Home / Male Adult / Marlon Menantu Terhebat / BAB 31: MILIARDER YANG RENDAH HATI

Share

BAB 31: MILIARDER YANG RENDAH HATI

last update publish date: 2026-06-25 06:57:04

Tiba giliran Pak Gubernur berhadapan langsung dengan Marlon, lelaki bertubuh tinggi yang setara dengan Marlon itu menyerahkan sebuah dokumen, dan meminta Marlon menandatangani dokumen pengangkatan khusus itu. Dengan dokumen itu, dirinya bisa memberi perintah pada semua pegawai pemerintahan di ibu kota provinsi.

“Anda adalah orang pilihan, Pak Marlon, tidak banyak yang mendapat perlakukan khusus dari negara, jadi saya ucapkan selamat. Terus terang saya kagum melihat kesederhanaan Pak Marlon, wal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 122: AMARAH ADAM DI LABORATORIUM

    Sugalih melangkah lebar keluar dari pintu kedai kopi dengan wajah yang mengeras. Tangannya mencengkeram erat tas kerja yang kini berisi video pengakuan dan surat pernyataan bermeterai milik Andhika. Di belakangnya, Andhika berjalan terseok-seok, mencoba menyamakan langkah kaki adik bungsunya sambil sesekali menyeka sisa air mata di pipinya yang kuyu.Mereka berdua berjalan cepat menuju sebuah gedung beton tanpa papan nama yang berada persis di sebelah kedai kopi tersebut. Gedung itu adalah laboratorium rahasia yang disewa oleh Adam untuk memproduksi yellow pil tiruan secara massal. Begitu Sugalih mendorong pintu kaca tebal di lobi depan, aroma menyengat dari berbagai zat kimia langsung menusuk hidung.Namun, bukan aroma kimia itu yang membuat atmosfer di dalam ruangan menjadi mencekam, melainkan suara bentakan menggelegar dari arah ruang laboratorium utama.Prangg! Sraakk!"Bodoh! Kalian semua ini sarjana medis lulusan luar negeri, tapi kenapa bekerja seperti keledai?!" teriak Adam de

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 121: JEBAKAN VIDEO SUGALIH

    "Galih... tolong aku, Galih..." ratap Andhika sambil menangis tersedu-sedu. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, mendongak menatap Sugalih dengan wajah penuh air mata dan permohonan yang teramat sangat. "Aku tidak mau masuk penjara, Galih! Pak Adam sudah mengancam akan melempar semua tanggung jawab ini kepadaku jika pasien-pasien itu mati. Tolong temukan penawarnya, aku mohon..."Sugalih hanya berdiri tegak, bersedekap dada sambil menatap datar ke arah kakaknya yang kini merangkak di bawah kakinya. Tidak ada rasa iba di wajahnya, yang ada hanyalah ingatan pahit tentang bagaimana keluarga ini dulu membuangnya tanpa belas kasihan."Tolong aku, Galih... aku akan berikan apa saja... uang seratus lima puluh juta itu akan langsung kutransfer sekarang juga..." tangis Andhika semakin pecah, jemarinya mencoba meraih ujung celana Sugalih.Sugalih dengan cepat melangkah mundur, menghindari sentuhan tangan kakaknya. Ia tersenyum sinis, sebuah senyuman dingin yang sarat akan rencana besar

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 120: TELEPON DARURAT GILBERT

    Kringgg! Kringgg! Suara dering ponsel Sugalih memecah ketegangan di sudut kedai kopi itu. Bunyi yang nyaring dan berulang-ulang membuat beberapa pengunjung di meja sebelah sempat menoleh. Sugalih tertegun, lalu meraba saku jasnya dengan cepat. Ia menarik keluar benda persegi itu. Layarnya menyala terang, menampilkan satu nama yang sangat ia kenal: Gilbert.Nama itu terus berkedip, memicu debaran aneh yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dada Sugalih. Mengapa GM Megah Hardiyata Grup itu menghubunginya di saat seperti ini? Bukankah ia sudah resmi menyatakan mundur dari proyek obat pneumonia beberapa jam yang lalu?Di hadapannya, Andhika tampak semakin gelisah. Kakak keduanya itu bergerak tidak tenang di atas kursi kayu. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa dingin dan mengeluarkan keringat. Wajah Andhika yang semula memerah menuntut bantuan, kini berangsur-angsur pucat."Siapa, Galih? Kenapa tidak kau angkat?" tanya Andhika dengan suara yan

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 119: JANGAN HINA SUAMIKU

    “Dengan berat hati, aku harus memberitahu kalau aku tidak bisa menemukan obat penawarnya,” ucap Sugalih pada Andhika dan Bagas setelah usahanya melakukan pengujian ulang pada ramuan yellow pil menemui jalan buntu.“Apa?” Andhika tampak panik, demikian pula dengan Bagas yang sedang berkumpul di rumah sakit.“Kamu serius, Galih?” tegas Andhika. Sugalih hanya mengangguk lalu menundukan pandangannya.“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Bagas kepada kedua adiknya.“Sudah pasti mencari orang yang bisa menyembuhkan Ayah, dan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kak Bagas, karena perbuatan Kak Bagas lah Ayah jadi kritis sampai saat ini,” jawab Sugalih sambil membuang pandangannya dari Bagas.“Jaga ucapanmu, Galih! Aku sudah meminta persetujuan Ayah sebelum memberikan obat itu padanya. Jadi, kamu jangan asal bicara ya!” tegas tak terima. “Selama Ayah sakit, apa usaha yang sudah kamu lakukan untuk menyembuhkannya, hah? Semua aku yang uruskan? Kalian berdua tidak ada yang peduli!” S

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 118: SEBUAH KEBOHONGAN? 

    “APA...?”Sugalih terkejut mendengar kabar kalau ayahnya saat ini dalam kondisi kritis.“Benar, Pak... semua ini terjadi setelah Pak Har meminum sample yellow pil yang dibuat oleh Pak Bagas dan Pak Indra,” jelas Gilbert di sana.“Ya ampun...” ujar Sugalih dengan wajah menegang. “Dari awal aku sudah melarang untuk memberikan sampel obat itu pada Ayah, tapi Pak Bagas sama sekali tidak mau mendengar ucapanku. Beginilah jadinya... ” ungkap Sugalih seketika merasa cemas.“Sebenarnya Pak Bagas tidak mau memberitahu hal ini pada Pak Galih, karena takut disalahkan. Tapi demi keselamatan Pak Har, saya ambil inisiatif menelepon Bapak untuk memberitahu masalah ini,” jelas Gilbert.“Jadi, bagaimana sekarang Pak Gilbert? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Sugalih sambil bangkit dari duduknya.“Pak Sugalih harus mencari penawarnya, caranya dengan memeriksa dari kandungan yellow pil itu, bahan mana yang bisa menyebabkan peminumnya jadi tak sadarkan diri seperti yang dialami Pak Hardiyata,” jelas Gil

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 117: KERACUNAN YELLOW PIL

    Dua rumah sakit ternama gempar saat hasil uji coba sampel obat penyakit pneumonia pada para pasien justru membuat kondisi mereka bertambah buruk, bahkan hampir sebagian dari mereka sudah tak sadarkan diri beberapa saat setelah meminumnya.Demikian halnya yang dialami oleh Kakek Har, setelah 5 jam meminum sample yellow pil yang dibuat oleh Bagas dan timnya, kondisi presdir Megah Hardiyata Grup itu kini dalam keadaan kritis.“Tolong ayah saya, Dok...” ucap Bagas sambil mengatupkan tangannya pada sang dokter yang selama ini merawatnya. “Dari awal sudah saya sarankan agar tidak perlu mengambil risiko untuk meminum obat sampel itu. Tapi, saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menolong Pak Hardiyata. Tolong berikan sampel obat pneumonia yang kamu berikan pada ayahmu, saya akan menelitinya di lab,” pinta dokter coba mencari solusi.“Maaf, Dok, kami hanya membuat terbatas obat sample pneumonia itu, jadi kami tidak ada stok lagi,” jelas Bagas.“Wah, susah kalau begini...” ujar dokter menggele

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 3 : DISEREMPET LAMBORGHINI

    Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada di

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 14: OBROLAN DI DALAM ALPHARD

    “Apakah kamu akan berhenti menuntut Marlon di penjara, Al?” tanya Wenny pada Albert saat di lobi hotel itu hanya tinggal mereka berdua, setelah Marlon dan yang lainnya pergi.“Kamu kan sudah kenal aku lama, masak enggak tahu sifatku, Wen? Kalau aku sudah punya keinginan, apapun caranya akan aku lak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 2: BATAS KESABARAN

    Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 1: MENANTU YANG TERTINDAS

    “Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status