Home / Romansa / Kontrak Suci / 34~Gemas Sendiri

Share

34~Gemas Sendiri

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-06-11 10:39:10

“Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.

Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar hingga pagi ini. Semalam, Suci tidak berani mengganggu, karena pria itu berkata ingin beristirahat dan langsung tidur.

“Sarapan dulu,” lanjut Suci dengan sabar berdiri di depan pintu kamar Arif.

Heni
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
bener kan yg dinilang suci, kamu terlalu fokus sama sakit hatimu rif, makanya lupa move on lupa natap ke depan
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
klo kuntinya secantik Suci ya harus hati² kecantol Rif..
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
hahahahaahh.....mba kunti nya cantik ya mas
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   61~Masalah Itu ...

    Pada akhirnya, Suci tidak lagi bisa membuat alasan apa pun untuk menolak. Setelah Arif memastikan suhu tubuhnya masih terasa hangat, mau tidak mau ia menurut diajak ke praktik dokter umum terdekat. Beberapa pertanyaan dan pemeriksaan standar pun dilakukan. Sampai akhirnya, satu pertanyaan dokter membuat Suci dan Arif membeku.“Kapan haid terakhir?”Suci berkedip pelan. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. “Sebentar, Dok,” gumam Suci pelan lalu menelan ludah. Ia mencoba mengingat-ingat tanggal terakhir kali mengalami haid. Namun, semakin dipaksa mengingat, pikirannya justru semakin kosong.Sebenarnya, Suci bukan tidak bisa mengingat hal tersebut. Namun, pertanyaan sang dokter membuat benaknya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat, karena ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan ini.“Kayaknya ...” Suci menggantung kalimatnya. Entah mengapa, lidahnya mendadak kelu dan pikirannya p

  • Kontrak Suci   60~Nurut Apa Kata Suami

    “Mas, ditunggu Bapak di mobil.”Arif menatap Jose yang merentangkan satu tangan ke arah parkiran mobil pengadilan. Tidak perlu ditanya tentang keperluannya, karena ia sudah bisa menebaknya.“Mobilnya di ujung,” ucap Jose menambahkan informasi sebelum Arif bertanya lebih lanjut.Napas Arif terbuang pelan. Cepat atau lambat, gosip mengenai syukuran rumah baru Arif sekaligus kabar mengenai dirinya yang telah memperkenalkan Suci sebagai istri, pasti akan sampai juga ke telinga Ivan. Tidak hanya Ivan, karena Deswita tentu juga sudah mendengarnya. “Makasih,” ujar Arif kemudian pergi ke arah yang ditunjukkan Jose. Ia mendatangi sedan hitam yang berada di sudut lahan parkir, lalu memasukinya. Duduk berdampingan dengan Ivan di kursi penumpang bagian belakang. “Ayah sampe nggak tau mau ngomong apa,” ujar Ivan datar, tanpa emosi sama sekali karena sudah terlalu lelah dengan sikap putranya. “Kamu mengundang orang-orang ke rumahmu dan memperkenalkan Suci sebagai istri yang sudah kamu nikahi beb

  • Kontrak Suci   59~Siap, Mas Suami!

    “Hati-hati di jalan,” ucap Suci sambil melambai pada Firman, tamu terakhir yang meninggalkan rumahnya. “Makasih banyak sudah datang.”“Iya, Mbak. Sama-sama,” balas Firman sambil mengangguk sopan pada Suci dan Arif. Setelah berpamitan sekali lagi, ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman pasangan suami istri tersebut.“Selesai!” ucap Arif membuang napas lega. Acara mereka berjalan lancar tanpa ada drama. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi setelah ini, karena Arif sudah memperkenalkan Suci sebagai istrinya. Dan apa pun penilaian orang-orang setelah ini, Arif tidak berniat memikirkannya sama sekali.“Capek,” keluh Suci sambil memijat bagian belakang pinggangnya yang terasa pegal. Meski tubuhnya terasa lelah, hatinya justru dipenuhi rasa lega karena acara mereka berjalan sesuai harapan. “Tinggal tunggu orang katering pulang, habis itu aku mau tidur.”Arif merangkul Suci, membawa sang istri kembali masuk ke dalam rumah. “Istirahat duluan di kamar. Biar aku, Sahli, sama Hadi yang

  • Kontrak Suci   58~Lebih Dari Cukup

    Suara tawa sesekali pecah di antara kelompok-kelompok kecil yang duduk mengelilingi meja-meja bundar di taman samping rumah. Taman yang memanjang hingga ke halaman belakang itu, sore ini disulap menjadi tempat syukuran yang hangat dan sederhana.Di salah satu sisi taman, terdapat meja prasmanan yang dipenuhi aneka hidangan tidak pernah sepi. Beberapa tamu tampak mengantre sambil melanjutkan obrolan mereka, sementara petugas katering dengan sigap mengganti nampan yang mulai kosong.Hampir seluruh tamu yang hadir merupakan rekan kerja Arif, beberapa klien lama, serta teman-teman dekat yang telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Sore itu, hampir semua orang yang penting dalam kehidupan profesional Arif hadir memenuhi undangannya. Dan di tengah keramaian itulah, untuk pertama kalinya Suci akan diperkenalkan secara resmi sebagai istri Arif Adiningrat."Masih deg-degan?" bisik Arif tanpa mengalihkan pandangannya dari tamu yang sedang mengobrol di hadapan mereka.“Masih.” jawab Suci semba

  • Kontrak Suci   57~Tetap di Sampingku

    “Akhirnya, selesai juga!” Suci menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. Mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuhnya yang terasa penat. Setelah seharian berjibaku menata perabotan di rumah baru, akhirnya tugas itu rampung juga.Setelah menunggu hampir setengah bulan, akhirnya rumah tersebut bisa ditempati juga. Meski masih ada beberapa sudut yang belum sempurna, rumah itu akhirnya siap menjadi tempat untuk membangun kehidupan baru.“Nanti malam beli bakso aja, ya, Mas?” lanjut Suci sambil menatap langit-langit kamar baru yang luasnya hampir dua kali lipat dibanding kamar yang ditempatinya di apartemen. “Di makan panas-panas, pedes-pedes.”“Jangan pedes-pedes, nanti sakit perut,” ujar Arif sambil menurunkan suhu pendingin ruangan. Setelah selesai, barulah ia ikut berbaring di samping Suci. “Pedes dikit,” ujar Suci menurut saja. “Tapi delivery aja. Aku malas keluar. Capek.”Arif memiringkan tubuh perlahan. “Ayo mandi. Biar aku pijatin sekalian.Suci tersenyum miring dan menyip

  • Kontrak Suci   56~Langsung Pulang

    “Sepertinya aku nggak bisa pulang pas makan siang nanti,” ucap Arif setelah membaca pesan dari Felix di ponselnya. “Hari pertama kerja, tapi sudah diminta nemani Pak Felix makan siang dengan klien.”“Harusnya Mas bersyukur,” ucap Suci tersenyum kecil dan bersiap memasangkan dasi di leher Arif. “Itu artinya, Pak Felix percaya sama Mas.”“Aku sangat bersyukur.” Arif mengusap pelan pipi Suci yang tengah memakaikan dasi untuknya. Dan kali ini, bukan lagi sandiwara. “Walau ‘makan siangnya’ harus ditunda sampe minggu depan.”Suci terkekeh karena mengerti dengan maksud Arif. “Kerja, Mas. Jangan mikir ‘makan siang’ terus. Lagian juga masih libur.”“Yang libur, kan, kamu,” balas Arif meringis lebar sambil menangkup gemas wajah Suci. “Bukan aku.”Suci memanyunkan bibirnya. “Curang.”Arif tertawa lepas melihat ekspresi istrinya. Ia lalu mengecup bibir sang istri yang mengerucut itu. “Maaas, ini lagi masang dasi,” gerutu Suci menepuk pelan dada Arif. “Nggak usah cium-cium.”“Iya, iya,” jawab Ari

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status