LOGINSeluruh bulu kuduk Raka merinding. Sari terlihat begitu berpengalaman untuk seorang gadis yang belum menikah. Bahkan lebih berani daripada Lira.Sikapnya yang manja dan sering kali tak mengenakan pakaian dalam ketika di kost, jujur membuat Raka seringkali merasa frustasi dengan godaannya. Sekarang gadis yang mengaku masih perawan itu berada di atas tubuhnya, sedang bergerak liar dengan ahli. Benarkah dia masih perawan, adakah seorang gadis suci yang tidak malu-malu mencumbu pria?“Ambill … nikmati dia … tubuh indah itu sedang terangsang dan ini kesempatan untukmu,” bisikan itu terdengar jelas di kepala Raka.“Ya benar … nikmati dia, kamu tidak minta tapi dia kasih … perawan lagi cuyy, ambilll nikmati rejeki ini,” bisikan itu semakin menggoda imannya.Namun, di sela-sela godaan yang terus berteriak keras di kepalanya, ada suara lain yang tenang dan tegas, pelan tetapi menghentakkan kesadarannya.“Hentikan Raka. Setia adalah prinsip seorang pria, atau kamu akan kehilangan semuanya!” Ka
“Semuanya bagus, teratur rapi,” puji Om Joko. Tangan lelaki itu bertaut di pinggang tante Feli. Pinggang yang beberapa malam terakhir selalu dipeluknya penuh kerinduan itu kini berada di pelukan lelaki lain. Raka menelan ludahnya. Ia ingin sekali menarik tante Feli. Tapi ia sadar statusnya dalam hati ibu kos nya hanyalah sebagai pengganti suaminya di saat jauh. Ia sadar dengan jelas bahwa perempuan itu tak akan pernah bisa jadi miliknya. …. Jam baru menunjukkan pukul delapan malam saat Raka melangkahkan kakinya keluar dari minimarket. Tangannya menjinjing tas kain belanjaan yang penuh dengan kebutuhan hariannya. Sabun mandi, shampo, pasta gigi, beberapa bungkus mie instan juga minuman energi favoritnya. Matanya menyipit saat melihat sesuatu yang tak wajar, tak jauh dari tempatnya berdiri. Dua orang pria terlihat sedang menarik tangan seorang wanita muda, seperti berniat melakukan sebuah penculikan. “Lepasi
“Raka, ini aku Sofi. Makasih banyak ya tadi kamu sudah mendengarkan unek-unek ku. Kamu teman yang baik dan aku tak akan melupakan kebaikanmu. Jika kamu perlu bantuan aku pasti bantu kamu dan sebaliknya jika aku perlu teman ngobrol kamu temani aku ya.”Cuma itu saja. Tidak ada notifikasi lain untuk tips atau apapun, hanya ucapan terima kasih. Raka benar-benar tidak mendapat keuntungan apapun dari tante Sofi, waktunya benar-benar percuma. Bahkan ia dituding merebut pelanggan, padahal Ardy yang mendapat keuntungan. Sial! Hari ini benar-benar sial. …. Sore harinya Raka baru saja hendak memarkirkan motornya di halaman kos-kosan. Wina dengan gaya centilnya berlari ke arahnya. “Mas … Mas Raka. Jangan parkir dulu. Anterin aku dulu, yuk.” Gadis itu menaik turunkan alisnya dengan genit. Raka menatapnya dengan heran. Wina dengan kaos ketat yang memamerkan pusar dan celana pendek yang selalu digunakannya. Ditambah lagi sandal jepit merah muda dengan manik-manik di talinya. “Memangnya kamu m
“Cepat bilang kamu dapat tip berapa dari tante Sofi?” tanya Ardy gusar.Makanan di mulut Raka nyaris menyembur karena terkejut dengan gerakan tiba-tiba pria itu. Piring di meja saja sampai bergeser dan nyaris jatuh, untung saja Raka bisa menangkapnya.Dia mengangkat kepala dan melihat ke arah seniornya itu. Ardy seharusnya sudah melihat sendiri kalau dia tidak berbohong. Di dalam ruangan itu, tante Sofi dan dirinya cuma minum teh.“Tip?” “Iya, jangan coba-coba bohong kamu. Tip hari ini harusnya milik Ardy.” Calvin berdiri di samping Ardy layaknya seorang pengacara.“Aku gak dapat tip.” Raka menjawab dengan tenang.Tadi dia sudah kesal karena tidak dapat tip, karena Ardy tiba-tiba muncul. Sekarang mereka mengingatkannya lagi kalau hari ini dia tidak dapat uang lebih. “Jangan bohong kamu,” sahut Calvin mendahului Ardy. “ Tante Sofi itu terkenal pemurah, tip yang diberikan pada Ardy melalui panti ini saja lebih dari sepuluh juta sekali service, belum lagi yang di luar service.” “Iya,
Raka baru saja menyiram nasi di piringnya dengan kuah gudeg, saat suara Ardy terdengar menyerukan namanya. Calvin yang duduk di meja panjang ruang istirahat itu pun menoleh saking kagetnya. “Kamu ngomong apa sama Tante Sofi? Kenapa dia nolak aku?” geram Ardy. Tangannya terkepal di samping tubuhnya menahan amarahnya yang meledak-ledak. “Loh … tante Sofi nolak kamu?” Calvin memicingkan matanya seolah senang mendengar sebuah bahan gosipan terbaru. “Kok bisa? Bukannya … dia paling suka sama kamu. Atau … dia pindah ke lain hati, nih?” Raka mengedikkan pundaknya. “Aku nggak bilang apa-apa. Cuman lakukan tugas secara profesional. Nggak lebih,” sahut Raka, “kenapa kamu nggak langsung tanya aja sama tante Sofi?” “”Dasar munafik! Bilang aja kalo kamu iri dan mau rebut pelanggan VIP ku!” Dada Ardy seperti terbakar. Raka menatap Ardy tak mengerti. Seingatnya tadi dia bilang ke tante Sofi untuk memberikan kekasihnya ini sebuah pekerjaan yang lebih baik, untuk menopang status perempuan itu dan
Melihat wajah dingin dan kaku Sofi dan nada bicaranya yang tegas, Raka diam. Pria itu tetap memandang mata perempuan di depannya untuk menunjukkan ketulusan hatinya. Perlahan, amarah di mata Sofi pun mulai memudar. Kerapuhan terpancar di sana. Perempuan cantik yang selalu tersenyum lebar dan berjalan penuh kepercayaan diri itu, tak disangka bisa terlihat begitu kasihan.Raka menuangkan kembali segelas teh herbal dan menyodorkan pada Sofi. Dia menunggu dengan sabar hingga perempuan itu menyeruput demi seruput minuman itu. Mata Sofi yang menerawang menandakan kegalauan jiwanya. Entah berapa banyak air mata dan perjuangan yang harus dia lalui sendirian. Setelah Sofi meletakkan cangkirnya. Raka berdiri lalu berjalan ke belakang perempuan itu. Dia meletakkan tangannya ke pundak wanita yang sedang dalam masalah itu dan memijatnya.Raka menekan titk-titik yang bisa meredakan ketegangan pada otot saraf perempuan itu. Untuk hal ini dia tidak pernah belajar secara khusus, tetapi instingnya b
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







