ini.“Kayaknya ...” Suci menggantung kalimatnya. Entah mengapa, lidahnya mendadak kelu dan pikirannya p
“Mas, ditunggu Bapak di mobil.”Arif menatap Jose yang merentangkan satu tangan ke arah parkiran mobil pengadilan. Tidak perlu ditanya tentang keperluannya, karena ia sudah bisa menebaknya.“Mobilnya di ujung,” ucap Jose menambahkan informasi sebelum Arif bertanya lebih lanjut.Napas Arif terbuang pelan. Cepat atau lambat, gosip mengenai syukuran rumah baru Arif sekaligus kabar mengenai dirinya yang telah memperkenalkan Suci sebagai istri, pasti akan sampai juga ke telinga Ivan. Tidak hanya Ivan, karena Deswita tentu juga sudah mendengarnya. “Makasih,” ujar Arif kemudian pergi ke arah yang ditunjukkan Jose. Ia mendatangi sedan hitam yang berada di sudut lahan parkir, lalu memasukinya. Duduk berdampingan dengan Ivan di kursi penumpang bagian belakang. “Ayah sampe nggak tau mau ngomong apa,” ujar Ivan datar, tanpa emosi sama sekali karena sudah terlalu lelah dengan sikap putranya. “Kamu mengundang orang-orang ke rumahmu dan memperkenalkan Suci sebagai istri yang sudah kamu nikahi beb
“Hati-hati di jalan,” ucap Suci sambil melambai pada Firman, tamu terakhir yang meninggalkan rumahnya. “Makasih banyak sudah datang.”“Iya, Mbak. Sama-sama,” balas Firman sambil mengangguk sopan pada Suci dan Arif. Setelah berpamitan sekali lagi, ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman pasangan suami istri tersebut.“Selesai!” ucap Arif membuang napas lega. Acara mereka berjalan lancar tanpa ada drama. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi setelah ini, karena Arif sudah memperkenalkan Suci sebagai istrinya. Dan apa pun penilaian orang-orang setelah ini, Arif tidak berniat memikirkannya sama sekali.“Capek,” keluh Suci sambil memijat bagian belakang pinggangnya yang terasa pegal. Meski tubuhnya terasa lelah, hatinya justru dipenuhi rasa lega karena acara mereka berjalan sesuai harapan. “Tinggal tunggu orang katering pulang, habis itu aku mau tidur.”Arif merangkul Suci, membawa sang istri kembali masuk ke dalam rumah. “Istirahat duluan di kamar. Biar aku, Sahli, sama Hadi yang
Suara tawa sesekali pecah di antara kelompok-kelompok kecil yang duduk mengelilingi meja-meja bundar di taman samping rumah. Taman yang memanjang hingga ke halaman belakang itu, sore ini disulap menjadi tempat syukuran yang hangat dan sederhana.Di salah satu sisi taman, terdapat meja prasmanan yang dipenuhi aneka hidangan tidak pernah sepi. Beberapa tamu tampak mengantre sambil melanjutkan obrolan mereka, sementara petugas katering dengan sigap mengganti nampan yang mulai kosong.Hampir seluruh tamu yang hadir merupakan rekan kerja Arif, beberapa klien lama, serta teman-teman dekat yang telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Sore itu, hampir semua orang yang penting dalam kehidupan profesional Arif hadir memenuhi undangannya. Dan di tengah keramaian itulah, untuk pertama kalinya Suci akan diperkenalkan secara resmi sebagai istri Arif Adiningrat."Masih deg-degan?" bisik Arif tanpa mengalihkan pandangannya dari tamu yang sedang mengobrol di hadapan mereka.“Masih.” jawab Suci semba
“Akhirnya, selesai juga!” Suci menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. Mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuhnya yang terasa penat. Setelah seharian berjibaku menata perabotan di rumah baru, akhirnya tugas itu rampung juga.Setelah menunggu hampir setengah bulan, akhirnya rumah tersebut bisa ditempati juga. Meski masih ada beberapa sudut yang belum sempurna, rumah itu akhirnya siap menjadi tempat untuk membangun kehidupan baru.“Nanti malam beli bakso aja, ya, Mas?” lanjut Suci sambil menatap langit-langit kamar baru yang luasnya hampir dua kali lipat dibanding kamar yang ditempatinya di apartemen. “Di makan panas-panas, pedes-pedes.”“Jangan pedes-pedes, nanti sakit perut,” ujar Arif sambil menurunkan suhu pendingin ruangan. Setelah selesai, barulah ia ikut berbaring di samping Suci. “Pedes dikit,” ujar Suci menurut saja. “Tapi delivery aja. Aku malas keluar. Capek.”Arif memiringkan tubuh perlahan. “Ayo mandi. Biar aku pijatin sekalian.Suci tersenyum miring dan menyip
“Sepertinya aku nggak bisa pulang pas makan siang nanti,” ucap Arif setelah membaca pesan dari Felix di ponselnya. “Hari pertama kerja, tapi sudah diminta nemani Pak Felix makan siang dengan klien.”“Harusnya Mas bersyukur,” ucap Suci tersenyum kecil dan bersiap memasangkan dasi di leher Arif. “Itu artinya, Pak Felix percaya sama Mas.”“Aku sangat bersyukur.” Arif mengusap pelan pipi Suci yang tengah memakaikan dasi untuknya. Dan kali ini, bukan lagi sandiwara. “Walau ‘makan siangnya’ harus ditunda sampe minggu depan.”Suci terkekeh karena mengerti dengan maksud Arif. “Kerja, Mas. Jangan mikir ‘makan siang’ terus. Lagian juga masih libur.”“Yang libur, kan, kamu,” balas Arif meringis lebar sambil menangkup gemas wajah Suci. “Bukan aku.”Suci memanyunkan bibirnya. “Curang.”Arif tertawa lepas melihat ekspresi istrinya. Ia lalu mengecup bibir sang istri yang mengerucut itu. “Maaas, ini lagi masang dasi,” gerutu Suci menepuk pelan dada Arif. “Nggak usah cium-cium.”“Iya, iya,” jawab Ari
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan







