LOGINYiran mempunyai rencana sempurna. Ia tahu kondisi bossnya sedang tidak sehat, sehingga ia menyiapkan obat yang sesuai, lalu ia bisa menghabiskan malam bersama agar bisa menjerat pria berkuasa itu selamanya. Namun, rencana itu hancur saat pacar Yiran yang posesif tiba-tiba muncul di depan pintu hotel. Demi menyelematkan mukanya, ia segera menelpon Meilin dengan kata ajaibnya "tolong"maka Melin akan segera hadir. Yiran pun mengatakan pada pacarnya bahwa Melin yang sudah mengatur itu semuanya dan Melin hanya mengangguk menyetujuinya. Melin pun ditinggal di kamar hotel itu, dan di tempat tidur ia melihat sosok pria yang mempunyai tatapan sangat tajam sehingga membuatnya bergidik ketakutan. Namun tiba-tiba pria iitu tersenyum dengan sinis dan tertidur. Pagi harinya, Melin bangun dan melihat ia hanya sendirian di tempat tidur tersebut namun sama-samar terdengar beberapa obrolan di ruangan lain. Ia pun berjalan dan membuka pintu. Dan ia pun terkejut, ternyata di ruangan tersebut ada pria yang tadi malam sedang duduk bersama dengan beberapa pria lain termasuk ia melihat kakaknya. Dengan reflek, ia pun kembali menutup kamar tersebut dan mulai berkata. "oh tidak, sepertinya lebih baik aku mati sekarang daripada bertemu kakakku di sini".
View MoreMeilin tersentak bangun dengan napas tercekat, seolah baru saja ditarik paksa dari dasar mimpi buruk yang pekat. Kepalanya terasa luar biasa berat. Ingatan tentang semalam berputar samar dan terputus seperti potongan pita seluloid rusak. Hal terakhir yang ia ingat hanyalah dirinya yang tertidur di sofa setelah semalaman menjaga Direktur Lee Hanzhen—atasan dari sahabatnya, Yiran—yang mendadak tumbang karena demam tinggi.
Namun, saat matanya menyapu sekeliling ruangan, tubuh Meilin langsung membeku. Ranjang King Size di tengah suite room mewah itu sudah kosong. Pria yang dijaganya semalam telah tiada. "Syukurlah..." Meilin mengembuskan napas lega yang panjang. Ia benar-benar tidak ingin bertemu pria itu dalam keadaan sadar. Membayangkannya saja sudah cukup membuat bulu kuduknya meremang. Semua orang di dunia bisnis memanggil pria itu dengan julukan "Putra Mahkota". Sebuah gelar yang terdengar sempurna dan berkilau. Namun bagi Meilin, Lee Hanzhen sama sekali tidak menyerupai pangeran ramah dalam dongeng. Pria itu tidak hangat, tidak lembut, dan hampir tidak terasa seperti manusia. Tatapannya sedingin es, wajah tampannya terlalu tajam hingga terasa menindas, dan auranya begitu menyesakkan. Hanzhen tak ubahnya seekor iblis yang mengenakan setelan mahal buatan penjahit terbaik Paris. Meilin mengusap wajahnya kasar lalu melirik jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Saat meraih gawainya, layarnya langsung menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari Yiran: ‘Meilin, terima kasih banyak ya sudah bersedia menjaga Direktur Lee Hanzhen semalam.’ Meilin memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ia teringat kembali bagaimana Yiran memohon-mohon padanya semalam karena ada urusan mendesak. "Dia kenapa sebenarnya sampai harus dijaga seketat ini?" tanya Meilin waktu itu melalui sambungan telepon. "Hanya demam karena kecapekan," jawab Yiran menenangkan. "Yichen sudah memeriksanya dan memberinya obat tidur dosis ringan. Dia tidak akan merepotkanmu, Mei. Tolong ya?" Karena yang meminta adalah Yiran—ditambah Yichen adalah seorang dokter profesional—Meilin sama sekali tidak menaruh curiga. Namun sekarang, setelah terbangun dengan tubuh yang terasa aneh dan ingatan yang bolong-bolong, firasat buruk mulai merayap di dadanya. "Aku harus pergi sebelum dia kembali," gumam Meilin panik. Ia segera bangkit, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari, lalu berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun, begitu daun pintu suite itu terbuka, langkah Meilin terhenti total. Seluruh darah di tubuhnya seolah turun ke kaki. Di ruang tengah suite room luas yang disulap menjadi ruang rapat darurat itu, tampak beberapa pria berpakaian formal berdiri tegap. Di tengah-tengah mereka, Lee Hanzhen duduk santai di sofa kulit sambil menjepit sebatang rokok yang menyala di antara jemarinya. Kakinya disilangkan dengan elegan. Aroma maskulin bercampur tembakau mahal langsung menyergap indra penciuman Meilin. Namun, yang membuat wajah Meilin mendadak pucat pasi bukanlah Hanzhen. Melainkan sosok pria tegap yang berdiri tepat di samping sofa sang Direktur. Gu Junhao. Kakak kandungnya sendiri. "Oh, tidak..." Suara Meilin tercekat di tenggorokan. Dalam sekejap, seluruh pasang mata di ruangan itu menoleh ke arah sumber suara. Keheningan yang mencekam langsung merayap. Seorang wanita keluar dari kamar pribadi sang Direktur di pagi buta, dengan pakaian yang sedikit kusut dan rambut berantakan. Tanpa perlu penjelasan apa pun, pemandangan itu sudah cukup untuk memicu skandal kotor di kepala semua orang. Jantung Meilin berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging. Di seberang ruangan, rahang Gu Junhao tampak mengeras, matanya menatap Meilin dengan kilat kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. Anehnya, Hanzhen justru tetap tenang. Seolah kehadiran Meilin di sana tidak lebih dari sebutir debu yang lewat. "Lalu, bagaimana perkembangan proyek di distrik barat?" Hanzhen memecah keheningan dengan nada suara datar dan dingin. Ia mengembuskan asap rokok perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. Sikap tak acuh Hanzhen berhasil mengalihkan kembali perhatian para staf profesional itu kepada urusan pekerjaan. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Meilin. Dengan gerakan kilat, ia mundur selangkah lalu membanting pintu kamar dari dalam. BRAK! Napas Meilin langsung memburu kacau. Ia bersandar pada pintu yang tertutup rapat, memegangi dadanya yang naik-turun hebat. "Gila... aku benar-benar mati kali ini," bisiknya frustrasi sambil meremas rambutnya sendiri. Kenapa dari sekian banyak orang di dunia ini, harus kakaknya yang melihat kejadian memalukan itu? Jika Junhao sudah tahu, maka tidak butuh waktu lama bagi seluruh keluarga besarnya untuk mendengar kabar ini. Hidupnya yang tenang akan benar-benar tamat. "Apa aku harus lompat dari lantai dua belas saja?" Meilin terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya dengan tubuh gemetar. Tempat semewah ini mendadak berubah menjadi penjara yang siap mengeksekusinya. Tepat saat Meilin berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya untuk mencari jalan keluar, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu tempatnya bersandar. Pelan, berirama, namun terasa begitu mengintimidasi. Tok. Tok. Tok. Meilin menahan napas, tidak berani bergerak satu milimeter pun. Dari balik pintu, terdengar suara berat dan dingin yang sangat ia kenali, memanggil namanya dengan nada rendah yang membuat bulu kuduknya meremang. "Buka pintunya, Meilin. Kita perlu bicara tentang apa yang terjadi semalam."Pernyataan lugas Hanzhen tentang rencana pengumuman pernikahan mereka yang kian dekat, justru melempar Meilin ke dalam pusaran kebingungan yang semakin pekat. Rencana ini terasa kian tak terkendali."Hanzhen, aku tahu betul kamu tidak menyetujui rencana pernikahan ini. Tapi kenapa kamu justru sengaja memperpanjang skenario konyol ini?" hardik Meilin, menuntut penjelasan."Kamu belum pernah memikul tanggung jawab besar yang melibatkan hajat hidup orang banyak," sahut Hanzhen tenang, berusaha keras menjaga intonasi suaranya agar tetap stabil di tempat umum. "Sejak insiden malam itu di hotel, beberapa pemegang saham utama mulai mengendus desas-desus. Begitu pula dengan media yang terus mengintai."Meilin terdiam, mencoba mencerna badai situasi yang tengah mengepungnya."Rumor itu berpotensi mengacaukan stabilitas harga saham perusahaan. Sementara di pundakku, ada lebih dari sepuluh ribu kepala keluarga yang nasibnya harus kuamankan agar tetap bisa bekerja," lanjut Hanzhen. Kali ini, ada
Hanzhen menunggu di lobi dengan arloji yang terus ia lirik. Baginya, waktu adalah komoditas paling berharga, dan keterlambatan Meilin selama lima belas menit adalah pemborosan yang tidak efisien.Saat Meilin akhirnya muncul, Hanzhen memindai penampilannya dengan tatapan datar. Hanzhen pikir 15 menit keterlambatan Meilin digunakan mempercantik diri. Namun Meilin sama sekali tak ada usaha untuk memoles wajah, bahkan lipstik yang memudar itu dibiarkan begitu saja.‘Bahkan dia tidak merasa perlu menjaga citra di depanku,’ batin Hanzhen sinis.Harapannya bahwa Meilin setidaknya menghargai pertemuan ini luruh seketika. "Maaf aku terlambat. Bagaimana perjalanan dinasmu?" tanya Meilin.Hanzhen hanya mengulas senyum tipis—senyum yang menyembunyikan badai.Meilin selalu merasa terintimidasi oleh keheningan pria itu. Baginya, suara Hanzhen adalah belati; parau, berat, dan setiap katanya terdengar seperti titah yang tak boleh dibantah. Tetapi diamnya, malah seperti memasuki wahana hantu yang kit
Dua hari selanjutnya, ia jalani semakin berat. Meilin menyeret langkahnya masuk ke dalam rumah, seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah hidupnya di tengah badai tanpa kompas. Pundaknya jatuh, lelah bukan karena tubuhnya, tapi karena pikirannya sendiri yang tak berhenti dihantam kenyataan.Namun rumah itu… sama sekali tidak ikut tenggelam bersamanya. "Aku Pulang" Kata Meilin dengan nada pelan.Aroma tumisan memenuhi udara, hangat, menggoda, seperti dunia ini masih baik-baik saja. Dari dapur, terdengar suara yang terlalu ceria untuk suasana hatinya.“Can marry your daughter… and make her my wife~”Lagu itu—Marry Your Daughter (Brian Micknight, Jr.)—dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh ibunya, meski nada dan liriknya sesekali melenceng jauh dari jalur kewarasan musikal.Ibunya berputar kecil di depan kompor, spatula di tangan seperti tongkat konduktor orkestra cinta."Meilin! Sini, Sayang! Mama masak Tumis Daging Hitam kesukaanmu! Spesial hari ini!” serunya, seolah baru sa
“Sebenarnya… apa yang ada di pikiran pria itu?”Meilin bergumam pelan.Suaranya bergetar, nyaris hilang di udara.Ciuman di mobil itu masih menempel di kepalanya seperti bayangan yang tidak mau pergi.Hangat.Tapi juga menyesakkan.Seperti sebuah tanda kepemilikan yang dipaksakan tanpa izin.Dan justru itu yang membuat Meilin merasa paling kacau. Ia tidak mengerti. Kenapa Hanzhen bersikap seperti itu…padahal di sisi lain, ada Yiran.Ada hubungan yang seharusnya jelas.Atau setidaknya… begitu yang ia pikirkan.Tanpa berfikir panjang, ia meraih Telepon Genggamnya. “Yiran… tolong aku.”Suara Meilin pecah begitu mereka duduk berhadapan di kafe kecil itu.Tangannya gemetar.Matanya merah, tapi ia menahannya agar tidak benar-benar menangis.“Nasibku… benar-benar sudah di ujung jurang.”Yiran terdiam, mencoba memahami kata-kata yang keluar dari Meilin.“Apa yang terjadi?”"Sebaiknya aku bertemu denganmu, akan aku ceritakan semua padamu" Jelas Meilin. "Ok, aku tunggu di kafe biasanya"Me


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.