LOGIN“Dastan, tolong dididik anjingmu! Dia selalu masuk rumah orang seenaknya, sama seperti majikannya dulu.” Dastan menyandarkan tangan di pagar, menatap malas ke arah Marvella. “Lucu ya? Dulu waktu aku mau 'masuk', kamu malah buka 'pintunya' lebar-lebar.” Marvella pun tercengang mendengar kalimat ambigu pria itu yang mengarah ke hal tak senonoh, lalu mendesis pelan. “Tapi sekarang 'pintunya' sudah digembok dengan rapat.” Dastan mendekatkan wajahnya seraya berbisik nakal, “Santai aja. Kunci akan selalu bisa dicari. Dibobol paksa, kalau perlu.” *** Marvella Riani, single mom dengan anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Kenzo, pindah ke komplek baru demi hidup tenang pasca perceraian. Namun ketenangan itu hancur begitu ia sadar bahwa rumah sebelah ternyata dihuni oleh Dastan Alvaro—mantan pacar yang dulu meninggalkan luka besar. Kini Dastan adalah arsitek sukses, bujangan paling populer di komplek, sekaligus pemilik anjing husky usil bernama Oreo yang lebih sering nongkrong di rumah Marvella bersama Kenzo, ketimbang di rumahnya sendiri. ***
View MoreDUA PULUH TAHUN KEMUDIAN Kantor pusat Struktura Design sudah pindah ke gedung yang jauh lebih tinggi. Logo perusahaan itu pun kini sering muncul di berita nasional. Dan di lantai paling atas, ruang CEO masih terasa sama tegangnya. Hanya saja, sekarang sumber ketegangan itu terlihat berbeda. “Kenzo.” Suara Dastan berat, penuh otoritas. Kenzo Rafi, 31 tahun, Direktur Operasional, menoleh dengan ekspresi profesional. “Iya, Ayah?” Dastan menyilangkan tangan. “Kamu lihat Kaia hari ini?” Kenzo menjawab tanpa berkedip. “Lihat. Tadi pagi.” “Dengan siapa?” Reyhan yang duduk di sofa tamu menatap putrinya, Alya, yang berdiri santai di samping jendela seolah ini bukan interogasi keluarga. Alya, 23 tahun, arsitek muda yang baru lulus S2 dari Singapura, langsung menyahut lebih dulu. “Kaia kan meeting sama tim marketing, Om.” Kenzo mengangguk mantap. “Betul itu. Tim marketing.” Dastan menatap keduanya bergantian. “Tim marketing apa yang pakai motor gede dan jaket kulit?”
Kapal pesiar mewah itu berlayar perlahan meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok. Rute perjalanan ini sudah disusun secara pribadi oleh Dastan dan Reyhan, selaku penggagas untuk liburan keluarga mereka kali ini. Rutenya adalah Jakarta – Belitung – Labuan Bajo – Bali – Lombok. Perairan Indonesia bagian barat hingga timur yang terkenal dengan laut sebening kaca, gugusan pulau karst, dan matahari terbenam yang sulit ditandingi negara mana pun. Di atas kapal itu bukan hanya keluarga inti. Ada Dastan, Marvella, Kenzo dan Kaia. Ada juga Arman dan Lestari, orang tua Marvella. Dan Miranda serta Jevan dengan balita laki-laki mereka yang masih berusia tiga tahun, Callum. Lalu ada Reyhan, Ara, dan Alya serta kedua orang tua Ara. Dan ibu Reyhan serta Risa, adik Reyhan. Kapal pesiar itu bukan sekadar sarana liburan. Tapi juga simbol bahwa mereka sudah melewati banyak hal. Luka, kehilangan, penantian... dan mereka tetap memilih untuk bertahan. *** Story 1 : Reyhan dan Ara – Malam
EMPAT TAHUN KEMUDIAN Ruang rapat utama kantor pusat Struktura Design pagi itu diisi suasana yang jauh lebih formal dari biasanya. Di seberang meja panjang duduk jajaran pejabat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, lengkap dengan staf teknis, konsultan, dan map berlogo Garuda di atas meja. Di layar proyektor terpampang judul besar: Proyek Revitalisasi Kawasan Terpadu Tanggul Pesisir Utara Jakarta (Giant Sea Wall Tahap Lanjutan) Sebuah proyek strategis nasional. Dastan berdiri di sisi kanan layar, tenang seperti biasa, meskipun sorot matanya menunjukkan ini bukanlah proyek biasa. Reyhan tepat duduk di sampingnya memegang remote presentasi., kini jauh terlihat lebih matang dan lebih tegas dari empat tahun yang lalu. Sebagai Kepala Cabang Struktura Design di Singapura, ia diminta Dastan selaku CEO untuk kembali ke Indonesia, karena perusahaan mereka diminta secara khusus untuk proyek spesial dari Pemerintah. “Kementerian meminta kami sebagai lead design
Angin malam bergerak pelan, memainkan ujung rambut panjang Ara yang tergerai. Kota di bawah mereka berkilau seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Lilin-lilin di meja makan masih menyala hangat. Ara masih berdiri sangat dekat dengan Reyhan. Tatapan mereka tidak lagi setajam beberapa menit lalu. Kemarahan yang tadi membara telah berubah menjadi sesuatu yang lebih rapuh, dan lebih jujur. Reyhan mengangkat tangannya perlahan, lalu menyelipkan helaian rambut yang menutupi pipi Ara. Gerakannya lembut dan hati-hati. “Aku tidak ke mana-mana,” ulangnya pelan. Ara tidak menjawab. Tapi kali ini ia tidak mundur atau menjauh, membiarkan jarak di antara mereka yang tinggal hitungan napas. Reyhan sedikit menunduk seraya menatap bibir Ara yang mereka itu sejenak, seakan memberi ruang untuk penolakan. Namun Ara tetap tidak bergerak. Saat itu Reyhan baru yakin untuk mendaratkan ciumannya perlahan, namun mendalam. Tidak terburu-buru, tapi yang sarat akan penegasan. Ara m
Reyhan terus menggenggam tangan Ara dengan erat, seolah takut gadis itu berubah pikiran di detik terakhir. Mereka melangkah masuk ke gedung apartemen, melewati lobby yang luas dengan marmer mengilap dan lampu gantung besar yang berkilau tenang. Begitu pintu lift terbuka, mereka masuk bersama beb
Malam harinya… Ara menghentikan mobilnya tepat di area drop-off lobby sebuah apartemen mewah di pusat kota. Gedungnya tinggi, arsitekturnya megah, dengan lampunya yang kuning keemasan indah. “Beneran ini alamatnya?” guman Ara sambil melirik share location Reyhan di ponselnya. Belum sempat i
Kesalahan kecil sebelum kita benar-benar jadi asing? Saat ini Ara hanya bisa mengutuk perkataannya sendiri saat mereka di mobil tadi. Dibilang menyesal, mungkin sedikit. Dibilang tidak menyesal, ada benarnya juga. Ia memang tidak menyesal karena menggoda dan menarik tangan Reyhan masuk ke d
Salju turun lebih deras dari perkiraan pagi itu. Langit Swiss yang semula cerah berubah kelabu hanya dalam hitungan jam, membuat jendela kamar mewah di hotel mereka di St. Moritz tertutup kabut tipis. Marvella berdiri di dekat kaca, mengenakan sweater rajut krem dengan rambut masih setengah basa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore