LOGINSenin pagi Vio sedikit santai. Ia bisa berangkat agak siang naik taksi karena Adriel ada panggilan darurat jam tiga pagi tadi.Vio memencet tombol lift. Isinya penuh. Perawat, koas, pasien, keluarga pasien—semuanya berdiri rapat seperti ikan pindang. Ia pun terpaksa masuk karena tidak mau menunggu lebih lama.Di antara belasan orang, diantaranya ada Rocky sedang makan roti sobek yang Vio tahu betul itu punya siapa.“Bang?”“Hm?”“Itu roti dari ruangan Adriel?”Rocky langsung menggigit roti lebih besar. “Bukti dulu.”"Tanggal expirednya dua hari lagi."Rocky mengangguk bijak. “Iya. Dan gue jaga-jaga supaya lo gak makan gula berlebihan.”Vio menoleh pelan. “Jadi bener itu punya gue?”Seorang bapak di pojok lift refleks menekan tombol open door padahal lift belum sampai lantai mana pun.“Sebagai dokter, gue melindungi pasien dari diabetes.”"Gue bukan pasien lo!"“Semua manusia pasien potensial.”Vio langsung mencoba meraih roti itu. Rocky mengangkat tangannya tinggi-tinggi
Setelah puas bermain ala suami istri di kamar, mereka berdiri di depan jendela besar ruang keluarga, kerja sama membersihkan kaca. Vio bagian lap kaca, Adriel bagian semprot cairan pembersih. Setiap semprotan selalu terlalu dekat ke wajah Vio.“Adriel!”“Oops.”Tawa kecil terus muncul di sela-sela kerjaan.“Kalau robotnya rajin, weekend kita ngapain?” tanya Vio.Adriel menjawab santai. “Cari kerjaan lain.”“Contohnya?”Adriel menatap sebentar. Senyum pelan muncul. “Kayak beberapa menit lalu.”Vio langsung salah fokus, kain lapnya berhenti di kaca.Di belakang mereka, dari arah pintu dapur, seseorang sudah berdiri sekitar lima menit. Bibir atasnya terangkat pelan dengan ekspresi muak.Belinda berdeham keras.Keduanya langsung kaget dan menoleh bersamaan.Vio refleks hampir menjatuhkan botol pembersih. “Kamu dari kapan di situ?!”Belinda bersandar santai di pintu. “Dari kalimat kalo robotnya rajin, weekend kita ngapain.” Tatapannya pindah ke dua robot yang lagi muter di lan
Sejak semalam, Vio berjanji akan jadi istri yang lebih baik untuk Adriel. Ia berusaha menerima ketidaktahuannya soal masa lalu. Mungkin itu hanya pertengkaran biasa.Pagi ini, menjadi istri baik dimulai dengan masak di akhir pekan. Semesta seolah mendukung, tapi tidak dengan kompor."Ini kok gak nyala?" Bunyi kompor terus berulang beberapa kali. Membuat Adriel yang sedang membersihkan seluruh figura foto, melongokkan kepalanya ke arah dapur."Sayang? Kenapa?""Apinya gak mau keluar. Ini rusak deh kayaknya.""Mungkin gas nya abis. Cek aja."Sepi. Vio mengambil ponsel dan mencari tahu cara mengecek gas yang habis. Ia begitu fokus sampai tidak sadar Adriel sudah berdiri di sisinya."Itu ada meterannya, kamu bisa liat.""Oh?"Adriel jongkok. Ia melihat angka di regulator. "Iya, abis. Aku ganti dulu."Pelan, Vio melangkah keluar rumah membawa ponsel dan botol minumnya. Adriel memasang gas dengan terlatih. Ia mengecek kompor. Apinya keluar biru. "Udah, sayang."Tidak ada jawa
Adriel menaruh berkas di meja jaga. Ia menandatanganinya dengan tidak fokus. Ada Vio disana. Ia ingin bicara tapi takut istrinya tidak merespon dan membuat suasana jadi tambah buruk."Dok Vio, tolong bikinin order pasien bed 327 ya. Saya mau kasih obat baru permintaan dok Rocky tadi.""Oke, sus." Kata Vio masih fokus mengetik."Oke, makasih, dok. Oyah, saya boleh mintak tolong lagi?"Vio menggeleng. "Nggak. Minta tolong orang aja. Aku sibuk.""Tapi ini soal dok Rocky."Vio berhenti mengetik sebentar. Perasaannya mulai tidak enak. "Ada apa sama mahluk satu itu?""Dia pinjem uang saya buat borong roti anak kecil di parkiran. Katanya mau diganti jam empat. Sekarang udah jam enem, orangnya malah kabur ke ruang operasi. Mana beres operasinya jam delapan lagi. Saya butuh buat ongkos, dok. Kan gajian masih lama."Vio membuang nafas pelan. Ia merogoh saku di tas ranselnya yang tergeletak di lantai. "Berapa, sus?""Dua ratus tiga puluh ribu, dok."Mata Vio mendongak ketika ia menc
Keesokan harinya, tidak ada perubahan yang benar-benar terlihat. Vio tetap masuk ke ruangan Adriel seperti biasa. Saat melihat Adriel sedang menuang kopi, ia hanya mengangguk pelan."Siang.""Siang." jawab Adriel.Hanya itu, tidak ada senyum, tidak ada tatapan tajam, tidak ada pertengkaran. Justru itu yang membuat Adriel jauh lebih gelisah."Makan siang bareng?" Tanya Adriel."Boleh. Elsa udah nungguin. Yuk."Selama perjalanan ke kantin, tidak ada pembicaraan. Vio sibuk menjilat kojek sambil membaca jadwal operasi.Di meja kantin, makanan Vio sudah Elsa pesankan. "Kok cuma buat Vio?" Adriel pura-pura merajuk."Gue mana tahu ada tambahan member. Pesen sendiri lah."Adriel manyun. Ia duduk dan makan bagian Vio."Dagingnya punya aku. Jangan pernah sentuh itu sedikit pun!" Gertak Vio galak."Pelit banget. Tadi pagi kamu makan daging bagianku.""Jangan suka ungkit pemberian, gak baik." Elsa yang duduk di depan mereka beberapa kali melirik bergantian. Vio dan Adriel makan sa
Adriel tidak langsung menjawab.“Keputusan apa, Adriel? Hari itu aku ngapain?”Adriel menurunkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Vio. “Kamu bilang kamu butuh waktu sendiri.”“Itu bukan keputusan besar. Aku cuma bilang begitu?” tanyanya.Adriel tidak menjawab.Vio menatap wajah suaminya lama. “Aku sempat buka satu hal dari hape lama. Riwayat panggilan terakhir.” Vio menelan ludah. “Banyak panggilan masuk sama keluar dari kamu. Jamnya deketan, durasinya pendek-pendek.”Rocky yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari mereka menggeser berat badan, jelas ikut menegang. Elsa melirik ke arah Adriel, lalu kembali ke Vio.“Aku tanya sekarang,” kata Vio, matanya tak lepas dari Adriel. “Kita waktu itu sering teleponan kenapa?”Adriel menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan jawaban itu sejak tadi. “Kerjaan.”Vio mengangkat alis. “Kerjaan?”“Iya.”“Kerjaan sampai puluhan kali? Dengan durasi satu menit, dua menit, tiga menit?” Vio tertawa kecil, “Kita dokter, Adriel. Kala
“Rocky!” Suara Adriel menggema.Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung run
Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar
Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitk
Viola menekan tombol lift dengan siku. Tangannya sibuk membawa ratusan map laporan operasi dan rekam medis pasien. Dia sempat melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 18.05 wib. Jam pulang manusia normal, tapi jadi jam kekacauan bagi residen Obgyn tahun ke dua.Drrrrt~"Halo, sayang?""Kamu







