LOGINRasti harus menerima kenyataan pahit saat sang suami menikahi istri dari adiknya yang meninggal dalam kecelakaan. Tidak ada pilihan lain baginya karena segala yang terjadi seakan tiba-tiba datang. Ia yang hidup sebatang kara tentu tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan kala danang berjanji pernikahan itu hanyalah formalitas untuk membuat orang tuanya merasa bahagia. Namun, benarkah hanya formalitas belaka? Akankah Danang berpegang teguh pada janji yang telah ia ucapkan terhadap sang istri? Atau justru, Danang akan terlibat cinta segi tiga yang sangat rumit hingga ia akan mengalami sebuah kesulitan dalam memutuskan pelabuahn hatinya kelak? Di saat berada dalam situasi yang menyakitkan, Rasti menemukan sebuah rahasia besar akan misteri meninggalnya bapak dan ibu dalam sebuah tragedi kecelakaan hingga dirinya harus kehilangan dunianya. Dan iapun pada akhirnya menemukan rahasia yang telah disembunyikan keluarga suaminya selama bertahun-tahun. Seperti apakah kisah Rasti sebenarnya? Ayo, ikuti cerita ini. Dijamin seru dan menguras perasaan.
View MoreMelihat hal itu, tentu saja Rasti merasa lega. Karena ia tidak akan menghabiskan waktu berdua saja dengan Huda di kamar rumah sakit.“Makan dulu, ya? Nanti minum obat,” ucap Huda seolah memberi kesan bahwa ia adalah orang yang menjaga Rasti.“Jangan sentuh makanan itu! Biar aku yang nyuapi mama,” kata Nadine sewot.“Baiklah,” ucap Huda mengalah.Beberapa jam, Danang terpaksa duduk memperhatikan segala gerak-gerik Huda yang begitu perhatian terhadap mantan istrinya. Meski berkali-kali Nadine menunjukkan ketidaksukaannya pada Huda, tapi lelaki itu seolah tidak peduli.Rasti hanya terbaring dalam posisi lemah dengan perasaan yang cemas. Takut, bila terjadi sebuah pertengkaran di saat ia tengah sakit.Danang hanya duduk diam di kursi, merasa dirinya hanya datang untuk menemani Nadine, dan tidak ada hak lagi atas Rasti.“Dari mana kamu tahu aku sakit?” tanya Rasti setelah didudukkan oleh Nadine pandangan matanya tertuju pada Huda. Saat itu, Nadine tengah keluar untuk membeli minuman. Hanya
Mentari pagi terasa hangat menyentuh kulit tangan Rasti yang tengah terampil memetik cabai di kebun. Kesehatan sang nenek sudah memburuk akibat usia yang sudah senja. Ia merasa takut kehilangan Watri, setelah sebelumnya Priono disusul Muryani menghadap Sang Pencipta. Kini, ia lebih memilih fokus merawat ibu dari ayahnya itu.Sebuah suara mobil terdengar memasuki halaman rumah watri. Rasti berhenti dari aktivitasnya, gegas berjalan menuju halaman yang posisinya berada di atas kebun. Ia memicingkan mata, melihat kode plat mobil yang menandakan area Jogjakarta. Tangannya masih memegang sebuah baskom plastic kecil berisi cabai.“Tante!” Sebuah sapaan lembut terucap dari mulut gadis yang baru saja turun dari mobile.“Alea!” Reflex, mulut Rasti menyebut nama seorang gadis yang terlihat kurus.“Tante ….” Alea kembali memanggil Rasti dengan mata berkaca-kaca.“Maaf, menyusul kamu ke sini.” Hanung yang baru saja turun dari mobil langsung menyahut.“Mama, siapa yang datang?” tanya Nadine yang b
“Akhirnya kamu datang, Mbak. Dan baru kali ini kita bertemu,” ucap Huda.Rasti yang kini telah berbalik sedikit mundur.“Jangan takut, Mbak! Aku tidak akan melukai Mbak Rasti lagi. Aku datang untuk minta maaf. Maaf, aku telah berpesan pada tetangga Mbak Rasti untuk menghubungiku saat Mbak datang.”Rasti masih belum percaya apa yang dikatakan Huda. “Untuk apa?” tanyanya ketus.“Aku ingin minta maaf, Mbak. Duduklah sebentar denganku,” ajak Huda.Dengan ragu-ragu, Rasti mengikuti Huda yang duduk di tepi teras. Lantai masih terlihat bersih karena setiap pagi dibersihkan oleh karyawan.“Aku sudah bercerai dari Maryam. Aku benar-benar telah menyakiti hatinya. Tapi, aku tidak berbohong jika rasa cintaku hilang terhadap dia saat Mbak Rasti datang kembali dalam hidupku dulu kala. Dan sampai saat ini, aku masih memendam rasa itu.” Huda berhenti sebentar lalu memandang Rasti dengan posisi kepala menoleh. “Aku masih mencintaimu. Maaf, aku telah berusaha mendapatkanmu dengan cara yang salah. Maaf,
“Saya terima nikah dan kawinnya Rasti Efrianti binti Rusdi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai ….”Ucapan sah menggelegar di ruang tamu rumah Rasti yang ada di kampung. Senyum Nadine dan Raline mengembang dengan sumringah.Rasti yang memakai hijab syari dengan riasan sederhana mencium takzim tangan lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya. Mereka lalu saling tatap dan mengurai senyuman.Setitik air mata jatuh dari pria yang memakai kemeja berwarna putih.***Rasti memperhatikan orang yang dibayar untuk memotong rumput yang sudah meninggi di rumahnya yang di Jogja. Anak-anaknya tidak ikut serta karena mereka tidak mau. Setelah pekerjaan orang suruhannya selesai, ia bersiap untuk kembali masuk rumah.“Rasti ….” Sebuah suara membuatrnya urung masuk.Mata Rasti menatap pria yang baru datang tanpa berkedip. “Pak Hanung,” sapanya dingin.“Akhirnya kamu kembali,” sahut Hanung. “Aku sering datang ke sini untuk menunggumu pulang. Dan hari ini, aku bertemu denganmu.”“Unt
Refleks, Rasti tersenyum. Menarik bibirnya panjang. Kejutan semacam itu dulu selalu Danang dan anak-anaknya berikan. Kini, hal itu dilakukan oleh Hanung. Tidak dipungkiri Rasti, Danang pria yang sangat baik dan menyayanginya.“Tiup lilin, Tante,” perintah Alea. Mata Rasti memanas. Berbagai rasa berca
“Anak-anakku belum tentu mau,” jawab Rasti jujur.“Harus dibujuk biar mau.”“Anak-anakku kuat pendiriannya. Mereka tidak gampang terpengaruh.”“Sikap yang bagus. Cocok bila menjadi pengacara. Akan aku ajari mereka,” canda Hanung sambil tersenyum.Rasti tertawa kecil, memperlihatkan deretan gigi putihnya
“Maaf mengganggu waktu Mbak Rasti,” kata Hanung.“Jadi Pak Hanung yang menungguku?”“Iya. Soalnya Mbak Rasti tidak mau mengangkat telepon kami.”Dengan setengah memaksa, Hanung mengajak Rasti minum kopi bersama di sebuah café mewah yang ada di dekat butik. Di sanalah Hanung bercerita banyak tentang Ale
Part 77“I-iya,” jawab Rasti terbata.“Aku, aku adalah ibu Astuti,.” Muryani memperkenalkan diri. “Ayo, kita ke rumah,” ajak Muryani.Rasti bergeming. Merasakan keanehan dari cara neneknya mengajaknya. Tidak seperti orang yang baru saja bertemu. Penyambutan yang jauh berbeda dari saat ia bertemu Watri.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore